Bordetella pertussis adalah bakteri Gram-negatif berbentuk kokobasil yang menjadi penyebab utama pertosse, penyakit infeksi saluran pernapasan yang sangat menular dan sering kali berbahaya, terutama bagi bayi dan anak-anak [1]. Bakteri ini pertama kali diisolasi pada tahun 1906 oleh para mikrobiologis Jules Bordet dan Octave Gengou, yang kemudian memberikan nama pada genus dan spesies tersebut [2]. Pertosse, yang juga dikenal sebagai tussis atau "batuk seratus hari", ditandai dengan batuk paroksismal yang berkepanjangan, sering kali diakhiri dengan suara tarikan napas khas yang disebut "whoop" [3]. Penyakit ini menyebar melalui tetesan pernapasan (droplet) saat penderita batuk, bersin, atau berbicara, dengan masa inkubasi rata-rata 7–10 hari [4]. Mekanisme virulensi utama B. pertussis melibatkan berbagai toksin, termasuk tossina pertussica (PT) yang mengganggu fungsi sistem imun dan tossina adenilat siklase (ACT) yang menghambat fagositosis, serta adhesin seperti emoagglutinina filamentosa (FHA) dan pertactin (PRN) yang memungkinkan bakteri menempel pada epitel saluran napas [5]. Diagnostik laboratorium meliputi PCR (reaksi rantai polimerase) dari swab nasofaring, yang sangat sensitif pada fase awal, serta kultur bakteri meskipun dengan sensitivitas lebih rendah [6]. Pengobatan utama menggunakan antibiotik makrolida seperti azitromisin, terutama jika diberikan dini, untuk mengurangi penularan [7]. Pencegahan paling efektif adalah melalui vaksinasi kombinasi seperti vaksin DTPa (difteri, tetanus, pertusis acellular) atau vaksin heksavalen, termasuk strategi penting seperti vaksinasi selama kehamilan untuk melindungi bayi baru lahir [8]. Meskipun vaksinasi telah menurunkan angka kejadian, peningkatan kasus pertosse di beberapa wilayah, seperti Italia pada 2024, menunjukkan tantangan yang berkelanjutan, termasuk penurunan imunitas dari vaksin acellular dan munculnya varian bakteri seperti PRN-negatif [9].
Mikrobiologi dan Karakteristik Bordetella pertussis
Bordetella pertussis adalah bakteri Gram-negatif berbentuk kokobasil, tidak motil, dan tidak membentuk spora yang menjadi agen penyebab utama pertosse, penyakit infeksi saluran pernapasan yang sangat menular dan berbahaya, terutama bagi bayi dan anak-anak [1]. Bakteri ini pertama kali diisolasi pada tahun 1906 oleh para mikrobiologis Jules Bordet dan Octave Gengou, yang kemudian memberikan nama pada genus dan spesies tersebut [2]. B. pertussis merupakan mikroorganisme aerobik yang sangat sensitif terhadap kondisi lingkungan dan membutuhkan media khusus untuk tumbuh, menjadikannya mikroba yang sangat teradaptasi dengan inang manusia [12].
Morfologi dan Struktur Seluler
Secara morfologis, B. pertussis berbentuk batang pendek atau kokobasil dengan ukuran sekitar 0,5–1,0 x 0,2–0,5 μm. Bakteri ini memiliki dinding sel khas bakteri Gram-negatif, yang terdiri dari membran luar, lapisan peptidoglikan tipis, dan membran sitoplasma. Dinding sel ini mengandung lipooligosakarida (LOS), analog dari lipopolisakarida pada bakteri Gram-negatif lainnya, yang berperan penting dalam memicu respons inflamasi pada inang [13]. Beberapa strain juga dilaporkan memiliki kapsul, yang dapat berkontribusi pada virulensi dan kemampuan bakteri untuk menghindari sistem imun [3].
Pertumbuhan dan Isolasi Mikrobiologis
B. pertussis merupakan bakteri yang sangat menuntut secara nutrisional dan tumbuh lambat. Isolasi mikrobiologis dilakukan dari spesimen saluran pernapasan atas, terutama melalui tampak nasofaring atau aspirat nasofaring, yang harus dikumpulkan pada minggu-minggu pertama gejala, ketika beban bakteri masih tinggi [6]. Media kultur tradisional yang digunakan adalah agar Bordet-Gengou, yang diperkaya dengan darah domba (5–10%) dan gliserol untuk mendukung pertumbuhan bakteri [16]. Untuk meningkatkan selektivitas, antibiotik seperti metisilin atau sefaleksin sering ditambahkan untuk menghambat flora kontaminan [16].
Koloni B. pertussis biasanya muncul setelah inkubasi selama 3–7 hari pada suhu 35–37°C dalam atmosfer lembap. Koloni berbentuk lentikular, cembung, berwarna abu-abu mutiara, dan sering dikelilingi oleh zona hemolisis parsial yang samar [16]. Karena pertumbuhannya yang lambat dan morfologinya yang tidak khas, identifikasi awal bisa sulit dilakukan, sehingga sering memerlukan konfirmasi lebih lanjut.
Identifikasi dan Karakterisasi
Identifikasi definitif B. pertussis melibatkan kombinasi karakteristik morfologis, uji biokimia, dan metode molekuler. Secara biokimia, bakteri ini bersifat katalase positif, oksidase positif, dan tidak fermentatif (asakarolitik), artinya tidak memfermentasi gula [19]. Aglutinasi dengan serum spesifik juga digunakan untuk mengkonfirmasi spesies berdasarkan antigen permukaan.
Metode modern seperti PCR (reaksi rantai polimerase) telah menjadi alat utama dalam diagnosis karena kecepatan dan sensitivitasnya yang tinggi. PCR dapat mendeteksi gen spesifik seperti IS481, ptxS1, dan prn, memungkinkan identifikasi cepat dan diskriminasi antara B. pertussis dan spesies Bordetella lainnya seperti B. parapertussis [6].
Keterbatasan Kultur Tradisional
Meskipun kultur dianggap sebagai metode baku emas untuk diagnosis, metode ini memiliki beberapa keterbatasan signifikan. Sensitivitasnya rendah, berkisar antara 10% hingga 60%, terutama jika spesimen diambil setelah minggu pertama atau kedua gejala, atau jika pasien telah menerima terapi antibiotik [6]. Selain itu, waktu tumbuh yang lama (7–14 hari) menyebabkan penundaan dalam diagnosis dan implementasi tindakan pengendalian infeksi [22]. Media Bordet-Gengou juga sulit disiapkan dan tidak stabil, serta sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan kekeringan, sehingga memerlukan penanganan dan transportasi spesimen yang hati-hati [16].
