Indeks massa tubuh (IMT), atau body mass index (BMI), adalah ukuran yang digunakan untuk memperkirakan kadar lemak tubuh berdasarkan tinggi dan berat badan seseorang. Meskipun tidak secara langsung mengukur lemak tubuh, IMT berkorelasi dengan metode pengukuran lemak yang lebih langsung seperti ketebalan lipatan kulit, bioelektrikal impedansi, dan dual-energy X-ray absorptiometry (DXA). IMT dihitung dengan rumus berat badan dalam kilogram dibagi kuadrat tinggi badan dalam meter (kg/m²), dan digunakan secara luas oleh organisasi kesehatan seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) untuk mengkategorikan status berat badan menjadi kurus, normal, kelebihan berat badan, atau . Namun, IMT memiliki keterbatasan signifikan karena tidak membedakan antara massa otot dan lemak, serta tidak memperhitungkan distribusi lemak tubuh—faktor penting dalam menentukan risiko penyakit metabolik seperti diabetes tipe 2 dan . Selain itu, kategori IMT standar mungkin tidak akurat untuk populasi tertentu seperti orang Asia, Afrika, atau atlet, karena perbedaan komposisi tubuh dan risiko penyakit. Oleh karena itu, banyak ahli menyarankan agar IMT digunakan bersama dengan pengukuran tambahan seperti lingkar pinggang, waist-to-height ratio, atau analisis komposisi tubuh untuk penilaian kesehatan yang lebih holistik dan akurat [1][2][3].
Definisi dan Perhitungan IMT
Indeks massa tubuh (IMT), atau body mass index (BMI), adalah ukuran yang digunakan untuk memperkirakan kadar lemak tubuh berdasarkan tinggi dan berat badan seseorang. Meskipun tidak secara langsung mengukur lemak tubuh, IMT berkorelasi dengan metode pengukuran lemak yang lebih langsung seperti ketebalan lipatan kulit, bioelektrikal impedansi, dan dual-energy X-ray absorptiometry (DXA) [1]. IMT digunakan secara luas oleh organisasi kesehatan seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) sebagai alat skrining untuk mengkategorikan status berat badan seseorang dan mengidentifikasi potensi risiko kesehatan terkait kelebihan atau kekurangan berat badan [5].
Definisi IMT
IMT adalah ukuran yang mengestimasi proporsi lemak tubuh relatif terhadap tinggi badan. Ini diterapkan untuk sebagian besar pria dan wanita dewasa dan digunakan secara luas dalam pengaturan kesehatan masyarakat dan klinis sebagai alat skrining untuk mengkategorikan individu sebagai kurus, berat badan normal, kelebihan berat badan, atau [1]. Meskipun IMT tidak secara langsung mengukur lemak tubuh, ia berkorelasi dengan pengukuran langsung lemak tubuh seperti ketebalan lipatan kulit, bioimpedansi, dan DXA [5]. Namun, penting untuk dicatat bahwa IMT adalah alat skrining, bukan alat diagnostik. Nilai IMT yang tinggi dapat menunjukkan kadar lemak tubuh yang tinggi, tetapi penilaian lebih lanjut seperti riwayat diet, aktivitas fisik, dan riwayat keluarga diperlukan untuk menentukan risiko kesehatan secara akurat [8].
Perhitungan IMT
IMT dihitung menggunakan rumus matematis sederhana yang membagi berat badan seseorang dengan kuadrat tinggi badannya. Rumus ini berbeda tergantung pada sistem satuan yang digunakan.
Rumus dalam Satuan Metrik
Untuk berat badan dalam kilogram (kg) dan tinggi badan dalam meter (m):
IMT = berat (kg) ÷ [tinggi (m)]²
[5]
Sebagai contoh, seseorang dengan berat 70 kg dan tinggi 1,75 meter memiliki IMT: 70 ÷ (1,75)² = 70 ÷ 3,0625 = 22,86
Rumus dalam Satuan Imperial
Untuk berat badan dalam pon (lb) dan tinggi badan dalam inci (in):
IMT = [berat (lb) ÷ (tinggi (in))²] × 703
[5]
Sebagai contoh, seseorang dengan berat 154 pon dan tinggi 68 inci memiliki IMT: (154 ÷ 68²) × 703 = (154 ÷ 4624) × 703 ≈ 23,3
Satuan IMT
IMT dinyatakan dalam satuan kilogram per meter persegi (kg/m²) [1]. Nilai ini memungkinkan perbandingan yang konsisten antar populasi dan digunakan secara global dalam penelitian kesehatan dan kebijakan publik.
Alat Bantu Perhitungan
Untuk mempermudah perhitungan, tersedia kalkulator IMT daring, seperti Kalkulator IMT Dewasa dari CDC, yang memungkinkan individu menentukan IMT mereka dengan cepat dan mudah [12]. Alat ini sangat berguna dalam skrining kesehatan populasi dan edukasi pasien di klinik.
Dasar Matematis dan Proporsionalitas Tubuh
Rumus IMT menggunakan pembagian berat dengan kuadrat tinggi badan karena berat tubuh manusia secara empiris cenderung berskala sekitar kuadrat dari tinggi badan, bukan kubik seperti yang diharapkan dari objek geometris serupa [13]. Hal ini terjadi karena individu yang lebih tinggi cenderung memiliki proporsi tubuh yang lebih ramping dibandingkan dengan individu yang lebih pendek, sehingga massa tubuh tidak meningkat sebanding dengan volume tubuh [14]. Observasi ini pertama kali dicatat oleh Adolphe Quetelet pada abad ke-19, yang mengembangkan apa yang kemudian dikenal sebagai "indeks Quetelet" [15]. Pendekatan ini memberikan ukuran yang invarian terhadap skala, memungkinkan perbandingan antar individu dengan tinggi badan berbeda. Namun, eksponen 2 merupakan pendekatan statistik; analisis alometrik menunjukkan bahwa hubungan antara berat dan tinggi dapat bervariasi tergantung pada jenis kelamin, usia, dan etnis, dengan eksponen berkisar antara 1,6 hingga 2,5 [16].
