Mycoplasma pneumoniae adalah bakteri atipikal tanpa dinding sel yang termasuk dalam kelas Mollicutes dan penyebab utama infeksi saluran pernapasan, terutama pneumonia atipikal (juga dikenal sebagai "pneumonia berjalan"). Bakteri ini merupakan patogen penting pada anak usia sekolah, remaja, dan orang dewasa muda, serta sering menyebar di lingkungan komunal seperti sekolah dan kemiliteran [1]. Karena tidak memiliki dinding sel, M. pneumoniae tahan terhadap antibiotik beta-laktam seperti penisilin dan sefalosporin, sehingga memerlukan pendekatan pengobatan yang berbeda, seperti penggunaan makrolida (misalnya azitromisin) atau tetrasiklin [2]. Ukurannya yang sangat kecil (0,2–2 μm) dan genom yang minimal (sekitar 816 kb) mencerminkan gaya hidup parasitik obligat yang bergantung pada inang untuk nutrisi penting seperti asam amino dan kolesterol [3]. Transmisi terjadi melalui droplet pernapasan saat batuk atau bersin, dengan masa inkubasi 1–4 minggu, dan infeksi dapat berkembang menjadi bentuk parah atau komplikasi ekstrapulmoner seperti anemia hemolitik autoimun, sindrom Guillain-Barré, atau miokarditis [4]. Diagnosis dini sering menggunakan PCR (reaksi rantai polimerase) karena kultur bakteri sangat sulit dan lambat, sementara surveilans oleh organisasi seperti Santé publique France dan CDC membantu mendeteksi wabah siklik yang terjadi setiap 3–7 tahun [5]. Resistensi terhadap makrolida, terutama di Asia, menjadi perhatian klinis yang meningkat, mendorong penggunaan alternatif seperti doxycycline atau fluoroquinolon [6].
Klasifikasi dan Karakteristik Biologis
Mycoplasma pneumoniae adalah bakteri atipikal yang termasuk dalam domain Bacteria dan kelas Mollicutes, suatu kelompok mikroorganisme yang dikenal karena tidak memiliki dinding sel. Secara taksonomi, bakteri ini dikelompokkan dalam ordo Mycoplasmatales, famili Mycoplasmataceae, dan genus Mycoplasma [7]. Klasifikasi ini didasarkan pada kombinasi kriteria fenotipik dan filogenetik. Secara filogenetik, analisis sekuens ARN ribosom 16S menunjukkan bahwa Mollicutes membentuk kelompok monofiletik yang berasal dari filum Firmicutes, meskipun mengalami reduksi genomik ekstrem [8]. Secara fenotipik, klasifikasi ini didukung oleh karakteristik utama seperti absensi dinding sel, bentuk pleomorfik, ukuran kecil, dan ketergantungan pada sterol dari lingkungan inang [9].
Struktur Sel dan Konsekuensinya
Salah satu ciri paling menonjol dari M. pneumoniae adalah absensi total dinding sel, yang membedakannya dari sebagian besar bakteri. Karena tidak memiliki peptidoglikan, bakteri ini menjadi tahan terhadap antibiotik beta-laktam seperti penisilin dan sefalosporin, yang bekerja dengan menghambat sintesis dinding sel [2]. Akibat dari hilangnya struktur penunjang ini, sel menjadi pleomorfik, artinya dapat mengambil berbagai bentuk seperti fusiform, bulat, atau filament. Ukurannya yang sangat kecil, berkisar antara 0,2 hingga 2 μm, menjadikannya salah satu bakteri terkecil yang diketahui [3]. Karena tidak tahan terhadap lisis osmotik, M. pneumoniae memerlukan lingkungan dengan osmolaritas stabil untuk bertahan hidup. Untuk mengkompensasi kelemahan struktural ini, membran sitoplasmiknya diperkuat dengan menyerap kolesterol dari inang, yang diintegrasikan ke dalam membran untuk meningkatkan stabilitas dan integritas [12]. Fakta bahwa bakteri ini menggunakan sterol, yang umum ditemukan pada sel eukariotik, menunjukkan adaptasi unik terhadap gaya hidup parasitiknya. Selain itu, bakteri ini tidak memiliki flagela tetapi mampu bergerak melalui permukaan dengan mekanisme geser (gliding motility), yang membantunya dalam kolonisasi epitel saluran napas [12].
