Income-Driven Repayment (IDR) adalah serangkaian rencana pembayaran pinjaman mahasiswa federal yang dirancang untuk membuat cicilan bulanan lebih terjangkau dengan menyesuaikannya berdasarkan pendapatan dan ukuran keluarga peminjam. Rencana ini terutama bermanfaat bagi peminjam dengan utang tinggi relatif terhadap pendapatan atau yang mengalami kesulitan keuangan, karena pembayaran dihitung sebagai persentase dari pendapatan diskresioner—selisih antara pendapatan kotor yang disesuaikan (AGI) dan 150% panduan kemiskinan federal. IDR hanya tersedia untuk pinjaman federal, bukan pinjaman swasta, dan mencakup berbagai opsi seperti Pay As You Earn (PAYE), Income-Based Repayment (IBR), Income-Contingent Repayment (ICR), dan rencana terbaru Saving on a Valuable Education (SAVE), yang menawarkan pembayaran lebih rendah dan subsidi bunga. Peminjam harus melakukan sertifikasi ulang pendapatan dan ukuran keluarga setiap tahun untuk mempertahankan manfaat IDR, yang dapat dilakukan melalui Federal Student Aid dengan menggunakan data pajak dari Internal Revenue Service (IRS) jika mereka memberikan izin akses. Setelah membuat pembayaran yang memenuhi syarat selama 20 hingga 25 tahun, saldo pinjaman yang tersisa dapat dihapus melalui pembebasan utang, meskipun jumlah yang dihapuskan dapat dikenakan pajak berdasarkan undang-undang perpajakan saat ini. Rencana IDR dikelola oleh Departemen Pendidikan AS dan tunduk pada peraturan yang ditetapkan melalui Undang-Undang Pendidikan Tinggi, serta dapat dipengaruhi oleh perubahan kebijakan administratif dan putusan pengadilan, seperti yang terjadi pada rencana SAVE yang dibatalkan pada 2026 akibat tantangan hukum [1].

Definisi dan Mekanisme Income-Driven Repayment

Income-Driven Repayment (IDR) adalah serangkaian rencana pembayaran pinjaman mahasiswa federal yang dirancang untuk membuat cicilan bulanan lebih terjangkau dengan menyesuaikannya berdasarkan pendapatan dan ukuran keluarga peminjam. Rencana ini menghitung pembayaran sebagai persentase dari pendapatan diskresioner—selisih antara pendapatan kotor yang disesuaikan (AGI) dan 150% panduan kemiskinan federal—sehingga pembayaran dapat menyesuaikan dengan situasi keuangan peminjam [1]. IDR hanya tersedia untuk pinjaman federal, bukan pinjaman swasta, dan terutama bermanfaat bagi peminjam dengan utang tinggi relatif terhadap pendapatan atau yang mengalami kesulitan keuangan [1]. Peminjam dapat mengajukan IDR secara online melalui Federal Student Aid, dan pembayaran dapat dikurangi hingga $0 bagi mereka dengan pendapatan sangat rendah [1].

Mekanisme Perhitungan Pendapatan Diskresioner

Pendapatan diskresioner merupakan dasar perhitungan pembayaran dalam rencana IDR, yang didefinisikan sebagai selisih antara pendapatan kotor yang disesuaikan (AGI) dan persentase tertentu dari panduan kemiskinan federal berdasarkan ukuran keluarga dan lokasi peminjam. Persentase yang digunakan bervariasi tergantung pada jenis rencana IDR. Sebagian besar rencana menggunakan 150% dari panduan kemiskinan federal, namun rencana terbaru seperti Saving on a Valuable Education (SAVE) menggunakan 225% dari panduan tersebut, yang memberikan perlindungan pendapatan lebih besar dan memungkinkan lebih banyak peminjam memenuhi syarat untuk pembayaran $0 [5]. Misalnya, peminjam dengan AGI di bawah 225% dari panduan kemiskinan federal akan memiliki pendapatan diskresioner sebesar $0, sehingga pembayarannya juga $0 di bawah rencana SAVE [6]. Perhitungan ini dipengaruhi oleh data pajak yang dapat diakses langsung dari Internal Revenue Service (IRS) jika peminjam memberikan izin, mempermudah proses verifikasi pendapatan [7].

Penyesuaian Pembayaran Berdasarkan Perubahan Pendapatan

Salah satu fitur utama IDR adalah kemampuannya untuk menyesuaikan pembayaran secara dinamis sesuai dengan perubahan kondisi keuangan peminjam. Jika pendapatan peminjam menurun, pembayaran bulanan mereka biasanya juga akan berkurang, memberikan perlindungan selama masa kesulitan keuangan seperti pengangguran atau pengurangan jam kerja [1]. Sebaliknya, jika pendapatan meningkat, pembayaran dapat naik secara proporsional untuk mencerminkan kemampuan bayar yang lebih tinggi [1]. Penyesuaian ini terjadi setiap tahun selama proses sertifikasi ulang, yang mewajibkan peminjam untuk memperbarui informasi pendapatan dan ukuran keluarga mereka. Proses ini dapat disederhanakan melalui integrasi dengan data pajak dari IRS, yang memungkinkan verifikasi otomatis dan bahkan sertifikasi otomatis dalam beberapa kasus [10]. Penyesuaian tahunan ini memastikan bahwa rencana IDR tetap sesuai dengan realitas keuangan peminjam, menjadikannya alat penting untuk manajemen utang jangka panjang.

Rencana IDR dan Perbedaan Persentase Pembayaran

Berbagai jenis rencana IDR menetapkan persentase berbeda dari pendapatan diskresioner yang digunakan untuk menghitung pembayaran bulanan. Rencana seperti Pay As You Earn (PAYE) dan Income-Based Repayment (IBR) untuk peminjam baru menetapkan pembayaran sebesar 10% dari pendapatan diskresioner [1]. Sebaliknya, Income-Contingent Repayment (ICR) menggunakan 20% dari pendapatan diskresioner atau jumlah yang akan dibayar dalam rencana pembayaran tetap 12 tahun, mana yang lebih rendah [1]. Rencana terbaru, Saving on a Valuable Education (SAVE), menawarkan tingkat yang lebih rendah, dengan pembayaran sebesar 5% dari pendapatan diskresioner untuk pinjaman sarjana dan 10% untuk pinjaman pascasarjana [1]. Perbedaan persentase ini berdampak signifikan terhadap besarnya pembayaran bulanan dan total biaya pinjaman sepanjang masa, menjadikan pemilihan rencana yang tepat menjadi keputusan keuangan penting bagi peminjam [14].

