Organización Mundial de la Salud (OMS) adalah badan internasional yang didirikan pada tanggal 7 April 1948 setelah Konstitusinya mulai berlaku, hari yang kini diperingati sebagai Hari Kesehatan Dunia. OMS dibentuk sebagai tanggapan atas kehancuran kesehatan dan sosial pasca-Perang Dunia II, dengan tujuan utama untuk mengoordinasikan upaya global dalam mencegah penyakit, meningkatkan kesehatan masyarakat, dan menetapkan standar kesehatan internasional. Sebagai badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa, OMS berkedudukan di Ginebra, Swiss, dan saat ini terdiri dari 194 negara anggota. Organisasi ini berperan sebagai otoritas utama dalam kesehatan global, memimpin respons terhadap krisis seperti pandemi, bencana alam, dan konflik bersenjata. OMS juga bertanggung jawab atas berbagai fungsi krusial, termasuk pengembangan norma kesehatan seperti Klasifikasi Penyakit Internasional, pengawasan epidemiologi melalui sistem seperti Sistem Peringatan Dini dan Respons, serta pemberian bantuan teknis kepada negara-negara untuk memperkuat sistem kesehatan mereka. Salah satu pencapaian terbesarnya adalah kampanye global yang berhasil menghapuskan cacar, yang dinyatakan resmi pada tahun 1980, serta upaya berkelanjutan dalam mengendalikan polio dan mempromosikan cakupan kesehatan universal. OMS juga memainkan peran sentral dalam respons terhadap darurat kesehatan global, termasuk menyatakan keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional dan mengoordinasikan bantuan melalui inisiatif seperti COVAX. Organisasi ini dikepalai oleh Direktur Jenderal dan dipimpin oleh Asamblea Kesehatan Dunia dan Dewan Eksekutif. Namun, OMS menghadapi tantangan besar, termasuk ketergantungan pada kontribusi sukarela yang dapat memengaruhi kemandiriannya, kritik terhadap responsnya selama krisis seperti wabah Ebola dan pandemi COVID-19, serta ketegangan antara otoritas global dan kedaulatan nasional. [1] [2] [3]

Sejarah Pendirian dan Konteks Pasca-Perang Dunia II

Organización Mundial de la Salud (OMS) didirikan pada tanggal 7 April 1948 setelah Konstitusinya mulai berlaku, hari yang kini diperingati sebagai Hari Kesehatan Dunia. Pendiriannya merupakan respons langsung terhadap kehancuran kesehatan dan sosial yang meluas akibat Perang Dunia II, sebuah periode yang ditandai oleh perpindahan besar-besaran populasi, kelaparan, dan penyebaran epidemi seperti tifus, tuberkulosis, dan malaria yang merenggut banyak nyawa di kalangan sipil maupun militer [4]. Kegagalan koordinasi internasional dalam mengatasi krisis kesehatan selama perang membuka mata dunia akan pentingnya adanya organisasi global yang memiliki otoritas teknis dan kemampuan untuk mengkoordinasikan respons bersama terhadap penyakit menular yang tidak mengenal batas negara [5].

Proses Pendirian dan Peran Perserikatan Bangsa-Bangsa

Momentum pendirian OMS berawal dari upaya pembentukan tatanan internasional pasca-perang. Dalam Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa di San Francisco pada tahun 1945, para pemimpin dunia bersepakat untuk menciptakan lembaga multilateral yang dapat mencegah konflik di masa depan dan menangani masalah global, termasuk kesehatan masyarakat. Dalam konferensi tersebut, perwakilan dari Brasil dan Tiongkok menjadi pelopor dengan mengusulkan pembentukan badan kesehatan dunia [4]. Usulan ini diterima dengan dukungan luas, mencerminkan konsensus global bahwa kesehatan bukan lagi urusan nasional semata, melainkan merupakan kepentingan bersama yang memerlukan kerja sama internasional [7]. OMS kemudian dibentuk sebagai badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa, menempatkannya sebagai otoritas utama dalam tata kelola kesehatan global [2].

Langkah konkret pembentukan OMS dimulai pada tahun 1946 dengan penyelenggaraan Konferensi Sanitaria Internasional di New York, di mana 61 negara merundingkan dan akhirnya menyetujui Konstitusi OMS [9]. Setelah penandatanganan, sebuah Komisi Sementara OMS dibentuk untuk mengelola transisi hingga organisasi siap beroperasi penuh. Konstitusi OMS resmi berlaku pada 7 April 1948, setelah diratifikasi oleh minimal 26 negara anggota, yang menandai kelahiran resmi organisasi ini [10].

Inovasi dan Perbedaan dari Organisasi Pendahulu

OMS mewakili lompatan kualitatif dibandingkan organisasi kesehatan internasional sebelumnya. Berbeda dengan lembaga-lembaga sebelumnya yang bersifat regional atau ad hoc, seperti Oficina Sanitaria Panamericana (OSP) yang didirikan pada tahun 1902 untuk mengendalikan penyakit seperti demam kuning di kawasan Amerika, OMS dirancang sejak awal sebagai organisasi berskala global, universal, dan menjadi bagian integral dari sistem PBB [2]. OSP, meskipun menjadi pelopor dalam kerja sama kesehatan regional, memiliki cakupan terbatas dan pengaruhnya sangat bergantung pada kehendak negara-negara anggotanya [12].

Organisasi lain seperti Oficina Internacional de Higiene Pública (1907) atau Bagian Higiene Liga Bangsa-Bangsa tidak memiliki sumber daya, kemandirian politik, atau kapasitas aksi langsung yang memadai. Sebaliknya, OMS dilengkapi dengan struktur tata kelola formal yang kuat, termasuk Asamblea Kesehatan Dunia sebagai badan pengambil keputusan tertinggi yang terdiri dari perwakilan semua negara anggota, dan Direktur Jenderal yang dipilih melalui pemungutan suara [13]. Mandat global, kapasitas normatif, dan struktur permanennya memberi OMS otoritas untuk menetapkan standar kesehatan internasional dan bertindak sebagai otoritas teknis di atas negara-negara.

Definisi Kesehatan yang Holistik dan Mandat Universal

Salah satu warisan paling penting dari proses pendirian OMS adalah definisi revolusioner tentang kesehatan yang tercantum dalam Konstitusinya. OMS mendefinisikan kesehatan bukan sekadar "ketiadaan penyakit", melainkan sebagai "keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial yang utuh" [14]. Definisi ini, yang inovatif pada masanya, menjadi dasar bagi pendekatan holistik dan universal terhadap kesehatan masyarakat. Ini menandai pergeseran dari fokus sempit pada pengendalian penyakit menular dan karantina, yang menjadi ciri organisasi kesehatan sebelumnya, menuju visi yang lebih luas yang mencakup aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan dari kesehatan [1].