Genom Minimal dan Metabolisme Parasitik
M. pneumoniae memiliki salah satu genom terkecil di antara bakteri yang dapat tumbuh di luar sel inang, dengan ukuran sekitar 816 kilobase pasangan (kb) [14]. Genom yang sangat kecil ini adalah hasil dari evolusi reduktif, di mana bakteri kehilangan banyak gen yang tidak penting seiring dengan adaptasinya menjadi parasit obligat. Kehilangan ini mencerminkan ketergantungan yang sangat tinggi pada inang untuk memperoleh nutrisi esensial. Akibatnya, M. pneumoniae kehilangan kemampuan untuk mensintesis banyak komponen penting secara mandiri, termasuk asam amino, nukleotida, asam lemak, dan siklus Krebs (TCA) [15]. Sebagai gantinya, bakteri ini bergantung pada sistem transport membran khusus untuk mengimpor prekursor metabolik dari lingkungan inang. Metabolisme energinya sangat terbatas; bakteri ini terutama mengandalkan glikolisis untuk menghasilkan adenosin trifosfat (ATP) karena tidak memiliki rantai pernapasan yang lengkap atau siklus TCA [16]. Topologi metabolik yang sederhana ini membuat M. pneumoniae menjadi model penting dalam studi tentang "biologi minimal" yang diperlukan untuk kehidupan seluler [16].
Mekanisme Evasi dan Adaptasi Evolusioner
Untuk bertahan dalam tekanan sistem kekebalan inang, M. pneumoniae telah mengembangkan strategi evolusioner yang canggih. Salah satu mekanisme utamanya adalah variabilitas antigenik yang dikendalikan oleh rekombinasi genetik. Bakteri ini memiliki elemen berulang (RepMP) yang tersebar di genomnya. Melalui rekombinasi homolog antar elemen ini, bakteri dapat mengubah urutan gen P1, yang mengkode protein adhesi utama di permukaan sel. Perubahan ini menghasilkan variasi pada protein P1, sehingga menghindari pengenalan oleh antibodi netralisasi dari infeksi sebelumnya dan memungkinkan terjadinya reinfeksi [18]. Selain itu, bakteri ini dapat berinvasi ke dalam sel epitel saluran napas, yang memungkinkannya lolos dari fagositosis dan antibodi sirkulasi [19]. Kemampuan ini, ditambah dengan produksi toksin CARDS (Community-Acquired Respiratory Distress Syndrome toxin) yang merusak epitel dan mengganggu pembersihan mukosiliar, sangat penting untuk kolonisasi, persistensi, dan patogenisitasnya [20]. Genom yang kecil dan stabil juga mendukung pembentukan biofilm, yang berkontribusi pada persistensinya dan ketahanan terhadap pengobatan [21].
Patogenesis dan Mekanisme Virulensi
Mycoplasma pneumoniae menginfeksi saluran pernapasan dengan memanfaatkan sejumlah mekanisme virulensi yang kompleks, didorong oleh struktur uniknya yang tidak memiliki dinding sel dan ketergantungannya yang tinggi terhadap sel inang. Patogenesis infeksi ini melibatkan adhesi spesifik ke epitel pernapasan, produksi toksin, serta modulasi dan evasi dari respons imun inang, yang bersama-sama menyebabkan kerusakan jaringan dan peradangan yang khas dari pneumonia atipikal.
Adhesi dan Kolonisasi pada Epitel Pernapasan
Langkah pertama dalam patogenesis adalah adhesi bakteri ke sel epitel bersilia di saluran pernapasan bagian atas dan bawah. M. pneumoniae tidak memiliki flagela atau pili, tetapi mampu bergerak secara aktif melalui permukaan dengan mekanisme geser (gliding motility), memfasilitasi pencarian dan penempelan ke lokasi yang optimal [12]. Adhesi ini dimediasi oleh kompleks adhesin polar yang sangat khusus, terutama protein P1, P30, dan HMW1-3. Protein P1 merupakan adhesin utama yang berikatan secara langsung dengan reseptor pada permukaan sel epitel, seperti oligosakarida sulfat dan sialil-α-2,3-galaktosa [20]. Proses adhesi ini sangat penting karena mencegah bakteri terbawa oleh mekanisme pembersihan mukosiliar, memungkinkan kolonisasi yang berkelanjutan dan awal dari infeksi. Kemampuan ini membuatnya menjadi patogen yang sangat efektif dalam menyerang sistem pernapasan.