Jenis-Jenis Rencana Income-Driven Repayment

Terdapat beberapa jenis rencana Income-Driven Repayment (IDR) yang tersedia bagi peminjam pinjaman mahasiswa federal, masing-masing dirancang untuk menyesuaikan pembayaran bulanan berdasarkan pendapatan, ukuran keluarga, dan jenis pinjaman. Sejak tahun 2024, rencana utama yang tersedia termasuk Saving on a Valuable Education (SAVE), Pay As You Earn (PAYE), Income-Based Repayment (IBR), dan Income-Contingent Repayment (ICR). Perbedaan antar rencana ini mencakup persentase pendapatan diskresioner yang digunakan untuk menghitung pembayaran, jangka waktu pembayaran, serta syarat kelayakan dan manfaat tambahan seperti subsidi bunga [1].

Rencana Saving on a Valuable Education (SAVE)

Rencana Saving on a Valuable Education (SAVE) merupakan rencana IDR terbaru dan paling menguntungkan bagi peminjam. Rencana ini menggantikan Revised Pay As You Earn (REPAYE) dan menawarkan pembayaran bulanan yang lebih rendah serta perlindungan terhadap akumulasi bunga. Untuk pinjaman sarjana, pembayaran dihitung sebesar 5% dari pendapatan diskresioner, sedangkan untuk pinjaman pascasarjana, pembayaran adalah 10% dari pendapatan diskresioner [1]. Pendapatan diskresioner didefinisikan sebagai pendapatan kotor yang disesuaikan (AGI) dikurangi 225% dari panduan kemiskinan federal berdasarkan ukuran keluarga dan negara tempat tinggal [5].

Rencana SAVE juga menawarkan perlindungan terhadap pertumbuhan saldo pinjaman. Jika pembayaran bulanan tidak menutupi bunga yang terakumulasi, pemerintah akan menanggung seluruh bunga yang tidak dibayar, mencegah saldo dari meningkat—fenomena yang dikenal sebagai amortisasi negatif [18]. Selain itu, rencana ini memberikan pembebasan utang lebih cepat bagi peminjam dengan saldo awal $12.000 atau kurang, yang bisa mendapatkan pembebasan setelah 10 tahun pembayaran. Untuk setiap $1.000 yang dipinjam di atas jumlah tersebut, satu tahun tambahan pembayaran diperlukan, hingga maksimal 20 atau 25 tahun [1]. Rencana SAVE terbuka untuk hampir semua peminjam dengan Direct Loans tanpa syarat kelayakan berdasarkan tanggal pinjaman atau kesulitan keuangan parsial [18].

Rencana Pay As You Earn (PAYE)

Rencana Pay As You Earn (PAYE) dirancang untuk peminjam yang memenuhi syarat sebagai "peminjam baru" dan mengalami kesulitan keuangan. Pembayaran bulanan dibatasi pada 10% dari pendapatan diskresioner, dengan persyaratan bahwa jumlah ini harus lebih rendah dari pembayaran yang akan dibuat di bawah rencana pembayaran standar 10 tahun [1]. Jika pembayaran berdasarkan pendapatan melebihi pembayaran standar, jumlahnya tidak akan lebih tinggi dari jumlah tersebut, menciptakan "batas pembayaran" yang melindungi peminjam dari kenaikan biaya yang berlebihan [22].

Untuk memenuhi syarat PAYE, peminjam harus menerima pinjaman federal pertama mereka pada atau setelah 1 Oktober 2007, dan menerima pencairan pinjaman Direct Loan pada atau setelah 1 Oktober 2011 [1]. Peminjam juga harus menunjukkan adanya kesulitan keuangan parsial. Pembebasan utang tersedia setelah 20 tahun pembayaran yang memenuhi syarat untuk pinjaman sarjana dan 25 tahun untuk pinjaman pascasarjana [24]. Namun, per 1 Juli 2028, rencana PAYE akan dihentikan dan digantikan oleh rencana baru seperti Repayment Assistance Plan (RAP), meskipun peminjam yang sudah terdaftar dapat tetap dalam rencana ini [25].

Rencana Income-Based Repayment (IBR)

Rencana Income-Based Repayment (IBR) tersedia untuk peminjam dengan Direct Loans atau Federal Family Education Loan (FFEL) Program loans, tergantung pada tanggal peminjaman pertama. Rencana ini memiliki dua versi: untuk peminjam yang meminjam sebelum 1 Juli 2014, pembayaran adalah 15% dari pendapatan diskresioner dengan pembebasan utang setelah 25 tahun pembayaran. Bagi peminjam yang meminjam pada atau setelah tanggal tersebut, pembayaran adalah 10% dari pendapatan diskresioner dengan pembebasan setelah 20 tahun untuk pinjaman sarjana [24].

Peminjam harus menunjukkan adanya kesulitan keuangan parsial untuk mendaftar dan tetap memenuhi syarat. Seperti PAYE, pembayaran IBR untuk peminjam yang meminjam setelah 2014 dibatasi pada jumlah yang akan dibayarkan di bawah rencana pembayaran standar 10 tahun [14]. Rencana IBR akan tetap tersedia untuk peminjam yang sudah ada, tetapi tidak akan tersedia bagi peminjam baru setelah 1 Juli 2026 [28]. Rencana ini terutama menguntungkan bagi peminjam dengan utang tinggi relatif terhadap pendapatan mereka.

Rencana Income-Contingent Repayment (ICR)

Rencana Income-Contingent Repayment (ICR) merupakan rencana IDR tertua dan satu-satunya yang tersedia bagi peminjam Parent PLUS Loans, asalkan mereka mengonsolidasikan pinjaman tersebut ke dalam Direct Consolidation Loan [29]. Pembayaran dihitung sebagai jumlah yang lebih rendah antara 20% dari pendapatan diskresioner atau jumlah yang akan dibayarkan di bawah rencana pembayaran tetap 12 tahun yang disesuaikan berdasarkan pendapatan [30]. Karena menggunakan persentase pendapatan yang lebih tinggi, ICR sering kali menghasilkan pembayaran bulanan yang lebih besar dibandingkan rencana IDR lainnya.

