Rinovirus adalah virus dari famili Picornaviridae yang menjadi penyebab utama infeksi saluran pernapasan atas pada manusia, terutama raffreddore comune, dengan lebih dari 160 genotipe yang telah diidentifikasi dan dikelompokkan dalam tiga spesies: HRV-A, HRV-B, dan HRV-C. Virus ini memiliki genom RNA untai tunggal positif dan tidak memiliki selubung (non-enveloped), sehingga struktur kapsidnya yang ikosahedral memberikan stabilitas tinggi di permukaan benda mati, memungkinkan penularan melalui kontak langsung, percikan pernapasan, atau fomite [1]. Replikasi virus paling optimal pada suhu sekitar 33–35 °C, yang menjelaskan preferensinya terhadap rongga hidung dibandingkan saluran pernapasan bawah yang lebih hangat [2]. Meskipun infeksi biasanya bersifat ringan dan sembuh sendiri, rinovirus dapat memicu komplikasi serius seperti bronkitis akut, bronkiolitis, atau memperburuk kondisi kronis seperti asma dan BPCO, terutama pada populasi rentan seperti anak-anak dan lansia [3]. Diagnosis paling sensitif dilakukan melalui PCR real-time, sementara pencegahan bergantung pada praktik higiene seperti mencuci tangan dan menjaga jarak, karena belum tersedia vaksin spesifik akibat keragaman sierotipe yang sangat tinggi [1]. Penelitian terkini menunjukkan bahwa rinovirus tetap menjadi agen dominan dalam infeksi pernapasan, bahkan melampaui prevalensi SARS-CoV-2 dalam beberapa periode, menekankan pentingnya sistem surveilans seperti RespiVirNet di Italia untuk memantau dinamika penyebaran virus [5].

Klasifikasi dan Struktur Biologis

Rinovirus diklasifikasikan dalam famili Picornaviridae, yang merupakan kelompok virus kecil dengan genom RNA untai tunggal positif. Sebelumnya dianggap sebagai genus terpisah, studi filogenetik menunjukkan bahwa rinovirus sangat dekat hubungannya dengan enterovirus manusia, sehingga secara resmi dimasukkan ke dalam genus Enterovirus menurut klasifikasi oleh Komite Internasional untuk Taksonomi Virus (ICTV) [6]. Klasifikasi ini didasarkan pada analisis sekuens genom, terutama gen yang mengkode protein kapsid (VP1, VP2, VP3) dan wilayah 5' tidak diterjemahkan (5' UTR), yang sangat konservatif dan digunakan dalam tes diagnostik molekuler [7]. Saat ini, rinovirus dibagi menjadi tiga spesies utama: HRV-A, HRV-B, dan HRV-C, dengan lebih dari 160 genotipe yang telah diidentifikasi [8]. Penemuan HRV-C pada tahun 2006 menjadi mungkin berkat teknik sekuensing genom tanpa amplifikasi terarah, menjelaskan keterlambatan pengenalannya dibandingkan spesies lainnya [9].

Struktur Virion dan Genom

Rinovirus merupakan virus yang tidak berselubung (non-enveloped), dengan kapsid berbentuk ikosahedral berdiameter sekitar 30 nm [10]. Kapsid ini terdiri dari 60 unit struktural, masing-masing tersusun atas empat protein viral: VP1, VP2, VP3, dan VP4 [10]. Struktur simetris ini memberikan stabilitas lingkungan yang tinggi, memungkinkan virus bertahan di permukaan benda mati selama beberapa jam hingga hari, yang mendukung penularannya melalui fomite [12]. Di dalam kapsid terdapat genom RNA untai tunggal positif dengan panjang sekitar 7,2–7,5 kb [13]. Genom ini mengandung satu wilayah pengkodean yang diterjemahkan menjadi poliprotein prekursor, yang kemudian dipotong oleh protease virus menjadi protein struktural dan non-struktural yang terlibat dalam replikasi [14]. Sebuah ciri khas dari struktur kapsid adalah adanya "kantung" (pocket) yang dalam pada permukaan VP1, yang berfungsi sebagai tempat pengikatan reseptor seluler dan menjadi target potensial untuk obat antiviral [15]. Namun, banyak strain, terutama HRV-C, tidak memiliki kantung fungsional ini, yang membatasi efektivitas beberapa inhibitor [16].

Mekanisme Masuk dan Replikasi

Kapasitas infektif rinovirus sangat terkait dengan mekanisme masuk ke dalam sel. Sekitar 90% serotipe HRV-A dan HRV-B menggunakan molekul ICAM-1 (Intercellular Adhesion Molecule 1) sebagai reseptor utama, yang diekspresikan pada sel epitel saluran pernapasan [17]. Interaksi antara kapsid virus dan ICAM-1 menyebabkan perubahan struktural pada virion, mengekspos ujung N-terminal VP1 dan melepaskan VP4, yang memfasilitasi pembentukan pori pada membran endosom [18]. Virus masuk ke dalam sel inang melalui endositosis yang dimediasi reseptor, dan di dalam endosom yang asam, genom viral dilepaskan ke sitoplasma melalui pori yang terbentuk [19]. RNA viral, karena bersifat positif, berfungsi langsung sebagai mRNA dan diterjemahkan oleh ribosom seluler. Proses ini dimungkinkan oleh elemen masuk internal ribosom (IRES) yang terletak pada wilayah 5' UTR, yang memungkinkan sintesis protein viral yang cepat bahkan dalam kondisi stres seluler [14]. Beberapa serotipe juga menggunakan reseptor LDLR (Low-Density Lipoprotein Receptor) untuk masuk ke sel [21].

