Streptococcal pharyngitis, atau yang lebih dikenal sebagai radang tenggorokan streptokokus, adalah infeksi bakteri yang disebabkan oleh Streptococcus pyogenes, juga dikenal sebagai streptokokus grup A (GAS) [1]. Infeksi ini menyebabkan peradangan dan rasa sakit pada tenggorokan serta amandel, dan merupakan salah satu penyebab bakteri paling umum dari sakit tenggorokan, terutama pada anak-anak [2]. Berbeda dengan sakit tenggorokan akibat virus, streptococcal pharyngitis memerlukan pengobatan antibiotik untuk mencegah komplikasi serius seperti demam reumatik dan glomerulonefritis pascastreptokokus [3]. Penyebaran infeksi terjadi melalui tetesan pernapasan saat penderita batuk atau bersin, serta kontak langsung dengan sekresi seperti ludah atau ingus [4]. Diagnosis yang akurat biasanya melibatkan penilaian klinis dan konfirmasi laboratorium menggunakan tes deteksi antigen cepat (RADT) atau kultur tenggorokan, yang merupakan standar emas dalam diagnosis [5]. Pengobatan utama meliputi pemberian penisilin atau amoksisilin selama 10 hari, yang terbukti efektif dalam menghilangkan bakteri dan mencegah penularan [6]. Pencegahan infeksi sangat bergantung pada praktik kebersihan seperti mencuci tangan secara rutin, menghindari berbagi barang pribadi, serta isolasi individu yang terinfeksi hingga 24 jam setelah dimulainya pengobatan antibiotik [4]. Meskipun tidak ada vaksin yang tersedia saat ini, penelitian terus berlanjut untuk mengembangkan vaksin terhadap streptokokus grup A, yang dapat mengubah lanskap pengendalian penyakit ini di masa depan [8].

Etiologi dan Patogenesis

Streptococcal pharyngitis disebabkan oleh bakteri Streptococcus pyogenes, yang juga dikenal sebagai streptokokus grup A (GAS) [1]. Bakteri ini merupakan patogen utama yang menginfeksi faring dan menyebabkan peradangan pada tenggorokan serta amandel. Infeksi terjadi ketika bakteri masuk ke dalam sistem pernapasan melalui tetesan pernapasan dari individu yang terinfeksi saat batuk atau bersin, atau melalui kontak langsung dengan sekresi seperti ludah, ingus, atau barang pribadi yang terkontaminasi [3]. Bahkan individu yang tidak menunjukkan gejala tetapi membawa bakteri secara asimptomatik dapat menularkan infeksi, sehingga memperluas penyebaran di lingkungan yang padat seperti sekolah dan rumah tangga [11].

Faktor Virulensi dan Mekanisme Adhesi

Keberhasilan Streptococcus pyogenes dalam menyebabkan infeksi bergantung pada sejumlah yang memungkinkan bakteri melekat, menghindari sistem imun, dan merusak jaringan. Salah satu faktor utama adalah M protein, sebuah protein permukaan yang berperan dalam adhesi ke sel epitel faring dengan mengikat komponen matriks ekstraseluler seperti fibronectin dan kolagen [12]. M protein juga berfungsi sebagai ligand untuk reseptor CD44 pada sel epitel, meningkatkan kolonisasi di mukosa faring [13].

Selain itu, pili (fimbriae) yang diekspresikan oleh GAS membantu pelekatan yang lebih kuat ke sel epitel melalui subunit adhesin yang mengikat protein matriks. Faktor tambahan seperti protein pengikat fibronekin (SfbI, PrtF1/2) dan asam lipoteikoat juga berkontribusi terhadap adhesi awal [14]. Kapsul asam hialuronat, meskipun terutama dikenal untuk evasi imun, juga berfungsi sebagai ligand untuk CD44, memperkuat kolonisasi bakteri di faring [15].

Strategi Evasi Imun

Untuk bertahan dalam lingkungan host, GAS menggunakan berbagai strategi untuk menghindari respons imun. M protein berperan penting dalam resistensi terhadap fagositosis dengan mengikat protein plasma seperti fibrinogen dan C4b-binding protein (C4BP), yang menghambat aktivasi komplemen melalui jalur klasik dan lektin [16]. Variabilitas tinggi pada bagian N-terminal M protein memungkinkan bakteri lolos dari pengenalan imun, sementara domain C-terminal yang konservatif mempertahankan fungsi struktural [17].

Kapsul asam hialuronat juga berkontribusi terhadap evasi imun melalui mimikri molekuler, karena secara kimia identik dengan asam hialuronat pada jaringan manusia, sehingga tidak bersifat imunogenik [18]. Kapsul ini membentuk penghalang fisik yang mencegah deposisi komplemen dan akses fagosit, serta melindungi bakteri dari spesies oksigen reaktif yang dihasilkan oleh neutrofil [19]. Selain itu, GAS menghasilkan enzim seperti peptidase C5a (ScpA) yang memecah fragmen kemotaktik C5a, mengurangi rekrutmen neutrofil ke lokasi infeksi [20].

Invasi Jaringan dan Kerusakan

Setelah berhasil melekat dan menghindari sistem imun, GAS menyebabkan kerusakan jaringan melalui aksi toksin dan enzim sekresi. Streptolysin O (SLO) adalah sitolisin yang bergantung pada kolesterol dan mampu melisis sel epitel, eritrosit, serta sel imun dengan membentuk pori pada membran sel [21]. SLO juga memungkinkan bakteri lolos dari fagosom setelah masuk ke dalam sel, memfasilitasi persistensi intraseluler [22]. Streptolysin S (SLS) berkontribusi terhadap kerusakan epitel dan peradangan, meskipun mekanismenya kurang dipahami dibandingkan SLO.

GAS juga menghasilkan toksin pirogenik streptokokus (SPEs), seperti SpeA, SpeC, dan SSA, yang berfungsi sebagai superantigen. Toksin ini mengikat langsung molekul MHC kelas II pada sel penyaji antigen dan reseptor sel T, menyebabkan aktivasi poliklonal sel T dan pelepasan sitokin masif (misalnya TNF-α, IL-1, IL-6), yang menghasilkan demam, peradangan sistemik, dan gejala khas penyakit streptokokus [23].

Enzim tambahan seperti streptokinase, DNase, dan hyaluronidase membantu penyebaran bakteri melalui jaringan dengan mendegradasi makromolekul host. DNase juga memecah jebakan ekstraseluler neutrofil (NETs), membantu GAS menghindari kematian oleh neutrofil [20].