Pembebasan utang tersedia setelah 25 tahun pembayaran yang memenuhi syarat, menjadikannya rencana dengan jangka waktu terpanjang di antara semua opsi IDR [31]. Tidak seperti PAYE dan IBR, ICR tidak mengharuskan peminjam untuk menunjukkan kesulitan keuangan parsial, menjadikannya pilihan yang lebih mudah diakses bagi peminjam yang tidak memenuhi syarat untuk rencana lainnya [30]. Meskipun tidak menawarkan subsidi bunga seperti SAVE, ICR tetap menjadi pilihan penting bagi peminjam yang membutuhkan fleksibilitas berdasarkan pendapatan, terutama mereka yang mengejar Public Service Loan Forgiveness (PSLF) tetapi tidak memenuhi kriteria PAYE atau IBR [1].

Kelayakan dan Dokumentasi yang Diperlukan

Untuk dapat mengikuti rencana pembayaran berbasis pendapatan Income-Driven Repayment (IDR), peminjam harus memenuhi sejumlah kriteria kelayakan dan menyediakan dokumentasi yang relevan untuk memverifikasi pendapatan dan ukuran keluarga mereka. Proses ini memastikan bahwa pembayaran bulanan disesuaikan secara akurat dengan situasi keuangan peminjam dan bahwa mereka tetap memenuhi syarat untuk manfaat IDR dari waktu ke waktu. Kelayakan utama bergantung pada jenis pinjaman, status keuangan, dan kemampuan untuk menyediakan bukti pendapatan [10].

Kriteria Kelayakan

Peminjam yang memegang pinjaman mahasiswa federal tertentu dapat mengajukan diri untuk program IDR. Kelayakan ditentukan oleh jenis pinjaman, kebutuhan finansial, dan, dalam beberapa kasus, sejarah pembayaran. Untuk memenuhi syarat, peminjam harus:

  • Memiliki pinjaman mahasiswa federal, khususnya Direct Loans, pinjaman Program Pendidikan Keluarga Federal (FFEL), atau pinjaman Federal Perkins yang dipegang oleh Departemen Pendidikan AS [1].
  • Menunjukkan adanya kesulitan keuangan parsial, yang ditentukan dengan membandingkan pendapatan mereka dengan pedoman kemiskinan federal untuk ukuran keluarga dan negara tempat tinggal mereka [1].
  • Melakukan sertifikasi ulang pendapatan dan ukuran keluarga setiap tahun untuk tetap berada dalam rencana IDR [37].

Beberapa rencana IDR memiliki persyaratan tambahan. Misalnya, rencana Pay As You Earn (PAYE) dan Income-Based Repayment (IBR) mungkin mengharuskan jenis pinjaman tertentu dan sejarah pembayaran, seperti status sebagai peminjam baru pada tanggal tertentu [38]. Peminjam dengan pinjaman PLUS untuk Orang Tua tidak memenuhi syarat langsung untuk rencana IDR standar, tetapi dapat memenuhi syarat dengan mengkonsolidasikan pinjaman mereka ke dalam Direct Consolidation Loan [10]. Rencana Income-Contingent Repayment (ICR) adalah satu-satunya rencana IDR yang tersedia bagi peminjam PLUS untuk Orang Tua setelah konsolidasi [29].

Dokumentasi yang Diperlukan

Mengajukan rencana IDR memerlukan dokumentasi untuk memverifikasi pendapatan dan ukuran keluarga. Proses ini dirancang agar efisien, terutama ketika peminjam memberikan izin agar Departemen Pendidikan AS mengakses data pajak mereka langsung dari Internal Revenue Service (IRS)>. Dokumentasi utama meliputi:

  • Bukti pendapatan: Ini dapat disediakan melalui transkrip pengembalian pajak federal, formulir W-2, slip gaji, atau surat dari pemberi kerja. Peminjam dapat mempercepat proses ini dengan memberikan persetujuan agar Departemen Pendidikan AS mengakses data pajak IRS mereka secara langsung [10].
  • Informasi ukuran keluarga: Peminjam harus melaporkan jumlah orang dalam rumah tangga mereka, termasuk tanggungan. Informasi ini disertifikasi sendiri pada formulir aplikasi [1].
  • Dokumentasi alternatif: Jika pendapatan peminjam saat ini berbeda secara signifikan dari pengembalian pajak mereka (misalnya, karena kehilangan pekerjaan atau pengurangan jam kerja), mereka dapat menyerahkan dokumentasi alternatif seperti slip gaji terbaru, rekening bank, atau pernyataan tunjangan pengangguran [43].

Aplikasi diselesaikan secara online di [10], di mana peminjam dapat mengajukan rencana baru atau melakukan sertifikasi ulang setiap tahun. Tidak ada biaya yang terkait dengan pengajuan, dan pelamar dapat menyimpan kemajuan mereka dan kembali nanti [45]. Sertifikasi ulang diperlukan setiap 12 bulan untuk memastikan pembayaran mencerminkan keadaan keuangan saat ini [46].

Proses Sertifikasi Ulang dan Konsekuensinya

Pembebasan Utang dan Implikasi Pajak

Pembebasan utang merupakan fitur utama dari rencana Income-Driven Repayment (IDR), memberikan harapan bagi peminjam federal yang berjuang melunasi pinjaman mahasiswa mereka. Setelah membuat pembayaran yang memenuhi syarat selama 20 hingga 25 tahun, saldo pinjaman yang tersisa dapat dihapuskan. Namun, pembebasan ini tidak datang tanpa konsekuensi keuangan yang signifikan, terutama terkait kewajiban pajak yang mungkin timbul. Jumlah yang dihapuskan biasanya dianggap sebagai pendapatan kena pajak di bawah undang-undang perpajakan yang berlaku, yang dapat menghasilkan tagihan pajak besar—sering disebut sebagai "bom pajak"—pada tahun pembebasan diberikan [47]. Meskipun ada pengecualian sementara, seperti yang ditetapkan oleh American Rescue Plan, yang membebaskan utang yang dihapuskan dari pajak federal dari tahun 2021 hingga 2025, perubahan kebijakan yang dijadwalkan pada tahun 2026 akan mengakhiri pengecualian ini, yang berarti bahwa pembebasan di masa depan kemungkinan besar akan dikenakan pajak [48].