Variabilitas Genetik dan Dampaknya

Genom rinovirus ditandai oleh variabilitas genetik yang tinggi, yang disebabkan oleh mutasi titik dan rekombinasi antar strain [16]. Keragaman ini menghasilkan lebih dari 160 serotipe yang telah diidentifikasi, dengan distribusi sekitar 80 pada HRV-A, 32 pada HRV-B, dan minimal 55 pada HRV-C [8]. Keragaman antigenik yang ekstrem ini mencegah terbentuknya imunitas yang tahan lama dan menjelaskan frekuensi infeksi berulang [24]. Variabilitas ini juga merupakan hambatan utama dalam pengembangan vaksin atau terapi antiviral yang efektif, karena obat atau vaksin yang dirancang untuk satu serotipe mungkin tidak efektif terhadap serotipe lain [6]. Perbedaan antar spesies juga memiliki implikasi klinis: HRV-A dikaitkan dengan infeksi yang lebih parah dan sering terlibat dalam eksaserbasi asma dan BPCO, HRV-B cenderung menyebabkan infeksi yang lebih ringan, sedangkan HRV-C muncul sebagai kelompok paling patogen, terkait dengan infeksi pernapasan yang lebih serius, terutama pada anak-anak, dan tingkat rawat inap yang tinggi [26].

Perbedaan dengan Virus Pernapasan Lainnya

Dibandingkan dengan virus pernapasan lainnya, rinovirus memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya. Ketiadaan selubung membuatnya lebih tahan terhadap disinfektan tetapi lebih sensitif terhadap panas [21]. Replikasinya paling optimal pada suhu sekitar 33–35 °C, yang merupakan suhu rongga hidung, menjelaskan tropisme kuatnya terhadap saluran pernapasan atas dan jarangnya menyebabkan infeksi parah pada saluran pernapasan bawah yang lebih hangat [28]. Ini berbeda dengan virus seperti influenza atau virus respiratorio sinciziale (VRS), yang dapat bereplikasi secara efektif pada suhu tubuh yang lebih tinggi (37 °C) dan menyebabkan penyakit yang lebih parah di saluran pernapasan bawah [29]. Selain itu, reseptor masuknya berbeda: sementara rinovirus menggunakan ICAM-1 atau LDLR, VRS menggunakan reseptor CX3CR1, dan SARS-CoV-2 menggunakan reseptor ACE2 [21]. Karakteristik biologis dan struktural ini—termasuk kapsid ikosahedral, termolabilitas, keragaman genetik tinggi, dan mekanisme masuk yang dimediasi reseptor spesifik—menentukan penyebarannya yang luas, kemampuannya menyebabkan infeksi berulang, dan perannya yang dominan dalam infeksi saluran pernapasan atas.

Gejala dan Manifestasi Klinis

Infeksi rinovirus biasanya memanifestasikan diri sebagai raffreddore comune, dengan gejala ringan yang bersifat autolimiting. Namun, pada populasi rentan, infeksi ini dapat berkembang menjadi komplikasi serius. Gejala umum muncul antara 12 hingga 72 jam setelah paparan virus dan berlangsung rata-rata selama 7 hingga 10 hari, meskipun pada beberapa kasus dapat berlangsung hingga dua minggu, terutama pada anak-anak atau individu dengan sistem imun yang lemah [31].

Gejala Umum pada Infeksi Ringan

Gejala khas infeksi rinovirus terutama menyerang saluran pernapasan atas dan meliputi:

  • Kongesti nasal: pembengkakan jaringan di hidung yang menyebabkan kesulitan bernapas.
  • Rinorea: hidung berair, biasanya dimulai dengan sekresi bening dan encer yang kemudian bisa menjadi lebih kental dan keruh.
  • Bersin: sering terjadi, terutama pada fase awal infeksi [1].
  • Sakit tenggorokan: ditemukan pada sekitar 60% kasus, merupakan gejala yang sangat umum [33].
  • Batuk kering: dapat berlanjut bahkan setelah gejala lain mereda, dan dalam beberapa kasus dapat berlangsung hingga 10-15 hari [34].
  • Malaise umum: perasaan tidak enak badan secara keseluruhan.
  • Demam ringan: lebih sering terjadi pada anak-anak, sedangkan pada orang dewasa biasanya tidak ada atau hanya demam ringan [35].
  • Penurunan penciuman dan nyeri wajah: disebabkan oleh peradangan pada saluran hidung dan sinus paranasal [36].

Komplikasi dan Penyakit Serius

Meskipun sebagian besar infeksi ringan, rinovirus dapat menyebabkan atau memperburuk kondisi yang lebih serius, terutama pada individu rentan seperti anak-anak, lansia, atau orang dengan penyakit kronis. Komplikasi ini mencakup:

  • Bronkitis akut: peradangan pada bronkus, sering disertai batuk yang berkepanjangan [37].
  • Bronkiolitis: peradangan pada bronkiolus, terutama pada bayi baru lahir dan anak kecil, yang dapat menyebabkan kesulitan bernapas [38].
  • Sinusitis dan otitis media: komplikasi sekunder akibat penyumbatan saluran pernapasan dan akumulasi sekresi [3].
  • Pneumonia: pada individu dengan gangguan imun atau penyakit paru-paru yang sudah ada sebelumnya, infeksi dapat menyebar ke saluran pernapasan bawah [40].

Pada anak-anak, rinovirus dapat menyebabkan komplikasi seperti otitis media, croup, atau pneumonia, terutama pada bayi yang lebih muda [35]. Pada orang dewasa, infeksi biasanya bersifat autolimiting dan sembuh tanpa pengobatan khusus [42].