Karena keterbatasan ini, kultur saat ini lebih sering digunakan di laboratorium rujukan untuk keperluan surveilans epidemiologis dan pengujian kepekaan antibiotik, sementara PCR menjadi metode pilihan utama untuk diagnosis klinis [6].
Mekanisme Virulensi dan Patogenesis
Bordetella pertussis mengandalkan serangkaian faktor virulensi yang terkoordinasi untuk menempel pada epitel saluran napas, menghindari sistem imun inang, dan menyebabkan kerusakan jaringan, yang secara kolektif menghasilkan patogenesis khas dari pertusis. Mekanisme ini mencakup adhesin, toksin, dan molekul imunomodulator yang bekerja secara sinergis selama berbagai tahap infeksi, memungkinkan bakteri ini bertahan dan berkembang biak dalam sistem pernapasan manusia [25].
Adhesi dan Kolonisasi Awal
Langkah pertama dalam patogenesis adalah adhesi dan kolonisasi sel-sel epitel pada saluran pernapasan atas. Proses ini dimediasi oleh sejumlah adhesin permukaan yang memungkinkan bakteri melekat secara stabil pada mukosa. Adhesin utama meliputi:
-
Emoagglutinina filamentosa (FHA, filamentous hemagglutinin): Merupakan adhesin paling penting yang memfasilitasi adhesi B. pertussis ke sel-sel bersilia pada epitel respirasi manusia. FHA memiliki domain Arg-Gly-Asp (RGD) yang berinteraksi dengan reseptor integrin pada sel inang, yang penting untuk penempelan awal dan kolonisasi yang stabil [26]. Faktor ini juga berperan dalam membentuk biofilm, yang dapat melindungi bakteri dari serangan imun [27].
-
Pertactin (PRN): Protein membran luar ini berfungsi sebagai adhesin dan juga mengandung urutan RGD, yang berkontribusi terhadap adhesi dan interaksi dengan sel epitel. Mutasi pada gen prn dapat mengurangi kemampuan adhesi bakteri [28]. Keberadaan varian PRN-negatif dalam populasi yang divaksinasi telah menjadi perhatian karena dapat berkontribusi pada evasi imun [29].
-
Fimbria (FIM): Struktur berbentuk filamen ini memungkinkan agregasi bakteri dan adhesi ke reseptor spesifik pada sel-sel pernapasan, yang membantu dalam kolonisasi awal dan pembentukan koloni bakteri [28].
Toksin Utama dalam Patogenesis
Toksin-toksin yang diproduksi oleh B. pertussis adalah komponen kunci dalam kerusakan jaringan dan modulasi respons imun. Toksin ini secara langsung menyebabkan gejala klinis dan memungkinkan bakteri bertahan dalam tubuh inang.
-
Tossina pertussis (PT, pertussis toxin): Merupakan eksotoksin tipe A-B yang berperan sentral dalam patogenesis. PT menghambat protein G pada sel inang, yang mengganggu transduksi sinyal dan menginterupsi kemotaksis leukosit, fagositosis, serta respons imun bawaan dan adaptif [31]. Selain itu, PT menyebabkan limfositosis dengan mempromosikan akumulasi limfosit dalam darah, sebuah temuan klinis khas dari pertusis [25]. Toksin ini juga berkontribusi terhadap gejala neurologis dan pernapasan seperti batuk paroksismal [33].
-
Tossina adenilat siklase (ACT, adenylate cyclase toxin): Toksin ini menembus sel inang (termasuk makrofag, neutrofil, dan sel epitel) dan mengkatalisis konversi ATP menjadi AMP siklik (cAMP) secara berlebihan. Peningkatan cAMP intraseluler menghambat fagositosis, produksi spesies reaktif oksigen, dan maturasi fagolisosom, sehingga melemahkan fungsi bakterisidal fagosit [31]. Selain itu, ACT menginduksi apoptosis pada makrofag dan merangsang sekresi sitokin proinflamasi seperti IL-6 dari sel epitel trakea, yang berkontribusi terhadap peradangan lokal [35].
Faktor Virulensi Lainnya
Selain adhesin dan toksin utama, B. pertussis memproduksi beberapa faktor tambahan yang mendukung virulensinya:
-
Lipooligosakarida (LOS): Analog dari lipopolisakarida pada bakteri Gram-negatif, LOS menginduksi respons inflamasi kuat melalui aktivasi reseptor TLR4, yang menyebabkan pelepasan sitokin inflamasi seperti TNF-α, IL-1β, dan IL-6. Hal ini memperburuk kerusakan epitel dan gejala pernapasan [13].
-
Toksin sitotoksik trakea (TCT): Peptidoglikan yang dilepaskan oleh B. pertussis ini menyebabkan kerusakan langsung pada sel-sel bersilia epitel trakea, menghambat gerakan silia dan mengganggu pembersihan mukosiliar. Kerusakan ini berkontribusi pada akumulasi mukus dan batuk kronis yang khas [37].
-
Toksin dermatonekrotik (DNT): Menginduksi vasokonstriksi dan nekrosis jaringan, yang berpotensi berkontribusi pada kerusakan lokal pada saluran pernapasan, meskipun peran pastinya dalam patogenesis manusia masih belum sepenuhnya dipahami [38].
Imunomodulasi dan Persistensi Infeksi
Faktor virulensi B. pertussis tidak hanya merusak jaringan, tetapi juga bertindak sebagai modulator kuat dari respons imun. PT dan ACT menekan aktivasi dan rekrutmen leukosit, yang menunda eliminasi bakteri dan memungkinkan persistensinya di saluran pernapasan selama berminggu-minggu [13]. Bakteri ini juga dapat mengganggu presentasi antigen dan diferensiasi sel T, mengubah keseimbangan antara respons Th1/Th17 dan Th2, yang mengakibatkan penurunan imunitas pelindung [38].
Perubahan antigenik, seperti munculnya varian PRN-negatif, merupakan hasil dari tekanan selektif yang diakibatkan oleh vaksinasi acellular, yang memungkinkan bakteri menghindari pengenalan oleh sistem imun yang diinduksi vaksin [29]. Fenomena ini dikenal sebagai evolusi yang didorong oleh vaksin (vaccine-driven evolution), yang menantang efektivitas jangka panjang dari strategi vaksinasi saat ini vaksinasi.