Tujuan utama pendiriannya adalah untuk mengoordinasikan upaya internasional dalam mencegah penyakit, meningkatkan kesehatan masyarakat, menetapkan standar kesehatan global, dan melindungi populasi rentan. Mandatnya adalah untuk "mencapai bagi semua bangsa tingkat kesehatan tertinggi yang mungkin dicapai", sebuah ambisi tanpa preseden dalam sejarah kesehatan masyarakat internasional [4].

Pengaruh Perang Dingin pada Masa Awal

Meskipun OMS didirikan dalam semangat kerja sama pasca-perang, perkembangan awalnya segera dipengaruhi oleh ketegangan Perang Dingin. Persaingan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet memengaruhi tata kelola, pendanaan, dan prioritas organisasi sejak tahun-tahun pertamanya [7]. AS muncul sebagai aktor kunci dalam pendirian OMS, mempromosikan model kesehatan masyarakat berbasis sains dan teknologi. Namun, Uni Soviet dan negara-negara blok timur lainnya menyampaikan kekhawatiran bahwa OMS dapat berada di bawah pengaruh kepentingan Barat. Perdebatan ini bahkan meluas hingga menyangkut lokasi kantor pusat, yang akhirnya ditetapkan di Ginebra, Swiss, karena status netralitasnya [7].

Namun, OMS berhasil mempertahankan ruang untuk kerja sama teknis bahkan di tengah ketegangan geopolitik yang tinggi. Salah satu contoh paling menonjol adalah kampanye global untuk eradikasi cacar, yang diluncurkan pada tahun 1967. Dalam kampanye ini, AS dan Uni Soviet bekerja sama erat dalam produksi, distribusi, dan penerapan vaksin, menunjukkan bahwa kesehatan masyarakat dapat menjadi jembatan diplomasi yang mampu melampaui konflik politik [19]. Pendirian OMS pada tahun 1948, oleh karena itu, menandai awal dari era baru dalam kerja sama kesehatan dunia, di mana semangat rekonsiliasi pasca-perang, kebangkitan multilateralisme, dan pengakuan bahwa kesehatan adalah hak asasi manusia mendasar menjadi fondasi bagi tata kelola kesehatan global abad ke-21 [5].

Struktur Organisasi dan Mekanisme Pengambilan Keputusan

Struktur organisasi dan mekanisme pengambilan keputusan Organización Mundial de la Salud (OMS) dirancang untuk memastikan koordinasi global dalam kesehatan publik, dengan pembagian peran yang jelas antara badan-badan pengambil keputusan utama: Asamblea Kesehatan Dunia, Dewan Eksekutif, dan Direktur Jenderal. Struktur ini didasarkan pada Konstitusi OMS yang mulai berlaku pada 7 April 1948, dan berfungsi sebagai sistem tata kelola multilateral yang menggabungkan representasi negara anggota dengan kepemimpinan teknis dan eksekutif [21].

Asamblea Kesehatan Dunia: Lembaga Tertinggi Pengambil Keputusan

Asamblea Kesehatan Dunia (AMS) adalah badan pengambil keputusan tertinggi OMS, yang terdiri dari perwakilan dari seluruh 194 negara anggota organisasi [22]. AMS berkumpul setiap tahun di Ginebra, Swiss, biasanya pada bulan Mei, untuk menentukan kebijakan umum, mengesahkan anggaran dan program kerja, serta mengawasi pelaksanaan kegiatan OMS [23]. Salah satu kewenangan utamanya adalah menunjuk dan mengawasi Direktur Jenderal, serta mengesahkan resolusi yang mengikat secara moral dan politik dalam konteks kesehatan global.

AMS juga berperan penting dalam merespons krisis kesehatan global. Misalnya, dalam sesi ke-78 pada tahun 2025, AMS mencapai kemajuan historis dengan menyetujui serangkaian amandemen penting terhadap Reglamento Sanitario Internasional (RSI) dan mempercepat negosiasi Perjanjian Pandemi [23]. Keputusan-keputusan ini mencerminkan peran sentral AMS dalam membentuk arah respons kesehatan global, meskipun implementasinya tetap bergantung pada komitmen sukarela negara-negara anggota.

Dewan Eksekutif: Pelaksana dan Penyiap Agenda

Dewan Eksekutif berfungsi sebagai badan perantara antara AMS dan Sekretariat OMS, terdiri dari 34 anggota yang merupakan ahli teknis di bidang kesehatan publik dan dipilih untuk masa jabatan tiga tahun [25]. Dewan ini bertanggung jawab atas pelaksanaan keputusan dan kebijakan yang ditetapkan oleh AMS, serta menyiapkan agenda pertemuan tahunan AMS. Dewan juga bertemu beberapa kali dalam setahun untuk membahas isu-isu prioritas seperti darurat kesehatan, resistensi antimikroba, perubahan iklim, dan cakupan kesehatan universal [26].

Dewan Eksekutif juga berperan dalam proses pemilihan Direktur Jenderal, yang merupakan salah satu fungsi tata kelola inti OMS [27]. Melalui pertemuan-pertemuan rutinnya, Dewan memastikan bahwa implementasi program OMS tetap sejalan dengan mandat global yang ditetapkan oleh negara-negara anggota melalui AMS.

Direktur Jenderal: Kepemimpinan Eksekutif dan Operasional

Direktur Jenderal adalah kepala eksekutif tertinggi OMS, dipilih oleh AMS untuk masa jabatan lima tahun yang dapat diperpanjang satu kali [27]. Direktur Jenderal bertanggung jawab atas pengelolaan sehari-hari dan strategis organisasi, termasuk merumuskan kebijakan kesehatan global, mewakili OMS di hadapan pemerintah dan lembaga internasional, serta mengawasi kantor-kantor regional dan nasional. Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, misalnya, terpilih kembali untuk masa jabatan kedua pada tahun 2022, yang menunjukkan kontinuitas dalam arah strategis organisasi [29].

Dalam situasi darurat, Direktur Jenderal memainkan peran sentral. Berdasarkan rekomendasi dari Komite Darurat RSI, yang terdiri dari para ahli independen, Direktur Jenderal memiliki wewenang untuk menyatakan suatu kejadian sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (KDPII) [30]. Keputusan ini, meskipun tidak mengikat secara hukum, memberikan panduan kepada negara-negara anggota untuk mengambil tindakan yang proporsional dan berbasis bukti. Misalnya, dalam kasus wabah mpox pada tahun 2024, Direktur Jenderal menyatakan KDPII, yang memicu mobilisasi respons global yang terkoordinasi [31].