Produksi Toksin dan Kerusakan Langsung pada Jaringan
Selain adhesi, M. pneumoniae menyebabkan kerusakan langsung pada jaringan melalui produksi toksin. Toksin utama yang diidentifikasi adalah toxin CARDS (Community-Acquired Respiratory Distress Syndrome toxin), yang memiliki sifat ADP-ribosilasi. Toksin ini menempel pada sel epitel dan makrofag, menyebabkan kerusakan membran sel, gangguan fungsi seluler, dan kematian sel (apoptosis) [20]. Efek toksin CARDS sangat signifikan karena tidak hanya merusak epitel pernapasan secara langsung, tetapi juga mengganggu pembersihan mukosiliar, memperburuk peradangan, dan berkontribusi pada gejala klinis seperti batuk persisten dan kesulitan bernapas. Kerusakan epitel ini membuka jalan bagi invasi bakteri lebih dalam dan memicu pelepasan faktor inflamasi dari sel yang terluka.
Penghindaran dan Modulasi Respons Imun
M. pneumoniae telah mengembangkan berbagai strategi untuk menghindari dan memodulasi respons imun inang, yang memungkinkan persistensinya dalam tubuh. Salah satu mekanisme utama adalah variasi antigenik yang dikendalikan oleh rekomendasi genetik. Elemen berulang (RepMP) dalam genomnya mengalami rekombinasi homolog yang mengubah urutan gen P1, sehingga menghasilkan variasi pada protein adhesin permukaan. Variasi ini mengurangi pengenalan oleh antibodi netralisasi dari infeksi sebelumnya, memfasilitasi reinfeksi dan persistensi epidemiologis [18]. Selain itu, bakteri dapat melakukan invasi intraseluler, masuk ke dalam sel epitel dan makrofag, sehingga terlindung dari antibodi sirkulasi dan fagositosis [19]. Hal ini memungkinkan M. pneumoniae untuk bersembunyi dan bertahan dalam bentuk infeksi laten atau subklinis.
Aktivasi Respons Imun Innate dan Inflamasi
Meskipun menghindari beberapa aspek imunitas, M. pneumoniae secara aktif mengaktifkan sistem imun bawaan (innate immunity). Komponen utama dari membran bakteri, terutama lipoprotein triasilasi, dikenali oleh reseptor Toll-like (TLR), khususnya heterodimer TLR2/TLR1 pada permukaan sel imun dan epitel [27]. Pengenalan ini memicu jalur sinyal yang bergantung pada MyD88, yang mengarah pada translokasi faktor transkripsi NF-κB ke dalam nukleus. Aktivasi NF-κB menyebabkan ekspresi gen-gen yang mengkode sitokin proinflamasi seperti interleukin-1 (IL-1), interleukin-6 (IL-6), tumor necrosis factor-alpha (TNF-α), dan interleukin-8 (IL-8) [28]. IL-8 berperan penting dalam merekrut neutrofil ke situs infeksi, yang berkontribusi pada peradangan lokal tetapi juga pada kerusakan jaringan tambahan. Aktivasi TLR2 juga penting untuk ekspresi mucin (MUC5AC), yang menyebabkan produksi lendir berlebihan dan obstruksi bronkial, menjelaskan gejala batuk yang mengganggu [29].
Peran Genom Minimal dan Ketergantungan Parasitik
Patogenesis M. pneumoniae juga dipengaruhi oleh gaya hidup parasitik obligatnya, yang tercermin dari genomnya yang sangat minimal (sekitar 816 kb). Genom kecil ini merupakan hasil dari evolusi reduktif, di mana banyak jalur biosintesis penting telah hilang [30]. Akibatnya, bakteri ini sangat bergantung pada inang untuk mendapatkan prekursor metabolik esensial seperti asam amino, nukleotida, dan sterol seperti kolesterol, yang diintegrasikan ke dalam membran plasmanya untuk memberikan stabilitas [12]. Ketergantungan ini membatasi tempat tinggalnya hanya pada lingkungan kaya nutrisi seperti saluran pernapasan manusia, tetapi juga membuatnya rentan terhadap gangguan metabolisme. Meskipun demikian, bakteri ini mempertahankan gen-gen yang penting untuk fungsi seluler dasar seperti replikasi DNA, biogenesis ribosom, dan sintesis protein, yang memungkinkan kelangsungan hidup dan reproduksi dalam sel inang [32]. Kemampuannya untuk membentuk biofilm juga berkontribusi pada ketahanannya terhadap terapi dan sistem kekebalan [21].
Manifestasi Klinis dan Komplikasi
Infeksi oleh Mycoplasma pneumoniae menunjukkan spektrum klinis yang luas, mulai dari infeksi saluran pernapasan atas yang ringan hingga pneumonia atipikal yang lebih serius dan berbagai komplikasi ekstrapulmoner. Manifestasi klinisnya sering menyerupai infeksi virus ringan, sehingga diagnosis dapat terlambat. Patogen ini merupakan penyebab penting dari pneumonia komunitas, terutama pada anak usia sekolah, remaja, dan orang dewasa muda [34]. Transmisi melalui droplet pernapasan memungkinkan penyebaran cepat di lingkungan komunal seperti sekolah dan kemiliteran, di mana kontak erat memfasilitasi penularan [35].