Kesimpulan
Patogenesis pertusis adalah hasil dari aksi terkoordinasi oleh adhesin, toksin, dan faktor imunomodulator yang memungkinkan Bordetella pertussis untuk mengkolonisasi saluran pernapasan, menghindari pertahanan imun, dan menyebabkan kerusakan jaringan yang berkepanjangan. Adhesi yang dimediasi oleh FHA, PRN, dan FIM, dikombinasikan dengan aksi merusak dari PT, ACT, TCT, dan LOS, menjelaskan gejala klinis khas seperti batuk paroksismal, apnea, sianosis, dan muntah, yang sangat parah pada neonatus [25]. Pemahaman mendalam tentang mekanisme ini sangat penting untuk pengembangan strategi terapeutik dan vaksinal yang lebih efektif, terutama mengingat munculnya varian bakteri yang dapat menghindari vaksin dan tantangan dari imunitas yang berkurang dari vaksin acellular [43].
Gejala dan Perjalanan Klinis Pertosse
Pertusis, atau batuk rejan, disebabkan oleh bakteri Gram-negatif Bordetella pertussis, menunjukkan perjalanan klinis yang khas dan bertahap, terdiri dari tiga fase utama: fase kataral, fase paroksismal, dan fase konvalesens. Penyakit ini sangat menular dan dapat menyebabkan gejala yang sangat serius, terutama pada bayi dan anak-anak yang belum divaksinasi secara lengkap [1]. Meskipun vaksinasi telah mengurangi angka kejadian, kasus tetap terjadi, sering kali pada individu yang telah divaksinasi tetapi dengan imunitas yang menurun, menunjukkan pentingnya pemahaman yang mendalam mengenai gejala dan evolusi penyakit ini.
Fase Kataral (1–2 Minggu)
Fase awal pertusis, yang berlangsung sekitar 1–2 minggu, menyerupai infeksi saluran pernapasan atas biasa, sehingga sering kali sulit dibedakan dari flu biasa. Gejala utama pada fase ini meliputi rinitis, hidung berair, sumbatan hidung, bersin, batuk ringan, dan demam ringan atau tidak ada demam sama sekali [45]. Fase ini sangat menular karena penderita sering kali tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi Bordetella pertussis, sehingga dapat dengan mudah menularkan bakteri melalui tetesan pernapasan (droplet) saat batuk, bersin, atau berbicara [46]. Periode inkubasi rata-rata adalah 7–10 hari, meskipun dapat bervariasi dari 4 hingga 21 hari, dan individu menjadi menular seiring dengan berkembangnya bakteri di saluran pernapasan [4].
Fase Paroksismal (2–6 Minggu atau Lebih Lama)
Fase ini merupakan tahap paling khas dan parah dari pertusis, ditandai dengan serangan batuk paroksismal yang hebat dan berulang. Batuk terjadi dalam bentuk serangan yang tak terkendali, sering kali diakhiri dengan tarikan napas inspirasi yang tajam dan khas, dikenal sebagai "whoop" atau "rantolo pertusis", terutama pada anak-anak yang lebih besar [48]. Serangan batuk dapat sangat intens sehingga menyebabkan muntah setelah batuk (vomitus post-tussif), kelelahan ekstrem, dan bahkan sianosis (kulit kebiruan karena kekurangan oksigen) [48]. Durasi fase paroksismal bisa berlangsung dari 2 hingga 6 minggu, bahkan lebih lama, dan serangan batuk dapat terjadi puluhan kali dalam sehari.
Pada bayi baru lahir dan anak-anak sangat muda yang belum divaksinasi, fase paroksismal dapat menunjukkan gejala yang sangat berbeda dan lebih berbahaya. Mereka mungkin tidak mengalami "whoop" sama sekali, tetapi justru mengalami apnea, yaitu henti napas yang berulang, yang merupakan komplikasi serius dan dapat mengancam jiwa [50]. Apnea dapat menyebabkan gagal napas dan memerlukan ventilasi buatan. Fase ini juga sering dikaitkan dengan komplikasi seperti pneumonia, yang merupakan infeksi sekunder paling umum, serta risiko kejang dan ensefalopati akibat hipoksia otak yang berkepanjangan selama serangan batuk atau apnea [51].
Fase Konvalesens (Beberapa Minggu hingga Beberapa Bulan)
Setelah fase paroksismal, batuk secara bertahap berkurang dalam frekuensi dan keparahannya, memasuki fase pemulihan atau konvalesens. Namun, proses pemulihan ini bisa sangat lama, sering kali berlangsung selama beberapa minggu hingga beberapa bulan, yang menjelaskan mengapa pertusis sering disebut sebagai "batuk seratus hari" [3]. Meskipun pasien mulai membaik, serangan batuk dapat kambuh kembali jika mereka mengalami infeksi pernapasan lainnya, seperti pilek biasa, karena saluran pernapasan masih sensitif dan belum pulih sepenuhnya [3].
Perbedaan Gejala pada Populasi Berbeda
Gejala pertusis dapat sangat bervariasi tergantung pada usia dan status vaksinasi penderita. Pada orang dewasa dan individu yang telah divaksinasi, gejala cenderung lebih ringan atau atipikal, sering kali hanya berupa batuk kronis yang persisten tanpa serangan paroksismal yang khas atau suara "whoop" [54]. Hal ini membuat diagnosis menjadi lebih sulit dan meningkatkan risiko penularan kepada individu yang lebih rentan, seperti bayi, karena orang dewasa yang terinfeksi dapat bertindak sebagai reservoir infeksi tanpa menyadari bahwa mereka sakit [55]. Di sisi lain, pada bayi yang belum divaksinasi, penyakit ini sangat berbahaya dan dapat berkembang dengan cepat menjadi kondisi yang mengancam jiwa, dengan gejala utama berupa apnea dan insufisiensi pernapasan, bukan batuk yang parah [56]. Kesadaran akan perbedaan gejala ini sangat penting bagi dokter untuk melakukan diagnosis dini dan memulai pengobatan secepat mungkin, terutama pada populasi yang paling rentan.
Diagnosis Laboratorium
Diagnosis laboratorium terhadap infeksi Bordetella pertussis memainkan peran krusial dalam konfirmasi klinis pertusis, terutama mengingat gejalanya yang seringkali menyerupai infeksi saluran pernapasan lainnya, terutama pada individu yang telah divaksinasi. Metode diagnostik yang digunakan meliputi pendekatan langsung untuk mendeteksi patogen, seperti PCR dan kultur bakteri, serta metode tidak langsung melalui analisis sierologi untuk mengukur respons imun tubuh [57]. Pemilihan metode yang tepat sangat bergantung pada fase penyakit, waktu pengambilan sampel, dan status vaksinasi pasien.