Perburukan Penyakit Kronis

Rinovirus merupakan pemicu umum dari eksaserbasi pada kondisi pernapasan kronis. Virus ini dapat memperburuk penyakit seperti asma dan BPCO, terutama pada anak-anak [1]. Pada pasien dengan asma, infeksi rinovirus dapat menyebabkan peningkatan produksi mukus, hiperreaktivitas bronkus, dan penurunan fungsi paru-paru. Pada pasien BPCO, infeksi ini dapat menyebabkan peningkatan dispnea, batuk, dan produksi dahak, serta meningkatkan risiko rawat inap dan mortalitas [44].

Penularan dan Faktor Lingkungan

Rinovirus menyebar dengan mudah dari orang ke orang melalui beberapa jalur utama, termasuk percikan pernapasan, kontak langsung, dan permukaan yang terkontaminasi (fomite) [12]. Virus ini dapat bertahan selama beberapa jam hingga beberapa hari pada permukaan benda mati seperti gagang pintu, telepon, atau mainan, meningkatkan risiko penularan melalui tangan yang terkontaminasi [46]. Ketika seseorang menyentuh permukaan yang terkontaminasi dan kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut, virus dapat masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan infeksi [1]. Jalur penularan ini sangat umum di lingkungan yang padat, seperti sekolah, tempat penitipan anak, dan kantor, di mana kontak dekat antarindividu sering terjadi [48].

Jalur Penularan Utama

Penularan rinovirus terutama terjadi melalui tiga mekanisme: percikan pernapasan, aerosol, dan kontak tidak langsung melalui fomite. Percikan pernapasan dihasilkan ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara, melepaskan tetesan saliva atau lendir yang mengandung virus ke udara [6]. Tetesan ini, yang umumnya berukuran lebih dari 5–10 mikron, dapat dihirup oleh orang di dekatnya atau menempel pada selaput lendir hidung, mulut, atau mata, memicu infeksi [21]. Selain itu, bukti terbaru menunjukkan bahwa rinovirus juga dapat ditularkan melalui aerosol, partikel halus berukuran kurang dari 5 mikron yang dapat tetap mengambang di udara lebih lama dan menyebar di ruangan tertutup yang padat [51]. Meskipun transmisi melalui aerosol kurang dominan dibandingkan percikan, kontribusinya tetap penting, terutama di ruang dalam ruangan dengan ventilasi buruk [51].

Faktor Lingkungan dan Stagionalitas

Penyebaran rinovirus sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, terutama suhu dan kelembapan. Virus ini menunjukkan stabilitas yang lebih tinggi pada suhu dingin dan kelembapan rendah, yang khas selama musim gugur dan musim dingin [48]. Kelembapan relatif rendah (≤23%) memungkinkan virus tetap infektif di udara hingga 71-77%, sedangkan kelembapan relatif tinggi (>43%) mengurangi infektivitasnya menjadi di bawah 15-22% [54]. Oleh karena itu, menjaga kelembapan relatif sekitar 40% di ruangan tertutup direkomendasikan untuk mengurangi penyebaran virus [54]. Selain itu, suhu dingin di luar ruangan mendorong orang untuk tetap berada di dalam ruangan, meningkatkan kontak dekat dan risiko penularan melalui percikan dan aerosol [56].

Secara epidemiologis, rinovirus menunjukkan pola musiman yang khas, dengan peningkatan aktivitas terutama pada musim gugur dan musim semi [57]. Di Italia dan wilayah beriklim sedang lainnya, peningkatan signifikan terjadi antara Oktober dan November, diikuti oleh puncak kedua pada musim semi [57]. Namun, berbeda dengan virus seperti influenza yang memiliki puncak musim dingin yang tajam, rinovirus tetap beredar sepanjang tahun dan bahkan dapat mendominasi selama musim panas [57]. Dalam musim 2024-2025, sistem surveilans RespiVirNet mencatat peningkatan 63,9% kasus positif pada Agustus 2024, menunjukkan peran penting virus ini sejak awal musim dingin [60].

Peran Lingkungan Tertutup dan Pengendalian

Lingkungan tertutup seperti sekolah, rumah sakit, dan fasilitas perawatan jangka panjang merupakan tempat utama penularan rinovirus [48]. Konsentrasi partikel virus di udara meningkat di ruangan dengan ventilasi buruk, yang memperkuat risiko infeksi [62]. Pengendalian suhu dan kelembapan di gedung, terutama fasilitas kesehatan, sangat penting untuk membatasi penularan [63]. Ventilasi yang memadai dan pengelolaan kelembapan dapat secara signifikan mengurangi kelangsungan hidup virus dan risiko infeksi, terutama di lingkungan dengan kepadatan tinggi [1]. Strategi pencegahan seperti mencuci tangan secara rutin, desinfeksi permukaan, dan penggunaan masker di lingkungan berisiko tinggi tetap menjadi pilar utama untuk mengurangi penyebaran komunitas [65]. Perubahan iklim juga berpotensi memengaruhi pola musiman dan penyebaran rinovirus, karena fluktuasi suhu dan kelembapan dapat mengubah dinamika sirkulasi virus [66].

Diagnosis dan Surveilans Virologi

Diagnosis infeksi rinovirus telah mengalami kemajuan signifikan berkat teknologi molekuler, terutama PCR real-time, yang kini menjadi metode standar emas dalam deteksi virus ini. Metode ini menawarkan sensitivitas dan spesifisitas yang sangat tinggi, seringkali melebihi 95%, memungkinkan identifikasi genoma RNA virus bahkan pada beban virus yang rendah atau pada individu yang tidak menunjukkan gejala [67]. Sampel klinis yang digunakan biasanya diperoleh melalui tampone nasofaringeo, yang efektif mengekstrak virus dari saluran pernapasan atas tempat virus paling banyak berkembang biak [68]. PCR real-time unggul dibandingkan metode lama seperti kultur virus, yang sensitivitasnya rendah karena rinovirus sulit dikembangbiakkan di laboratorium dan membutuhkan waktu hingga 7–10 hari untuk memberikan hasil [69].