Mekanisme Pembebasan Utang

Pembebasan utang dalam rencana Income-Driven Repayment terjadi setelah peminjam membuat pembayaran bulanan yang memenuhi syarat selama periode waktu tertentu. Durasi yang diperlukan bervariasi tergantung pada jenis rencana dan kapan pinjaman pertama kali diambil. Secara umum, peminjam yang mengikuti rencana seperti Pay As You Earn (PAYE), Saving on a Valuable Education (SAVE), dan peminjam baru di bawah Income-Based Repayment (IBR) dapat memenuhi syarat untuk pembebasan setelah 20 tahun pembayaran. Peminjam yang meminjam sebelum 1 Juli 2014 di bawah IBR, serta mereka yang berada dalam rencana Income-Contingent Repayment (ICR), memerlukan 25 tahun pembayaran yang memenuhi syarat [1]. Rencana SAVE juga menawarkan pembebasan dini untuk peminjam dengan saldo pinjaman asli $12.000 atau kurang, yang dapat memiliki utang mereka dihapuskan setelah 10 tahun pembayaran, dengan satu tahun tambahan ditambahkan untuk setiap $1.000 yang dipinjam di atas ambang batas tersebut [6]. Proses pembebasan tidak selalu otomatis; peminjam harus tetap terdaftar dalam rencana IDR, membuat pembayaran secara konsisten, dan melakukan sertifikasi ulang pendapatan dan ukuran keluarga setiap tahun untuk mempertahankan kemajuan mereka menuju pembebasan [51].

Implikasi Pajak atas Utang yang Dihapuskan

Implikasi pajak dari pembebasan utang adalah salah satu pertimbangan keuangan jangka panjang terpenting bagi peminjam yang memilih rencana Income-Driven Repayment. Di bawah undang-undang perpajakan federal saat ini, jumlah pinjaman yang dihapuskan setelah periode 20 atau 25 tahun umumnya dianggap sebagai pendapatan kena pajak. Misalnya, jika $50.000 dari utang dihapuskan pada tahun 2030, jumlah tersebut akan ditambahkan ke pendapatan kotor yang disesuaikan (AGI) peminjam untuk tahun tersebut, yang dapat secara signifikan meningkatkan kewajiban pajak mereka dan bahkan mendorong mereka ke tingkat pajak yang lebih tinggi [52]. Pengecualian penting dari aturan ini adalah pembebasan melalui Public Service Loan Forgiveness (PSLF), yang tetap bebas pajak secara permanen di tingkat federal, menjadikannya pilihan yang lebih menguntungkan bagi pekerja layanan publik yang memenuhi syarat [53]. Peminjam harus berhati-hati dalam merencanakan kemungkinan kewajiban pajak ini. Strategi untuk mempersiapkan "bom pajak" termasuk memperkirakan kewajiban pajak di masa depan menggunakan pendapatan saat ini dan saldo pinjaman yang diproyeksikan, menabung secara konsisten dalam rekening tabungan berbunga tinggi, atau berkonsultasi dengan penasihat pajak untuk mengeksplorasi strategi pengurangan pajak [54]. Dimulai pada tahun 2026, pembebasan utang di bawah rencana IDR akan kembali dikenakan pajak kecuali Kongres memperpanjang pengecualian, yang menekankan pentingnya perencanaan keuangan jangka panjang [55].

Strategi Perencanaan Keuangan

Untuk mengelola risiko kewajiban pajak di masa depan, peminjam yang mengandalkan pembebasan utang harus mengintegrasikan strategi perencanaan keuangan ke dalam pendekatan mereka terhadap pinjaman. Seorang penasihat keuangan dapat membantu peminjam memahami trade-off jangka panjang dari rencana Income-Driven Repayment, seperti total biaya bunga yang lebih tinggi dibandingkan dengan rencana pembayaran standar 10 tahun, dan menyesuaikan strategi pembayaran mereka dengan tujuan keuangan jangka panjang seperti pembelian rumah atau tabungan pensiun [56]. Menggunakan alat seperti Loan Simulator dari Federal Student Aid memungkinkan peminjam untuk membandingkan berbagai rencana pembayaran dan memahami bagaimana pilihan mereka memengaruhi total biaya pinjaman dan potensi kewajiban pajak di masa depan [57]. Selain itu, kontribusi terhadap akun pensiun seperti 401(k) atau IRA dapat mengurangi pendapatan kotor yang disesuaikan (AGI), yang pada gilirannya dapat menurunkan pembayaran IDR bulanan mereka, menciptakan sinergi antara perencanaan pensiun dan pengelolaan pinjaman mahasiswa [58]. Dengan memahami sepenuhnya implikasi pajak dan menggunakan sumber daya yang tersedia, peminjam dapat membuat keputusan yang lebih terinformasi dan mempersiapkan diri untuk masa depan keuangan yang lebih stabil.

Dampak terhadap Keuangan Jangka Panjang dan Tujuan Keuangan Lain

Rencana Pembayaran Berbasis Pendapatan (Income-Driven Repayment/IDR) menawarkan bantuan keuangan jangka pendek dengan menyesuaikan pembayaran bulanan berdasarkan pendapatan dan ukuran keluarga peminjam, tetapi dampak jangka panjangnya terhadap keuangan pribadi bisa kompleks dan berpotensi merugikan jika tidak dikelola dengan hati-hati. Salah satu dampak paling signifikan adalah potensi pembayaran bunga yang melebihi pembayaran bulanan, yang dapat menyebabkan akumulasi utang melalui proses yang dikenal sebagai amortisasi negatif. Ketika pembayaran bulanan peminjam tidak cukup untuk menutupi bunga yang terakumulasi, bunga yang belum dibayar ditambahkan ke saldo pokok pinjaman, yang menyebabkan saldo pinjaman tumbuh dari waktu ke waktu meskipun peminjam secara konsisten membuat pembayaran [59]; [60]. Fenomena ini terutama umum terjadi pada peminjam dengan pendapatan rendah atau utang tinggi, di mana pembayaran IDR bisa sangat rendah sehingga tidak mencakup bunga penuh yang terakumulasi. Namun, rencana terbaru seperti Saving on a Valuable Education (SAVE) mengatasi masalah ini dengan menyediakan subsidi bunga, di mana pemerintah menutupi bunga yang tidak dibayar, mencegah pertumbuhan saldo dan mengurangi biaya jangka panjang bagi peminjam [1].