Mekanisme Respons Darurat dan Sistem Tata Kelola

Dalam konteks darurat kesehatan, sistem pengambilan keputusan OMS diaktifkan melalui Reglamento Sanitario Internasional (RSI) 2005, yang merupakan kerangka hukum internasional yang mengatur deteksi, pelaporan, dan respons terhadap ancaman kesehatan lintas batas [30]. OMS juga mengoperasikan Sistem Manajemen Insiden (IMST) dan Pusat Operasi Darurat (COE) untuk memastikan koordinasi yang efektif antar berbagai pemangku kepentingan internasional [33]. Pada Oktober 2024, untuk pertama kalinya, OMS mengaktifkan Korps Kesehatan Darurat Global sebagai respons terhadap wabah mpox, menandai penerapan efektif dari protokol operasional untuk darurat kompleks [34].

Tantangan dalam Koordinasi dan Legitimasi

Meskipun struktur OMS dirancang untuk efektivitas, tantangan besar muncul dari ketegangan antara tata kelola global dan kedaulatan nasional. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat dan Slovakia, telah menyampaikan keprihatinan bahwa amandemen terhadap RSI atau Perjanjian Pandemi dapat mengancam otonomi keputusan nasional mereka [35]. OMS secara konsisten menegaskan bahwa instrumen-instrumen tersebut menghormati sepenuhnya kedaulatan negara dan tidak memaksakan kebijakan internal, tetapi persepsi "campur tangan" tetap memengaruhi legitimasi politik organisasi [36].

Tantangan lainnya adalah ketergantungan OMS pada pendanaan sukarela, yang dapat memengaruhi kemandirian dan keadilan organisasi. Kepatuhan, akuntabilitas, dan inklusi pemangku kepentingan non-negara juga tetap menjadi isu yang terus dihadapi dalam upaya memperkuat kapasitas OMS untuk mencegah, mendeteksi, dan merespons darurat kesehatan internasional [37]. Keberhasilan reformasi struktural, seperti modernisasi RSI dan negosiasi Perjanjian Pandemi, akan sangat tergantung pada kemampuan OMS untuk menjaga legitimasi dan kepercayaan dari negara-negara anggotanya di tengah lanskap geopolitik yang semakin kompleks.

Peran dalam Kesehatan Global dan Fungsi Utama

Organización Mundial de la Salud (OMS) berperan sebagai otoritas rector dan koordinator utama dalam kesehatan publik global, dengan tujuan utama untuk mempromosikan, melindungi, dan meningkatkan kesehatan dunia melalui koordinasi upaya internasional, formulasi kebijakan kesehatan, serta implementasi aksi untuk menjamin kesejahteraan populasi di seluruh negara [2]. Misi OMS berfokus pada pencapaian tingkat kesehatan tertinggi bagi semua orang, di mana kesehatan dipahami bukan hanya sebagai ketiadaan penyakit, melainkan sebagai keadaan sejahtera secara fisik, mental, dan sosial [39]. Visi OMS untuk tahun 2025 bertujuan untuk mendorong kesehatan bagi semua orang, di mana pun, melalui aksi kolektif, berkelanjutan, dan adil, serta mempromosikan kerja sama internasional dan inovasi dalam kesehatan masyarakat [40].

Kepemimpinan dan Koordinasi Global dalam Kesehatan

Sebagai badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa, OMS memainkan peran sentral dalam memimpin respons internasional terhadap darurat kesehatan seperti pandemi, wabah epidemi, dan krisis kesehatan akibat bencana alam atau konflik bersenjata [41]. OMS bertindak sebagai fasilitator netral yang mengoordinasikan berbagai aktor global, termasuk pemerintah, organisasi internasional, dan lembaga kemanusiaan. Salah satu mekanisme utamanya adalah Sistem Manajemen Insiden (IMST), yang memungkinkan respons cepat dan terstruktur terhadap krisis kesehatan, mendukung negara-negara dalam evaluasi, koordinasi, dan pengelolaan darurat [33]. Dalam situasi krisis tinggi, OMS dapat menyatakan keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (ESPII), seperti yang dilakukan selama wabah mpox pada 2024, yang memobilisasi respons global terkoordinasi [31]. OMS juga memobilisasi dana dan sumber daya kemanusiaan melalui seruan darurat, misalnya pada 2026 ketika meluncurkan permintaan global untuk mengumpulkan satu miliar dolar guna mempertahankan layanan kesehatan dalam krisis kemanusiaan kompleks [44].

Penetapan Norma dan Standar Internasional

Salah satu fungsi kunci OMS adalah pengembangan dan promosi norma serta standar internasional dalam bidang kesehatan. OMS menghasilkan pedoman berbasis bukti yang menjadi acuan global, seperti Klasifikasi Penyakit Internasional (CIE) yang digunakan untuk klasifikasi dan pelaporan penyakit secara konsisten di seluruh dunia [45]. Organisasi ini juga menetapkan standar keamanan obat dan vaksin, panduan klinis, serta rekomendasi mengenai praktik kesehatan. OMS mengembangkan Daftar Obat Esensial, yang diperbarui secara berkala untuk membantu negara menentukan prioritas pembelian dan kebijakan kesehatan [46]. Selain itu, OMS menerbitkan pedoman teknis untuk penggunaan alat diagnostik darurat, seperti persetujuan pertama di dunia untuk tes diagnostik mpox pada 2024 [47]. Proses pengembangan norma ini mengikuti metodologi sistematis, termasuk peninjauan bukti ilmiah dan konsultasi dengan para ahli global [48].

Pengawasan Epidemiologi dan Pemantauan Kesehatan Dunia

OMS memainkan peran vital dalam pengawasan kesehatan global dengan mengumpulkan, menganalisis, dan menyebarkan data mengenai tren kesehatan dunia. Sistem ini memungkinkan deteksi dini ancaman kesehatan dan evaluasi kemajuan dalam kesehatan masyarakat [49]. OMS telah mengembangkan berbagai platform untuk mendukung fungsi ini, termasuk Sistem Peringatan Dini dan Respons (EWARS) yang memungkinkan identifikasi wabah bahkan di wilayah dengan akses internet terbatas [50]. Selain itu, OMS mengoperasikan platform Intelijen Epidemiologi (EIOS) yang menganalisis data dari sumber terbuka seperti media dan media sosial untuk mendeteksi sinyal dini wabah [51]. Pada 2025, OMS memperbarui sistem intelijen kesehatan masyarakatnya dengan mengintegrasikan kecerdasan buatan untuk meningkatkan prediksi dan respons terhadap ancaman global [52]. Pada 2023, OMS meluncurkan Jaringan Internasional Pengawasan Patogen (IPSN), yang menghubungkan negara-negara untuk meningkatkan pengumpulan dan analisis data genomik, memungkinkan deteksi dan penahanan ancaman infeksi sebelum berkembang menjadi epidemi atau pandemi [53].