Metode Deteksi Langsung: PCR dan Kultur Bakteri
Metode deteksi langsung bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan B. pertussis dalam sampel klinis, umumnya diambil dari saluran pernapasan atas. Dua teknik utama yang digunakan adalah reaksi rantai polimerase (PCR) dan kultur bakteri.
PCR (Reaksi Rantai Polimerase) merupakan metode diagnostik pilihan untuk fase awal pertusis karena sensitivitas dan kecepatan hasilnya yang tinggi. Teknik ini mendeteksi DNA spesifik B. pertussis dari sampel tampone nasofaringeo atau aspirat nasofaringeo. PCR sangat efektif ketika sampel dikumpulkan dalam waktu 3-4 minggu setelah onset batuk, saat beban bakteri masih tinggi [6]. Sensitivitasnya melampaui metode kultur, menjadikannya alat diagnostik utama di sebagian besar laboratorium. Selain itu, PCR dapat membedakan antara B. pertussis dan spesies terkait seperti B. parapertussis menggunakan primer spesifik, meskipun adanya urutan genetik yang serupa terkadang dapat mempersulit interpretasi [59]. Integrasi metode ini dalam alur kerja laboratorium memungkinkan diagnosis cepat, yang penting untuk pengendalian penyebaran infeksi dan inisiasi terapi antibiotik yang tepat waktu [57].
Kultur bakteri, meskipun dianggap sebagai metode baku emas karena spesifisitasnya yang mencapai 100%, memiliki beberapa keterbatasan yang mengurangi penggunaannya secara luas. Kultur dilakukan pada media selektif seperti agar Bordet-Gengou, yang diperkaya dengan darah domba dan antibiotik untuk menghambat flora kontaminan [16]. Koloni B. pertussis muncul setelah 3-7 hari inkubasi pada suhu 35-37°C, dengan morfologi berbentuk lensa, cembung, berwarna abu-abu mutiara, dan sering disertai halo hemolisis sebagian [62]. Namun, sensitivitas kultur rendah, berkisar antara 10% hingga 60%, terutama jika sampel diambil terlambat atau setelah terapi antibiotik dimulai [6]. Selain itu, bakteri ini sangat sensitif terhadap kekeringan dan perubahan suhu, sehingga kondisi transportasi sampel harus sangat diperhatikan. Karena pertumbuhannya yang lambat dan kebutuhan teknis yang tinggi, kultur kini lebih sering digunakan di laboratorium rujukan untuk tujuan surveilans epidemiologis dan uji kepekaan antibiotik [64].
Metode Deteksi Tidak Langsung: Sierologi
Sierologi digunakan terutama untuk mendiagnosis infeksi pertusis pada fase lanjut, ketika metode deteksi langsung seperti PCR dan kultur cenderung memberikan hasil negatif karena penurunan beban bakteri. Metode ini mengukur tingkat antibodi spesifik dalam serum pasien, terutama IgG terhadap tossina pertussica (PT), yang merupakan komponen kunci dari virulensi B. pertussis [65]. Kenaikan titer antibodi antara sampel fase akut dan konvalesens (dikumpulkan dengan jarak 2-4 minggu) merupakan indikator kuat dari infeksi baru-baru ini.
Namun, interpretasi hasil sierologi cukup kompleks. Vaksinasi dapat menyebabkan respons antibodi terhadap PT, yang dapat menghasilkan hasil positif palsu atau menyulitkan pembedaan antara infeksi alami dan respons terhadap vaksin [66]. Oleh karena itu, beberapa pedoman, seperti yang dikeluarkan oleh ECDC, merekomendasikan penggunaan nilai ambang (cutoff) yang distandarisasi dan, bila memungkinkan, analisis dua seri sampel untuk menilai konversi serologis [67]. Sierologi sangat berguna dalam diagnosis tos persisten yang tidak diketahui penyebabnya, terutama pada remaja dan orang dewasa dengan gejala atipikal, serta dalam studi surveilans untuk menilai prevalensi serologis di populasi [68].
Pemilihan Metode Berdasarkan Konteks Klinis
Pemilihan metode diagnostik yang paling tepat sangat bergantung pada konteks klinis dan epidemiologis pasien.
- Untuk kasus akut (dalam 4 minggu sejak onset batuk), PCR adalah metode pertama yang dipilih. Sampel optimal adalah tampone nasofaringeo yang diambil dengan benar oleh tenaga medis yang terlatih [69]. Keunggulannya meliputi sensitivitas tinggi, kecepatan hasil, dan kemampuan untuk membedakan spesies. Keterbatasannya adalah hasil positif dapat bertahan setelah pemulihan, dan hasil negatif tidak menyingkirkan infeksi jika sampel diambil terlambat atau secara tidak tepat [57].
- Untuk kasus lanjut atau kronis (>4 minggu), atau ketika PCR negatif tetapi kecurigaan klinis tetap tinggi, sierologi menjadi pilihan utama. Sampel serum yang diambil pada fase konvalesens, lebih baik jika dibandingkan dengan sampel fase akut, memberikan informasi yang paling berharga. Keterbatasannya meliputi kesulitan interpretasi pada individu yang divaksinasi dan kurangnya utilitas dalam diagnosis dini [57].
Peran Surveilans Molekuler dan Resistensi Antibiotik
Surveilans laboratorium tidak hanya untuk diagnosis individu tetapi juga penting untuk pemantauan epidemiologis. Teknik molekuler seperti PCR memungkinkan deteksi dini mutasi genetik yang terkait dengan resistensi antibiotik, seperti mutasi A2047G pada gen 23S rRNA yang menyebabkan resistensi terhadap makrolida [72]. Munculnya strain resisten ini mengancam efektivitas pengobatan dan profilaksis, menuntut pemantauan ketat oleh otoritas kesehatan seperti CDC dan ECDC [73]. Selain itu, karakterisasi molekuler strain, termasuk deteksi varian seperti PRN-negatif, membantu memahami evolusi patogen dan dampaknya terhadap efektivitas vaksin [29].
Dalam kesimpulan, diagnosis laboratorium pertusis memerlukan pendekatan integratif yang menggabungkan data klinis, epidemiologis, dan hasil laboratorium. PCR merupakan metode pilihan untuk diagnosis dini, sementara sierologi berperan penting dalam kasus lanjut. Kultur, meskipun kurang sensitif, tetap berharga untuk studi fenotipik dan surveilans. Pemahaman yang mendalam tentang kelebihan dan keterbatasan masing-masing metode, serta pengaruh status vaksinasi dan evolusi patogen, sangat penting untuk diagnosis yang akurat dan pengelolaan klinis yang efektif [57].