Diagnosis Molekuler dan Penerapannya

Diagnosis molekuler melalui PCR menjadi sangat penting dalam konteks klinis tertentu, meskipun infeksi ringan seperti raffreddore comune biasanya tidak memerlukan konfirmasi laboratorium [3]. Penerapan PCR menjadi krusial dalam beberapa skenario, termasuk esacerbasi asma, di mana rinovirus merupakan salah satu pemicu utama, terutama pada anak-anak dan orang dewasa dengan asma yang sudah ada sebelumnya [71]. Dengan mengonfirmasi adanya virus, dokter dapat mengarahkan strategi terapi dan pencegahan secara lebih tepat [72]. Di bidang BPCO, infeksi virus, termasuk rinovirus, bertanggung jawab atas sebagian besar riacutizzazioni. Identifikasi patogen melalui PCR membantu membedakan penyebab virus dari bakteri, sehingga mencegah penggunaan antibiotik yang tidak tepat dan mengoptimalkan manajemen klinis [44]. Selain itu, diagnosis molekuler sangat penting untuk pasien immunokompromi atau mereka dengan penyakit pernapasan kronis, karena infeksi rinovirus dapat berkembang menjadi infeksi saluran pernapasan bawah yang serius seperti bronkitis atau pneumonia [74].

Untuk diagnosis diferensial, terutama di lingkungan rumah sakit atau selama musim wabah, penerapan panel PCR multiplex sangat berharga. Panel ini dapat mendeteksi simultan hingga 18 patogen pernapasan, termasuk rinovirus, influenza, SARS-CoV-2, virus respiratorio sinciziale (VRS), dan adenovirus, dari satu sampel saja [75]. Pendekatan ini meningkatkan efisiensi diagnostik dan memungkinkan respon klinis yang lebih cepat dan akurat [76]. Keberadaan virus lain dalam sampel juga dapat menimbulkan tantangan karena adanya potensi cross-reaktivitas dengan enterovirus, sehingga kadang diperlukan sekuensing genetik untuk klasifikasi spesies yang lebih akurat [77].

Sistem Surveilans Virologi

Surveilans virologi memainkan peran penting dalam memahami dinamika penyebaran rinovirus dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Di Italia, sistem ini diintegrasikan dalam RespiVirNet, yang dikelola oleh Istituto Superiore di Sanità (ISS) [78]. Sistem ini memantau secara mingguan sirkulasi virus pernapasan, termasuk berbagai genotipe dari HRV-A, HRV-B, dan HRV-C, memberikan data penting untuk perencanaan kesehatan publik [79]. Data dari RespiVirNet menunjukkan bahwa rinovirus sering kali mendominasi sirkulasi virus pernapasan, bahkan melampaui prevalensi SARS-CoV-2 dan virus lain dalam beberapa periode, dengan tingkat positivitas mencapai 9,2% pada musim gugur 2024 [80]. Sistem serupa juga beroperasi di negara lain, seperti NREVSS di Amerika Serikat yang dikelola oleh CDC [81].

Pemodelan Matematis dan Kebijakan Kesehatan

Pemodelan matematis, seperti model SIR (Suseptibel–Terinfeksi–Sembuh) dan model SEIR (Suseptibel–Tertular–Terinfeksi–Sembuh), digunakan untuk memprediksi epidemi rinovirus dan mendukung pembuatan kebijakan kesehatan [82]. Model-model ini memungkinkan simulasi dinamika penyebaran, estimasi parameter seperti angka reproduksi dasar (R0), dan evaluasi efektivitas intervensi [83]. Data dari sistem surveilans seperti RespiVirNet digunakan untuk memberi makan model-model ini, membantu memperkirakan insiden, puncak epidemi, dan beban kesehatan dari infeksi [78]. Pemodelan ini juga membantu menganalisis interaksi antar virus, seperti interferensi viral, di mana sirkulasi rinovirus dapat menghambat sementara penyebaran virus lain seperti influenza A, kemungkinan karena induksi respons antiviral bawaan di epitel pernapasan [85]. Algoritma keputusan dan model prediktif, seperti proyek Influcast, mendukung perencanaan sumber daya dan komunikasi risiko kepada masyarakat [86]. Integrasi antara surveilans virologi dan pemodelan matematis menyediakan dasar ilmiah yang kuat bagi kebijakan kesehatan yang proaktif, tepat waktu, dan efektif, yang pada akhirnya berkontribusi pada pengurangan beban infeksi pernapasan [87].

Komplikasi dan Dampak pada Penyakit Kronis

Rinovirus, meskipun umumnya menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas yang ringan seperti raffreddore comune, dapat memicu berbagai komplikasi serius, terutama pada individu dengan kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya. Dampaknya jauh melampaui gejala ringan, dengan kemampuan untuk memperburuk penyakit kronis seperti asma dan BPCO, serta menyebabkan infeksi pada saluran pernapasan bawah. Populasi rentan seperti neonati, bambini piccoli, anziani, dan individu dengan immunodeficienza atau malattie kroniche menghadapi risiko tertinggi untuk mengalami bentuk penyakit yang lebih parah [3].