Selain itu, rencana IDR memperpanjang jangka waktu pembayaran menjadi 20 hingga 25 tahun, tergantung pada rencana tertentu, dibandingkan dengan jangka waktu standar 10 tahun. Meskipun perpanjangan ini menurunkan pembayaran bulanan, hal ini berarti peminjam tetap berhutang lebih lama dan sering kali membayar lebih banyak dalam bunga secara keseluruhan dibandingkan dengan rencana pembayaran standar [62]. Dampak jangka panjang ini harus dipertimbangkan bersama dengan implikasi pajak dari pembebasan utang. Setelah 20 atau 25 tahun pembayaran yang memenuhi syarat, saldo pinjaman yang tersisa dapat dihapuskan. Namun, di bawah undang-undang perpajakan saat ini, jumlah yang dihapuskan umumnya dianggap sebagai pendapatan yang dikenakan pajak. Ini berarti peminjam dapat menghadapi tagihan pajak besar di tahun pembebasan, yang sering disebut sebagai "bom pajak" [63]; [47]; [65]. Penghapusan utang di bawah Public Service Loan Forgiveness (PSLF) tetap bebas pajak secara permanen di tingkat federal, menjadikannya opsi yang lebih menguntungkan bagi pekerja layanan publik yang memenuhi syarat [53]. Peminjam harus berhati-hati dalam merencanakan kewajiban pajak potensial ini untuk menghindari kejutan keuangan besar di masa depan.

Dampak terhadap Tujuan Keuangan Lainnya

Keputusan untuk bergabung dengan rencana IDR dapat secara signifikan memengaruhi tujuan keuangan lainnya, seperti membeli rumah, menabung untuk pensiun, dan memenuhi syarat untuk jenis kredit lainnya. Dari satu sisi, pembayaran bulanan yang lebih rendah dapat meningkatkan rasio utang terhadap pendapatan (DTI), yang merupakan metrik kunci bagi pemberi pinjaman hipotek. DTI yang lebih rendah dapat meningkatkan kelayakan hipotek dan memungkinkan peminjam untuk memenuhi syarat untuk jumlah pinjaman yang lebih besar [67]. Namun, beberapa pemberi pinjaman hipotek mungkin mempertimbangkan kembali pembayaran IDR yang sangat rendah atau $0, yang bisa mengarah pada penilaian yang lebih tinggi untuk tujuan kelayakan. Selain itu, potensi pertumbuhan saldo pinjaman karena amortisasi negatif dapat menimbulkan kekhawatiran bagi pemberi pinjaman mengenai kewajiban keuangan jangka panjang peminjam, bahkan jika pembayaran saat ini rendah [68].

Dalam hal menabung untuk pensiun, ada dinamika yang menarik. Kontribusi ke rekening pensiun berbasis pajak seperti 401(k) atau IRA tradisional mengurangi pendapatan kotor yang disesuaikan (AGI), yang merupakan dasar untuk menghitung pembayaran IDR. Dengan mengurangi AGI, peminjam secara efektif dapat menurunkan pembayaran pinjaman siswa bulanan mereka di bawah kebanyakan rencana IDR, termasuk SAVE, Pay As You Earn (PAYE), dan Income-Based Repayment (IBR) [58]. Ini menciptakan sinergi strategis di mana menabung untuk pensiun tidak hanya membangun kekayaan jangka panjang tetapi juga mengurangi kewajiban pinjaman saat ini. Namun, penarikan dari rekening pensiun atau konversi IRA Roth dapat meningkatkan AGI, yang dapat menyebabkan pembayaran IDR meningkat pada tahun berikutnya [70]. Oleh karena itu, perencanaan keuangan yang hati-hati sangat penting untuk menyeimbangkan tujuan pensiun dengan manajemen utang.

Penting juga untuk dicatat bahwa meskipun rencana IDR dapat membantu mencegah keterlambatan dan gagal bayar, yang dapat merusak skor kredit, mereka tidak secara langsung memengaruhi skor kredit itu sendiri [71]. Namun, ketergantungan jangka panjang pada IDR dapat memperlambat akumulasi kekayaan karena pembayaran bunga yang lebih tinggi secara keseluruhan dan potensi kewajiban pajak di masa depan. Peminjam harus mempertimbangkan trade-off jangka panjang ini dan mengevaluasi apakah manfaat keterjangkauan jangka pendek sepadan dengan biaya jangka panjang, terutama jika mereka memiliki potensi pertumbuhan pendapatan yang tinggi di masa depan. Peminjam disarankan untuk menggunakan alat seperti Loan Simulator di situs web Federal Student Aid untuk membandingkan opsi pembayaran dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan untuk memastikan keputusan mereka selaras dengan tujuan keuangan jangka panjang mereka [57].

Tantangan Keadilan dan Disparitas Demografis

Program Income-Driven Repayment (IDR) dirancang untuk menciptakan keadilan dalam sistem pinjaman mahasiswa federal dengan menyesuaikan pembayaran berdasarkan pendapatan dan ukuran keluarga, sehingga mengurangi beban keuangan bagi peminjam yang rentan. Namun, meskipun tujuannya inklusif, disparitas signifikan dalam pendaftaran, hasil, dan akses terus menghambat pencapaian keadilan yang sebenarnya. Disparitas ini terutama memengaruhi peminjam dari kelompok ras dan etnis tertentu, peminjam berpenghasilan rendah, serta mereka yang kuliah di lembaga berbiaya tinggi atau swasta, seperti perguruan tinggi swasta dan lembaga pendidikan untuk-keuntungan. ras, etnis, dan kesenjangan ekonomi memainkan peran krusial dalam membentuk pengalaman peminjam dengan rencana ini.

Disparitas dalam Pendaftaran dan Akses

Salah satu tantangan keadilan terbesar adalah kesenjangan yang signifikan dalam pendaftaran IDR antar kelompok demografis. Meskipun peminjam kulit hitam dan kulit cokelat lebih mungkin menghadapi kesulitan keuangan dan meminjam lebih banyak relatif terhadap pendapatan mereka, mereka justru cenderung mendaftar di rencana IDR dalam jumlah yang lebih rendah dibandingkan peminjam kulit putih. Faktor utama yang menyebabkan hal ini adalah hambatan struktural, seperti proses aplikasi dan sertifikasi ulang yang rumit. Persyaratan dokumentasi, termasuk pengajuan pengembalian pajak atau bukti pendapatan alternatif, menjadi penghalang yang lebih besar bagi peminjam yang bekerja di ekonomi gig atau sektor informal, yang secara tidak proporsional diisi oleh peminjam kulit hitam dan kulit cokelat [73]. Selain itu, kurangnya informasi dan konseling yang efektif dari lembaga pendidikan dan pemberi pinjaman sering kali membuat peminjam dari keluarga generasi pertama atau latar belakang ekonomi rendah tidak menyadari ketersediaan dan manfaat dari rencana IDR [74]. Pendidikan tinggi yang tidak merata dan literasi keuangan yang rendah memperparah ketidaksetaraan ini.