Tropisme Jaringan dan Variasi Strain

Strain GAS yang menyebabkan faringitis memiliki profil gen virulensi yang berbeda dari strain yang menyebabkan infeksi kulit. Misalnya, isolat faringitis sering mengekspresikan tipe M protein tertentu (seperti M1, M3, M12) dan membawa gen yang mengkode superantigen seperti speA, yang jarang ditemukan pada strain yang menyebabkan impetigo [25]. Perbedaan ini mencerminkan adaptasi terhadap niche host yang spesifik melalui ekspresi diferensial dari adhesin, toksin, dan modulator imun.

Gejala dan Manifestasi Klinis

Streptococcal pharyngitis memiliki tanda dan gejala khas yang membedakannya dari penyebab lain radang tenggorokan, terutama infeksi virus. Gejala biasanya muncul secara tiba-tiba dan dapat berkembang dalam waktu 1 hingga 3 hari setelah paparan terhadap Streptococcus pyogenes, juga dikenal sebagai streptokokus grup A (GAS) [26]. Pada anak-anak, gejala mungkin lebih beragam dan terkadang mencakup manifestasi sistemik.

Gejala Utama

Gejala paling umum dari streptococcal pharyngitis meliputi:

  • Sakit tenggorokan: Biasanya berat dan muncul secara mendadak, menjadi gejala dominan [1].
  • Nyeri saat menelan (odinofagia): Ketidaknyamanan atau rasa sakit saat menelan sangat sering dilaporkan [26].
  • Demam: Suhu tubuh meningkat, sering kali melebihi 38,3°C (101°F) [29].
  • Amandel merah dan bengkak: Amandel tampak meradang dan membesar, kadang-kadang dengan tanda infeksi yang jelas [1].
  • Eksudat amandel: Bercak putih atau garis-garis nanah pada amandel sering terlihat [1].
  • Pembesaran dan kekakuan kelenjar getah bening: Kelenjar getah bening di bagian depan leher sering membesar dan terasa nyeri saat disentuh [26].
  • Bintik-bintik merah kecil di langit-langit mulut (petekiae): Bintik-bintik merah berukuran kecil dapat muncul di bagian lunak langit-langit mulut [29].

Gejala Tambahan

Selain gejala utama, pasien, terutama anak-anak, mungkin mengalami gejala tambahan seperti:

  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Mual atau muntah, terutama pada anak yang lebih muda [34]
  • Ruam, yang dapat menunjukkan demam skarlatina, suatu komplikasi dari infeksi streptokokus [35]

Gejala yang Jarang Terjadi pada Streptococcal Pharyngitis

Beberapa gejala lebih mengarah pada faringitis virus daripada infeksi bakteri. Gejala-gejala ini meliputi:

  • Batuk
  • Suara serak
  • Hidung meler
  • konjungtivitis

Kehadiran gejala-gejala ini sering kali menunjukkan penyebab virus, bukan infeksi streptokokus [11].

Variasi Gejala Berdasarkan Usia

Manifestasi klinis streptococcal pharyngitis dapat bervariasi menurut kelompok usia:

  • Anak di bawah 3 tahun: Infeksi ini jarang terjadi pada kelompok usia ini. Jika terjadi, gejalanya mungkin tidak khas, seperti demam tanpa penyebab jelas, iritabilitas, anoreksia, nyeri perut, mual, muntah, atau rinitis [37].
  • Anak usia 3–14 tahun: Usia ini merupakan kelompok dengan insidensi tertinggi. Gejala klasik seperti sakit tenggorokan berat, demam, dan eksudat amandel lebih sering muncul [38].
  • Remaja dan dewasa: Gejala mungkin lebih ringan atau atipikal. Meskipun demikian, gejala seperti demam tinggi dan eksudat amandel tetap menjadi petunjuk penting [38].

Durasi gejala jika tidak diobati berkisar antara 2 hingga 5 hari. Pengobatan antibiotik yang tepat dapat memperpendek durasi gejala dan mengurangi masa penularan [40]. Pengenalan dini dan evaluasi medis penting untuk diagnosis yang akurat, terutama jika gejala klinis mengarah pada infeksi streptokokus.

Diagnosis dan Kriteria Klinis

Diagnosis streptococcal pharyngitis memerlukan pendekatan yang komprehensif, menggabungkan penilaian klinis dan konfirmasi laboratorium untuk membedakannya dari penyebab lain sakit tenggorokan, terutama infeksi virus. Karena gejala streptococcal pharyngitis dapat tumpang tindih dengan kondisi lain, penggunaan kriteria klinis dan tes diagnostik sangat penting untuk menghindari pengobatan antibiotik yang tidak perlu sekaligus mencegah komplikasi serius seperti demam reumatik. Diagnosis yang akurat dimulai dengan evaluasi gejala dan tanda klinis, diikuti oleh pemeriksaan laboratorium jika diperlukan [41].

Kriteria Klinis untuk Membedakan dari Faringitis Virus

Faringitis virus jauh lebih umum daripada streptococcal pharyngitis, tetapi beberapa gejala dapat membantu membedakan keduanya. Streptococcal pharyngitis biasanya ditandai dengan onset yang tiba-tiba dari sakit tenggorokan yang parah, disertai demam >38°C (100,4°F), eksudat pada amandel, dan pembesaran kelenjar getah bening anterior servikal yang nyeri saat disentuh. Gejala khas lainnya termasuk petekiae pada palatum, uvula edema, dan pada beberapa kasus, ruam khas demam skarlatina [42].

Sebaliknya, gejala yang lebih sering terkait dengan faringitis virus meliputi batuk, coryza (ingusan), diare, konjungtivitis, dan suara serak. Kehadiran batuk atau ingusan secara signifikan mengurangi kemungkinan infeksi bakteri. Onset yang lebih lambat dan gejala sistemik seperti malaise juga lebih umum pada infeksi virus [43]. Dengan demikian, kombinasi gejala seperti demam tinggi, eksudat amandel, dan kelenjar getah bening yang nyeri tanpa batuk sangat mendukung diagnosis streptococcal pharyngitis [44].

Sistem Skoring Klinis: Kriteria Centor dan McIsaac

Untuk membantu menilai kemungkinan streptococcal pharyngitis, sistem skoring klinis telah dikembangkan. Kriteria Centor adalah alat yang paling umum digunakan, terdiri dari empat komponen, masing-masing bernilai satu poin:

  1. Tidak ada batuk
  2. Eksudat amandel
  3. Riwayat demam
  4. Kelenjar getah bening anterior servikal yang nyeri [45]

Skor total berkisar antara 0 hingga 4. Pada orang dewasa, probabilitas infeksi GAS meningkat seiring dengan skor: sekitar 1–2% untuk skor 0–1, 5–10% untuk skor 2, 15–30% untuk skor 3, dan 30–60% untuk skor 4 [46]. Pada populasi anak, kriteria Centor dimodifikasi dengan menambahkan satu poin untuk anak usia 3–14 tahun dan mengurangi satu poin untuk pasien berusia 15–44 tahun atau lebih dari 45 tahun, meningkatkan akurasi prediksi pada kelompok usia ini [47]. Skor klinis ini digunakan untuk menentukan apakah pengujian laboratorium diperlukan, bukan sebagai pengganti konfirmasi laboratorium.