Kategori Standar IMT untuk Dewasa
Indeks massa tubuh (IMT), atau body mass index (BMI), digunakan secara luas untuk mengkategorikan status berat badan pada orang dewasa ke dalam kelompok-kelompok yang mencerminkan risiko kesehatan terkait berat badan. Kategori ini telah distandarisasi oleh organisasi kesehatan utama dunia seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), serta digunakan secara global sebagai alat skrining awal untuk mengidentifikasi kelebihan berat badan dan [2][1].
Kategori Utama IMT untuk Dewasa
Kategori IMT untuk orang dewasa didasarkan pada nilai numerik yang dihitung dari berat badan dalam kilogram dibagi kuadrat tinggi badan dalam meter (kg/m²). Kategori utama yang diterima secara internasional adalah sebagai berikut:
- Kurus (Underweight): IMT kurang dari 18,5 [19]
- Berat badan normal (atau sehat): IMT 18,5 hingga 24,9 [19]
- Kelebihan berat badan (Overweight): IMT 25,0 hingga 29,9 [1]
- Obesitas: IMT 30,0 atau lebih tinggi [2]
Kategori-kategori ini berlaku untuk sebagian besar pria dan wanita dewasa dan digunakan secara konsisten dalam konteks klinis maupun surveilans kesehatan masyarakat. Namun, penting untuk dicatat bahwa IMT merupakan alat skrining, bukan alat diagnosis, dan tidak secara langsung mengukur kadar lemak tubuh [8].
Subkategori Obesitas
Obesitas dibagi lebih lanjut menjadi tiga kelas berdasarkan tingkat risiko kesehatan yang meningkat:
- Obesitas Kelas I: IMT 30,0 hingga 34,9 [1]
- Obesitas Kelas II: IMT 35,0 hingga 39,9 [25]
- Obesitas Kelas III (disebut juga obesitas parah, ekstrem, atau morbid): IMT 40,0 atau lebih tinggi [1]
Subklasifikasi ini membantu tenaga kesehatan dalam menentukan tingkat intervensi yang diperlukan, termasuk kemungkinan rujukan untuk terapi perilaku intensif atau pertimbangan terhadap prosedur [27]. Obesitas kelas III dikaitkan dengan peningkatan signifikan dalam risiko terhadap berbagai kondisi, termasuk , , dan gangguan pernapasan seperti apnea tidur [28].
Batasan dan Konteks Klinis
Meskipun kategori IMT standar digunakan secara luas, interpretasinya memiliki keterbatasan penting. IMT tidak membedakan antara massa otot dan lemak tubuh, sehingga individu dengan massa otot tinggi—seperti atlet atau binaragawan—dapat diklasifikasikan sebagai kelebihan berat badan atau obesitas meskipun memiliki kadar lemak tubuh yang rendah dan kesehatan metabolik yang baik [3]. Sebaliknya, individu dengan IMT normal dapat memiliki kadar lemak tubuh tinggi, terutama lemak visceral, yang meningkatkan risiko penyakit metabolik [30].
Karena itu, banyak ahli menyarankan agar IMT digunakan bersama dengan pengukuran tambahan seperti lingkar pinggang, waist-to-height ratio, atau analisis komposisi tubuh untuk penilaian kesehatan yang lebih akurat dan holistik [31]. Selain itu, kategori IMT mungkin perlu disesuaikan untuk populasi tertentu, seperti orang Asia, yang menghadapi risiko penyakit pada nilai IMT yang lebih rendah dibandingkan populasi kulit putih [32].
IMT pada Anak dan Remaja
Indeks massa tubuh (IMT) pada anak dan remaja diinterpretasikan secara berbeda dibandingkan dengan populasi dewasa, karena tubuh mereka masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan. Berbeda dengan kategori IMT dewasa yang menggunakan rentang nilai tetap, IMT pada anak-anak dan remaja dinilai berdasarkan persentil usia dan jenis kelamin, yang memperhitungkan perubahan komposisi tubuh seiring bertambahnya usia dan perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan [33]. Pendekatan ini memungkinkan penilaian status gizi yang lebih akurat dan kontekstual dalam konteks pertumbuhan normal.
Interpretasi IMT Berdasarkan Persentil Usia dan Jenis Kelamin
Karena pola pertumbuhan anak bervariasi menurut usia dan jenis kelamin, IMT mereka tidak dapat dinilai dengan standar dewasa. Sebagai gantinya, data IMT anak dibandingkan dengan kurva pertumbuhan nasional yang telah divalidasi, seperti yang dikembangkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) atau Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Hasilnya dinyatakan sebagai persentil, yang menunjukkan posisi IMT anak relatif terhadap anak-anak lain dari jenis kelamin dan usia yang sama [34].
Kategori status berat badan untuk anak dan remaja (usia 2–19 tahun) berdasarkan persentil IMT adalah sebagai berikut:
- Kurus (underweight): di bawah persentil ke-5
- Berat badan normal (healthy weight): persentil ke-5 hingga kurang dari persentil ke-85
- Kelebihan berat badan (overweight): persentil ke-85 hingga kurang dari persentil ke-95
- Obesitas (obesity): persentil ke-95 atau lebih tinggi [34]
Pendekatan berbasis persentil ini sangat penting karena memungkinkan deteksi dini kondisi gizi buruk, baik kekurangan maupun kelebihan berat badan, yang dapat berdampak jangka panjang terhadap kesehatan. Misalnya, anak yang berada di persentil ke-97 untuk IMT mungkin tampak tinggi dan besar untuk usianya, tetapi tanpa konteks usia dan jenis kelamin, risiko obesitas dan komplikasinya bisa terlewatkan.