Pemberian Bantuan Teknis kepada Negara Anggota

OMS memberikan dukungan teknis kepada negara-negara anggota untuk memperkuat sistem kesehatan mereka, meningkatkan akses terhadap layanan medis, melatih tenaga kesehatan, dan mengembangkan kebijakan yang efektif [54]. Dukungan ini mencakup kerangka kerja strategis seperti Strategi Kerja Sama dengan Negara (ECP), yang dibangun secara partisipatif untuk selaras dengan prioritas nasional dan menangani bidang-bidang seperti reformasi sistem kesehatan dan penguatan kapasitas [55]. OMS juga mendorong digitalisasi sistem kesehatan melalui platform seperti Todo en Uno, yang dikembangkan oleh Organisasi Panamericana Kesehatan (OPS), untuk mengintegrasikan data dan meningkatkan manajemen layanan kesehatan di Amerika Latin dan Karibia [56]. Dalam konteks wabah, OMS memberikan bantuan langsung, misalnya mendukung Kuba dalam respons terhadap wabah virus Oropouche melalui kerja sama teknis dan pasokan sumber daya [57].

Promosi Cakupan Kesehatan Universal dan Pencegahan Penyakit

Salah satu tujuan utama OMS adalah menjamin bahwa setiap orang memiliki akses terhadap layanan kesehatan berkualitas tanpa mengalami kesulitan finansial, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) [58]. OMS mempromosikan pendekatan berbasis bukti untuk mencegah penyakit, terutama penyakit tidak menular (PTM) yang menjadi beban morbiditas global terbesar. OMS merekomendasikan intervensi yang efektif dan terjangkau, seperti peningkatan pajak tembakau, pengurangan konsumsi garam dan lemak trans, serta promosi aktivitas fisik [59]. Melalui Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau (CMCT), OMS mendorong negara-negara untuk menerapkan kebijakan seperti kemasan polos, larangan iklan, dan ruang bebas asap 100% [60]. OMS juga mempromosikan integrasi pengelolaan PTM ke dalam layanan primer melalui strategi seperti HEARTS, yang menerapkan protokol standar untuk pengendalian hipertensi dan diabetes [61].

Fungsi Pemerintahan Kesehatan Global

OMS memainkan peran sentral dalam tata kelola kesehatan global melalui struktur pemerintahannya yang terdiri dari Asamblea Kesehatan Dunia sebagai badan pengambil keputusan tertinggi, Dewan Eksekutif, dan Direktur Jenderal [21]. Asamblea Kesehatan Dunia menetapkan kebijakan, mengadopsi resolusi, dan menentukan prioritas kesehatan global bersama semua negara anggota [21]. OMS juga mendorong penelitian dan inovasi dalam kesehatan masyarakat, termasuk pengembangan teknologi medis baru dan penyebaran pengetahuan ilmiah untuk meningkatkan hasil kesehatan [41]. Sebagai bagian dari fungsi ini, OMS mendorong kerja sama antarlembaga, termasuk dengan Organisasi Dunia Kekayaan Intelektual (WIPO) dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), untuk meningkatkan akses global terhadap teknologi medis [65].

Respons terhadap Darurat Kesehatan Masyarakat

Organización Mundial de la Salud (OMS) memainkan peran sentral dalam koordinasi respons global terhadap darurat kesehatan masyarakat, termasuk wabah penyakit menular, bencana alam, dan konflik bersenjata. Sebagai otoritas rector dalam kesehatan global, OMS bertindak sebagai koordinator utama untuk mencegah, mendeteksi, merespons, dan memulihkan dari krisis kesehatan yang mengancam populasi di seluruh dunia [3]. Dalam menghadapi ancaman transnasional seperti pandemi, OMS mengaktifkan mekanisme khusus untuk memastikan respons yang cepat, terstruktur, dan berbasis bukti. Salah satu instrumen kunci dalam sistem ini adalah Sistem Manajemen Insiden (IMST), yang memungkinkan organisasi untuk merespons secara efisien melalui struktur komando yang jelas dan pembagian tugas antar tim teknis, logistik, dan komunikasi [33]. Pendekatan ini memastikan bahwa bantuan tiba tepat waktu dan sesuai dengan kebutuhan negara yang terdampak.

Sistem Peringatan Dini dan Deklarasi Darurat Internasional

Deteksi dini merupakan fondasi dari respons yang efektif. OMS telah mengembangkan sistem pemantauan canggih seperti EWARS (Sistem Peringatan Dini dan Respons) dan EIOS (Sistem Intelijen Epidemiologi), yang mampu mengidentifikasi potensi ancaman kesehatan secara real-time bahkan di wilayah dengan akses internet terbatas [68]. EIOS, misalnya, menganalisis data dari sumber terbuka seperti media sosial, laporan pemerintah, dan media lokal untuk memberikan sinyal awal tentang wabah yang sedang berkembang. Pada Oktober 2025, OMS meningkatkan sistem intelijen kesehatan masyarakatnya dengan mengintegrasikan kecerdasan buatan untuk memperkuat prediksi dan kesiapsiagaan global [52]. Ketika suatu ancaman mencapai tingkat tertentu, OMS dapat menyatakan keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (ESPII), sebuah deklarasi yang memobilisasi respons global terkoordinasi. Contoh terbaru terjadi pada Agustus 2024, ketika Direktur Jenderal OMS menyatakan wabah mpox sebagai ESPII, yang memicu penyebaran sumber daya internasional dan perhatian global terhadap wabah tersebut [31].

Mobilisasi Sumber Daya dan Respons Operasional

Setelah deklarasi ESPII, OMS mengoordinasikan mobilisasi dana, tenaga kesehatan, dan peralatan medis ke negara-negara yang membutuhkan. Pada tahun 2026, OMS meluncurkan seruan bantuan global untuk mengumpulkan satu miliar dolar AS guna mendukung layanan kesehatan dalam krisis kemanusiaan kompleks, termasuk dampak perubahan iklim, konflik bersenjata, dan wabah penyakit [44]. Selain itu, OMS secara aktif mendukung negara-negara dalam mengatasi wabah spesifik, seperti bantuan teknis dan pasokan medis yang diberikan kepada Kuba dalam menanggapi wabah virus Oropouche [57]. Pada Oktober 2024, untuk pertama kalinya dalam sejarah, OMS mengaktifkan Korps Kesehatan Darurat Global, sebuah tim khusus yang terdiri dari tenaga ahli yang dikerahkan ke lokasi wabah untuk membantu mengendalikan penyebaran penyakit, menunjukkan kematangan dalam kapasitas respons operasionalnya [34]. OMS juga mengembangkan protokol dan panduan teknis berbasis bukti, seperti protokol perawatan pra-rumah sakit dan pedoman penggunaan alat diagnostik darurat, termasuk persetujuan pertama atas tes diagnostik mpox untuk penggunaan darurat pada tahun 2024 [47].