Indikasi untuk Pengujian Laboratorium

Pengujian untuk streptococcal pharyngitis tidak direkomendasikan untuk semua pasien dengan sakit tenggorokan karena sebagian besar kasus disebabkan oleh virus. Pengujian diindikasikan pada pasien dengan gejala yang menyarankan infeksi bakteri, terutama jika kriteria klinis seperti Kriteria Centor terpenuhi. Indikasi spesifik meliputi:

  • Anak usia ≥3 tahun dengan sakit tenggorokan tanpa gejala virus seperti batuk atau ingusan
  • Pasien dengan sakit tenggorokan sedang hingga berat dan tanda klinis seperti demam, eksudat amandel, atau kelenjar getah bening yang nyeri
  • Kontak dekat dari individu dengan infeksi GAS yang dikonfirmasi atau riwayat demam reumatik [48]

Pengujian umumnya tidak dianjurkan pada anak di bawah 3 tahun karena infeksi GAS pada kelompok usia ini jarang terjadi dan risiko komplikasi seperti demam reumatik sangat rendah [40].

Metode Pengujian Laboratorium

Konfirmasi diagnosis streptococcal pharyngitis memerlukan pengujian laboratorium karena gejala klinis saja tidak cukup akurat. Dua metode utama yang digunakan adalah tes deteksi antigen cepat (RADT) dan kultur tenggorokan.

Tes Deteksi Antigen Cepat (RADT) mendeteksi antigen GAS langsung dari usap tenggorokan dan memberikan hasil dalam hitungan menit. Tes ini memiliki spesifisitas tinggi (≥95%), sehingga hasil positif dapat diandalkan untuk memulai pengobatan antibiotik. Namun, sensitivitasnya bervariasi antara 80–90%, artinya sekitar 10–20% kasus nyata dapat terlewatkan. Oleh karena itu, hasil negatif pada anak dan remaja harus dikonfirmasi dengan kultur tenggorokan, terutama jika kecurigaan klinis tetap tinggi [50].

Kultur tenggorokan dianggap sebagai standar emas karena sensitivitas dan spesifisitasnya yang tinggi (78–97% sensitivitas, ~99% spesifisitas). Sampel diambil dengan usap dari amandel dan area faring, kemudian ditanam di media kultur. Hasilnya memakan waktu 24–48 jam, yang membatasi utilitasnya untuk pengambilan keputusan klinis segera. Namun, kultur tetap penting untuk mengkonfirmasi hasil negatif RADT pada anak-anak, mengingat risiko komplikasi yang lebih tinggi [51].

Peran Tes Molekuler

Tes molekuler seperti uji amplifikasi asam nukleat (NAAT) atau PCR semakin tersedia dan menawarkan sensitivitas (>95%) dan spesifisitas (≥98%) yang lebih tinggi dibandingkan RADT dan kultur. Tes ini memberikan hasil dalam 30 menit hingga 2 jam, menjembatani kesenjangan antara kecepatan RADT dan akurasi kultur. Meskipun biayanya lebih tinggi dan memerlukan peralatan khusus, NAAT semakin digunakan di pengaturan perawatan primer dan darurat, terutama pada populasi berisiko tinggi seperti anak-anak di daerah endemik demam reumatik [52].

Tantangan dari Karier Asimptomatik

Salah satu tantangan utama dalam diagnosis streptococcal pharyngitis adalah adanya karier asimptomatik GAS. Individu ini membawa bakteri di tenggorokan tanpa gejala peradangan dan tidak berkontribusi secara signifikan terhadap penularan atau komplikasi. Karena tes RADT dan kultur tidak dapat membedakan antara infeksi aktif dan kolonisasi, hasil positif pada pasien dengan gejala virus dapat menyebabkan diagnosis dan pengobatan yang salah. Karier kronis dapat didiagnosis melalui kultur positif berulang selama periode bebas gejala. Antibiotik umumnya tidak efektif dalam menghilangkan kolonisasi pada karier, sehingga pengobatan tidak direkomendasikan kecuali dalam konteks wabah atau pada individu dengan riwayat demam reumatik [53].

Rekomendasi Berdasarkan Usia dan Konteks Klinis

Pendekatan diagnostik harus disesuaikan berdasarkan usia dan konteks klinis. Pada anak, hasil negatif RADT harus dikonfirmasi dengan kultur tenggorokan karena risiko komplikasi lebih tinggi. Pada orang dewasa, kultur konfirmasi setelah hasil negatif RADT umumnya tidak diperlukan karena prevalensi GAS lebih rendah dan risiko demam reumatik minimal. Di daerah endemik atau pada pasien berisiko tinggi, tes molekuler (NAAT) lebih disukai karena sensitivitasnya yang tinggi [41]. Di pengaturan dengan sumber daya terbatas, RADT dengan penggunaan selektif kultur tetap menjadi strategi yang seimbang antara biaya, ketersediaan, dan akurasi diagnostik [55].

Pengobatan dan Manajemen Antibiotik

Pengobatan streptococcal pharyngitis sangat penting untuk menghilangkan infeksi, mengurangi durasi gejala, mencegah penularan, serta mencegah komplikasi serius seperti demam reumatik dan glomerulonefritis pascastreptokokus [41]. Pengelolaan yang tepat melibatkan penggunaan antibiotik berbasis bukti, pemilihan agen sesuai dengan alergi pasien, dan pemahaman terhadap pola resistensi mikroba. Terapi antibiotik harus dimulai sesegera mungkin setelah diagnosis ditegakkan, terutama untuk mencegah komplikasi imunologis yang dapat terjadi 2–4 minggu setelah infeksi awal [57].

Terapi Antibiotik Lini Pertama

Antibiotik lini pertama yang direkomendasikan untuk streptococcal pharyngitis adalah penisilin atau amoksisilin, yang tetap menjadi standar emas karena efektivitasnya yang tinggi, spektrum sempit, keamanan, dan biaya rendah [6]. Streptococcus pyogenes, penyebab infeksi, belum pernah menunjukkan resistensi terhadap penisilin sejak diperkenalkannya antibiotik ini, menjadikannya pilihan yang sangat andal [41].

  • Penisilin V: Diberikan secara oral selama 10 hari. Dosis untuk anak-anak adalah 250 mg dua kali sehari (jika berat badan <27 kg) atau 500 mg dua kali sehari (jika ≥27 kg). Pada orang dewasa, dosisnya adalah 500 mg dua kali sehari atau 250 mg empat kali sehari [60].
  • Amoksisilin: Sering dipilih untuk anak-anak karena rasa yang lebih baik dan kemudahan pemberian (sekali atau dua kali sehari). Dosisnya adalah 50 mg/kg/hari (maksimal 1000 mg/hari), diberikan selama 10 hari [60].
  • Benzathine penicillin G: Sebagai alternatif untuk pasien dengan kepatuhan yang diragukan, diberikan sebagai suntikan intramuskular tunggal (600.000 unit untuk anak ≤27 kg, 1,2 juta unit untuk anak >27 kg) [6].