Pengobatan dan Profilaksis
Pengobatan infeksi Bordetella pertussis terutama bergantung pada pemberian antibiotik, terutama jika dimulai pada fase awal penyakit. Tujuan utama terapi antibiotik adalah menghilangkan bakteri dari saluran pernapasan, mengurangi periode penularan, dan mencegah penyebaran infeksi ke individu lain, terutama yang berisiko tinggi [3]. Pengobatan dini dengan antibiotik dapat memperpendek durasi penularan dan meningkatkan hasil klinis secara keseluruhan.
Pengobatan Antibiotik
Antibiotik pilihan pertama untuk pengobatan pertusis adalah golongan makrolida, yang meliputi azitromisin, claritromisin, dan eritromisin. Obat-obatan ini paling efektif jika diberikan dalam dua minggu pertama setelah gejala muncul, karena pada fase ini bakteri masih aktif berkembang biak di saluran napas [77]. Azitromisin sering menjadi pilihan utama karena profil keamanan yang lebih baik dan rejimen pengobatan yang lebih singkat dibandingkan eritromisin. Eritromisin, meskipun efektif, harus digunakan dengan hati-hati pada neonatus karena dikaitkan dengan risiko stenosis pilorus, suatu kondisi obstruksi lambung [55].
Pada pasien yang tidak responsif terhadap makrolida atau mengalami intoleransi, alternatif terapi termasuk kombinasi trimetoprim-sulfametoksazol, meskipun bukti efikasinya lebih terbatas [79]. Untuk pasien dewasa, tetracycline dapat digunakan, tetapi kontraindikasi pada anak di bawah delapan tahun karena risiko diskolorasi gigi [80]. Keputusan terapi harus mempertimbangkan sensitivitas lokal terhadap antibiotik dan potensi resistensi.
Profilaksis Antibiotik
Profilaksis antibiotik pasca-paparan (PEP) direkomendasikan untuk kontak dekat dari kasus pertusis yang dikonfirmasi, terutama jika mereka termasuk dalam kelompok berisiko tinggi seperti neonatus, wanita hamil, dan petugas kesehatan [81]. Tujuan profilaksis adalah mencegah terjadinya penyakit pada individu yang rentan sebelum gejala berkembang. Makrolida, terutama azitromisin, juga merupakan pilihan utama untuk profilaksis. Intervensi ini sangat penting dalam mengurangi risiko transmisi ke bayi yang belum divaksinasi dan sangat rentan terhadap komplikasi serius.
Pengobatan Suportif dan Perawatan Klinis
Selain terapi antibiotik, pengobatan suportif memainkan peran penting dalam manajemen pertusis. Ini mencakup istirahat yang cukup, hidrasi yang sering dengan pemberian cairan dalam jumlah kecil untuk mencegah muntah, serta nutrisi terbagi untuk menghindari muntah pascatersik. Pemantauan pernapasan sangat penting, terutama pada anak-anak kecil dan bayi baru lahir. Dalam kasus berat, terutama pada neonatus dan bayi, rawat inap di rumah sakit sering diperlukan untuk mengelola komplikasi seperti apnea, kesulitan bernapas, atau infeksi sekunder seperti pneumonia [3].
Resistensi Antibiotik dan Implikasinya
Resistensi terhadap antibiotik, terutama makrolida, pada strain Bordetella pertussis yang beredar merupakan fenomena yang meningkat dan mengkhawatirkan. Mekanisme utama resistensi adalah mutasi titik A2047G pada gen 23S rRNA, yang mengganggu ikatan makrolida ke ribosom bakteri [72]. Di beberapa wilayah, seperti Tiongkok, tingkat resistensi terhadap eritromisin telah mencapai 100%. Di Eropa dan Amerika Serikat, meskipun prevalensi keseluruhan bervariasi, kasus-kasus sporadis dan wabah yang disebabkan oleh strain resisten telah didokumentasikan [84]. Resistensi ini mengurangi efektivitas pengobatan dan profilaksis, meningkatkan risiko penularan dan durasi gejala. Oleh karena itu, diperlukan surveilans yang berkelanjutan terhadap resistensi antibiotik dan pertimbangan penggunaan alternatif seperti trimetoprim-sulfametoksazol dalam kasus resistensi yang dikonfirmasi [85].
Strategi Pencegahan dan Pengendalian Penularan
Pencegahan komplikasi berat dimulai dengan diagnosis dini dan pengobatan tepat waktu untuk mengurangi keparahan dan transmisi. Isolasi pasien selama periode penularan juga penting; periode ini berlangsung sekitar tiga minggu tanpa antibiotik, tetapi berkurang menjadi lima hari dengan terapi antibiotik yang tepat [79]. Di samping itu, strategi non-farmakologis seperti isolasi, kebersihan pernapasan, dan penggunaan masker sangat penting untuk mengendalikan penyebaran, terutama di lingkungan rumah tangga dan fasilitas kesehatan [87]. Integrasi antara terapi antibiotik, profilaksis, dan tindakan pencegahan non-farmakologis merupakan pendekatan komprehensif yang diperlukan untuk mengelola dan mengendalikan penyakit pertusis secara efektif.
Strategi Pencegahan dan Vaksinasi
Pencegahan pertosse, penyakit yang disebabkan oleh Bordetella pertussis, sangat bergantung pada strategi vaksinasi yang komprehensif dan berkelanjutan. Meskipun vaksinasi telah menurunkan secara drastis angka kejadian dan mortalitas, tantangan seperti penurunan imunitas dari vaksin acellular, munculnya varian bakteri, serta rendahnya cakupan vaksinasi di beberapa kelompok populasi, terus memicu fokus pada pengembangan dan penerapan strategi pencegahan yang efektif. Pendekatan pencegahan meliputi vaksinasi rutin, strategi perlindungan tidak langsung seperti cocooning, vaksinasi selama kehamilan, serta penggunaan profilaksis antibiotik pada kontak berisiko tinggi.