Komplikasi Infeksi Saluran Pernapasan Bawah

Meskipun rinovirus lebih memilih suhu yang lebih rendah di rongga hidung (33–35 °C), virus ini dapat menyebar ke saluran pernapasan bawah, terutama pada pasien dengan kondisi medis yang mendasarinya. Komplikasi ini mencakup bronkitis akut, bronkiolitis, dan pneumonia. Bronkiolitis, yang merupakan peradangan pada bronkiolus kecil, merupakan komplikasi yang signifikan pada bayi dan anak-anak kecil, sering kali memerlukan rawat inap di rumah sakit [89]. Studi menunjukkan bahwa rinovirus, terutama spesies HRV-C, dikaitkan dengan insiden bronkiolitis yang lebih tinggi dan rawat inap yang lebih sering dibandingkan dengan spesies lainnya [26]. Pada individu dengan sistem kekebalan yang lemah, seperti pasien pasca-trapianto atau yang menderita HIV, infeksi dapat menjadi kronis dan menyebar, menyebabkan pneumonia yang berkepanjangan [91].

Perburukan Penyakit Kronis: Asma dan BPCO

Rinovirus merupakan pemicu utama eksaserbasi akut pada penyakit pernapasan kronis, terutama asma dan BPCO. Dalam konteks asma, infeksi oleh rinovirus merupakan penyebab viral paling umum dari eksaserbasi akut, terlibat dalam lebih dari 80% kasus pada anak-anak dan persentase yang signifikan pada orang dewasa [92]. Pada pasien dengan BPCO, rinovirus adalah salah satu patogen viral yang paling sering diisolasi selama episode eksaserbasi, berkontribusi terhadap peningkatan sesak napas, batuk, dan produksi dahak [44]. Eksaserbasi ini tidak hanya memperburuk gejala jangka pendek tetapi juga dikaitkan dengan penurunan fungsi paru-paru yang lebih cepat, peningkatan morbiditas, dan risiko kematian yang lebih tinggi [94].

Mekanisme Imunopatogenetik yang Mendasari Komplikasi

Dampak serius dari rinovirus pada penyakit kronis disebabkan oleh interaksi kompleks antara virus dan sistem kekebalan tubuh pasien. Pada individu sehat, sel epitel saluran pernapasan merespons infeksi dengan memproduksi interferon tipe I (IFN-α/β) dan tipe III (IFN-λ), yang penting untuk mengendalikan replikasi virus. Namun, pada pasien dengan asma atau BPCO, respons interferon ini sering kali terganggu atau tertunda, memungkinkan virus untuk mereplikasi secara lebih efisien dan menyebabkan infeksi yang lebih berkepanjangan [95]. Selain itu, infeksi oleh rinovirus memicu pelepasan sitokin "peringatan" seperti IL-25, IL-33, dan TSLP dari sel epitel, yang mengaktifkan cellule linfoidi innate di tipo 2 (ILC2). Aktivasi ILC2 ini memperkuat respons peradangan tipe Th2, yang ditandai dengan produksi IL-4, IL-5, dan IL-13, yang berkontribusi terhadap hiperreaktivitas bronkial, peningkatan produksi mukus, dan infiltrasi eosinofil, semua ciri khas dari eksaserbasi asma [96]. Virus juga dapat menghindari sistem kekebalan dengan menginduksi ekspresi molekul penghambat imun seperti PD-1, yang menekan aktivitas sel T antiviral [97].

Faktor Risiko dan Populasi Rentan

Beberapa faktor meningkatkan risiko komplikasi dari infeksi rinovirus. Usia ekstrem, yaitu bayi dan lansia, merupakan kelompok yang sangat rentan karena sistem kekebalan yang belum matang atau menurun [98]. Anak-anak yang sering berada di lingkungan padat seperti asilo nido atau scuole materne juga berisiko tinggi karena paparan berulang [99]. Kondisi kronis seperti asma, BPCO, insufficienza cardiaca, atau diabete secara signifikan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi saluran pernapasan bawah dan eksaserbasi [100]. Paparan terhadap fumo di tabacco, baik secara langsung maupun pasif, merusak pertahanan alami saluran pernapasan dan meningkatkan risiko komplikasi [101]. Pengendalian yang tidak optimal dari penyakit kronis yang mendasarinya juga merupakan faktor predisposisi utama untuk eksaserbasi viral [102].

Kontribusi terhadap Beban Kesehatan

Rinovirus memberikan kontribusi besar terhadap beban kesehatan global, terutama melalui perannya dalam penyakit kronis. Di Italia, sistem surveilans nasional RespiVirNet, yang dikelola oleh Istituto Superiore di Sanità, memantau secara aktif sirkulasi virus ini. Data menunjukkan bahwa rinovirus sering kali merupakan virus pernapasan yang paling banyak beredar, terutama pada musim gugur dan musim semi, dan menyumbang sekitar setengah dari semua virus pernapasan yang terdeteksi dalam kasus yang dipantau [103]. Dalam konteks ini, rinovirus adalah penyebab utama eksaserbasi asma dan BPCO, yang menyebabkan peningkatan kunjungan ke pronto soccorso, rawat inap, dan penggunaan sumber daya kesehatan lainnya. Beban ini tidak hanya berdampak pada individu tetapi juga pada sistem kesehatan secara keseluruhan, menekankan pentingnya strategi pencegahan dan manajemen klinis yang efektif [104].

Strategi Pencegahan dan Pengobatan

Meskipun infeksi oleh umumnya bersifat ringan dan sembuh sendiri, tidak tersedia vaksin atau terapi antiviral spesifik karena keragaman sierotipe yang sangat tinggi, dengan lebih dari 160 genotipe yang telah diidentifikasi [1]. Akibatnya, pendekatan pencegahan dan pengobatan terfokus pada manajemen gejala dan tindakan higiene untuk membatasi penyebaran virus.