Durasi pengobatan 10 hari sangat penting untuk memastikan eradikasi bakteri dan mencegah komplikasi seperti demam reumatik. Meskipun ada formulasi antibiotik dengan durasi lebih pendek (misalnya azitromisin selama 5 hari), regimen 10 hari tetap menjadi standar untuk penisilin dan amoksisilin [63].

Alternatif untuk Pasien Alergi Penisilin

Untuk pasien dengan riwayat alergi penisilin, pilihan antibiotik harus disesuaikan dengan keparahan reaksi alergi dan pola resistensi lokal.

  • Reaksi non-anafilaksis (non-IgE): Pasien dengan reaksi ringan seperti ruam tanpa gejala sistemik dapat diberikan sefalosporin generasi pertama seperti sefaleksin atau sefadroksil. Risiko silang reaktivitas antara penisilin dan sefalosporin generasi pertama sangat rendah (<10%) [64]. Dosis sefaleksin adalah 20 mg/kg/hari dibagi dua kali sehari selama 10 hari [65].

  • Reaksi anafilaksis (IgE): Pasien dengan riwayat anafilaksis, angioedema, atau urtikaria harus menghindari sefalosporin. Alternatifnya meliputi:

    • Klindamisin: 20 mg/kg/hari dibagi tiga dosis (maksimal 1800 mg/hari) selama 10 hari. Efektif dan tidak bergantung pada replikasi bakteri aktif [66].
    • Azitromisin: 12 mg/kg sekali sehari (maksimal 500 mg/hari) selama 5 hari. Meskipun nyaman, resistensi makrolida terhadap S. pyogenes meningkat secara global, sehingga penggunaannya harus dibatasi di daerah dengan tingkat resistensi tinggi [67].
    • Klaritromisin: 15 mg/kg/hari dibagi dua dosis (maksimal 1000 mg/hari) selama 10 hari [65].

Resistensi Antibiotik dan Pertimbangan Stewardship

Meskipun Streptococcus pyogenes tetap rentan terhadap penisilin, resistensi terhadap antibiotik lain, terutama makrolida (seperti eritromisin, azitromisin) dan lincosamida (klindamisin), telah meningkat secara global [67]. Di Amerika Serikat, resistensi eritromisin hampir tiga kali lipat dari 8% (2010) menjadi 23% (2017), dan di beberapa wilayah seperti Tiongkok, tingkat resistensi makrolida mencapai 87% [70].

Mekanisme resistensi makrolida meliputi:

  • Gen erm: Mengkode metiltransferase yang memodifikasi target ribosom (fenotipe MLSB), menyebabkan resistensi tingkat tinggi terhadap makrolida, lincosamida, dan streptogramin B.
  • Gen mef: Mengkode pompa efleks yang mengeluarkan antibiotik dari sel bakteri (fenotipe M), menyebabkan resistensi tingkat rendah [71].

Karena risiko resistensi ini, penggunaan makrolida harus dibatasi dan hanya digunakan jika benar-benar diperlukan, terutama di daerah dengan tingkat resistensi tinggi. Penilaian ulang riwayat alergi penisilin juga penting, karena banyak pasien yang dilabeli alergi sebenarnya tidak memiliki reaksi IgE sejati, sehingga dapat menerima terapi beta-laktam yang lebih aman dan efektif [72].

Peran Pengobatan dalam Pencegahan Komplikasi

Pengobatan antibiotik yang tepat waktu sangat efektif dalam mencegah demam reumatik akut. Studi menunjukkan bahwa pemberian antibiotik dalam 9 hari pertama onset gejala dapat mengurangi risiko demam reumatik hingga 80% dibandingkan tanpa pengobatan [41]. Efek pencegahan paling kuat terjadi jika pengobatan dimulai dalam 48–72 jam pertama [26].

Meskipun bukti pencegahan glomerulonefritis pascastreptokokus (PSGN) kurang kuat, pengobatan tetap penting untuk mengurangi reservoir infeksi di komunitas dan mencegah penyebaran strain nefritogenik [4]. Di daerah dengan insiden tinggi demam reumatik, seperti di negara berpenghasilan rendah dan menengah, strategi pengobatan yang akurat menjadi bagian penting dari kesehatan masyarakat [76].

Perawatan Pendukung dan Rekomendasi Umum

Selain antibiotik, perawatan pendukung dapat membantu mengelola gejala:

  • Analgesik seperti asetaminofen atau ibuprofen untuk nyeri dan demam.
  • Obat kumur garam hangat.
  • Permen hisap untuk menenangkan tenggorokan.
  • Hidrasi yang cukup dan istirahat [77].

Pasien harus tetap di rumah dari sekolah atau tempat kerja hingga minimal 12–24 jam setelah dimulainya antibiotik dan bebas demam, untuk mencegah penularan [41]. Ini adalah bagian penting dari strategi pengendalian infeksi dan pengurangan penyebaran di lingkungan padat seperti sekolah dan fasilitas perawatan jangka panjang [4].

Komplikasi Pasca-Infeksi

Jika tidak diobati, streptococcal pharyngitis dapat menyebabkan sejumlah komplikasi serius yang timbul baik sebagai akibat dari penyebaran langsung bakteri maupun dari respons imun tubuh yang tidak tepat terhadap infeksi. Komplikasi ini berkisar dari infeksi lokal hingga kondisi sistemik yang mengancam jiwa, dan pencegahannya sangat bergantung pada diagnosis dini serta pengobatan antibiotik yang tepat. Respons imun terhadap infeksi Group A Streptococcus (Streptococcus pyogenes) dapat menyerang jaringan tubuh sendiri, mengakibatkan kerusakan jangka panjang pada organ vital seperti jantung dan ginjal. Oleh karena itu, pengobatan antibiotik tidak hanya bertujuan untuk mengurangi gejala dan mencegah penularan, tetapi juga untuk mencegah sekuele pascastreptokokus yang dapat mengubah hidup pasien [41].