Vaksinasi Rutin dan Skema Imunisasi
Vaksinasi merupakan pilar utama dalam pencegahan pertosse. Di banyak negara, termasuk Italia, vaksin antipertosse diberikan dalam bentuk kombinasi, seperti vaksin heksavalen yang melindungi terhadap difteri, tetanus, pertosse acellular (DTPa), polio, Haemophilus influenzae tipe b (Hib), dan hepatitis B [79]. Skema imunisasi nasional mencakup tiga dosis primer yang diberikan pada usia 3, 5, dan 11 bulan, untuk memastikan perlindungan dini pada anak-anak yang paling rentan [89]. Dosis booster diberikan pada usia 5–6 tahun dan sekitar usia 12 tahun untuk memperkuat kembali kekebalan yang mulai menurun. Vaksinasi dewasa juga penting, dengan rekomendasi untuk dosis booster dekadean menggunakan vaksin Tdap (tetanus-difteri-pertosse acellular) guna mempertahankan imunitas di tingkat populasi [89]. Strategi ini bertujuan untuk menjaga tingkat kekebalan kawanan (herd immunity) yang tinggi, yang sangat penting mengingat angka reproduksi dasar (R0) B. pertussis yang sangat tinggi, diperkirakan antara 12 hingga 17 [4].
Vaksinasi Selama Kehamilan dan Perlindungan Neonatal
Vaksinasi selama kehamilan merupakan strategi kunci untuk melindungi bayi baru lahir, yang berisiko tinggi mengalami komplikasi serius karena belum menerima vaksinasi primer. Vaksin Tdap direkomendasikan untuk diberikan antara minggu ke-27 dan ke-36 kehamilan [8]. Strategi ini memungkinkan transfer antibodi maternal melintasi plasenta ke janin, memberikan perlindungan pasif selama bulan-bulan awal kehidupan ketika risiko penyakit paling tinggi [93]. Studi menunjukkan bahwa vaksinasi ibu hamil dapat mengurangi risiko pertosse pada bayi hingga 91% dalam dua bulan pertama kehidupan dan 69% selama tahun pertama [94]. Efektivitas strategi ini sangat bergantung pada cakupan vaksinasi yang tinggi di antara ibu hamil; di Italia, cakupan sekitar 50% pada tahun 2023 dianggap masih jauh dari target yang dibutuhkan untuk mencapai perlindungan optimal [95]. Perlindungan ini sangat penting karena bayi yang tidak divaksinasi atau belum menyelesaikan rangkaian vaksinasi primer sangat rentan terhadap bentuk penyakit yang parah, termasuk apnea, pneumonia, dan encephalopati [1].
Strategi Cocooning dan Profilaksis Antibiotik
Strategi cocooning bertujuan melindungi bayi yang rentan dengan memvaksinasi orang-orang yang berada dalam kontak dekat dengannya, seperti orang tua, saudara kandung, kakek-nenek, dan pengasuh [4]. Tujuannya adalah untuk mengurangi risiko transmisi dari sumber yang mungkin tidak menunjukkan gejala atau hanya menunjukkan gejala ringan. Namun, efektivitas strategi ini terbatas oleh kesulitan operasional dan kepatuhan yang rendah, dengan cakupan vaksinasi di antara orang tua yang sering kali kurang dari 50% [98]. Karena keterbatasannya, cocooning kini dianggap sebagai pendekatan pelengkap, bukan pengganti vaksinasi ibu hamil [8]. Sebagai tindakan pencegahan tambahan, profilaksis antibiotik diberikan kepada kontak erat dari kasus yang dikonfirmasi, terutama pada kelompok berisiko tinggi seperti bayi baru lahir, wanita hamil, dan petugas kesehatan [81]. Antibiotik makrolida, seperti azitromisin, digunakan untuk mencegah perkembangan penyakit dan mengurangi penularan lebih lanjut [7]. Intervensi ini harus dimulai dalam waktu 21 hari sejak terpapar untuk memaksimalkan efektivitasnya.
Tantangan dan Pengembangan Vaksin Masa Depan
Meskipun vaksinasi acellular (aP) memiliki profil keamanan yang lebih baik dibandingkan vaksin sel utuh (wP), vaksin ini memiliki kelemahan utama: imunitas yang dihasilkannya tidak bertahan lama, diperkirakan hanya 7–8 tahun [95]. Hal ini berkontribusi pada munculnya kembali kasus di kalangan remaja dan orang dewasa yang berfungsi sebagai reservoir untuk penularan ke bayi. Selain itu, tekanan selektif dari vaksinasi telah menyebabkan evolusi bakteri, dengan munculnya varian B. pertussis yang tidak mengekspresikan antigen penting seperti pertactin (Prn-negatif) atau membawa mutasi genetik seperti ptxP3, yang dapat mengurangi efektivitas vaksin [103]. Penelitian saat ini sedang berfokus pada pengembangan vaksin generasi berikutnya yang dapat mengatasi keterbatasan ini, termasuk vaksin yang dapat menginduksi respons imun seluler Th1/Th17 yang lebih kuat, lebih mirip dengan respons dari infeksi alami atau vaksin sel utuh, serta vaksin berbasis teknologi baru seperti vaksin hidup yang dilemahkan atau vaksin mukosa [43]. Tujuan akhirnya adalah menciptakan vaksin yang memberikan perlindungan yang lebih luas, lebih kuat, dan lebih tahan lama untuk mengendalikan pertosse secara berkelanjutan.
Epidemiologi dan Tren Global
Epidemiologi Bordetella pertussis telah mengalami transformasi signifikan selama beberapa dekade terakhir, dipengaruhi oleh perkenalan dan penguatan program vaksinasi serta perubahan dalam dinamika sirkulasi bakteri. Sebelum era vaksin, pertosse merupakan salah satu penyebab utama mortalitas dan morbilitas pada anak-anak, dengan wabah yang berulang dan tingkat komplikasi yang tinggi seperti polmonia, apnea, dan kerusakan neurologis, terutama pada neonatus [55]. Introduksi vaksin antipertosse, awalnya dalam bentuk vaksin sel utuh (vaksin DTP), menyebabkan penurunan drastis jumlah kasus di negara-negara maju, menunjukkan dampak positif dari program vaksinasi masal [106].
Dengan beralihnya ke vaksin acellular (DTPa), yang diperkenalkan untuk mengurangi reaksi merugikan, efektivitas perlindungan tetap tinggi, meskipun durasi imunitas lebih pendek dibandingkan vaksin sel utuh [95]. Hal ini berkontribusi pada perubahan dalam pola epidemiologi, dengan penurunan sirkulasi bakteri di populasi umum tetapi peningkatan relatif kasus pada remaja dan dewasa, yang tingkat perlindungan vaksinnya cenderung menurun seiring waktu [4].