Pneumonia Atipikal dan Infeksi Saluran Pernapasan
Manifestasi paling umum dari infeksi M. pneumoniae adalah pneumonia atipikal, sering disebut sebagai "pneumonia berjalan" (walking pneumonia), karena pasien biasanya tetap aktif meskipun sakit [34]. Pneumonia ini berbeda dari pneumonia bakterial klasik karena perkembangannya yang insidius, dengan gejala yang muncul secara bertahap selama beberapa hari hingga minggu. Gejala utama meliputi touk kering yang persisten dan sering kali "bandel", demam ringan, sakit tenggorokan, kelelahan yang signifikan, sakit kepala, dan kadang-kadang nyeri dada [37]. Pada anak-anak, infeksi ini sering kali dimulai dengan gejala seperti pilek ringan, termasuk rhinitis dan batuk, yang dapat berkembang menjadi bronkitis akut atau trakeobronkitis [5]. Secara radiologis, pneumonia atipikal ditandai dengan opasitas interstisial atau retikulonodular bilateral, berbeda dengan konsolidasi lobular yang khas pada pneumonia bakterial klasik [39].
Komplikasi Ekstrapulmoner
Meskipun infeksi utama terjadi di saluran pernapasan, M. pneumoniae dapat menyebabkan berbagai komplikasi ekstrapulmoner yang serius, terutama pada pasien dengan faktor risiko tertentu. Komplikasi ini diduga terjadi melalui mekanisme imunologis, seperti mimikri molekuler atau pembentukan kompleks imun, meskipun invasi langsung oleh patogen juga mungkin terjadi [40]. Komplikasi ekstrapulmoner dilaporkan terjadi pada sekitar 25% pasien yang dirawat di rumah sakit [41].
Komplikasi Neurologis
Komplikasi neurologis adalah salah satu yang paling mengkhawatirkan. Infeksi dapat menyebabkan ensefalitis, meningitis, atau meningoensefalitis, yang ditandai dengan perubahan kesadaran, kejang, dan sakit kepala parah [42]. Selain itu, M. pneumoniae dikenal sebagai salah satu pemicu dari sindrom Guillain-Barré, sebuah neuropati inflamasi akut yang disebabkan oleh reaksi silang antara antibodi terhadap antigen bakteri dan gangliosida pada saraf (misalnya GM1, GalC) [43]. Komplikasi lainnya termasuk mielitis, sindrom Fisher, dan paralisis saraf kranial [44].
Komplikasi Hematologis
Komplikasi hematologis yang paling umum adalah anemia hemolitik autoimun yang disebabkan oleh aglutinin dingin. Komplikasi ini terjadi karena produksi autoantibodi IgM yang bereaksi dengan antigen I pada sel darah merah pada suhu rendah (<30°C), yang mengakibatkan hemolisis intravaskular atau ekstravaskular [45]. Gejalanya meliputi kelelahan, pucat, dan hemoglobinuria.
Komplikasi Dermatologis dan Kardiovaskular
Dalam bidang dermatologis, infeksi dapat memicu eritema multiforme dan, dalam kasus yang parah, sindrom Stevens-Johnson, yang merupakan reaksi kulit serius yang melibatkan luka pada selaput lendir, dikenal sebagai MIRM (Mycoplasma pneumoniae-induced rash and mucositis) [41]. Komplikasi kardiovaskular termasuk miokarditis, perikarditis, dan komplikasi tromboembolik seperti trombosis pulmoner, yang diduga terkait dengan hiperkoagulabilitas yang dipicu oleh peradangan sistemik [40].
Komplikasi Lainnya
Komplikasi lain yang lebih jarang mencakup glomerulonefritis dan gagal ginjal akut yang terkait dengan deposisi kompleks imun sirkulasi di ginjal [48]. Dalam sistem hepatik, infeksi dapat menyebabkan hepatitis akut dan splenomegali, yang sering kali asimtomatik tetapi dapat disertai peningkatan enzim transaminase [49].