Pencegahan Melalui Praktik Higiene

Karena tidak ada vaksin, pencegahan utama terhadap infeksi rinovirus bergantung pada praktik higiene yang ketat. Tindakan ini sangat penting mengingat virus dapat menyebar melalui percikan pernapasan, kontak langsung, dan fomite—permukaan yang terkontaminasi yang dapat menahan virus selama beberapa jam hingga hari [12]. Strategi pencegahan yang direkomendasikan meliputi:

  • Mencuci tangan secara rutin dengan sabun dan air, atau menggunakan cairan pembersih berbasis alkohol, terutama setelah menyentuh permukaan umum atau sebelum menyentuh wajah [1].
  • Menghindari menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang tidak dicuci, karena ini merupakan jalur utama masuknya virus ke dalam tubuh [1].
  • Menjaga jarak dari orang yang sakit, terutama di lingkungan tertutup dan ramai seperti sekolah dan kantor, yang merupakan tempat penularan paling umum [48].
  • Menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, sebaiknya dengan siku atau tisu sekali pakai, untuk mencegah penyebaran percikan pernapasan [110].
  • Disinfeksi rutin permukaan yang sering disentuh, seperti gagang pintu, telepon, dan mainan, untuk mengurangi risiko penularan melalui kontak tidak langsung [111].

Pencegahan ini sangat penting terutama selama musim dingin dan musim gugur, ketika infeksi pernapasan lebih sering terjadi [112]. Bagi individu dengan penyakit kronis seperti asma atau BPCO, mengoptimalkan pengobatan dasar dan menghindari paparan terhadap faktor pencetus seperti virus merupakan bagian penting dari manajemen penyakit [113].

Pengobatan Sintomatik dan Dukungan

Tidak ada terapi antiviral yang disetujui untuk mengobati infeksi rinovirus, sehingga pengobatan bersifat simptomatik dan bertujuan untuk meredakan ketidaknyamanan serta mendukung sistem kekebalan tubuh selama infeksi berlangsung [1]. Rekomendasi umum meliputi:

  • Istirahat yang cukup dan hidrasi yang memadai untuk membantu tubuh melawan infeksi [115].
  • Penggunaan analgesik seperti paracetamol atau ibuprofen untuk mengatasi nyeri kepala, nyeri otot, dan demam ringan [116].
  • Penerapan dekongestan hidung atau semprotan saline untuk mengurangi sumbatan hidung dan memfasilitasi pernapasan [117].
  • Pelembapan udara di ruangan untuk mengurangi iritasi pada saluran pernapasan dan meringankan batuk [118].

Dalam beberapa kasus, suplementasi awal dengan zinco dapat membantu mengurangi durasi dan keparahan gejala, meskipun manfaatnya terbatas dan harus dimulai segera setelah gejala muncul [115]. Penting untuk dicatat bahwa antibiotik tidak efektif terhadap rinovirus karena ini adalah agen viral, dan hanya boleh digunakan jika terjadi infeksi bakteri sekunder [120].

Strategi Terapeutik Eksperimental dan Masa Depan

Meskipun saat ini tidak ada terapi spesifik, penelitian sedang berlangsung untuk mengembangkan pendekatan yang lebih canggih. Strategi yang sedang dievaluasi termasuk:

  • Antibodi monoklonal yang menargetkan epitop konservatif pada virus, yang dapat memberikan perlindungan pasif bagi populasi rentan [121].
  • Antiviral berbasis RNA, seperti siRNA atau oligonukleotida antisense, yang dirancang untuk menargetkan bagian genom viral yang sangat konservatif [122].
  • Inhibitor enzim viral, seperti penghambat protease 3C (3Cpro) atau RNA polimerase (RdRp), yang merupakan target utama dalam terapi antiviral untuk virus RNA lainnya seperti SARS-CoV-2 [123].
  • Terapi yang menargetkan sel inang (host-targeting), seperti inhibitor hDHODH, yang mengganggu proses seluler yang dimanfaatkan virus untuk replikasi, menawarkan spektrum aksi yang lebih luas dan risiko resistensi yang lebih rendah [124].

Namun, tantangan utama tetap ada, termasuk keragaman genetik yang tinggi, kesulitan farmakokinetik dalam mencapai konsentrasi terapeutik di saluran pernapasan atas, dan kurangnya insentif komersial karena sifat infeksi yang umumnya ringan [95]. Meskipun demikian, pemahaman yang lebih dalam tentang mekanisme imunopatogenetik dan pengembangan vaksin multiepitop melalui pendekatan immunoinformatics menawarkan harapan untuk strategi pencegahan dan pengobatan di masa depan [126].

Peran dalam Eksaserbasi Asma dan BPCO

Rinovirus merupakan salah satu agen viral utama yang memicu eksaserbasi akut pada penyakit pernapasan kronis, terutama asma dan BPCO. Infeksi oleh virus ini tidak hanya menyebabkan perburukan sementara gejala, tetapi juga berkontribusi terhadap penurunan fungsi paru-paru, peningkatan morbiditas, dan risiko rawat inap [127]. Menurut pedoman Global Initiative for Asthma (GINA), rinovirus secara eksplisit diakui sebagai pemicu sentral dalam eksaserbasi asma, terutama pada anak-anak dan remaja [113].

Peran dalam Eksaserbasi Asma

Infeksi oleh rinovirus adalah penyebab viral paling umum dari eksaserbasi asma akut. Data epidemiologis menunjukkan bahwa lebih dari 80% eksaserbasi asma pada anak terkait dengan infeksi viral, dan di antara patogen tersebut, rinovirus menyumbang sekitar 60–80% kasus yang teridentifikasi [92]. Pada orang dewasa, rinovirus juga sering ditemukan selama episode riacutan, terutama pada musim gugur dan musim dingin.