Demam Reumatik

Demam reumatik adalah komplikasi peradangan serius yang dapat berkembang 2 hingga 4 minggu setelah infeksi streptococcal pharyngitis yang tidak diobati [57]. Kondisi ini merupakan komplikasi non-purulen yang dimediasi oleh sistem imun, yang berarti tidak disebabkan oleh penyebaran bakteri langsung, melainkan oleh respons autoimun yang keliru. Sistem imun menyerang jaringan tubuh sendiri karena kesamaan antigenik antara protein M pada permukaan Streptococcus pyogenes dan protein pada jaringan jantung, sendi, kulit, serta sistem saraf pusat [82]. Gejala khas demam reumatik mencakup artritis migratorius (nyeri dan pembengkakan sendi yang berpindah-pindah), karditis (peradangan jantung), korea (gerakan tidak sadar yang tidak terkendali), eritema marginatum (ruam khas berbentuk cincin), dan nodul subkutan [83]. Karditis adalah manifestasi paling berbahaya, karena dapat menyebabkan kerusakan katup jantung permanen yang dikenal sebagai RHD (penyakit jantung reumatik), yang merupakan penyebab utama morbiditas kardiovaskular jangka panjang pada anak-anak di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah [76]. Pengobatan antibiotik yang cepat terhadap radang tenggorokan streptokokus secara signifikan mengurangi risiko terjadinya demam reumatik hingga 80%, terutama jika dimulai dalam 9 hari pertama munculnya gejala [41]. Sebuah meta-analisis dari uji coba terkontrol acak menunjukkan bahwa terapi antibiotik mengurangi risiko demam reumatik akut sekitar dua pertiga, yang menegaskan pentingnya pengobatan sebagai pencegahan primer [86].

Glomerulonefritis Pascastreptokokus

Glomerulonefritis pascastreptokokus (PSGN) adalah gangguan ginjal yang terjadi setelah infeksi streptokokus, baik pada tenggorokan maupun kulit, biasanya dalam waktu 1 hingga 3 minggu setelah infeksi awal [87]. PSGN adalah kondisi imunologis yang disebabkan oleh deposisi kompleks imun (antigen-antibodi) pada glomeruli, yaitu unit penyaringan kecil di ginjal. Deposisi ini memicu peradangan dan kerusakan pada glomeruli, yang mengganggu fungsi penyaringan ginjal. Gejala klinis meliputi urin yang berwarna gelap atau kemerahan (akibat hematuria), pembengkakan pada wajah, mata, tangan, dan kaki (edema), penurunan jumlah urin, tekanan darah tinggi, proteinuria (protein dalam urin), serta kelelahan dan anemia [88]. Meskipun sebagian besar kasus PSGN sembuh secara spontan, terutama pada anak-anak, beberapa pasien dapat mengalami masalah ginjal kronis yang memerlukan pengawasan jangka panjang [89]. Berbeda dengan demam reumatik, bukti bahwa pengobatan antibiotik pada streptococcal pharyngitis secara konsisten mencegah PSGN kurang kuat. Namun, pengobatan dini tetap penting karena membantu mengurangi reservoir infeksi di komunitas, sehingga menurunkan sirkulasi strain streptokokus yang bersifat nefritogenik (penyebab peradangan ginjal) [4]. Pencegahan wabah melalui pengobatan massal dan peningkatan kebersihan telah digunakan untuk mengendalikan penyebaran strain nefritogenik tertentu [91].

Abses Peritonsilar

Abses peritonsilar, juga dikenal sebagai quinsy, adalah kumpulan nanah yang terbentuk di dekat amandel, biasanya sebagai komplikasi dari tonsilitis atau streptococcal pharyngitis yang tidak diobati atau parah [92]. Infeksi menyebar dari amandel ke jaringan lunak di sekitarnya, membentuk abses. Kondisi ini dapat menyebabkan gejala yang sangat menyakitkan, termasuk nyeri tenggorokan yang hebat (sering hanya pada satu sisi), kesulitan menelan, demam, suara yang teredam atau seperti "hot potato", serta trismus (kesulitan membuka mulut) [93]. Abses peritonsilar memerlukan penanganan medis segera, yang biasanya melibatkan drainase nanah melalui aspirasi atau insisi, serta terapi antibiotik intravena untuk mengatasi infeksi [93]. Kegagalan dalam mengobati abses dapat menyebabkan komplikasi lebih lanjut, seperti penyebaran infeksi ke area leher yang lebih dalam atau bahkan sepsis.

Demam Skarlatina

Demam skarlatina adalah kondisi yang disebabkan oleh strain Group A Streptococcus yang menghasilkan toksin, dan sering kali menyertai streptococcal pharyngitis [95]. Toksin ini memicu ruam khas yang merah dan kasar seperti kertas amplas, demam, serta lidah yang tampak seperti stroberi (strawberry tongue) [96]. Meskipun dapat diobati dengan antibiotik, jika tidak diobati, kasus demam skarlatina dapat berkembang menjadi komplikasi serius seperti demam reumatik atau glomerulonefritis [97]. Pengobatan antibiotik tidak hanya mengatasi infeksi tetapi juga mengurangi periode penularan dan mencegah sekuele jangka panjang.

Komplikasi Lain dan Infeksi Invasif

Selain komplikasi imunologis utama, infeksi streptokokus dapat menyebar ke struktur di dekatnya, menyebabkan infeksi sekunder seperti otitis media (infeksi telinga tengah), sinusitis, atau mastoiditis (infeksi pada tulang mastoid di belakang telinga) [98]. Dalam kasus yang jarang terjadi, bakteri dapat masuk ke aliran darah dan menyebabkan infeksi invasif yang mengancam jiwa, seperti selulitis, fasciitis nekrotikans (penyakit pemakan daging), atau sindrom syok toksik streptokokus (STSS), yang merupakan kondisi progresif cepat yang melibatkan kegagalan multiorgan [99]. Data surveilans menunjukkan adanya peningkatan global dalam infeksi GAS invasif, menyoroti relevansi kesehatan masyarakat yang terus berlanjut dari streptococcal pharyngitis [100]. Pencegahan semua komplikasi ini sangat bergantung pada diagnosis yang akurat menggunakan tes deteksi antigen cepat (RADT) atau kultur tenggorokan, diikuti dengan pengobatan antibiotik yang tepat sesuai pedoman, terutama dengan penisilin atau amoksisilin selama 10 hari [6].

Faktor Risiko dan Epidemiologi

Streptococcal pharyngitis menunjukkan pola epidemiologi yang jelas, dengan peningkatan insidensi selama musim dingin dan awal musim semi di daerah beriklim sedang [102]. Pola musiman ini dikaitkan dengan sejumlah faktor, termasuk kerumunan dalam ruangan yang meningkat selama cuaca dingin, yang memfasilitasi penularan melalui tetesan pernapasan [41]. Kondisi lingkungan seperti kelembapan rendah dan suhu dingin juga dapat mendukung stabilitas dan penyebaran tetesan pernapasan yang mengandung streptokokus grup A (GAS) [102]. Selain itu, puncak musiman ini sering berbarengan dengan peningkatan infeksi virus pernapasan seperti influenza dan virus syncytial pernapasan (RSV), yang dapat merusak mukosa saluran napas dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi sekunder oleh GAS [102]. Sebuah peningkatan global dalam kasus infeksi GAS yang invasif dan tidak invasif telah diamati pada tahun 2023 dan 2024, terutama pada populasi anak-anak, yang dikaitkan dengan perubahan imunitas populasi pasca-pandemi dan peningkatan sirkulasi virus [106].