Faktor Risiko untuk Bentuk Parah dan Komplikasi
Meskipun infeksi pada umumnya bersifat ringan, beberapa kelompok pasien berisiko lebih tinggi untuk mengalami bentuk penyakit yang parah atau komplikasi. Anak-anak dan remaja, meskipun menjadi kelompok yang paling sering terinfeksi, dapat mengalami pneumonia berat, terutama jika terjadi resistensi terhadap makrolida atau respon inflamasi yang berlebihan [50]. Pasien dengan kondisi imunokompromi, baik primer (seperti hipogammaglobulinemia) maupun sekunder (karena pengobatan imunosupresif atau penyakit autoimun), sangat rentan terhadap infeksi yang lebih parah, berkepanjangan, atau rekuren [51]. Selain itu, pasien dengan penyakit kronis seperti asma atau penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) juga berisiko lebih tinggi terhadap komplikasi, termasuk pneumonia berat dan superinfeksi bakteri [52].
Diagnosis Laboratorium
Diagnosis laboratorium terhadap infeksi Mycoplasma pneumoniae merupakan tantangan klinis karena karakteristik biologis unik dari bakteri ini, termasuk ukurannya yang sangat kecil dan tidak adanya dinding sel. Karena kultur bakteri konvensional sangat sulit dan memakan waktu lama, metode molekuler kini menjadi pilihan utama untuk identifikasi cepat dan akurat. Pendekatan diagnostik yang optimal menggabungkan evaluasi klinis dengan strategi laboratorium berbasis teknologi modern, terutama PCR (reaksi rantai polimerase), yang telah menjadi standar emas dalam praktik saat ini [53].
Metode Berbasis Amplifikasi Asam Nukleat (NAATs)
Metode berbasis amplifikasi asam nukleat (NAATs), terutama PCR dalam waktu nyata (qPCR), merupakan metode diagnostik paling sensitif dan spesifik untuk mendeteksi Mycoplasma pneumoniae pada fase akut infeksi. Teknik ini memungkinkan deteksi langsung DNA bakteri dari berbagai spesimen respirasi, seperti swab nasofaring, aspirat trakeal, sputum, atau cairan lavase bronkoalveolar [54]. PCR menargetkan urutan genetik konservatif spesifik, seperti gen yang mengkodekan protein adhesin P1 atau region ribosomal RNA (rRNA), sehingga memastikan identifikasi yang akurat [55].
Keunggulan utama PCR dibandingkan metode lain adalah kecepatan, dengan hasil dapat diperoleh dalam 1–2 hari, serta sensitivitasnya yang tinggi bahkan ketika jumlah bakteri sangat rendah. Studi telah menunjukkan bahwa PCR lebih unggul dibandingkan kultur dan serologi, terutama pada fase awal infeksi ketika antibodi belum terdeteksi [56]. Tes komersial yang telah distandarisasi, seperti illumigene Mycoplasma Direct atau panel multiplex untuk infeksi pernapasan, memungkinkan strategi "tes dan perlakukan" secara dini, yang sangat penting selama wabah, seperti yang terjadi di Prancis pada 2023–2024 [57]. Menurut pedoman terbaru dari IDSA/ASM (2024), NAATs dianggap sebagai metode referensi untuk diagnosis infeksi pernapasan akibat M. pneumoniae karena keandalan dan kecepatannya [58].
Kultur Bakteri: Tantangan dan Keterbatasan
Kultur Mycoplasma pneumoniae di laboratorium merupakan proses yang sangat sulit dan jarang digunakan dalam diagnosis rutin karena berbagai tantangan teknis. Bakteri ini tidak memiliki dinding sel dan memiliki genom yang sangat kecil, sehingga bergantung pada banyak nutrisi eksogen yang harus disediakan dalam media kultur khusus. Media seperti agar PPLO (Pleuropneumonia-Like Organisms) atau media cair yang diperkaya dengan asam lemak, kolesterol, dan purin diperlukan untuk pertumbuhannya [59]. Meskipun demikian, pertumbuhannya sangat lambat, dengan waktu inkubasi yang bisa mencapai 7 hingga 21 hari atau bahkan lebih [60].
Koloninya sangat kecil dan granuler, sehingga identifikasi memerlukan tes fungsional seperti hemolisis, adsorpsi eritrosit (hemadsorpsi), atau reduksi senyawa tetrazolium [61]. Sensitivitas kultur terhadap kontaminan mikroba dan pertumbuhannya yang rapuh membuat proses ini sangat menantang dalam lingkungan laboratorium standar. Tingkat keberhasilan kultur bervariasi antara 40% hingga 90%, yang menunjukkan keterbatasannya sebagai metode diagnostik tunggal [62]. Oleh karena itu, kultur kini terutama digunakan di laboratorium rujukan untuk tujuan epidemiologis atau studi resistensi antibiotik, bukan untuk diagnosis klinis rutin [60].