Alat Bantu dan Kurva Pertumbuhan
Untuk memfasilitasi penilaian IMT pada anak, CDC menyediakan grafik pertumbuhan IMT menurut usia, yang digunakan secara luas oleh tenaga kesehatan di seluruh dunia. Grafik ini memungkinkan petugas kesehatan untuk memplot IMT anak dari waktu ke waktu dan melacak tren pertumbuhan mereka [36]. Perubahan yang cepat dalam persentil IMT, misalnya lonjakan dari persentil ke-50 ke ke-85 dalam satu tahun, dapat menjadi tanda peringatan dini terhadap risiko kelebihan berat badan atau obesitas, sehingga memungkinkan intervensi perilaku intensif sejak dini [27].
Selain grafik standar, CDC juga telah mengembangkan grafik pertumbuhan IMT yang diperluas (Extended BMI-for-Age Growth Charts) untuk memantau anak-anak dengan IMT sangat tinggi, yang tidak dapat diukur secara akurat dengan grafik konvensional [36]. Ini menunjukkan komitmen terhadap pendekatan yang lebih inklusif dan akurat dalam penilaian kesehatan anak.
Rekomendasi Klinis dan Intervensi Dini
Berdasarkan bukti epidemiologi dan pedoman kesehatan masyarakat, organisasi seperti U.S. Preventive Services Task Force merekomendasikan agar anak dengan IMT pada atau di atas persentil ke-95 dirujuk untuk intervensi perilaku intensif. Intervensi ini mencakup konseling nutrisi, peningkatan aktivitas fisik, dan dukungan psikososial untuk keluarga, yang terbukti efektif dalam mengurangi berat badan dan memperbaiki faktor risiko kardiovaskular [27]. Pendekatan ini menekankan pentingnya deteksi dini dan manajemen obesitas pada masa kanak-kanak untuk mencegah kondisi kronis seperti diabetes tipe 2 dan di kemudian hari.
Namun, seperti halnya pada dewasa, IMT saja tidak cukup untuk menilai kesehatan metabolisme secara menyeluruh. Anak dengan IMT normal tetapi lemak visceral tinggi—dikenal sebagai fenotipe obesitas metabolik normal berat badan (metabolically obese normal weight, MONW)—tetap berisiko terhadap gangguan metabolisme [40]. Oleh karena itu, beberapa ahli menyarankan untuk melengkapi penilaian IMT dengan pengukuran tambahan seperti lingkar pinggang atau analisis komposisi tubuh, terutama pada anak dengan riwayat keluarga penyakit metabolik [3].
Perbedaan dengan Penilaian Dewasa
Perbedaan utama antara penilaian IMT anak dan dewasa terletak pada kerangka referensi yang digunakan. Sementara dewasa dikategorikan berdasarkan nilai IMT absolut (misalnya, IMT ≥30 sebagai obesitas), anak-anak dinilai secara relatif terhadap teman sebayanya [42]. Ini mencerminkan pemahaman bahwa pertumbuhan adalah proses dinamis, dan apa yang dianggap "berat badan normal" pada usia 5 tahun sangat berbeda dengan usia 15 tahun. Pendekatan ini juga menghindari kesalahan klasifikasi yang bisa terjadi jika standar dewasa diterapkan pada anak, yang dapat mengabaikan variasi alami dalam pertumbuhan dan perkembangan.
Dengan demikian, meskipun rumus dasar IMT (berat badan dalam kg dibagi tinggi badan dalam m²) tetap sama untuk semua kelompok umur, interpretasi hasilnya sangat bergantung pada konteks usia dan jenis kelamin, menjadikannya alat yang lebih sensitif dan relevan untuk populasi muda.
Keterbatasan IMT sebagai Indikator Kesehatan
Indeks massa tubuh (IMT) telah menjadi alat skrining yang luas digunakan dalam konteks kesehatan masyarakat dan klinis karena kesederhanaan dan standarisasinya. Namun, IMT memiliki sejumlah keterbatasan signifikan ketika digunakan sebagai indikator tunggal untuk menilai kesehatan individu. Keterbatasan ini mencakup ketidakmampuannya dalam membedakan komposisi tubuh, mengabaikan distribusi lemak, dan kekurangan dalam akurasi lintas kelompok demografis. Oleh karena itu, banyak ahli menekankan bahwa IMT sebaiknya tidak digunakan secara terisolasi, melainkan dikombinasikan dengan metrik tambahan untuk memberikan penilaian kesehatan yang lebih holistik dan akurat.
Ketidakmampuan Mengukur Komposisi Tubuh
Salah satu keterbatasan utama IMT adalah ketidakmampuannya untuk membedakan antara massa otot, massa lemak, kepadatan tulang, dan berat air. Hal ini menyebabkan individu dengan massa otot tinggi—seperti atlet atau binaragawan—sering diklasifikasikan sebagai kelebihan berat badan atau meskipun memiliki kadar lemak tubuh yang rendah dan kesehatan metabolik yang sangat baik [3]. Sebaliknya, individu dengan IMT "normal" mungkin memiliki kadar lemak tubuh yang tinggi, terutama lemak viseral, yang meningkatkan risiko penyakit kronis seperti dan [44]. Kondisi ini, dikenal sebagai "obesitas normal-berat badan", menunjukkan bahwa IMT dapat menyesatkan ketika digunakan tanpa penilaian komposisi tubuh yang lebih mendalam.
Gagal Mempertimbangkan Distribusi Lemak Tubuh
IMT tidak memberikan informasi tentang lokasi penyimpanan lemak dalam tubuh, padahal distribusi lemak merupakan faktor penting dalam menentukan risiko kesehatan. Lemak perut, terutama lemak viseral yang mengelilingi organ internal, memiliki korelasi yang lebih kuat dengan risiko penyakit metabolik dibandingkan lemak subkutan [45]. , sebagai contoh, sering dianggap sebagai prediktor yang lebih baik terhadap risiko kardiometabolik karena secara langsung mencerminkan akumulasi lemak perut [46]. Studi menunjukkan bahwa lingkar pinggang dapat menjelaskan risiko terkait obesitas lebih efektif dibandingkan IMT secara terpisah [45].