Kelompok usia yang paling berisiko tinggi terkena streptococcal pharyngitis adalah anak-anak usia 5 hingga 15 tahun [1]. Faktor-faktor epidemiologis dan perilaku yang berkontribusi terhadap kerentanan ini meliputi interaksi jarak dekat yang sering terjadi di sekolah dan pusat penitipan anak, yang memfasilitasi penularan dari orang ke orang secara cepat [108]. Sistem kekebalan tubuh anak-anak yang masih berkembang juga membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi karena kurangnya paparan dan kekebalan sebelumnya terhadap berbagai serotipe GAS [109]. Selain itu, tingkat pembawaan asimtomatik GAS jauh lebih tinggi pada anak-anak dibandingkan dengan orang dewasa, dengan perkiraan 10–20% anak usia sekolah menjadi pembawa pada waktu tertentu [110]. Pembawa ini dapat berfungsi sebagai reservoir bagi penularan, bahkan tanpa menunjukkan gejala [111]. Secara global, diperkirakan terdapat lebih dari 600 juta kasus GAS pharyngitis setiap tahunnya, menjadikannya penyebab utama morbiditas pada anak-anak [109].

Perbedaan yang signifikan juga terlihat antara negara berpenghasilan tinggi dan negara berpenghasilan rendah. Di negara-negara berpenghasilan tinggi, prevalensi GAS pada anak-anak dengan sakit tenggorokan rata-rata sekitar 10%, yang dapat dikaitkan dengan akses yang lebih baik terhadap layanan kesehatan, pengujian diagnostik rutin, dan pengobatan antibiotik yang tepat waktu [113]. Sebaliknya, di negara-negara berpenghasilan rendah, tingkat prevalensi jauh lebih tinggi, dengan beberapa penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 24% kasus sakit tenggorokan pada anak-anak disebabkan oleh GAS, dan di beberapa wilayah angka ini melebihi 30% [113]. Faktor-faktor seperti kepadatan penduduk, sanitasi yang buruk, dan keterbatasan akses terhadap sistem kesehatan berkontribusi terhadap transmisi yang lebih tinggi dan beban penyakit yang lebih besar di pengaturan ini [115]. Meskipun beban penyakit akut lebih tinggi di negara berpenghasilan rendah, disparitas yang paling mencolok terletak pada insidensi komplikasi pasca-infeksi, khususnya demam reumatik akut (ARF) dan penyakit jantung rematik (RHD), yang hampir tidak pernah terjadi di negara berpenghasilan tinggi tetapi tetap menjadi penyebab utama morbiditas kardiovaskular di negara berpenghasilan rendah [115]. Diperkirakan lebih dari 40 juta orang hidup dengan RHD secara global, dengan hampir 300.000 kematian setiap tahunnya, lebih dari 90% di antaranya terjadi di negara-negara dengan sumber daya terbatas [115]. Hal ini mencerminkan kesenjangan sistemik dalam infrastruktur layanan kesehatan dan intervensi kesehatan masyarakat.

Pencegahan dan Pengendalian Penyebaran

Pencegahan dan pengendalian penyebaran streptococcal pharyngitis sangat penting untuk mengurangi beban penyakit, mencegah komplikasi serius seperti demam reumatik dan glomerulonefritis pascastreptokokus, serta meminimalkan risiko peningkatan resistensi antimikroba. Penyebaran infeksi terjadi terutama melalui tetesan pernapasan saat penderita batuk, bersin, atau berbicara, serta kontak langsung dengan sekresi seperti ludah, ingus, atau lesi kulit yang terinfeksi [118]. Selain itu, individu yang menjadi pembawa asimtomatik (asymptomatic carriers) juga dapat menularkan bakteri streptokokus grup A (GAS) melalui sekresi saluran napas mereka [119].

Strategi Pencegahan Berbasis Kebersihan dan Perilaku

Penerapan praktik kebersihan pribadi dan perilaku pencegahan merupakan fondasi utama dalam mengendalikan penyebaran GAS. Cuci tangan secara rutin dengan sabun dan air, terutama setelah batuk, bersin, atau menyentuh permukaan yang mungkin terkontaminasi, sangat efektif dalam menghentikan rantai transmisi [4]. Selain itu, etika pernapasan seperti menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin dengan tisu atau siku, serta menghindari berbagi barang pribadi seperti gelas, sendok, atau sikat gigi, juga sangat penting [4]. Disinfeksi rutin terhadap permukaan yang sering disentuh, seperti gagang pintu, meja, dan peralatan sekolah, di rumah, sekolah, dan fasilitas perawatan kesehatan juga direkomendasikan untuk mengurangi kontaminasi lingkungan [122].

Isolasi dan Pengendalian Infeksi di Sekolah dan Komunitas

Anak-anak usia 5 hingga 15 tahun merupakan kelompok yang paling rentan terhadap streptococcal pharyngitis karena interaksi dekat mereka di lingkungan sekolah dan penitipan anak [108]. Oleh karena itu, kebijakan pengendalian infeksi di sekolah sangat krusial. Anak-anak yang diduga atau dikonfirmasi menderita strep throat harus tetap di rumah hingga minimal 12–24 jam setelah memulai pengobatan antibiotik, karena pada saat itulah mereka biasanya tidak lagi menular [1]. Program pendidikan kesehatan di sekolah yang mengajarkan tentang etika pernapasan dan kebersihan tangan telah terbukti mengurangi absensi akibat penyakit pernapasan [125]. Dalam kasus wabah, otoritas kesehatan masyarakat dapat menerapkan surveilans aktif, memberikan edukasi tambahan, dan merekomendasikan isolasi individu yang terinfeksi untuk memutus rantai penularan [126].

Peran Pengobatan Antibiotik dalam Pengendalian Penyebaran

Pengobatan antibiotik yang tepat tidak hanya menyembuhkan individu tetapi juga merupakan alat penting dalam pengendalian penyebaran. Penggunaan antibiotik seperti penisilin atau amoksisilin secara signifikan mengurangi masa penularan. Individu yang terinfeksi biasanya tidak lagi menular setelah sekitar 24 jam pengobatan antibiotik yang sesuai [1]. Oleh karena itu, diagnosis yang cepat dan akses yang mudah terhadap pengobatan sangat penting untuk mengurangi reservoir infeksi di komunitas. Namun, penting untuk menekankan bahwa antibiotik hanya boleh diberikan setelah konfirmasi diagnosis melalui tes deteksi antigen cepat (RADT) atau kultur tenggorokan, untuk mencegah penggunaan antibiotik yang tidak perlu dan mempertahankan keefektifan terapi [6].