Serologi: Peran dan Keterbatasan Interpretasi
Serologi, yang didasarkan pada deteksi antibodi spesifik (IgM, IgA, IgG) terhadap Mycoplasma pneumoniae, masih digunakan tetapi memiliki keterbatasan signifikan. Salah satu kelemahan utama adalah sensitivitas rendah pada fase awal infeksi, karena antibodi IgM mungkin belum terdeteksi dalam beberapa minggu pertama penyakit, yang dapat menyebabkan hasil negatif palsu [64]. Selain itu, interpretasi hasil serologi sangat sulit karena ketidakmampuan untuk membedakan antara infeksi baru dan infeksi lama. Antibodi IgG dapat bertahan lama setelah infeksi selesai, sehingga keberadaannya mungkin mencerminkan infeksi masa lalu daripada proses aktif [65].
Performa berbagai kit ELISA juga bervariasi, dengan risiko hasil positif atau negatif palsu yang tidak dapat diabaikan [64]. Oleh karena itu, serologi tidak lagi dianggap sebagai metode pilihan untuk diagnosis awal, terutama dalam pengelolaan klinis akut [67]. Serologi dapat berguna sebagai tes tambahan jika sampel pernapasan negatif tetapi kecurigaan klinis tetap tinggi, asalkan hasilnya diinterpretasikan dengan hati-hati dan dalam konteks klinis yang sesuai, terutama dengan membandingkan titer antibodi dari dua sampel berpasangan (akut dan masa pemulihan) [68].
Teknologi Diagnostik Cepat dan Alternatif
Untuk mendukung diagnosis di tempat perawatan (point-of-care), tes cepat berbasis imunokromatografi telah dikembangkan dan menunjukkan kinerja yang menjanjikan. Tes ini, yang terkadang menggunakan amplifikasi berbasis perak, dilaporkan memiliki sensitivitas 90–93% dan spesifisitas 100% dibandingkan dengan PCR [69]. Meskipun sensitivitasnya lebih rendah daripada PCR, tes-tes ini dapat sangat berguna dalam pengaturan rawat jalan atau pediatrik untuk diagnosis cepat di sisi tempat tidur pasien [70]. Teknologi molekuler cepat lainnya, seperti amplifikasi berbasis rekombinase (RAA), menawarkan sensitivitas dan spesifisitas yang sebanding dengan PCR waktu nyata, dengan waktu hasil yang lebih singkat, menjadikannya alternatif yang layak di fasilitas dengan sumber daya terbatas [70].
Rekomendasi dan Strategi Diagnostik Optimal
Strategi diagnostik yang optimal untuk infeksi Mycoplasma pneumoniae harus menggabungkan metode yang paling sensitif dan cepat dengan konteks klinis dan epidemiologis. Rekomendasi dari masyarakat ilmiah seperti IDSA/ASM 2024 dan CDC sangat menekankan penggunaan tes molekuler, terutama PCR dari sampel pernapasan, sebagai metode pilihan karena kinerjanya yang superior [72]. Di Prancis, meskipun tidak ada rekomendasi formal terbaru dari Haute Autorité de Santé (HAS), prinsip-prinsip praktik terbaik sejalan dengan standar internasional, dengan preferensi terhadap metode molekuler dalam kasus kecurigaan klinis tinggi atau adanya penyakit berat [20]. Integrasi metode-metode ini memungkinkan diagnosis yang akurat dan pengelolaan terapi yang efektif, terutama dalam konteks peningkatan resistensi terhadap makrolida [74].
Pengobatan dan Resistensi Antibiotik
Infeksi yang disebabkan oleh Mycoplasma pneumoniae, terutama pneumonia atipikal, memerlukan pendekatan pengobatan yang berbeda dari infeksi bakteri konvensional karena bakteri ini tidak memiliki dinding sel. Akibatnya, M. pneumoniae secara alami tahan terhadap antibiotik yang menargetkan sintesis dinding sel, seperti beta-laktam (contohnya penisilin dan sefalosporin), sehingga pengobatan harus menggunakan kelas antibiotik lain yang bekerja melalui mekanisme berbeda [75].
Antibiotik yang Digunakan dalam Pengobatan
Karena tidak adanya dinding sel, pengobatan infeksi M. pneumoniae bergantung pada antibiotik yang menargetkan proses internal bakteri, terutama sintesis protein. Tiga kelas antibiotik utama yang digunakan adalah makrolida, tetrasiklin, dan fluoroquinolon.