Evolusi Kapasitas Respons dan Reformasi Institusional

Kapasitas respons OMS telah berevolusi secara signifikan sebagai hasil dari pembelajaran dari krisis sebelumnya. Selama wabah Ébola di Afrika Barat (2014–2016), OMS dikritik karena respons yang lambat dan terlambat, yang menyebabkan penyebaran wabah yang tidak terkendali dan lebih dari 11.000 kematian [75]. Sebagai tanggapan, OMS melakukan reformasi besar-besaran, termasuk pembentukan Program Darurat Kesehatan (WHE) pada tahun 2016, yang diberi mandat untuk merespons krisis dengan lebih cepat, transparan, dan efektif [76]. Reformasi ini juga mencakup pembentukan dana kontinjensi untuk membiayai intervensi darurat secara langsung. Selama pandemi COVID-19, meskipun OMS memainkan peran kunci dalam koordinasi global dan peluncuran inisiatif COVAX untuk akses vaksin yang adil, organisasi kembali menghadapi kritik mengenai ketergantungannya pada data dari negara-negara anggota dan keterbatasan otoritas untuk bertindak secara independen [77]. Pembelajaran dari krisis ini mendorong pembentukan Panel Independen untuk Kesiapsiagaan dan Respons Pandemi, yang merekomendasikan penguatan sistem peringatan dini dan kemandirian keuangan OMS [78].

Kerangka Hukum dan Keseimbangan dengan Kedaulatan Nasional

Kerangka hukum utama yang mengatur peran OMS dalam darurat kesehatan adalah Reglamento Sanitario Internasional (RSI) 2005, sebuah perjanjian internasional yang mengikat secara hukum bagi 196 negara pihak. RSI mewajibkan negara-negara anggota untuk melaporkan kejadian kesehatan yang berpotensi menjadi ancaman internasional dan mengembangkan kapasitas minimum untuk mendeteksi dan merespons wabah [79]. Namun, OMS tidak memiliki wewenang untuk mengintervensi secara paksa di dalam wilayah suatu negara, sehingga keberhasilan respons sangat bergantung pada kerja sama sukarela dari negara-negara anggota. Pada tahun 2024, Asamblea Kesehatan Dunia menyetujui serangkaian amandemen terhadap RSI, yang mulai berlaku pada 19 September 2025, untuk memperkuat kesiapsiagaan global, termasuk peningkatan definisi dan prinsip-prinsip dalam peraturan tersebut [80]. Selain itu, pada Mei 2025, Asamblea Kesehatan Dunia mengadopsi Perjanjian Pandemi Bersejarah, sebuah perjanjian global yang bertujuan untuk menciptakan tata kelola kesehatan yang lebih adil, dengan fokus pada akses yang setara terhadap vaksin, perawatan, dan alat diagnostik selama krisis mendatang [81].

Pencapaian dan Kampanye Kesehatan Global

Organización Mundial de la Salud (OMS) telah mencapai sejumlah pencapaian monumental dalam sejarah kesehatan global, yang mencerminkan kemampuannya memimpin, mengoordinasikan, dan menggerakkan upaya internasional dalam mengatasi tantangan kesehatan yang paling mendesak. Pencapaian-pencapaian ini tidak hanya mengubah peta penyakit di dunia, tetapi juga menetapkan preseden untuk kerja sama global di bidang kesehatan. Salah satu prestasi paling bersejarah adalah kampanye global untuk eradikasi variola, yang dinyatakan resmi berhasil oleh OMS pada tahun 1980. Kampanye ini, yang berlangsung selama sekitar satu dekade, merupakan satu-satunya kasus di mana penyakit menular pada manusia berhasil dihilangkan secara total dari muka bumi [19]. OMS memimpin strategi vaksinasi global yang melibatkan lebih dari 500 juta orang dan ribuan tenaga kesehatan, menggunakan metode inovatif seperti strategi vaksinasi cincin untuk menghentikan penularan. Keberhasilan ini menjadi simbol harapan dan bukti nyata bahwa kerja sama internasional yang terkoordinasi dapat mengatasi tantangan kesehatan yang tampaknya mustahil [83].

Kampanye Eradikasi dan Pengendalian Penyakit Menular

Upaya OMS untuk mengendalikan penyakit menular berlanjut dengan kampanye global untuk eradikasi poliomielitis. Sejak dimulainya kampanye ini, dua dari tiga strain virus polio liar telah berhasil dihapuskan secara global, yaitu tipe 2 pada tahun 2015 dan tipe 3 pada tahun 2019 [84]. Meskipun virus polio masih beredar di beberapa negara, OMS terus memimpin Strategi Eradikasi Poliomielitis 2022–2026, yang mencakup kampanye vaksinasi besar-besaran di daerah rawan, seperti kampanye sukses di Gaza pada tahun 2024 yang berhasil memvaksinasi lebih dari 187.000 anak [85]. Selain itu, OMS telah mengakui keberhasilan negara-negara tertentu dalam menghilangkan penyakit dari wilayahnya. Chile, misalnya, diakui pada tahun 2026 sebagai negara kedua di dunia yang berhasil menghilangkan kusta setelah lebih dari 30 tahun tidak melaporkan kasus lokal [86]. Demikian pula, Ekuador diakui karena berhasil mempertahankan wilayahnya bebas dari campak berkat kampanye vaksinasi masif dan sistem surveilans epidemiologi yang kuat [87].

Pengembangan Norma Global dan Perjanjian Internasional

Selain kampanye lapangan, OMS telah memainkan peran sentral dalam membentuk arsitektur hukum dan normatif kesehatan global. Pada tahun 2003, OMS mengadopsi Perjanjian Kerangka WHO untuk Pengendalian Tembakau, yang merupakan perjanjian internasional pertama di bidang kesehatan masyarakat. Perjanjian ini, yang telah diratifikasi oleh 177 negara, menetapkan langkah-langkah seperti kenaikan pajak tembakau, larangan iklan, kemasan polos, dan perlindungan dari paparan asap rokok pasif, yang telah membantu mengurangi prevalensi perokok dan menyelamatkan jutaan nyawa [60]. Selain itu, pada tahun 2023, OMS mengadopsi Perjanjian Pandemi pertama, yang dirancang untuk memperkuat kesiapan dan respons global terhadap krisis kesehatan di masa depan [89]. Perjanjian ini diperkuat pada tahun 2025 dengan Kesepakatan Pandemi, yang dianggap sebagai pencapaian terbesar dalam kesehatan global tahun itu, yang menekankan pada keadilan dalam akses terhadap vaksin, pengobatan, dan alat diagnostik [90].