Variasi Lintas Kelompok Etnis dan Ras
Ambang batas IMT sebagian besar dikembangkan berdasarkan data dari populasi kulit putih berusia paruh baya dan mungkin tidak secara akurat mencerminkan risiko kesehatan pada kelompok ras atau etnis lainnya. Misalnya, penelitian menunjukkan bahwa populasi Asia memiliki risiko lebih tinggi terhadap diabetes dan penyakit kardiovaskular pada tingkat IMT yang lebih rendah [48]. Sebaliknya, individu kulit hitam dan Hispanik mungkin memiliki pola komposisi tubuh yang berbeda, yang memengaruhi bagaimana IMT berkorelasi dengan hasil kesehatan [49]. Hal ini dapat menyebabkan diagnosis yang terlalu tinggi atau terlalu rendah terhadap risiko kesehatan ketika IMT digunakan secara terpisah, terutama di antara populasi yang terpinggirkan.
Ketidaksesuaian untuk Kelompok Usia dan Jenis Kelamin Tertentu
Komposisi tubuh berubah seiring usia, jenis kelamin, dan status hormonal, yang tidak diperhitungkan oleh IMT. Lansia mungkin kehilangan massa otot dan menambah lemak meskipun tanpa perubahan berat badan, yang menyebabkan "obesitas normal-berat badan"—kondisi di mana seseorang memiliki IMT sehat tetapi kadar lemak tubuh yang tinggi [50]. Wanita juga cenderung memiliki persentase lemak tubuh yang lebih tinggi dibandingkan pria pada IMT yang sama, yang lebih membatasi akurasinya lintas jenis kelamin [51]. Selain itu, IMT tidak mempertimbangkan perbedaan proporsional tubuh yang berkaitan dengan usia dan jenis kelamin, sehingga dapat menyesatkan dalam menilai risiko kesehatan.
Potensi Menyebabkan Ketidaksetaraan Kesehatan
Mengandalkan IMT sebagai satu-satunya ukuran klinis dapat berkontribusi terhadap disparitas kesehatan. American Medical Association (AMA) telah mengakui bahwa ketergantungan semata-mata pada IMT dapat menyebabkan diagnosis yang salah, penundaan perawatan, dan stigmatisasi, terutama di antara orang kulit berwarna dan kelompok terpinggirkan lainnya [52]. Penggunaan IMT secara eksklusif juga dapat mengabaikan kesehatan metabolik, yang mencakup faktor-faktor seperti tekanan darah, kolesterol, sensitivitas insulin, dan peradangan—semua hal yang tidak ditangkap oleh IMT. Stigma terkait berat badan yang dihasilkan dari penggunaan IMT dapat menyebabkan individu menghindari layanan medis, memperburuk disparitas kesehatan [53].
Keterbatasan dalam Penilaian Risiko Metabolik
Beberapa individu dengan IMT normal justru memiliki profil metabolik yang buruk, dikenal sebagai fenotipe "obesitas metabolik normal-berat badan" (MONW). Sebaliknya, beberapa orang dengan IMT tinggi dapat memiliki profil metabolik yang sehat, yang menunjukkan bahwa IMT bukan penentu mutlak dari kesehatan [54]. Penilaian risiko metabolik yang lebih baik memerlukan pengukuran tambahan seperti , , dan penanda inflamasi. Indeks seperti Triglyceride Glucose-BMI (TyG-BMI) dan Metabolic Score for Insulin Resistance (METS-IR) telah muncul sebagai prediktor risiko yang lebih kuat dibandingkan IMT saja [55].
Alternatif dan Ukuran Tambahan yang Direkomendasikan
Untuk mengatasi keterbatasan IMT, para ahli merekomendasikan penggunaan metrik tambahan. adalah ukuran antropometrik sederhana yang secara langsung mencerminkan akumulasi lemak perut dan risiko adipositas viseral [56]. juga menunjukkan performa prediktif yang lebih baik untuk sindrom metabolik dibandingkan IMT, terutama pada lansia [57]. Selain itu, metode canggih seperti dual-energy X-ray absorptiometry (DXA) dan bioelektrikal impedansi dapat memberikan estimasi yang lebih akurat terhadap massa lemak dan massa otot [58]. Teknologi pencitraan seperti MRI dan CT juga digunakan dalam penelitian untuk mengukur lemak viseral secara langsung, meskipun keterbatasan biaya dan aksesibilitas membatasi penggunaannya dalam praktik klinis rutin [59].
Kesimpulannya, meskipun IMT tetap berguna sebagai alat skrining awal dan untuk pemantauan kesehatan masyarakat, keterbatasannya yang signifikan mengharuskan penggunaannya secara bersamaan dengan ukuran tambahan. Integrasi metrik seperti lingkar pinggang, WHtR, dan penilaian komposisi tubuh memberikan gambaran yang lebih akurat dan adil terhadap risiko kesehatan, mendukung pendekatan yang lebih holistik dan individual terhadap penilaian kesehatan [52].
Variasi IMT Menurut Usia, Jenis Kelamin, dan Etnis
Indeks massa tubuh (IMT) tidak selalu mencerminkan risiko kesehatan yang sama pada semua individu, karena variasi signifikan dalam komposisi tubuh, distribusi lemak, dan kerentanan terhadap penyakit dapat terjadi berdasarkan usia, jenis kelamin, dan etnis. Meskipun kategori IMT standar digunakan secara global, bukti menunjukkan bahwa hubungan antara IMT dan risiko penyakit metabolik tidak seragam di seluruh kelompok demografis. Oleh karena itu, interpretasi IMT harus mempertimbangkan faktor-faktor ini untuk menghindari kesalahan klasifikasi dan menjamin penilaian kesehatan yang lebih akurat dan adil.