Recrudescence Global dan Faktor Pendorong
Meskipun mencapai keberhasilan awal, dalam beberapa tahun terakhir telah diamati peningkatan kembali kasus pertosse secara global, dengan peningkatan signifikan dalam jumlah kasus yang dilaporkan di Eropa dan Italia. Pada tahun 2023, lebih dari 25.000 kasus dilaporkan di Eropa, dan pada kuartal pertama tahun 2024, lebih dari 32.000 kasus telah dilaporkan, menunjukkan tren yang meningkat [109]. Di Italia, tercatat peningkatan 800% dalam jumlah rawat inap karena pertosse pada neonatus dan bayi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dengan sekitar 110 kasus dan tiga kematian dilaporkan antara Januari dan Mei 2024 [110][111].
Peningkatan kembali ini dikaitkan dengan beberapa faktor yang saling terkait:
- Penurunan imunitas vaksinasi: Perlindungan yang diberikan oleh vaksin acellular cenderung berkurang dalam 7-8 tahun setelah pemberian, yang mendorong sirkulasi bakteri di antara remaja dan dewasa [95].
- Penurunan cakupan vaksinasi: Pandemi COVID-19 mengganggu atau memperlambat kampanye vaksinasi dan mengurangi penguatan alami imunitas melalui kontak dengan patogen, menciptakan kohort individu rentan [113].
- Keterlambatan vaksinasi anak-anak: Ketepatan waktu dalam pemberian vaksin sangat penting; keterlambatan meningkatkan risiko infeksi pada bulan-bulan pertama kehidupan, ketika risiko komplikasi serius paling tinggi [114].
Siklus Epidemi dan Fokus pada Populasi Rentan
Pertosse menunjukkan pola siklus dengan puncak epidemi yang terjadi setiap 3-5 tahun [109]. Siklus ini dipengaruhi oleh tingkat imunitas kawanan dan dinamika akumulasi individu rentan. Dalam siklus terakhir, telah diamati percepatan atau peningkatan intensitas puncak, kemungkinan terkait gangguan yang disebabkan oleh pandemi dan penurunan sementara imunitas populasi [116].
Wabah terkini terutama menyerang neonatus di bawah satu tahun, yang belum menyelesaikan rangkaian vaksinasi primer dan bergantung pada imunitas pasif dari ibu atau perlindungan tidak langsung dari komunitas [109]. Studi epidemiologi menunjukkan bahwa kontak intra-keluarga, sering kali dengan orang tua atau saudara remaja yang asimptomatik atau pauci-simptomatik, merupakan sumber infeksi utama bagi bayi [55].
Wabah di Populasi dengan Cakupan Vaksinasi Tinggi
Menariknya, wabah pertosse tetap terjadi bahkan di populasi dengan cakupan vaksinasi yang tinggi. Fenomena ini dijelaskan oleh kombinasi faktor biologis, imunologis, dan epidemiologis:
- Durasi imunitas vaksinasi yang terbatas: Imunitas yang diberikan oleh vaksin acellular (aP) berkurang seiring waktu, membuat remaja dan dewasa yang divaksinasi pada masa kanak-kanak menjadi rentan terhadap infeksi [95].
- Transmisi oleh individu yang divaksinasi dengan gejala atipikal: Individu yang divaksinasi yang terinfeksi sering mengalami bentuk ringan atau atipikal, dengan gejala mirip flu biasa atau batuk kronis, yang dapat lolos dari deteksi dan memungkinkan sirkulasi bakteri secara diam-diam [120].
- Adaptasi evolusioner Bordetella pertussis: Telah diamati evolusi bakteri sebagai respons terhadap tekanan selektif dari vaksin acellular. Secara khusus, muncul varian B. pertussis yang kekurangan antigen kunci dalam vaksin, seperti pertactin (Prn), yang dapat sebagian menghindari respons imun yang diinduksi oleh vaksin [29].
- Cakupan vaksinasi yang hampir memenuhi tetapi tidak cukup untuk mencapai ambang imunitas kawanan: Meskipun cakupan vaksinasi anak-anak di Italia mendekati ambang 95% yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia, penurunan yang mengkhawatirkan tercatat di beberapa wilayah dan kelompok demografis [122].
Tantangan dalam Surveilans dan Pengendalian
Sistem surveilans sentinel untuk pertosse, meskipun penting, memiliki keterbatasan yang dapat memengaruhi estimasi insidensi sebenarnya dan ketepatan waktu deteksi wabah. Salah satu keterbatasan utama adalah underestimasi kasus, karena pertosse sering kali muncul dengan gejala atipikal atau ringan, terutama pada remaja dan dewasa, yang dapat dikacaukan dengan infeksi pernapasan umum [123]. Selain itu, periode inkubasi yang bervariasi dan fase prodromal yang tidak spesifik dapat menunda diagnosis klinis [55].
Untuk mengatasi tantangan ini, strategi pengendalian saat ini berfokus pada:
- Vaksinasi anak-anak yang tepat waktu: Jadwal vaksinasi mencakup dosis primer pada bulan-bulan pertama kehidupan untuk melindungi individu yang paling rentan.
- Dosis booster pada remaja dan dewasa: Untuk mempertahankan imunitas kawanan dan mengurangi transmisi.
- Vaksinasi selama kehamilan: Direkomendasikan pada trimester ketiga untuk memberikan perlindungan pasif kepada neonatus melalui transfer antibodi transplasenta, mengurangi risiko infeksi berat pada bulan-bulan pertama kehidupan [120].
Kesimpulannya, pola epidemiologi pertosse telah berevolusi dari endemis dengan puncak teratur menjadi epidemiologi yang lebih kompleks, ditandai dengan siklus yang diperkuat, peningkatan kembali pada populasi yang divaksinasi, dan beban penyakit yang bergeser ke neonatus yang paling rentan. Perkenalan vaksinasi telah secara drastis mengurangi kematian dan morbiditas, tetapi durasi imunitas yang terbatas dan penurunan cakupan memerlukan strategi pengendalian yang dinamis dan adaptif [126].
Komplikasi dan Penatalaksanaan pada Bayi Baru Lahir
Bayi baru lahir dan laktasi sangat rentan terhadap infeksi Bordetella pertussis, terutama jika belum menjalani vaksinasi lengkap. Pada kelompok usia ini, pertosse sering kali menunjukkan gejala yang atipikal dan dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa. Komplikasi yang muncul pada bayi baru lahir jauh lebih berat dibandingkan pada anak-anak yang lebih besar atau orang dewasa, dengan tingkat rawat inap dan mortalitas yang signifikan [3]. Faktor risiko utama termasuk usia di bawah 4 bulan, status vaksinasi yang belum lengkap, dan paparan terhadap individu yang terinfeksi, sering kali dari anggota keluarga seperti orang tua atau saudara kandung yang mengalami batuk ringan atau kronis virus pernapasan.