Makrolida: Terapi Lini Pertama
makrolida merupakan pilihan utama untuk pengobatan infeksi M. pneumoniae, terutama pada anak-anak dan remaja. Kelas antibiotik ini bekerja dengan menghambat sintesis protein bakteri melalui pengikatan pada subunit 50S ribosom [76]. Makrolida yang paling umum digunakan meliputi:
- Azitromisin: Sering diberikan dalam rejimen singkat (500 mg hari pertama, kemudian 250 mg per hari selama 4 hari). Makrolida ini dipilih karena toleransi yang baik dan keamanannya pada pasien muda [77].
- Klaritromisin: Digunakan dengan dosis 15 mg/kg/hari dalam dua dosis selama 5 hari pada anak-anak [77].
Makrolida efektif karena penetrasi jaringan yang baik, terutama di paru-paru, serta profil keamanan yang mendukung penggunaannya pada populasi rentan seperti anak-anak dan remaja [67].
Tetrasiklin: Alternatif untuk Resistensi dan Pasien Dewasa
tetrasiklin, khususnya doxycycline, merupakan alternatif penting, terutama pada pasien berusia di atas 8 tahun dan pada kasus resistensi makrolida. Doxycycline efektif terhadap strain M. pneumoniae yang resisten terhadap makrolida dan sering digunakan pada pasien dewasa [80]. Meskipun secara historis dihindari pada anak-anak karena risiko perubahan warna gigi, penggunaan doxycycline pada anak ≥8 tahun untuk durasi terbatas dianggap aman dan efektif, bahkan dalam konteks infeksi berat [81]. Efek samping lain yang perlu diperhatikan termasuk gangguan gastrointestinal dan fotosensitivitas [82].
Fluoroquinolon: Untuk Kasus Resistensi atau Kegagalan Terapi
fluoroquinolon seperti levofloxacine dan moxifloxacine digunakan sebagai terapi alternatif pada pasien dewasa ketika terjadi kegagalan terapi atau kontraindikasi terhadap makrolida dan tetrasiklin [83]. Kelas antibiotik ini bekerja dengan menghambat enzim DNA gyrase dan topoisomerase IV, yang penting untuk replikasi DNA bakteri. Meskipun efektif, penggunaannya pada anak-anak dan remaja sangat dibatasi karena risiko efek samping serius seperti toksisitas muskuloskeletal (tendinopati, ruptur tendon), neuropati perifer, dan gangguan neurologis [84]. Oleh karena itu, fluoroquinolon hanya digunakan pada kasus yang sangat dibutuhkan dan setelah evaluasi manfaat terhadap risiko [85].
Resistensi terhadap Makrolida: Tantangan Klinis yang Meningkat
Resistensi terhadap makrolida telah menjadi perhatian klinis yang semakin serius, terutama di wilayah Asia, di mana tingkat resistensi telah dilaporkan melebihi 90% dalam beberapa wabah [86]. Resistensi ini terutama disebabkan oleh mutasi titik pada gen 23S rRNA, khususnya pada posisi A2063G, A2064G, atau A2067G, yang mencegah pengikatan makrolida ke target ribosomnya [20]. Di Eropa, termasuk Prancis, kasus resistensi juga telah dilaporkan, terutama selama wabah 2023–2024 [88].
Meskipun tingkat resistensi menunjukkan fluktuasi, dengan beberapa laporan menyebutkan penurunan hingga 0% pada 2022–2023, dinamika epidemiologis ini menekankan pentingnya pengawasan berkelanjutan dan adaptasi lokal terhadap rekomendasi pengobatan [89]. Resistensi makrolida dapat menyebabkan kegagalan terapi, yang ditandai dengan tidak adanya perbaikan klinis setelah 48–72 jam pengobatan, terutama pada pasien dewasa dan remaja [6].
Strategi Pengobatan dan Rekomendasi Klinis
Pengobatan infeksi M. pneumoniae sering kali dimulai secara empiris, terutama dalam konteks wabah atau ketika kecurigaan klinis tinggi [91]. Rekomendasi dari organisasi seperti Haute Autorité de Santé (HAS) menekankan perlunya evaluasi klinis ulang setelah 72 jam untuk menilai respons terhadap terapi dan memodifikasi pengobatan jika diperlukan [6]. Dalam kasus kegagalan terapi, pengalihan ke alternatif seperti doxycycline atau fluoroquinolon sangat penting untuk menghindari komplikasi serius.