Kampanye Imunisasi dan Cakupan Kesehatan Universal

Dalam bidang imunisasi, OMS memimpin Program Pengimunan yang Diperluas (PAI), yang telah menyelamatkan ratusan juta nyawa. Pada tahun 2023, kampanye regional berhasil memvaksinasi 3,4 juta anak di Amerika Latin terhadap polio, campak, dan rubela hanya dalam 14 minggu [91]. Vaksin campak saja diperkirakan telah menyelamatkan sekitar 59 juta nyawa dalam 25 tahun terakhir [92]. OMS juga memainkan peran kunci dalam mempromosikan agenda cakupan kesehatan universal (CSU) sebagai bagian dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Melalui kerja sama dengan Bank Dunia, OMS memantau kemajuan global menuju CSU, meskipun tantangan besar tetap ada, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah yang menghadapi keterbatasan pendanaan yang parah [93].

Pengembangan Norma Teknis dan Pedoman Klinis

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memainkan peran sentral dalam pengembangan norma teknis dan pedoman klinis global yang menjadi acuan bagi sistem kesehatan di seluruh dunia. Proses ini dirancang secara sistematis, transparan, dan berbasis bukti ilmiah untuk memastikan kualitas, relevansi global, dan keterapan dalam berbagai konteks. Pengembangan norma ini melibatkan identifikasi kebutuhan kesehatan masyarakat, tinjauan sistematis terhadap bukti ilmiah, partisipasi multidisiplin dari para ahli dan pemangku kepentingan, serta konsultasi publik yang luas sebelum disahkan secara formal oleh otoritas teknis atau direktif WHO [48]. Salah satu metodologi kunci yang digunakan adalah pendekatan GRADE (Grading of Recommendations Assessment, Development and Evaluation), yang membantu menilai kualitas bukti dan merumuskan rekomendasi yang jelas dan terstruktur [95].

Proses Pengembangan dan Validasi Norma

Proses pengembangan norma teknis dan pedoman klinis oleh WHO dimulai dengan identifikasi kesenjangan dalam praktik kesehatan atau kebutuhan mendesak akibat kemajuan ilmiah atau permintaan dari negara-negara anggota [48]. Setelah kebutuhan ditentukan, tim ahli yang terdiri dari pakar dari berbagai disiplin ilmu melakukan tinjauan sistematis terhadap literatur ilmiah terkini. Hasil tinjauan ini kemudian dievaluasi menggunakan metodologi GRADE untuk menentukan kekuatan rekomendasi. Proses ini memastikan bahwa setiap pedoman didasarkan pada bukti terbaik yang tersedia, bukan hanya opini klinis. Selanjutnya, draf pedoman dibahas oleh kelompok teknis, komite penasihat, dan perwakilan negara anggota untuk memastikan pertimbangan berbagai perspektif, termasuk aspek etika, operasional, dan budaya [97]. Sebelum publikasi resmi, pedoman ini dibuka untuk konsultasi publik dengan negara anggota, organisasi internasional, dan pemangku kepentingan lainnya untuk menjamin kejelasan, relevansi, dan penerimaan luas [48]. Akhirnya, pedoman yang telah direvisi disetujui oleh badan teknis atau direktif WHO, seperti Komite Tinjauan Pedoman, dan diterbitkan secara resmi [99]. Contoh terkini termasuk pembaruan pedoman tentang biosekuriti laboratorium pada Juli 2024 dan panduan vaksinasi influenza untuk belahan bumi selatan pada tahun 2026, yang mengintegrasikan data virus global dan proyeksi potensi strain pandemi [100][101].

Adaptasi dan Penerapan dalam Konteks yang Beragam

WHO sangat menyadari bahwa efektivitas norma-norma ini sangat bergantung pada kemampuannya untuk beradaptasi dengan berbagai konteks sosioekonomi, infrastruktur sistem kesehatan, dan faktor budaya lokal. Untuk mengatasi hal ini, WHO mempromosikan strategi implementasi yang fleksibel dan kontekstual. Organisasi ini menerbitkan pedoman yang berbeda untuk negara berpenghasilan rendah dan menengah, dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber daya manusia, teknologi, dan finansial [102]. Misalnya, pedoman untuk meningkatkan akses terhadap layanan pendengaran di negara-negara dengan sumber daya terbatas mendorong model perawatan terdesentralisasi dan keterlibatan petugas kesehatan non-spesialis. WHO juga mendorong pendekatan berbasis perawatan primer dan swaperawatan, serta model pembagian tugas, seperti melatih petugas kesehatan non-spesialis untuk menerapkan protokol mhGAP dalam perawatan kesehatan mental di daerah yang kekurangan psikiater [103][104]. Untuk membantu negara-negara menyesuaikan pedoman internasional dengan realitas lokal, WHO menyediakan kerangka kerja dan alat bantu, seperti repositori "Evidence for Impact" yang diluncurkan pada tahun 2023, yang memfasilitasi pengambilan keputusan berbasis bukti dan penerjemahan pengetahuan menjadi kebijakan nasional [105].

Kriteria untuk Adaptasi dan Integrasi Determinan Sosial

Kriteria utama yang digunakan oleh WHO untuk menyesuaikan norma-normanya mencakup ketersediaan sumber daya, kapasitas sistem kesehatan, konteks sosial-budaya dan geografis, prioritas nasional, serta beban penyakit lokal. Organisasi ini menekankan pentingnya mempertimbangkan faktor-faktor sosial dan lingkungan dalam rekomendasinya, seperti dalam pedoman tentang perumahan dan kesehatan yang menyoroti pentingnya kondisi tempat tinggal yang layak untuk mencegah penyakit [106]. WHO juga mendorong penguatan sistem kesehatan secara keseluruhan, termasuk tata kelola, surveilans epidemiologi, regulasi kesehatan, dan ketahanan terhadap krisis, melalui pedoman seperti yang diterbitkan untuk pemulihan sistem kesehatan pada tahun 2024 [107][108]. Dengan pendekatan yang komprehensif ini, WHO berupaya memastikan bahwa norma teknis dan pedoman klinisnya tidak hanya kuat secara ilmiah, tetapi juga dapat dioperasikan, adil, dan efektif dalam berbagai lingkungan global yang beragam.

Tantangan dalam Kesehatan Global Kontemporer

Organisasi Kesehatan Dunia (OMS) menghadapi serangkaian tantangan kompleks dalam menjalankan mandatnya untuk mencapai kesehatan bagi semua di tengah lanskap global yang semakin terintegrasi namun juga penuh ketegangan geopolitik. Tantangan-tantangan ini mencakup aspek finansial, politik, etis, dan operasional yang saling terkait, menguji kapasitas OMS sebagai otoritas global dalam kesehatan. Di antara isu-isu utama adalah ketergantungan pada pendanaan sukarela yang dapat memengaruhi kemandirian, ketegangan antara otoritas global dan kedaulatan nasional, serta kesenjangan struktural dalam akses terhadap teknologi kesehatan.