Disparitas dalam Hasil dan Beban Pembayaran

Bahkan ketika peminjam kulit hitam dan kulit cokelat berhasil mendaftar, mereka sering menghadapi beban pembayaran yang lebih tinggi relatif terhadap pendapatan mereka dibandingkan peminjam kulit putih. Data menunjukkan bahwa peminjam kulit hitam membayar rata-rata 3,6% lebih banyak dari pendapatan bulanan mereka untuk pinjaman mahasiswa, bahkan setelah memperhitungkan pendapatan dan jumlah utang [75]. Hal ini disebabkan oleh kesenjangan kekayaan yang mendalam—rumah tangga kulit hitam hanya memiliki tujuh sen kekayaan untuk setiap dolar yang dimiliki rumah tangga kulit putih—yang memaksa mereka untuk meminjam lebih banyak untuk menutupi biaya kuliah dan kehidupan sehari-hari [76]. Akibatnya, mereka lebih bergantung pada rencana IDR, dengan perkiraan 43% dari manfaat dari rencana Saving on a Valuable Education (SAVE) akan mengalir ke peminjam kulit hitam, menunjukkan ketergantungan yang tidak proporsional [77].

Peran Tipe Institusi dalam Perburukan Disparitas

Jenis institusi tempat peminjam belajar juga memperburuk disparitas demografis. Peminjam yang kuliah di perguruan tinggi untuk-keuntungan (for-profit) menghadapi hasil pembayaran yang jauh lebih buruk, terlepas dari partisipasi mereka dalam IDR. Institusi ini secara tidak proporsional mendaftarkan peminjam kulit hitam dan berpenghasilan rendah, namun sering kali menawarkan pendidikan berkualitas rendah, tingkat kelulusan yang rendah, dan prospek pekerjaan yang buruk [78]. Akibatnya, lulusan dari institusi ini jauh lebih mungkin mengalami gagal bayar, bahkan ketika terdaftar dalam rencana IDR. Sistem pembayaran yang menyesuaikan dengan pendapatan tidak cukup untuk mengatasi akar penyebab dari utang tinggi dan pendapatan rendah yang berasal dari pendidikan yang tidak produktif. Kualitas pendidikan dan pasar kerja yang tidak adil memperkuat siklus kemiskinan dan utang.

Implikasi Jangka Panjang terhadap Kekayaan dan Kestabilan Finansial

Kegagalan rencana IDR untuk mengatasi disparitas ini memiliki konsekuensi jangka panjang yang serius terhadap akumulasi kekayaan. Meskipun IDR mencegah gagal bayar dalam jangka pendek, peminjam kulit hitam yang terdaftar dalam rencana ini sering kali melihat saldo pinjaman mereka tumbuh karena bunga yang tidak dibayar (negative amortization), terutama jika pembayaran bulanan mereka tidak menutupi bunga yang menumpuk. Ini menunda atau menghambat kemampuan mereka untuk menabung, membeli rumah, atau membangun kekayaan generasi berikutnya [79]. Fakta bahwa 71% peminjam kulit hitam yang terdaftar dalam IDR tidak memiliki rekening tabungan menunjukkan kerentanan keuangan yang mendalam [80]. Dengan demikian, meskipun IDR bertindak sebagai jaring pengaman, tanpa reformasi struktural, rencana ini berisiko memperkuat ketidaksetaraan yang ada alih-alih menguranginya. Kekayaan yang tidak merata dan stabilitas keuangan yang rentan menjadi warisan dari sistem yang tidak adil.

Peran Pemerintah dan Pengawasan oleh Regulator

Pemerintah Amerika Serikat memainkan peran sentral dalam administrasi, reformasi, dan pengawasan terhadap rencana pembayaran berbasis pendapatan (Income-Driven Repayment), yang dirancang untuk menyesuaikan kewajiban pinjaman mahasiswa federal dengan kemampuan keuangan peminjam. Departemen Pendidikan AS bertindak sebagai badan utama yang mengelola program pinjaman federal, termasuk penerapan dan perbaikan rencana seperti Income-Based Repayment (IBR), Pay As You Earn (PAYE), Revised Pay As You Earn (REPAYE), dan Income-Contingent Repayment (ICR) [1]. Departemen ini menyeimbangkan dua tujuan utama: memberikan bantuan berarti bagi peminjam dan memastikan tanggung jawab fiskal dalam sistem pinjaman federal. Administrasi rencana IDR dilakukan melalui situs web Federal Student Aid, di mana peminjam dapat mengajukan atau melakukan sertifikasi ulang, sementara aplikasi diproses oleh perusahaan layanan pinjaman yang dikontrak oleh Departemen [10].

Peran Departemen Pendidikan dalam Reformasi dan Modernisasi

Departemen Pendidikan telah mengambil langkah signifikan untuk mereformasi dan menyederhanakan rencana pembayaran berbasis pendapatan, dengan tujuan meningkatkan aksesibilitas dan mengurangi beban jangka panjang bagi peminjam. Pada Januari 2023, Departemen mengusulkan peraturan baru yang bertujuan mengubah pembayaran berbasis pendapatan dengan memotong pembayaran pinjaman sarjana menjadi separuhnya—dari 10% menjadi 5% dari pendapatan diskresioner—dan mencegah akumulasi bunga yang belum dibayar saat pembayaran $0 [83]. Peraturan final yang diberlakukan pada 1 Juli 2024 mengukuhkan perubahan ini sebagai bagian dari rencana Saving on a Valuable Education (SAVE), yang menggantikan rencana REPAYE sebagai pilihan IDR utama [84]. Rencana SAVE diproyeksikan akan mengurangi pembayaran bulanan bagi jutaan peminjam berpenghasilan rendah dan menengah serta memperpendek jalur menuju penghapusan utang bagi mereka yang memiliki saldo pinjaman lebih kecil [85]. Departemen juga menerapkan inisiatif IDR Account Adjustment, sebuah tindakan satu kali untuk menghitung pembayaran masa lalu dan masa pembayaran menuju penghapusan bagi peminjam yang sebelumnya berada dalam rencana pembayaran non-kualifikasi, membantu ribuan orang mendapatkan akses ke penghapusan utang [86].