Variasi Berdasarkan Usia
Komposisi tubuh berubah secara signifikan seiring bertambahnya usia, yang memengaruhi validitas IMT sebagai indikator lemak tubuh. Pada lansia, terjadi penurunan massa otot (sarkopenia) dan peningkatan akumulasi lemak, terutama lemak viseral, meskipun berat badan tetap stabil atau bahkan menurun. Kondisi ini dapat menyebabkan apa yang dikenal sebagai "obesitas dengan berat badan normal", di mana seseorang memiliki IMT dalam kategori normal tetapi kadar lemak tubuh yang tinggi dan risiko penyakit metabolik yang meningkat [50]. Sebaliknya, pada anak-anak dan remaja, IMT diinterpretasikan berdasarkan persentil menurut usia dan jenis kelamin karena komposisi tubuh berubah secara dinamis selama masa pertumbuhan [33]. Oleh karena itu, penggunaan kategori IMT dewasa yang tetap tidak sesuai untuk populasi muda, dan pendekatan berbasis persentil diperlukan untuk menilai status berat badan secara akurat.
Variasi Berdasarkan Jenis Kelamin
Perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan menyebabkan variasi dalam distribusi lemak tubuh dan hubungan antara IMT dengan risiko kesehatan. Secara umum, perempuan memiliki persentase lemak tubuh yang lebih tinggi daripada laki-laki pada IMT yang sama, terutama lemak subkutan di area gluteofemoral [51]. Laki-laki cenderung menumpuk lemak secara sentral di sekitar perut (lemak viseral), yang lebih erat kaitannya dengan resistensi insulin, penyakit kardiovaskular, dan sindrom metabolik [64]. Risiko kardiovaskular pada perempuan juga meningkat secara signifikan setelah menopause, ketika pola distribusi lemak bergeser ke arah sentral, menyerupai pola pada laki-laki [65]. Dengan demikian, IMT yang sama dapat mengindikasikan risiko kesehatan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, tergantung pada usia dan status hormonal.
Variasi Berdasarkan Etnis dan Ras
Salah satu kritik paling kuat terhadap IMT adalah bahwa kategori standarnya sebagian besar didasarkan pada data dari populasi kulit putih, yang menyebabkan ketidakakuratan ketika diterapkan pada kelompok etnis lain. Bukti menunjukkan bahwa risiko penyakit metabolik bervariasi secara signifikan antar etnis pada tingkat IMT yang sama. Misalnya, populasi Asia Selatan, Tiongkok, dan Arab cenderung memiliki persentase lemak tubuh yang lebih tinggi dan risiko diabetes tipe 2 serta penyakit kardiovaskular yang lebih besar pada IMT yang lebih rendah dibandingkan dengan populasi kulit putih [66]. Sebagai respons, badan kesehatan seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan National Institute for Health and Care Excellence (NICE) di Inggris merekomendasikan ambang IMT yang lebih rendah untuk mendefinisikan kelebihan berat badan dan obesitas pada kelompok etnis ini [67]. Di sisi lain, beberapa penelitian menunjukkan bahwa individu kulit hitam mungkin memiliki massa otot dan kepadatan tulang yang lebih tinggi, sehingga IMT dapat menyalahartikan mereka sebagai berisiko tinggi meskipun profil metaboliknya lebih baik [68]. Variasi ini menyoroti perlunya pendekatan yang disesuaikan secara etnis dalam penilaian risiko kesehatan.
Implikasi Klinis dan Kebijakan Kesehatan
Kesalahan klasifikasi IMT akibat perbedaan usia, jenis kelamin, dan etnis dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis, intervensi yang tidak tepat, dan penguatan stigma terhadap berat badan, terutama pada kelompok yang kurang terlayani [52]. Untuk mengatasi hal ini, profesional kesehatan dianjurkan untuk melengkapi IMT dengan pengukuran tambahan seperti lingkar pinggang atau rasio pinggang terhadap tinggi badan, yang lebih baik dalam menilai akumulasi lemak viseral [56]. Selain itu, pendekatan berbasis fenotipe metabolik—yang menggabungkan data antropometri, biomarker metabolik, dan komposisi tubuh—dipandang sebagai cara yang lebih akurat untuk menilai risiko individu [71]. Dalam kebijakan kesehatan masyarakat, penggunaan ambang IMT yang disesuaikan secara etnis dan penekanan pada perilaku yang mendukung kesehatan—seperti aktivitas fisik dan nutrisi—daripada fokus semata-mata pada berat badan, dapat membantu mengurangi disparitas kesehatan dan meningkatkan hasil secara keseluruhan [72].
Hubungan IMT dengan Risiko Penyakit dan Mortalitas
Indeks massa tubuh (IMT) secara luas digunakan sebagai alat skrining untuk menilai risiko penyakit dan mortalitas terkait berat badan. Secara umum, terdapat hubungan non-linear (berbentuk J atau U) antara IMT dan risiko kematian dari semua penyebab, dengan risiko terendah terjadi pada kisaran IMT normal (sekitar 22–25 kg/m²). Baik kategori kurus (IMT <18,5 kg/m²) maupun obesitas (IMT ≥30 kg/m²) dikaitkan dengan peningkatan risiko mortalitas [73]. Hubungan ini terutama didorong oleh peningkatan risiko penyakit tidak menular utama, termasuk , , dan beberapa jenis . Menurut , IMT tinggi merupakan faktor risiko utama yang berkontribusi terhadap beban global penyakit dan kematian dini [74].
Variasi Hubungan IMT-Mortalitas Menurut Usia, Jenis Kelamin, dan Etnis
Hubungan antara IMT dan risiko penyakit bervariasi secara signifikan tergantung pada usia, jenis kelamin, dan etnis. Pada lansia (usia ≥65 tahun), hubungan antara IMT tinggi dan mortalitas menjadi lebih lemah, dan dalam beberapa studi, individu dengan berat badan berlebih justru menunjukkan mortalitas yang lebih rendah dibandingkan kelompok IMT normal—fenomena yang dikenal sebagai "paradoks obesitas" [75]. Namun, hal ini tidak berarti bahwa IMT tinggi bersifat protektif; kemungkinan besar hal ini mencerminkan bias kelangsungan hidup atau peran cadangan adiposa selama sakit. Sebaliknya, kenaikan berat badan di usia paruh baya meningkatkan mortalitas di kemudian hari, sementara penurunan berat badan di usia lanjut sering kali mencerminkan penyakit yang mendasarinya [76].