Manajemen Kontak Dekat dan Pembawa Asimtomatik

Manajemen kontak dekat, seperti anggota keluarga atau teman serumah, memerlukan pendekatan yang hati-hati. Meskipun GAS sangat menular, pengujian rutin atau pemberian antibiotik profilaksis untuk semua kontak asimtomatik tidak direkomendasikan [41]. Kontak asimtomatik harus dipantau gejalanya, menjaga kebersihan tangan, dan menghindari berbagi makanan atau minuman dengan individu yang terinfeksi. Mereka hanya perlu mencari evaluasi medis jika gejala seperti sakit tenggorokan atau demam muncul [130]. Namun, dalam situasi berisiko tinggi, seperti wabah di institusi tertutup atau kontak dengan kasus infeksi GAS invasif, otoritas kesehatan masyarakat seperti UK Health Security Agency (UKHSA) dapat merekomendasikan penilaian risiko dan pemberian antibiotik profilaksis untuk individu yang rentan, seperti mereka yang imunokompromi [131].

Tantangan dan Strategi dalam Pengendalian Musiman

Streptococcal pharyngitis menunjukkan pola musiman, dengan peningkatan insiden selama musim dingin dan awal musim semi di daerah beriklim sedang [102]. Peningkatan ini dikaitkan dengan kerumunan dalam ruangan, kelembapan rendah, dan peningkatan sirkulasi virus pernapasan yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi sekunder oleh GAS [41]. Strategi kesehatan masyarakat untuk mengantisipasi puncak musiman ini termasuk peningkatan surveilans melalui sistem seperti Active Bacterial Core surveillance (ABCs) di AS, kampanye edukasi publik tentang pencegahan, dan peningkatan kesiapan fasilitas kesehatan untuk diagnosis dan pengobatan cepat [134]. Dalam konteks pasca-pandemi, terjadi peningkatan global dalam kasus GAS, yang mungkin disebabkan oleh perubahan dalam kekebalan populasi dan perilaku sosial, menekankan perlunya kewaspadaan berkelanjutan [106].

Prospek Vaksin dan Dampak Kesehatan Masyarakat

Meskipun saat ini belum tersedia vaksin, pengembangannya merupakan prioritas kesehatan masyarakat global. Tantangan dalam pengembangan vaksin termasuk variabilitas antigenik dari protein M dan kekhawatiran historis mengenai efek autoimun [136]. Namun, kemajuan ilmiah baru-baru ini, seperti kandidat vaksin berbasis peptida J8-K4S2, telah menunjukkan keamanan dan imunogenisitas dalam uji klinis tahap awal [137]. Jika berhasil, vaksin terhadap streptokokus grup A dapat secara dramatis mengurangi lebih dari 600 juta kasus sakit tenggorokan setiap tahun, mencegah ratusan ribu kematian akibat penyakit jantung rematik, dan secara signifikan mengurangi kebutuhan akan antibiotik, sehingga mendukung upaya pengendalian resistensi antimikroba [8]. WHO telah merilis peta jalan teknologi untuk mempercepat pengembangan vaksin ini, yang menyoroti potensi transformasinya terhadap kebijakan kesehatan masyarakat dan dinamika penularan di seluruh dunia [139].

Strategi Pengendalian Antimikroba dan Tantangan Resistensi

Pengendalian antimikroba dalam penanganan streptococcal pharyngitis sangat penting untuk memastikan efektivitas pengobatan jangka panjang dan mencegah peningkatan resistensi antibiotik. Meskipun Streptococcus pyogenes, penyebab utama infeksi ini, tetap sangat rentan terhadap penisilin dan antibiotik beta-laktam lainnya, ancaman resistensi terhadap kelas antibiotik lainnya terus meningkat. Tidak ada kasus resistensi terhadap penisilin yang terkonfirmasi secara global, menjadikannya terapi lini pertama yang andal [41]. Namun, resistensi terhadap makrolida—seperti azitromisin dan eritromisin—telah meningkat secara signifikan, dengan tingkat resistensi eritromisin di Amerika Serikat meningkat hampir tiga kali lipat dari 8% pada 2010 menjadi 23% pada 2017 [67]. Di beberapa wilayah seperti Tiongkok, tingkat resistensi makrolida bahkan mencapai 87% [70].

Mekanisme resistensi makrolida pada Streptococcus pyogenes terutama melibatkan dua jalur genetik: gen erm, yang menyebabkan metilasi ribosom dan menghasilkan fenotipe resistensi MLSB (makrolida-linsokamida-streptogramin B), serta gen mef, yang mengkode pompa efllus dan menyebabkan fenotipe resistensi M [71]. Gen-gen ini sering dibawa oleh elemen genetik yang dapat berpindah, memfasilitasi penyebaran horizontal antar strain. Penggunaan berlebihan makrolida, terutama untuk infeksi virus atau sebagai alternatif pada pasien alergi penisilin, telah berkontribusi pada tekanan selektif yang mendukung strain resisten [144].

Strategi Pengendalian dan Rekomendasi Klinis

Untuk mengatasi tantangan ini, strategi pengendalian antimikroba menekankan penggunaan penisilin atau amoksisilin sebagai terapi lini pertama untuk semua pasien yang tidak memiliki alergi. Kedua antibiotik ini memiliki spektrum sempit, efektivitas tinggi, dan tidak menunjukkan resistensi selama puluhan tahun penggunaan [6]. Durasi pengobatan standar adalah 10 hari, yang terbukti efektif dalam mencegah komplikasi seperti demam reumatik [41]. Dalam kasus alergi penisilin, pilihan pengganti harus dipandu oleh tingkat alergi dan pola resistensi lokal. Pasien dengan alergi non-anafilaksis dapat diberikan sefalosporin generasi pertama seperti kefaleksin, yang memiliki risiko silang yang rendah [147]. Untuk pasien dengan alergi anafilaksis, klindamisin merupakan alternatif yang disukai, meskipun tingkat resistensinya juga bervariasi secara geografis, mencapai 15–20% di beberapa daerah [148]. Penggunaan makrolida seperti azitromisin harus dihindari di wilayah dengan tingkat resistensi makrolida tinggi (>10–15%) untuk mencegah kegagalan pengobatan [149].

Peran Pengendalian Infeksi dan Kebijakan Kesehatan Masyarakat

Pengendalian antimikroba juga mencakup pendekatan sistemik seperti verifikasi riwayat alergi penisilin, karena banyak pasien yang dilabeli alergi sebenarnya tidak mengalami reaksi IgE-mediated dan dapat menerima beta-laktam dengan aman [72]. De-labelling alergi ini membantu mempertahankan penggunaan penisilin sebagai terapi utama. Surveilans berkelanjutan melalui program seperti Active Bacterial Core surveillance (ABCs) oleh CDC sangat penting untuk memantau tren resistensi dan memperbarui pedoman terapi empiris [151]. Selain itu, program pengendalian antibiotik di fasilitas kesehatan menekankan komitmen kepemimpinan, pelacakan pola resep, dan edukasi pasien untuk mengurangi permintaan antibiotik yang tidak perlu [152].