Risiko eksaserbasi meningkat secara signifikan ketika infeksi rinovirus terjadi bersamaan dengan sensibilizzazione allergica. Kombinasi ganda terhadap virus dan alergen memperkuat respons inflamasi pada saluran napas, yang mengarah pada bronkospasme, hipersekresi mukus, dan obstruksi jalan napas [92]. Selain itu, infeksi berulang oleh rinovirus pada masa bayi, khususnya oleh RV-C, dikaitkan dengan peningkatan risiko mengembangkan asma persisten pada usia anak [131]. Sebuah penelitian tindak lanjut satu tahun setelah bronkiolitis akibat rinovirus menunjukkan insidensi tinggi dari wheezing berulang, menunjukkan hubungan antara infeksi dini dan ketidakstabilan saluran napas [132].

Peran dalam Eksaserbasi BPCO

Pada pasien dengan BPCO, eksaserbasi akut merupakan kejadian kritis yang mempercepat penurunan fungsi paru-paru dan meningkatkan angka kematian. Rinovirus termasuk di antara patogen viral yang paling sering diisolasi selama episode riacutan, bersama dengan virus influenza dan virus respiratorio sinciziale (RSV) [44]. Studi prospektif mengonfirmasi bahwa infeksi rinovirus berkaitan dengan perburukan dispnea, batuk, dan produksi sputum [134].

Eksaserbasi viral, khususnya yang disebabkan oleh rinovirus, dapat menyebabkan komplikasi serius seperti insufficienza respiratoria akut dan rawat inap [94]. Manajemen memerlukan diagnosis cepat, sering kali didukung oleh spirometria, saturimetria, dan analisis gas darah arteri untuk mengevaluasi tingkat kerusakan fungsional [136].

Mekanisme Imunopatogenetik yang Terlibat

Mekanisme di balik eksaserbasi akibat rinovirus pada pasien dengan asma atau BPCO sangat kompleks dan melibatkan gangguan pada respons imun bawaan dan adaptif.

Respons Imun Bawaan yang Terganggu

Sel epitel saluran napas merupakan lokasi utama replikasi rinovirus. Pada pasien dengan asma atau BPCO, sel-sel ini menunjukkan respons antiviral bawaan yang terganggu, dengan produksi berkurang dari interferon tipe I (IFN-β) dan tipe III (IFN-λ)>. Kekurangan ini menghambat pengendalian replikasi virus secara efektif, memungkinkan viral load yang lebih tinggi dan infeksi yang lebih berkepanjangan [96].

Secara bersamaan, sel epitel yang terinfeksi melepaskan sitokin peringatan seperti IL-25, IL-33, dan TSLP (thymic stromal lymphopoietin)>, yang mengaktifkan sel linfoid innate tipe 2 (ILC2)>. Sel-sel ini memicu respons inflamasi tipe Th2, ditandai dengan produksi IL-4, IL-5, dan IL-13, yang merupakan mediator kunci dalam inflamasi eosinofilik, hiperreaktivitas bronkial, dan produksi mukus [96].

Evansi Imun dan Modulasi Respons

Rinovirus dapat menghindari sistem imun dengan menginduksi ekspresi molekul imunosupresif seperti PD-1 (programmed cell death 1) pada limfosit T dan sel dendritik, yang mengarah pada respons imun yang tidak efektif dan persistensi infeksi [97]. Selain itu, makrofag alveolar pada pasien BPCO menunjukkan kemampuan fagositosis yang berkurang dan produksi sitokin yang terganggu, berkontribusi terhadap respons inflamasi yang kacau dan kronis [140].

Inflamasi Saluran Napas dan Kerusakan Jaringan

Infeksi oleh rinovirus memperkuat inflamasi yang sudah ada pada saluran napas, dengan perekrutan neutrofil, eosinofil, dan limfosit T. Pelepasan kemokin seperti IL-8 (CXCL8) dan RANTES (CCL5) mendorong aliran sel inflamasi, meningkatkan obstruksi dan reaktivitas bronkial [141]. Proses ini sangat terlihat pada pasien dengan asma alergi, di mana respons Th2 sudah aktif.

Implikasi Klinis dan Manajemen

Pencegahan eksaserbasi akibat rinovirus memerlukan pendekatan multifaset:

  • Kontrol optimal penyakit dasar (penggunaan rutin kortikosteroid inhalasi, bronkodilator).
  • Vaksinasi influenza tahunan, meskipun tidak spesifik untuk rinovirus, dapat mengurangi risiko infeksi viral bersamaan.
  • Kebersihan tangan dan tindakan jaga jarak selama puncak epidemi musim gugur/musim dingin.
  • Pemantauan dini gejala untuk mengaktifkan pengobatan awal (misalnya, kortikosteroid oral, peningkatan terapi bronkodilator).

Studi terkini telah mengevaluasi efektivitas pengobatan dengan kortikosteroid sistemik pada eksaserbasi akibat rinovirus pada anak-anak yang dirawat, menunjukkan manfaat dalam mengendalikan gejala, meskipun dengan efek terbatas pada viral load [142].

Tantangan dalam Pengembangan Terapi dan Vaksin

Pengembangan terapi antiviral dan vaksin spesifik terhadap rinovirus menghadapi sejumlah tantangan kompleks yang bersifat biologis, farmakologis, dan epidemiologis. Meskipun rinovirus merupakan penyebab utama rinitis akut dan eksaserbasi pada penyakit pernapasan kronis seperti asma dan BPCO, hingga kini belum ada antiviral atau vaksin yang disetujui untuk pencegahan atau pengobatan infeksi ini [1]. Tantangan utama ini terutama disebabkan oleh keragaman genetik yang sangat tinggi dari virus ini, yang mencakup lebih dari 160 sierotipe yang dikelompokkan dalam tiga spesies: HRV-A, HRV-B, dan HRV-C [6]. Keragaman ini membuat hampir tidak mungkin untuk mengembangkan vaksin universal, karena infeksi sebelumnya atau stimulasi imun tidak memberikan kekebalan yang tahan lama atau proteksi silang terhadap sierotipe lainnya, akibat perbedaan struktural pada protein permukaan virus [6].