Secara umum, kisaran IMT optimal untuk mortalitas terendah sedikit lebih tinggi pada perempuan (23–26 kg/m²) dibandingkan laki-laki (22,5–25 kg/m²) [77]. Selain itu, distribusi lemak tubuh juga berbeda antar jenis kelamin: laki-laki cenderung mengakumulasi lemak visceral di area perut, yang lebih berkaitan dengan risiko metabolik, sementara perempuan cenderung menyimpan lemak subkutan di area pinggul dan paha, yang kurang berbahaya secara metabolik [64].
Faktor etnis juga sangat memengaruhi hubungan antara IMT dan risiko penyakit. Batas IMT standar yang sebagian besar didasarkan pada populasi kulit putih mungkin tidak mencerminkan risiko kesehatan pada kelompok lain. Misalnya, populasi Asia Selatan, Asia Timur, dan Afrika Karibia cenderung mengembangkan dan penyakit kardiovaskular pada tingkat IMT yang lebih rendah dibandingkan populasi kulit putih [66]. Oleh karena itu, organisasi kesehatan seperti dan merekomendasikan batas IMT yang lebih rendah (misalnya, ≥27,5 kg/m²) untuk memulai intervensi pencegahan diabetes pada kelompok etnis tertentu [67][81].
Keterbatasan IMT dalam Memprediksi Risiko Metabolik
Meskipun IMT berkorelasi dengan adipositas secara umum, keterbatasannya yang utama adalah ketidakmampuannya untuk mengukur distribusi lemak tubuh, khususnya akumulasi lemak visceral. Lemak visceral, yang terletak di sekitar organ internal, jauh lebih berkaitan dengan resistensi insulin, peradangan sistemik, dan risiko penyakit metabolik dibandingkan lemak subkutan [82]. Banyak individu dengan IMT normal tetapi kadar lemak visceral tinggi—dikenal sebagai "obesitas normal berat badan" atau fenotipe "normal weight metabolically obese" (MONW)—tetap berisiko tinggi terhadap sindrom metabolik, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular [83][84]. Studi seperti Multi-Ethnic Study of Atherosclerosis (MESA) menunjukkan bahwa lemak visceral yang tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko sindrom metabolik bahkan pada individu dengan IMT normal [83].
Perbandingan Prediktif IMT dengan Ukuran Alternatif
Dari sudut pandang prediktif, ukuran antropometrik lainnya sering kali lebih unggul dibandingkan IMT dalam memprediksi risiko kardiovaskular dan diabetes. Misalnya, dan menunjukkan kapasitas diskriminatif yang lebih besar dibandingkan IMT untuk penyakit kardiovaskular [86]. Sebuah meta-analisis dari 72 studi kohort prospektif menemukan bahwa adipositas sentral, diukur melalui lingkar pinggang atau rasio pinggang terhadap pinggul, lebih kuat berkaitan dengan mortalitas dari semua penyebab dibandingkan IMT [87]. Rasio pinggang terhadap tinggi badan (WHtR), khususnya dengan ambang ≥0,5, dianggap sebagai prediktor yang lebih baik untuk sindrom metabolik, terutama pada lansia [57].
Indeks lain seperti dan juga sedang dieksplorasi sebagai alternatif yang lebih akurat. BRI menggunakan model geometris berdasarkan lingkar pinggang dan tinggi badan untuk memperkirakan bentuk tubuh dan lemak visceral, sementara VAI adalah skor komposit yang menggabungkan lingkar pinggang, IMT, trigliserida, dan HDL-kolesterol untuk mencerminkan disfungsi adipositas visceral [89][90].
Rekomendasi Klinis dan Kebijakan Kesehatan
Dalam praktik klinis, meskipun IMT tetap berguna sebagai alat skrining awal, banyak organisasi seperti dan menyarankan agar IMT tidak digunakan secara tunggal untuk menilai kesehatan. Sebagai gantinya, IMT sebaiknya dilengkapi dengan pengukuran tambahan seperti , profil metabolik (tekanan darah, glukosa darah puasa, HbA1c, lipid), dan jika memungkinkan, analisis komposisi tubuh menggunakan metode seperti bioelektrikal impedansi atau [91][92]. Pendekatan holistik ini memungkinkan penilaian risiko yang lebih akurat dan personal, terutama untuk individu dengan komposisi tubuh atipikal seperti atlet atau lansia dengan sarkopenia.
Dalam konteks kebijakan kesehatan masyarakat, penggunaan IMT secara luas tetap penting untuk pemantauan tren obesitas secara populasi, seperti yang dilakukan oleh di Amerika Serikat [93]. Namun, semakin banyak suara yang menyerukan perlunya pendekatan yang lebih inklusif dan sensitif secara budaya, termasuk penggunaan batas IMT spesifik etnis dan penghentian skrining IMT di sekolah yang dapat menyebabkan stres psikologis tanpa manfaat kesehatan yang jelas [94].
Penggunaan IMT dalam Kebijakan Kesehatan Masyarakat
Indeks massa tubuh (IMT) telah menjadi alat baku dalam kebijakan kesehatan masyarakat global karena kesederhanaan, standarisasi, dan korelasi kuatnya dengan risiko penyakit pada tingkat populasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) secara luas menggunakan IMT untuk memantau tren obesitas, mengevaluasi dampak intervensi kesehatan, dan mengalokasikan sumber daya secara strategis [93]. Misalnya, data CDC menunjukkan bahwa sekitar 40,3% orang dewasa di Amerika Serikat mengalami obesitas selama Agustus 2021 hingga Agustus 2023, angka yang diperoleh melalui pengukuran IMT [96]. Informasi ini mendukung inisiatif nasional dan lokal untuk mengurangi obesitas melalui program nutrisi, kampanye aktivitas fisik, dan edukasi kesehatan [1].