Peningkatan resistensi makrolida memiliki implikasi luas terhadap pencegahan komplikasi pascastreptokokus, terutama di daerah endemis demam reumatik. Kegagalan pengobatan karena resistensi dapat meningkatkan risiko sekuele imunologis, dan efikasi profilaksis sekunder jangka panjang dengan eritromisin mungkin terganggu di wilayah dengan resistensi tinggi [153]. Oleh karena itu, pengendalian antimikroba bukan hanya isu klinis, tetapi juga prioritas kesehatan masyarakat global yang memerlukan kerja sama lintas sektor, pengawasan ketat, dan penerapan pedoman berbasis bukti untuk menjaga keberlanjutan efektivitas pengobatan dan mencegah beban penyakit yang dapat dicegah.

Tren Global dan Beban Penyakit

Streptococcal pharyngitis merupakan penyakit infeksi bakteri yang tersebar secara global dan memberikan beban kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Penyakit ini disebabkan oleh Streptococcus pyogenes, atau streptokokus grup A (GAS), dan diperkirakan menyebabkan sekitar 616 juta kasus baru setiap tahun di seluruh dunia [154]. Dari jumlah tersebut, sekitar 288,6 juta kasus terjadi pada anak-anak berusia 5–14 tahun, menjadikan kelompok usia ini sebagai populasi paling rentan [155]. Meskipun infeksi akut biasanya bersifat ringan dan dapat diobati, dampak jangka panjangnya terhadap sistem kesehatan sangat besar karena potensinya untuk menyebabkan komplikasi serius seperti demam reumatik dan penyakit jantung rematik (RHD) [156].

Variasi Insidensi antara Wilayah Berpenghasilan Tinggi dan Rendah

Terdapat disparitas yang mencolok dalam insidensi dan beban penyakit streptococcal pharyngitis antara negara-negara berpenghasilan tinggi dan rendah. Di negara-negara berpenghasilan tinggi, prevalensi GAS pada anak-anak dengan sakit tenggorokan berkisar sekitar 10%, berkat akses yang lebih baik terhadap layanan kesehatan, pengujian diagnostik rutin seperti tes deteksi antigen cepat (RADT) dan kultur tenggorokan, serta pengobatan antibiotik yang cepat [113]. Pendekatan ini secara efektif mengurangi penularan dan mencegah komplikasi. Sebaliknya, di negara-negara berpenghasilan rendah, prevalensi GAS pada kasus sakit tenggorokan dapat mencapai lebih dari 24%, bahkan melebihi 30% di beberapa wilayah [113]. Faktor-faktor seperti kepadatan penduduk, sanitasi yang buruk, keterbatasan akses terhadap diagnosis, serta penggunaan antibiotik tanpa resep yang umum menjadi kontributor utama terhadap tingginya angka penularan dan persistensi penyakit di daerah-daerah ini [115].

Beban Komplikasi Pasca-Infeksi

Perbedaan paling nyata dalam beban penyakit terletak pada insidensi komplikasi pasca-infeksi. Di negara-negara berpenghasilan tinggi, demam reumatik akut (ARF) dan RHD sangat jarang terjadi karena program pencegahan primer dan sekunder yang efektif, termasuk diagnosis dini dan pengobatan dengan penisilin [115]. Namun, di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, terutama di kawasan Afrika Sub-Sahara, Asia Selatan, serta populasi adat di Australia dan Selandia Baru, ARF dan RHD tetap menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas kardiovaskular. Diperkirakan lebih dari 40 juta orang hidup dengan RHD secara global, dengan angka kematian tahunan mencapai 300.000 hingga 360.000 jiwa, di mana lebih dari 90% kematian terjadi di wilayah dengan sumber daya terbatas [161][162]. Angka kematian yang distandarisasi berdasarkan usia dapat melebihi 10 per 100.000 di Oseania dan Afrika Tengah Sub-Sahara, dibandingkan kurang dari 0,1 per 100.000 di negara-negara Barat [163]. Komplikasi lain yang juga memberikan beban adalah glomerulonefritis pascastreptokokus (PSGN), yang menyebabkan cedera ginjal akut, terutama pada anak-anak [87].

Pola Musiman dan Tren Terkini

Streptococcal pharyngitis menunjukkan pola musiman yang konsisten di iklim beriklim sedang, dengan puncak insidensi terjadi pada musim dingin dan awal musim semi, terutama dari bulan Desember hingga April [165]. Pola ini didorong oleh faktor-faktor seperti kerumunan di dalam ruangan, ventilasi yang buruk, dan siklus kehadiran sekolah [41]. Laporan pengawasan dari Inggris dan Amerika Serikat menunjukkan peningkatan aktivitas GAS selama musim 2022–2023 dan 2023–2024, dengan puncak antara Januari dan Maret [167]. Tren global menunjukkan adanya kebangkitan pasca-pandemi dalam infeksi GAS, termasuk bentuk invasif, yang diduga terkait dengan gangguan kekebalan populasi dan perubahan perilaku selama pandemi COVID-19 [106]. Peningkatan ini telah memicu kewaspadaan dari badan kesehatan publik seperti CDC dan WHO [151].

Implikasi Kebijakan Kesehatan Masyarakat

Beban penyakit yang tidak merata ini menyoroti kebutuhan akan strategi kesehatan masyarakat yang disesuaikan dengan konteks lokal. Di negara-negara berpenghasilan tinggi, sistem pengawasan yang kuat, seperti jaringan Active Bacterial Core surveillance (ABCs) milik CDC, memungkinkan deteksi dini dan respons terhadap peningkatan kasus [134]. Sebaliknya, di negara-negara berpenghasilan rendah, pengawasan sering kali terfragmentasi, menyebabkan pelaporan yang kurang akurat. WHO merekomendasikan penguatan sistem kesehatan primer, peningkatan akses terhadap diagnosis dan antibiotik, serta penerapan algoritma klinis untuk pengelolaan sakit tenggorokan [171]. Program berbasis sekolah, seperti yang diimplementasikan di Selandia Baru, telah berhasil mengurangi insidensi ARF hingga 60% pada populasi berisiko tinggi melalui skrining dan pengobatan dini [172]. . Pengembangan vaksin terhadap streptokokus grup A merupakan peluang besar untuk mengubah lanskap penyakit ini secara global dan merupakan prioritas utama dalam penelitian kesehatan masyarakat [8].

Referensi