Keragaman Genetik dan Sierotipik

Keragaman sierotipik yang ekstrem adalah penghalang utama dalam pengembangan vaksin. Setiap sierotipe memiliki perbedaan antigenik yang signifikan, yang berarti sistem imun harus mengenali dan merespons masing-masing secara terpisah. Hal ini membuat vaksin multivalen yang mencakup semua sierotipe menjadi tidak praktis. Selain itu, genom RNA untai tunggal positif dari rinovirus direplikasi oleh polimerase RNA virus yang tidak memiliki aktivitas proofreading, menghasilkan tingkat mutasi yang tinggi dan evolusi virus yang cepat [95]. Mekanisme ini memfasilitasi munculnya resistensi terhadap antiviral dan mempersulit desain obat yang efektif secara luas. Penelitian menunjukkan bahwa variasi genetik antar sierotipe dapat mencapai hingga 41% pada tingkat nukleotida dan 28% pada tingkat asam amino, yang secara signifikan mengganggu efikasi terapi yang ditujukan pada satu target molekuler saja [147].

Tantangan dalam Pengembangan Antiviral

Pengembangan obat antiviral juga menghadapi banyak hambatan. Meskipun beberapa kandidat telah diuji, seperti pleconaril, yang merupakan penghambat kapsid, hasilnya mengecewakan karena spektrum aktivitas yang tidak lengkap dan interaksi obat yang signifikan, yang mencegah persetujuan [148]. Kandidat lain, seperti rupintrivir, yang merupakan penghambat protease 3C, menunjukkan aktivitas antiviral in vitro tetapi gagal dalam uji klinis karena efikasi klinis yang terbatas, kemungkinan akibat dari penetrasi suboptimal ke jaringan pernapasan dan kebutuhan untuk pemberian terlalu dini setelah infeksi [149]. Strategi lain, seperti penghambat masuk virus, juga menghadapi tantangan dalam mencapai konsentrasi terapeutik yang cukup di saluran pernapasan atas, yang merupakan lokasi utama replikasi virus [150].

Kendala Farmakokinetik dan Toksikologi

Banyak kandidat antiviral mengalami kegagalan karena masalah farmakokinetik dan toksikologi. Masalah umum termasuk biodisponibilitas oral yang buruk, eliminasi cepat dari sirkulasi sistemik, dan kesulitan mencapai konsentrasi terapeutik di lokasi infeksi, yaitu epitel saluran pernapasan atas [151]. Selain itu, beberapa senyawa menunjukkan efek samping yang signifikan, seperti iritasi saluran pernapasan pada pemberian inhalasi atau toksisitas sistemik akibat interferensi dengan polimerase mitokondria manusia [95]. Penghambatan enzim viral seperti protease 3C atau polimerase RNA (3Dpol) juga berisiko tinggi terhadap toksisitas seluler jika tidak selektif, karena beberapa proses molekuler mirip dengan yang ada pada sel inang [153].

Kurangnya Model Hewan yang Ideal dan Insentif Komersial

Pengembangan terapi juga terhambat oleh kurangnya model hewan yang ideal. Rinovirus sangat spesifik terhadap manusia, sehingga hewan laboratorium biasanya tidak rentan terhadap infeksi, yang membatasi evaluasi praklinis tentang efikasi dan keamanan kandidat obat [95]. Selain tantangan ilmiah, ada juga faktor ekonomi. Karena infeksi rinovirus biasanya bersifat ringan dan sembuh dengan sendirinya dalam 7–10 hari, insentif komersial bagi perusahaan farmasi untuk mengembangkan terapi khusus dianggap rendah dibandingkan dengan penyakit yang lebih parah seperti influenza atau COVID-19 [1]. Namun, pandangan ini sering mengabaikan beban klinis kumulatif yang signifikan dari rinovirus, yang merupakan penyebab utama eksaserbasi pada pasien dengan kondisi kronis dan kontributor penting terhadap rawat inap, terutama pada anak-anak dan lansia [121].

Strategi Inovatif Masa Depan

Meskipun tantangan ini besar, penelitian terus mengeksplorasi pendekatan inovatif. Strategi yang menjanjikan termasuk pengembangan terapi yang menargetkan epitop yang terkonversi, seperti pada protein kapsid VP1, atau menghambat enzim viral konservatif seperti protease 3C atau polimerase RNA [123]. Pendekatan lain yang sedang dievaluasi adalah terapi berbasis RNA, seperti oligonukleotida antisense atau siRNA, yang dapat dirancang untuk menargetkan urutan genom virus yang sangat konservatif [122]. Strategi alternatif yang menarik adalah terapi yang menargetkan faktor seluler inang (host-targeting antivirals), seperti menghambat protein seluler yang dimanfaatkan virus untuk replikasi, yang dapat memberikan spektrum aktivitas yang lebih luas dan mengurangi risiko resistensi [159]. Pendekatan profilaksis pasif menggunakan antibodi monoklonal juga dipertimbangkan untuk populasi berisiko tinggi, mengikuti model keberhasilan yang ditunjukkan oleh nirsevimab terhadap RSV [160]. Integrasi dari berbagai strategi ini mungkin merupakan kunci untuk mengatasi tantangan unik yang ditimbulkan oleh keragaman sierotipik yang tinggi dari rinovirus.

Referensi