Pemantauan Kesehatan Populasi dan Prediksi Tren
IMT memainkan peran sentral dalam sistem pemantauan kesehatan populasi, memungkinkan perbandingan lintas waktu, wilayah, dan kelompok demografi. WHO menggunakan pendekatan standar seperti STEPS (STEPwise approach to surveillance) untuk mengumpulkan data faktor risiko penyakit tidak menular, termasuk kelebihan berat badan dan obesitas, berdasarkan IMT [98]. Survei seperti National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) di Amerika Serikat juga mengandalkan IMT untuk melacak prevalensi obesitas [93]. Pemodelan statistik, termasuk regresi proses Gaussian, digunakan untuk memproyeksikan tren obesitas hingga tahun 2050, menunjukkan bahwa obesitas diperkirakan akan terus meningkat secara global [100]. Proyeksi ini menjadi dasar bagi perencanaan sistem kesehatan dan penilaian beban penyakit metabolik seperti diabetes tipe 2 dan .
Keunggulan IMT sebagai Indikator Kesehatan Populasi
Kesederhanaan dan biaya rendah membuat IMT menjadi alat yang sangat efektif untuk surveilans skala besar. Karena hanya membutuhkan pengukuran tinggi dan berat badan, IMT mudah diukur, direproduksi, dan dibandingkan di berbagai konteks, termasuk di daerah dengan sumber daya terbatas [101]. Secara agregat, IMT berkorelasi kuat dengan persentase lemak tubuh dan merupakan prediktor yang andal untuk morbiditas dan mortalitas terkait obesitas [102]. Meta-analisis melibatkan jutaan peserta mengonfirmasi bahwa IMT tinggi dikaitkan dengan risiko lebih tinggi terhadap penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, dan beberapa jenis kanker [103]. Dengan demikian, IMT tetap menjadi alat skrining awal yang penting untuk mengidentifikasi kelompok populasi yang berisiko.
Keterbatasan dan Disparitas dalam Populasi yang Beragam
Meskipun berguna, IMT memiliki keterbatasan serius yang memengaruhi akurasi dan keadilannya, terutama dalam populasi yang beragam secara etnis. Standar IMT yang dikembangkan berdasarkan data dari populasi kulit putih mungkin tidak mencerminkan risiko kesehatan pada kelompok lain. Misalnya, populasi Asia Selatan, Afrika, dan Timur cenderung memiliki risiko lebih tinggi terhadap diabetes dan penyakit jantung pada nilai IMT yang lebih rendah [81]. Organisasi seperti National Institute for Health and Care Excellence (NICE) di Inggris telah merekomendasikan ambang batas IMT yang lebih rendah untuk memulai intervensi pencegahan diabetes pada kelompok etnis tertentu [67]. Selain itu, wanita umumnya memiliki persentase lemak tubuh yang lebih tinggi dibandingkan pria pada IMT yang sama, dan penuaan dikaitkan dengan peningkatan lemak tubuh dan penurunan massa otot—faktor yang tidak ditangkap oleh IMT [3].
Stigma Berat Badan dan Dampak Etis
Penggunaan luas IMT dalam pengawasan dan praktik klinis telah memunculkan kekhawatiran tentang penguatan stigma berat badan, yang dapat menghambat individu dari mencari perawatan dan memperparah ketimpangan kesehatan [107]. Asosiasi Medis Amerika (AMA) telah mengakui bahwa IMT saja adalah ukuran klinis yang tidak sempurna dan tidak boleh digunakan secara terpisah untuk mendiagnosis obesitas atau menentukan status kesehatan [52]. Stigma ini diperparah oleh bias struktural dan rasial dalam sistem kesehatan, yang dapat menyebabkan diagnosis tertunda atau pengobatan yang tidak memadai bagi kelompok minoritas [109].
Pendekatan yang Lebih Holistik dan Alternatif
Dalam menanggapi keterbatasan ini, strategi kesehatan masyarakat semakin mendorong pendekatan komprehensif yang melampaui IMT. Ada dukungan yang berkembang untuk mengintegrasikan ukuran tambahan seperti , , atau analisis komposisi tubuh langsung ke dalam sistem pemantauan untuk menangkap adipositas sentral dan risiko metabolik secara lebih akurat [110]. Beberapa peneliti mengusulkan penggunaan indeks seperti Body Roundness Index (BRI), yang memperkirakan distribusi lemak tubuh dan adipositas visceral, sebagai alternatif yang lebih baik daripada IMT [111]. Selain itu, ada gerakan menuju model yang berfokus pada perilaku sehat—seperti aktivitas fisik, nutrisi, dan kesejahteraan mental—tanpa memandang ukuran tubuh, yang semakin mendapat perhatian dalam wacana kesehatan masyarakat [112].
Alternatif dan Ukuran Tambahan untuk Penilaian Komposisi Tubuh
Meskipun indeks massa tubuh (IMT) tetap menjadi alat skrining yang luas digunakan dalam konteks kesehatan masyarakat dan klinis, keterbatasannya sebagai indikator komposisi tubuh telah mendorong pengembangan dan penerapan metrik alternatif serta pelengkap. Karena IMT tidak mampu membedakan antara massa otot dan lemak, serta tidak mencerminkan distribusi lemak tubuh—faktor krusial dalam menentukan risiko penyakit metabolik—para profesional kesehatan dan peneliti semakin merekomendasikan penggunaan ukuran tambahan untuk penilaian yang lebih akurat dan holistik terhadap kesehatan metabolik dan risiko penyakit. Pendekatan ini mencakup pengukuran antropometrik sederhana, analisis komposisi tubuh berbasis teknologi, serta penilaian biomarker metabolik.
Pengukuran Antropometrik Alternatif
Beberapa ukuran antropometrik telah muncul sebagai alternatif atau pelengkap yang lebih informatif dibandingkan IMT. Salah satunya adalah lingkar pinggang, yang secara langsung mencerminkan akumulasi lemak abdominal dan lemak visceral. Penelitian menunjukkan bahwa lingkar pinggang memiliki korelasi yang lebih kuat dengan sindrom metabolik, diabetes tipe 2, dan risiko penyakit kardiovaskular dibandingkan IMT [46]. Sebagai contoh, lingkar pinggang di atas 80 cm pada wanita dan 94 cm pada pria (dengan ambang lebih rendah untuk beberapa kelompok etnis) menunjukkan peningkatan risiko metabolik [114].