Keseimbangan antara Bantuan Peminjam dan Tanggung Jawab Fiskal

Departemen Pendidikan harus menyeimbangkan tujuan bantuan peminjam dengan keberlanjutan fiskal jangka panjang. Meskipun rencana IDR mengurangi tekanan keuangan langsung dan menurunkan tingkat gagal bayar, rencana ini dapat meningkatkan biaya federal karena saldo yang dihapuskan setelah 20 atau 25 tahun pembayaran [87]. Kantor Anggaran Kongres (CBO) memperkirakan bahwa manfaat IDR yang diperluas, seperti yang ada dalam rencana SAVE, dapat meningkatkan pengeluaran federal sebesar puluhan miliar dolar dalam satu dekade [88]. Untuk mengatasi kekhawatiran fiskal, Departemen menekankan bantuan yang ditargetkan daripada penghapusan utang secara luas. Misalnya, aturan yang diusulkan oleh Administrasi Biden-Harris memprioritaskan bantuan bagi peminjam berpenghasilan rendah, mereka yang terdaftar di perguruan tinggi komunitas, dan individu yang mengalami kesulitan keuangan jangka panjang [89]. Pendekatan yang ditargetkan ini bertujuan untuk memaksimalkan keadilan dan meminimalkan dampak anggaran jangka panjang. Selain itu, Departemen telah memperkenalkan reformasi untuk meningkatkan integritas program, seperti memperkuat akuntabilitas perusahaan layanan pinjaman dan menyederhanakan proses aplikasi untuk mengurangi kesalahan dan keterlambatan [90].

Peran Pengawasan dan Penegakan Hukum

Perusahaan layanan pinjaman federal tunduk pada kerangka hukum dan peraturan yang komprehensif yang bertujuan memastikan perlakuan yang akurat, tepat waktu, dan adil terhadap peminjam dalam penerapan rencana IDR. Kewajiban utama mereka mencakup pemrosesan aplikasi dan sertifikasi ulang IDR secara akurat dan tepat waktu, memberikan komunikasi yang jelas dan tepat waktu, serta mempertahankan sistem yang dapat menghitung pembayaran dengan benar berdasarkan formula IDR yang kompleks [91]. Biro Perlindungan Keuangan Konsumen (CFPB) memainkan peran kritis dalam menegakkan kepatuhan terhadap standar layanan, mengklasifikasikan pelanggaran seperti penyampaian informasi yang menyesatkan atau kegagalan memproses aplikasi IDR dengan benar sebagai praktik yang tidak adil, menipu, atau menindas [92]. Tindakan penegakan CFPB menunjukkan komitmen terhadap akuntabilitas; pada September 2024, CFPB melarang Navient dari layanan pinjaman mahasiswa federal dan memerintahkan perusahaan untuk membayar $120 juta karena kegagalan luas, termasuk menyimpangkan pembayaran, gagal memproses aplikasi IDR dengan benar, dan memberikan informasi yang menyesatkan kepada peminjam [93]. Pada Januari 2025, pengadilan federal juga mengeluarkan perintah sementara terhadap Superior Servicing, LLC, karena praktik penipuan terkait pendaftaran rencana IDR [94]. Pemerintah federal juga menyediakan saluran bagi peminjam untuk mengajukan keluhan dan mencari bantuan melalui Kelompok Ombudsman Bantuan Mahasiswa Federal dan proses penyelesaian kesalahan CFPB [95].

Tantangan Hukum dan Implikasinya terhadap Otoritas Regulasi

Peran Departemen Pendidikan dalam mereformasi rencana IDR juga dibatasi oleh tinjauan yudisial. Rencana SAVE telah menghadapi tantangan hukum yang signifikan, dengan pengadilan federal mengeluarkan perintah yang sementara menghentikan ketentuan tertentu, dengan alasan bahwa Departemen telah melampaui otoritas hukumnya untuk secara sepihak mengubah ketentuan pinjaman tanpa persetujuan Kongres [96]. Pada Juli 2024, Pengadilan Banding Sirkuit Kedelapan menegaskan perintah pengadilan yang lebih rendah, yang memperlihatkan perdebatan hukum yang sedang berlangsung mengenai batas-batas kekuasaan administratif dalam membentuk kebijakan pinjaman mahasiswa federal [97]. Pada Desember 2025, Departemen Pendidikan mengumumkan kesepakatan dengan negara bagian Missouri yang secara efektif mengakhiri rencana SAVE, menandai mundurnya dari upaya administrasi untuk memperluas bantuan utang melalui tindakan peraturan [98]. Hasil ini menekankan bahwa meskipun Departemen memiliki otoritas peraturan yang luas, ruang lingkup kekuasaan tersebut tetap tunduk pada pengawasan yudisial, terutama ketika inisiatif baru menguji batas-batas kekuasaan administratif di bawah hukum federal. Tantangan hukum ini menciptakan ketidakpastian bagi peminjam dan menekankan perlunya keseimbangan antara inovasi administratif dan kepatuhan terhadap kerangka hukum yang ditetapkan oleh Undang-Undang Pendidikan Tinggi [99].

Perkembangan Hukum dan Kebijakan Terkini

Perkembangan hukum dan kebijakan terkini terhadap rencana pembayaran berbasis pendapatan (IDR) mencerminkan dinamika kompleks antara upaya pemerintah untuk memperluas bantuan kepada peminjam dan batasan hukum yang ditetapkan oleh pengadilan serta undang-undang federal. Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan administratif yang ambisius, terutama di bawah pemerintahan Biden-Harris, telah menghadapi tantangan hukum serius yang membatasi kewenangan Departemen Pendidikan AS dalam mengubah ketentuan pinjaman secara sepihak. Perubahan kebijakan ini tidak hanya memengaruhi kelayakan dan manfaat langsung bagi peminjam, tetapi juga membentuk kembali wacana tentang keseimbangan antara keadilan sosial, tanggung jawab fiskal, dan kewenangan eksekutif dalam sistem pendidikan tinggi [100].

Perubahan Kebijakan Administratif dan Regulasi Terbaru

Pemerintah federal telah mengambil langkah-langkah administratif yang signifikan untuk mereformasi rencana pembayaran berbasis pendapatan, dengan tujuan meningkatkan keterjangkauan dan kesetaraan. Pada tahun 2023, Departemen Pendidikan mengumumkan peraturan akhir berjudul "Reimagining the Federal Student Loan Program", yang menghasilkan pembentukan rencana Saving on a Valuable Education (SAVE) sebagai pengganti dari rencana Revised Pay As You Earn (REPAYE) [101]. Rencana SAVE menawarkan manfaat yang lebih besar dibandingkan pendahulunya, termasuk pembayaran bulanan yang lebih rendah—5% dari pendapatan diskresioner untuk pinjaman sarjana—dan subsidi bunga yang mencegah akumulasi saldo utang bagi peminjam dengan pembayaran rendah [89]. Selain itu, peraturan ini mengintegrasikan data pajak dari Internal Revenue Service (IRS) secara otomatis untuk mempermudah proses sertifikasi ulang, mengurangi beban administratif bagi peminjam [10].