Komplikasi Utama pada Bayi Baru Lahir
Komplikasi pertosse pada bayi baru lahir sangat serius dan dapat berkembang secara cepat. Salah satu manifestasi paling mengkhawatirkan adalah apnea, yaitu berhentinya pernapasan secara sementara. Apnea bisa menjadi gejala dominan pada neonatus, bahkan menggantikan batuk paroksismal yang khas pada anak-anak yang lebih besar [128]. Episoda apnea ini sering kali berulang, disertai dengan sianosis (kulit kebiruan) dan bradikardia (detak jantung lambat), serta berpotensi menyebabkan insufisiensi pernapasan akut yang memerlukan ventilasi mekanis [19]. Apnea merupakan faktor prognostik yang tidak menguntungkan dan meningkatkan risiko encefalopati hipoksik, suatu kondisi kerusakan otak akibat kekurangan oksigen [130].
Komplikasi lain yang umum dan berbahaya termasuk pneumonia, yang merupakan komplikasi paling sering terjadi pada bayi dengan pertosse. Pneumonia bisa disebabkan oleh infeksi sekunder bakteri atau kerusakan paru-paru langsung akibat infeksi B. pertussis [131]. Kondisi ini meningkatkan risiko kematian secara signifikan. Selain itu, bayi juga dapat mengalami konvulsi dan ensefalopati, yang sebagian besar disebabkan oleh hipoksia otak yang berkepanjangan selama episode batuk paroksismal atau apnea [132]. Ensefalopati pertosse ini dapat menyebabkan sekelas neurologis permanen seperti keterlambatan perkembangan dan serebral palsy [133]. Mekanisme patogenetik lainnya melibatkan efek langsung dari tossina pertussica (PT), yang dapat menembus sawar darah-otak yang belum matang dan menyebabkan inflamasi serta kerusakan neuron [134].
Komplikasi tambahan yang sering terjadi pada bayi termasuk muntah pascatusuk akibat batuk hebat, yang menyebabkan dehidrasi dan gangguan nutrisi. Bayi juga rentan mengalami kelelahan ekstrem dan kesulitan menyusu, memperburuk status gizi dan memperlambat pemulihan [1]. Dalam beberapa kasus, bayi dapat mengalami hipertensi pulmonal sebagai respons terhadap hipoksia berat, yang menambah beban kerja jantung dan memperburuk prognosis [56].
Penatalaksanaan di Unit Perawatan Intensif Neonatal
Bayi baru lahir dengan pertosse berat biasanya memerlukan rawat inap di unit perawatan intensif neonatal (UPIN). Indikasi rawat inap meliputi adanya apnea berulang, kesulitan pernapasan, sianosis, gangguan kesadaran, kejang, atau pneumonia [137]. Penatalaksanaan di UPIN bersifat multidisipliner dan mencakup beberapa komponen utama. Pertama, dukungan pernapasan menjadi prioritas utama. Pemantauan terus-menerus terhadap saturasi oksigen dan frekuensi pernapasan sangat penting. Bayi dapat memerlukan oksigen tambahan, ventilasi non-invasif seperti CPAP, atau dalam kasus yang parah, ventilasi mekanis invasif untuk mengatasi insufisiensi pernapasan [138].
Kedua, terapi antibiotik harus segera diberikan. Antibiotik pilihan pertama adalah makrolida, terutama azitromisin, karena memiliki efek samping yang lebih rendah dibandingkan eritromisin, terutama dalam risiko stenosis pilorik [139]. Terapi ini bertujuan untuk mengeliminasi bakteri dari saluran pernapasan dan mengurangi masa penularan, meskipun tidak selalu menghentikan gejala batuk yang sudah terjadi karena kerusakan epitel sudah terlanjur terjadi [7]. Ketiga, manajemen episode paroksismal sangat penting. Lingkungan harus tenang untuk menghindari rangsangan yang dapat memicu serangan batuk. Dalam kasus kejang, diperlukan terapi antikonvulsan sesuai protokol epilepsi neonatal [141].
Keempat, dukungan nutrisi dan hidrasi harus dipastikan. Karena muntah pascatusuk dan kelelahan dapat mengganggu asupan makanan, sering kali diperlukan nutrisi enteral melalui selang lambung atau bahkan nutrisi parenteral untuk mencegah dehidrasi dan malnutrisi [142]. Terakhir, isolasi infeksi sangat penting untuk mencegah penyebaran penyakit yang sangat menular. Bayi harus diisolasi secara aero, dan semua petugas kesehatan serta pengunjung harus menggunakan masker bedah dan mematuhi protokol kebersihan tangan yang ketat [143].
Faktor Prognostik dan Pencegahan
Prognosis pertosse pada bayi baru lahir sangat bergantung pada beberapa faktor klinis. Usia gestasi dan usia postnatal merupakan penentu utama, dengan bayi prematur dan bayi di bawah 2 bulan memiliki risiko lebih tinggi untuk hasil yang tidak baik [144]. Kehadiran apnea berulang, pneumonia, dan komplikasi neurologis seperti kejang merupakan indikator prognosis yang buruk [145]. Kecepatan diagnosis dan pemberian pengobatan juga sangat memengaruhi hasil akhir; intervensi dini secara signifikan meningkatkan kelangsungan hidup dan mengurangi risiko sekelas [25].
Pencegahan merupakan pilar utama dalam melindungi bayi baru lahir dari pertosse. Strategi utama termasuk vaksinasi selama kehamilan, yang direkomendasikan antara minggu ke-27 hingga ke-36. Vaksin Tdap yang diberikan pada ibu hamil memungkinkan transfer antibodi pelindung melalui plasenta, memberikan perlindungan pasif pada bayi selama bulan-bulan pertama kehidupan [147]. Studi menunjukkan bahwa strategi ini dapat mengurangi risiko pertosse pada dua bulan pertama kehidupan hingga 91% [8]. Selain itu, vaksinasi bayi sesuai jadwal nasional (dosis primer pada usia 3, 5, dan 11 bulan) sangat penting untuk perlindungan jangka panjang [4]. Strategi pelengkap seperti profilaksis antibiotik pasca-pajanan untuk kontak dekat bayi yang terpapar kasus pertosse juga penting, terutama pada bayi di bawah 12 bulan [81]. Pencegahan yang komprehensif melibatkan kombinasi vaksinasi ibu, vaksinasi bayi, dan manajemen risiko infeksi di lingkungan keluarga.