Alternatif lain yang semakin populer adalah rasio pinggang terhadap tinggi badan (WHtR), yang dihitung dengan membagi lingkar pinggang dengan tinggi badan. Rasio ini dianggap lebih unggul dibandingkan IMT karena menyesuaikan lemak sentral terhadap ukuran tubuh secara keseluruhan. Sebuah WHtR ≥0,5 secara luas diusulkan sebagai ambang batas yang menunjukkan risiko kesehatan yang meningkat, dan telah terbukti menjadi prediktor yang lebih baik untuk sindrom metabolik, terutama pada populasi lanjut usia dan anak-anak [57]. Meta-analisis mendukung bahwa WHtR memiliki kemampuan diskriminatif yang lebih tinggi untuk penyakit kardiovaskular dibandingkan IMT [86].
Selain itu, Indeks Kebulatan Tubuh (BRI) merupakan model geometris yang menggunakan lingkar pinggang dan tinggi badan untuk memperkirakan bentuk tubuh dan lemak visceral. BRI menawarkan prediksi risiko metabolik yang lebih baik dibandingkan IMT, terutama karena lebih sensitif terhadap variasi distribusi lemak tubuh [111]. Pendekatan ini menunjukkan potensi sebagai alat penilaian risiko yang lebih akurat dalam konteks pencegahan penyakit kronis.
Teknologi untuk Analisis Komposisi Tubuh
Untuk penilaian yang lebih mendalam terhadap komposisi tubuh, teknologi canggih menyediakan metode yang jauh lebih akurat dibandingkan pengukuran antropometrik sederhana. Dual-energy X-ray absorptiometry (DXA) dianggap sebagai standar emas dalam banyak pengaturan klinis dan penelitian karena kemampuannya untuk mengukur secara akurat massa lemak, massa otot, dan kepadatan mineral tulang secara regional [118]. DXA juga dapat memperkirakan lemak visceral ketika digunakan dengan perangkat lunak khusus, menjadikannya alat yang sangat berharga dalam mengevaluasi individu dengan IMT normal tetapi risiko metabolik tinggi [119].
Metode lain termasuk bioelektrikal impedansi (BIA), yang memperkirakan persentase lemak tubuh dan lemak visceral berdasarkan konduktivitas listrik tubuh. Meskipun kurang akurat dibandingkan DXA dan rentan terhadap variasi hidrasi, perangkat BIA modern menawarkan perkiraan yang masuk akal dalam pengaturan klinis dan penelitian [120]. Teknik pencitraan seperti tomografi terkomputerisasi (CT) dan magnetic resonance imaging (MRI) merupakan metode paling akurat untuk mengkuantifikasi lemak visceral, namun keterbatasan biaya, aksesibilitas, dan (untuk CT) paparan radiasi membatasi penggunaannya terutama untuk penelitian atau skenario klinis berisiko tinggi [121].
Penilaian Berbasis Biomarker dan Pendekatan Holistik
Penilaian kesehatan metabolik tidak boleh dibatasi pada pengukuran fisik semata. Faktor seperti tekanan darah, glukosa puasa, trigliserida, dan kolesterol HDL digunakan untuk mendefinisikan kesehatan metabolik, yang dapat bervariasi secara independen dari IMT [122]. Sebagai contoh, sebagian besar individu dengan obesitas dapat dikategorikan sebagai metabolik sehat, sementara beberapa dengan IMT normal justru mengalami disfungsi metabolik—kondisi yang dikenal sebagai "obesitas normal berat badan secara metabolik" (MONW) [84].
Pendekatan inovatif seperti biological BMI (bBMI)—skor biomarker berbasis darah yang diturunkan dari profil metabolomik—telah muncul sebagai alat untuk mengungkap risiko kesehatan tersembunyi yang tidak terdeteksi oleh IMT tradisional. bBMI mencerminkan disfungsi metabolik yang mendasari dan telah terbukti lebih responsif terhadap intervensi gaya hidup, menjadikannya alat yang menjanjikan untuk penilaian risiko yang dipersonalisasi [124]. Indeks lain seperti Visceral Adiposity Index (VAI) dan Visceral Adiposity Inflammatory Index (VAII) mengintegrasikan data antropometrik dan biokimia untuk meningkatkan prediksi risiko stroke dan penyakit metabolik lainnya [125].
Rekomendasi Klinis dan Kebijakan
Mengingat keterbatasan IMT, organisasi seperti American Medical Association (AMA) telah mengakui bahwa penggunaan IMT secara tunggal merupakan alat klinis yang tidak sempurna dan menyarankan pendekatan yang lebih holistik [52]. Pedoman klinis kini semakin merekomendasikan penggabungan IMT dengan ukuran tambahan seperti lingkar pinggang dalam praktik perawatan primer. Selain itu, pendekatan yang berfokus pada perilaku kesehatan—seperti aktivitas fisik, nutrisi seimbang, dan kesejahteraan mental—tanpa terlalu menekankan berat badan semata, semakin dianggap penting untuk mengurangi stigma dan meningkatkan hasil kesehatan bagi semua individu [72].
Dalam konteks kebijakan kesehatan masyarakat, ada dorongan untuk mengadopsi ambang batas IMT yang spesifik menurut etnis, mengingat variasi dalam komposisi tubuh dan risiko penyakit antar populasi. Misalnya, ambang batas yang lebih rendah (misalnya ≥23 kg/m² untuk overweight dan ≥27,5 kg/m² untuk obesitas) telah direkomendasikan untuk populasi Asia Selatan dan Timur karena risiko diabetes yang lebih tinggi pada IMT yang lebih rendah [67]. Pergerakan menuju pendekatan yang lebih inklusif secara budaya dan berbasis bukti mencerminkan kebutuhan akan penilaian kesehatan yang adil, akurat, dan menghormati keragaman manusia.