Sebagai bagian dari upaya perbaikan sistemik, Departemen Pendidikan juga meluncurkan inisiatif IDR Account Adjustment, sebuah peninjauan satu kali terhadap riwayat pembayaran peminjam. Inisiatif ini memberikan kredit otomatis terhadap masa pembayaran yang sebelumnya tidak dihitung menuju pembebasan utang, termasuk masa penangguhan atau masa tunggakan yang memenuhi syarat [86]. Sebagai hasilnya, lebih dari 804.000 peminjam menerima pembebasan utang otomatis senilai $39 miliar, memperbaiki ketidakadilan yang disebabkan oleh kesalahan layanan pinjaman di masa lalu [100]. Langkah-langkah ini mencerminkan komitmen terhadap penyederhanaan dan perluasan akses ke bantuan, terutama bagi peminjam dari komunitas yang kurang terlayani dan mereka yang bekerja di sektor layanan publik [106].

Tantangan Hukum terhadap Rencana SAVE dan Dampaknya

Meskipun rencana SAVE dirancang untuk menjadi langkah maju dalam kebijakan pinjaman mahasiswa, pelaksanaannya segera menghadapi tantangan hukum yang serius. Pada bulan Desember 2025, Departemen Pendidikan mengumumkan kesepakatan dengan negara bagian Missouri untuk mengakhiri rencana SAVE setelah pengadilan menyatakan bahwa beberapa ketentuannya tidak sah [107]. Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, pendaftaran baru ke rencana SAVE dihentikan, dan peminjam yang sudah terdaftar ditempatkan dalam masa penangguhan sementara tanpa akumulasi bunga [108]. Keputusan ini menyoroti batasan kewenangan administratif dalam mengubah struktur pinjaman federal secara sepihak, terutama setelah putusan Mahkamah Agung dalam kasus Biden v. Nebraska (2023) yang membatasi kewenangan eksekutif untuk membatalkan utang secara massal tanpa persetujuan kongres [109].

Dampak dari keputusan pengadilan ini sangat luas. Peminjam yang telah mengandalkan manfaat dari rencana SAVE, seperti pembayaran bulanan $0 bagi peminjam dengan pendapatan rendah, kini menghadapi ketidakpastian tentang masa depan manfaat mereka. Transisi ke rencana lain, seperti Income-Based Repayment (IBR) atau Pay As You Earn (PAYE), dapat mengakibatkan peningkatan pembayaran yang signifikan bagi beberapa peminjam. Ketidakstabilan ini mengganggu kepercayaan peminjam terhadap janji pembebasan utang jangka panjang dan menyoroti kerentanan terhadap perubahan kebijakan yang dapat dibalikkan oleh tindakan hukum [110].

Perubahan Masa Depan dan Rencana Pengganti

Dalam menghadapi tantangan hukum terhadap rencana SAVE, Departemen Pendidikan telah mengusulkan pembentukan Rencana Bantuan Pembayaran (Repayment Assistance Plan/RAP) sebagai pengganti jangka panjang. Rencana ini dijadwalkan akan menjadi satu-satunya opsi pembayaran berbasis pendapatan yang tersedia bagi peminjam baru atau pinjaman yang dicairkan pada atau setelah 1 Juli 2026 [111]. RAP bertujuan untuk menyederhanakan sistem pembayaran dengan menggabungkan berbagai rencana IDR yang ada ke dalam satu struktur yang lebih intuitif, meskipun detail spesifiknya masih dalam proses finalisasi [28]. Pendekatan ini mencerminkan upaya untuk menciptakan kerangka kerja yang lebih tahan terhadap tantangan hukum dengan tetap mempertahankan prinsip-prinsip inti dari bantuan berbasis pendapatan.

Selain itu, undang-undang baru yang disahkan pada tahun 2025, seperti One Big Beautiful Bill Act, diharapkan akan lebih menyederhanakan sistem dengan membatasi peminjam baru hanya pada dua opsi utama: Rencana Pembayaran Standar dan RAP [113]. Perubahan ini bertujuan untuk mengurangi kompleksitas yang telah menjadi penghalang bagi banyak peminjam, terutama dari kelompok yang kurang terlayani, dalam mengakses bantuan yang mereka butuhkan. Namun, kritikus memperingatkan bahwa menghilangkan rencana IDR yang ada dapat mengurangi fleksibilitas bagi peminjam di masa depan, terutama mereka dari latar belakang berpenghasilan rendah [114].

Perlindungan Hukum bagi Peminjam dan Penegakan oleh Regulator

Dalam lingkungan kebijakan yang berubah-ubah, perlindungan hukum bagi peminjam menjadi semakin penting. Peminjam memiliki hak untuk mengajukan banding terhadap keputusan yang merugikan, seperti penolakan rencana IDR atau kesalahan dalam penghitungan pembayaran. Mereka dapat mengajukan keluhan kepada Consumer Financial Protection Bureau (CFPB), yang telah mengambil tindakan penegakan terhadap penyedia layanan pinjaman karena pelanggaran hukum federal. Misalnya, pada September 2024, CFPB melarang Navient dari layanan pinjaman mahasiswa federal dan memerintahkan perusahaan untuk membayar $120 juta karena kegagalan luas, termasuk penyajian informasi yang menyesatkan tentang jadwal pembebasan utang dan kegagalan memproses aplikasi IDR dengan benar [93]. Tindakan penegakan semacam ini menegaskan kewajiban penyedia layanan untuk memperlakukan peminjam secara adil dan akurat.

Peminjam juga dapat mencari bantuan dari Ombudsman Group Federal Student Aid, yang membantu menyelesaikan sengketa dengan penyedia layanan [95]. Dalam kasus pelanggaran sistemik, tindakan hukum kelas, seperti gugatan terhadap Navient, telah memberikan jalan bagi peminjam untuk mendapatkan ganti rugi atas kerugian yang mereka alami [117]. Perlindungan hukum ini, bersama dengan penegakan oleh CFPB dan Departemen Pendidikan, berfungsi sebagai penyeimbang terhadap potensi penyalahgunaan oleh penyedia layanan dan membantu memastikan bahwa peminjam yang telah mengandalkan program IDR dapat memperoleh bantuan yang mereka harapkan.

Referensi