Ketergantungan Pendanaan dan Ancaman terhadap Kemandirian

Salah satu tantangan paling mendasar yang dihadapi OMS adalah struktur pendanaannya. Organisasi ini bergantung pada dua sumber utama: kontribusi wajib (disebut juga "kontribusi ditandai") dari negara anggota dan kontribusi sukarela dari pemerintah donor, yayasan filantropi, dan sektor swasta. Meskipun kontribusi wajib membentuk dasar dari anggaran rutin OMS, jumlahnya kurang dari 20% dari total anggaran organisasi [109]. Sebagian besar pendanaan berasal dari kontribusi sukarela, yang sering kali bersifat kondisional dan dialokasikan untuk program atau inisiatif tertentu sesuai keinginan donor [110].

Ketergantungan ini menciptakan risiko serius terhadap kemandirian dan netralitas OMS. Pendanaan yang terkondisi dapat mengarahkan agenda kesehatan global menuju isu-isu yang menjadi prioritas donor, seperti cacar atau polio, sementara mengabaikan masalah kesehatan lain yang sama pentingnya namun kurang menarik secara politik atau publik. Konsentrasi dana dari segelintir donor besar, seperti Amerika Serikat dan Yayasan Bill & Melinda Gates, memunculkan kekhawatiran akan pengaruh yang tidak seimbang terhadap keputusan strategis OMS [111]. Ketergantungan pada pendanaan ekstrapresuposer ini juga membatasi fleksibilitas OMS dalam merespons krisis kesehatan mendadak yang memerlukan alokasi dana cepat dan adaptif [112].

Ketegangan antara Otoritas Global dan Kedaulatan Nasional

Sebuah dilema sentral dalam tata kelola kesehatan global adalah keseimbangan antara kebutuhan akan respons terkoordinasi terhadap ancaman lintas batas dan hak negara untuk mengelola urusan kesehatan nasional mereka sendiri. Reglamento Sanitario Internasional (RSI) merupakan instrumen hukum utama yang memberi OMS kewenangan untuk mengoordinasikan respons global terhadap darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional [30]. Namun, RSI tidak memberi OMS wewenang untuk secara langsung mengintervensi dalam urusan internal suatu negara atau memaksakan tindakan. Negara-negara tetap memiliki hak untuk menerapkan langkah-langkah kesehatan di wilayah mereka, bahkan jika lebih ketat dari rekomendasi OMS, selama tidak mengganggu perdagangan atau perjalanan internasional secara tidak semestinya [30].

Ketegangan ini menjadi sangat nyata selama krisis besar seperti pandemi COVID-19. Beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, mengekspresikan keprihatinan bahwa enkripsi pada RSI atau perjanjian pandemi yang diusulkan dapat mengancam kedaulatan nasional mereka [115]. Perdebatan ini mencerminkan ketegangan struktural antara kebutuhan akan kerja sama global dan keinginan untuk mempertahankan otonomi nasional. OMS harus beroperasi dalam ruang yang rumit ini, di mana keberhasilannya bergantung pada kemampuannya untuk membangun konsensus tanpa menyalahgunakan otoritas teknisnya [116].

Kesenjangan Struktural dalam Akses terhadap Teknologi Kesehatan

Salah satu tantangan paling nyata terhadap keadilan global adalah kesenjangan besar dalam akses terhadap obat-obatan esensial, vaksin, dan teknologi kesehatan. Selama pandemi COVID-19, dunia menyaksikan secara langsung apa yang disebut oleh Direktur Jenderal OMS, Tedros Adhanom Ghebreyesus, sebagai "apartheid vaksin", di mana negara-negara miskin tertinggal jauh dalam program vaksinasi [117]. Meskipun mekanisme seperti COVAX dirancang untuk memastikan distribusi yang adil, realitas menunjukkan hambatan logistik dan administratif yang signifikan.

Masalah ini berlanjut di luar pandemi. Negara-negara berpenghasilan menengah, yang mewakili lebih dari 70% populasi dunia, sering kali tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan dukungan keuangan langsung dari mekanisme seperti Gavi, Aliansi untuk Vaksin, sehingga menciptakan celah besar dalam cakupan imunisasi [118]. Hambatan harga dan transparansi dalam negosiasi vaksin juga menjadi masalah, dengan negara-negara berpenghasilan menengah kadang-kadang membayar hingga 12 kali lebih banyak per dosis dibandingkan negara-negara yang mendapat dukungan internasional [119]. OMS berupaya mengatasi hal ini melalui inisiatif seperti Akses Bersama terhadap Teknologi Kesehatan (HTAP) dan kerja sama dengan MPP, Bank Paten Obat, untuk memfasilitasi produksi dan distribusi teknologi medis secara lebih adil [120].

Tantangan Etis: Universalisme vs. Keberagaman Budaya

Mengharmonisasikan standar kesehatan global dengan keberagaman budaya dan hak asasi manusia di berbagai negara menimbulkan tantangan etis yang dalam. Upaya OMS untuk menerapkan pendekatan universal berisiko mengabaikan sistem kepercayaan lokal, praktik pengobatan tradisional, dan bentuk perawatan kesehatan komunitas. Misalnya, dalam konteks kesehatan ibu dan anak, perempuan dari kelompok etnis minoritas sering kali menghadapi pelayanan kesehatan yang tidak menghormati praktik budaya mereka, seperti penggunaan bidan tradisional atau ritual pascapersalinan, yang dapat mengarah pada pengalaman traumatis dan kehilangan kepercayaan terhadap sistem kesehatan formal [121].

Kritik dari antropologi medis menyoroti bahwa pendekatan OMS sering kali tetap berpusat pada aspek biomedis dan asistensial, yang gagal mengatasi akar struktural dari penderitaan, seperti kemiskinan, rasisme institusional, dan ketidaksetaraan gender [122]. Selain itu, struktur tata kelola kesehatan global telah dikritik karena mewarisi dinamika kolonial, di mana pengetahuan dan keputusan dibuat di institusi global yang didominasi oleh negara-negara dari "Utara global", sementara negara-negara dari "Selatan global" sering kali menjadi penerima pasif dari kebijakan yang telah ditentukan [123]. Untuk menjadi benar-benar adil, OMS harus bertransformasi menjadi organisasi yang lebih demokratis, inklusif, dan peka terhadap kekuasaan, dengan memperkuat partisipasi komunitas, mendekolonisasi pengetahuan, dan memastikan akses yang adil terhadap teknologi kesehatan [124].

Pembiayaan dan Kemandirian Organisasi

Pembiayaan Organización Mundial de la Salud (OMS) merupakan salah satu aspek paling krusial yang memengaruhi kemandirian, efektivitas, dan legitimasi organisasi dalam menjalankan mandat globalnya. Struktur pendanaan OMS yang kompleks, dengan ketergantungan tinggi terhadap kontribusi sukarela dari negara-negara dan donor non-negara, telah menjadi sumber utama tantangan dalam memastikan keputusan dan prioritas organisasi tetap berbasis bukti, adil, dan bebas dari pengaruh eksternal. Model pembiayaan ini menciptakan ketegangan antara kebutuhan akan kemandirian teknis dan realitas ketergantungan finansial yang dapat memengaruhi agenda kesehatan global.

Struktur Pembiayaan: Kontribusi Wajib dan Sukarela

Sumber dana OMS berasal dari dua kategori utama: kontribusi wajib dan kontribusi sukarela. Kontribusi wajib, yang dikenal sebagai "kontribusi yang ditunjuk" (assessed contributions), dibayarkan oleh 194 negara anggota berdasarkan kriteria seperti Produk Domestik Bruto (PDB), pendapatan per kapita, dan faktor-faktor ekonomi lainnya. Kontribusi ini membentuk anggaran dasar organisasi dan seharusnya menjadi fondasi yang stabil dan dapat diprediksi. Namun, dalam praktiknya, kontribusi wajib hanya mencakup kurang dari 20% dari total anggaran OMS [109]. Untuk periode 2024-2025, anggaran total OMS mencapai sekitar 6,8 miliar dolar AS, dengan defisit sebesar 564 juta dolar AS yang harus diisi melalui sumber lain [126].

Sebagian besar pendanaan OMS justru berasal dari kontribusi sukarela, yang dapat bersifat ekstrapresuposional dan sering kali bersyarat (earmarked), artinya donor menentukan secara spesifik program atau inisiatif mana yang akan dibiayai [110]. Ketergantungan ini sangat tinggi; dalam beberapa tahun, kontribusi sukarela telah mencapai hingga 90% dari total pendapatan OMS. Meskipun sumber dana ini memungkinkan pendanaan untuk inisiatif tertentu, ketergantungan yang berlebihan pada kontribusi bersyarat ini secara signifikan membatasi fleksibilitas dan otonomi OMS dalam menetapkan prioritas strategisnya sendiri. Hal ini membuat organisasi rentan terhadap agenda para donor utama, seperti Amerika Serikat dan Yayasan Bill dan Melinda Gates, yang secara tidak proporsional dapat memengaruhi arah kebijakan kesehatan global [111].

Dampak Ketergantungan pada Otonomi dan Imparsialitas

Ketergantungan pada kontribusi sukarela yang bersyarat memiliki konsekuensi serius terhadap otonomi dan imparsialitas OMS. Ketika sebagian besar dana dialokasikan untuk proyek-proyek spesifik yang ditentukan oleh donor, OMS kehilangan kemampuan untuk secara fleksibel merespons kebutuhan global yang mendesak atau mengalokasikan sumber daya untuk memperkuat sistem kesehatan dasar dan prioritas strategis yang tidak menarik minat donor. Hal ini menciptakan distorsi dalam agenda kesehatan global, di mana masalah yang menjadi prioritas donor mendapatkan perhatian yang tidak sebanding, sementara masalah kesehatan lain yang sama pentingnya tetapi kurang menarik secara finansial mungkin terabaikan [129].

Kondisi ini mengancam kredibilitas OMS sebagai penengah yang netral dan otoritatif dalam kesehatan masyarakat internasional. Kekhawatiran bahwa prioritas organisasi dapat dikompromikan oleh kepentingan pendanaannya telah lama menjadi kritik utama [130]. Selain itu, ketergantungan pada pendanaan ekstrapresuposional membatasi fleksibilitas operasional OMS, terutama dalam situasi darurat ketika respons cepat dan adaptif sangat dibutuhkan. Kebutuhan untuk menyelaraskan kegiatan dengan kepentingan para donor dapat menghambat implementasi kebijakan yang didasarkan semata-mata pada bukti ilmiah dan prinsip-prinsip keadilan [131].

Upaya Reformasi dan Masa Depan Pembiayaan

Menghadapi tantangan ini, telah muncul seruan yang semakin intensif untuk mereformasi sistem pembiayaan OMS. Organisasi ini telah mengakui perlunya meningkatkan proporsi dana yang fleksibel dan dapat diprediksi, serta mendiversifikasi basis pendananya untuk mengurangi ketergantungan pada segelintir aktor [112]. Langkah-langkah konkret telah diambil untuk menuju arah ini. Pada tahun 2022, Asamblea Kesehatan Dunia mengesahkan keputusan bersejarah untuk memperkuat pendanaan berkelanjutan OMS, yang mencakup komitmen untuk secara bertahap meningkatkan kontribusi wajib hingga mencapai 50% dari anggaran dasar pada tahun 2030 [133]. Kenaikan kontribusi wajib sebesar 20% untuk periode 2024-2025 dan 2026-2027 merupakan bagian dari upaya kolektif ini [134].

Selain itu, OMS meluncurkan inisiatif inovatif seperti putaran investasi pertamanya pada tahun 2024, yang bertujuan untuk membiayai secara berkelanjutan mandat "kesehatan untuk semua" dengan mencari komitmen pendanaan yang dapat diprediksi, fleksibel, dan tangguh [135]. Inisiatif ini berhasil mendapatkan komitmen pendanaan baru dan diperbarui senilai satu miliar dolar AS pada Oktober 2024 [136].

Namun, keberhasilan reformasi ini sangat bergantung pada komitmen politik yang berkelanjutan dari negara-negara anggota. Keputusan Amerika Serikat untuk menarik diri dari OMS pada Januari 2026, salah satunya didorong oleh ketidakpuasan terhadap manajemen pandemi, menimbulkan kekhawatiran serius tentang stabilitas keuangan organisasi dan kemampuannya untuk memenuhi mandatnya [137]. Kejadian ini menyoroti kerentanan tata kelola kesehatan global terhadap fluktuasi politik nasional dari negara-negara anggota yang paling berpengaruh [138]. Oleh karena itu, masa depan kemandirian OMS tergantung pada kemampuannya untuk membangun sistem pembiayaan yang berkelanjutan, dapat diprediksi, dan bebas dari kondisionalitas yang dapat mengancam otonominya, yang merupakan prasyarat penting untuk memperkuat tata kelola kesehatan internasional dan memastikan bahwa OMS dapat menjalankan perannya sebagai otoritas utama dengan independensi, transparansi, dan keadilan [112].

Referensi