Selain terapi antibiotik, manajemen suportif juga merupakan komponen penting dari pengobatan, termasuk istirahat, hidrasi yang cukup, serta penggunaan obat simptomatik seperti antipiretik dan antitusif jika diperlukan [93]. Pengawasan resistensi melalui jaringan seperti VIGIMYC di Prancis membantu menginformasikan keputusan klinis dan mendukung pendekatan “One Health” yang mengintegrasikan data dari manusia, hewan, dan lingkungan [94].
Secara keseluruhan, pengobatan infeksi M. pneumoniae dimulai dengan makrolida sebagai lini pertama, tetapi harus disesuaikan berdasarkan usia pasien, keparahan penyakit, alergi, dan data lokal tentang resistensi. Kenaikan resistensi makrolida menuntut kewaspadaan klinis yang tinggi dan kesiapan untuk menggunakan alternatif seperti tetrasiklin atau fluoroquinolon, terutama pada pasien remaja dan dewasa [95].
Epidemiologi dan Penyebaran
Mycoplasma pneumoniae menunjukkan pola epidemiologi yang khas, ditandai dengan siklus wabah periodik dan penyebaran yang efisien di lingkungan komunal. Infeksi ini merupakan penyebab utama pneumonia komunitas, terutama pada anak usia sekolah, remaja, dan orang dewasa muda, serta sering terjadi dalam bentuk wabah di tempat-tempat dengan kontak dekat dan padat seperti sekolah dan kemiliteran [1]. Pemahaman yang mendalam tentang dinamika penyebaran dan faktor risiko sangat penting untuk pengendalian infeksi.
Pola Transmisi dan Mekanisme Penyebaran
Transmisi Mycoplasma pneumoniae terjadi secara eksklusif dari manusia ke manusia melalui droplet pernapasan yang dihasilkan saat orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara [97]. Droplet ini dapat dihirup oleh orang-orang di dekatnya, menjadikan kontak dekat dan berkepanjangan sebagai faktor kunci dalam penyebaran. Karena tidak memiliki dinding sel, bakteri ini rentan terhadap kondisi luar, namun dapat bertahan cukup lama di udara, terutama dalam kondisi kelembapan yang sangat rendah atau sangat tinggi, yang mendukung penyebarannya di ruang tertutup [98].
Periode inkubasi yang panjang, berkisar antara 1 hingga 4 minggu, memperumit pengendalian wabah [88]. Selama periode ini, individu dapat menularkan bakteri bahkan sebelum mereka menunjukkan gejala, memungkinkan terjadinya penyebaran yang "diam-diam" dan sulit dilacak. Selain itu, fenomena pembawa asimptomatik dapat berlangsung selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan setelah infeksi, yang berkontribusi lebih lanjut terhadap kontinuitas penularan dalam populasi [49].
Siklus Epidemiologi dan Wabah
Infeksi oleh Mycoplasma pneumoniae menunjukkan siklus epidemiologi yang teratur, dengan wabah besar terjadi setiap 3 hingga 7 tahun [5]. Siklus ini didorong oleh akumulasi individu rentan dalam populasi, karena kekebalan setelah infeksi tidak bertahan lama dan tidak melindungi secara permanen terhadap infeksi ulang [102]. Ketika jumlah orang rentan cukup tinggi, bakteri dapat menyebar secara luas, menyebabkan puncak insiden yang signifikan.
Sebuah wabah global yang tidak biasa telah diamati sejak akhir 2023, yang melampaui pola musiman yang biasa. Di Eropa, negara-negara seperti Prancis dan Jerman melaporkan peningkatan tajam dalam kasus, terutama di antara anak-anak dan remaja [103]. Di Prancis, Santé publique France mengonfirmasi peningkatan luar biasa dalam infeksi sejak musim gugur 2023, yang diduga terkait dengan penurunan kekebalan kolektif akibat pembatasan sosial selama pandemi COVID-19 dan kemudian dilanjutkan dengan interaksi sosial yang intens [104]. Peningkatan serupa juga dilaporkan di Quebec, Kanada, menunjukkan tren global yang konsisten [105].
Kerentanan Populasi dan Lingkungan
Beberapa kelompok populasi dan lingkungan menunjukkan kerentanan yang sangat tinggi terhadap wabah Mycoplasma pneumoniae:
- Anak-anak dan Remaja: Wabah paling sering terjadi pada anak-anak usia sekolah (5-14 tahun) dan remaja. Di Prancis, kelompok usia ini merupakan yang paling terdampak selama wabah 2023-2024 [106].
- Lingkungan Komunal Tertutup: Tempat-tempat dengan kepadatan penduduk tinggi dan kontak fisik dekat adalah tempat berkembang biak bagi penyebaran bakteri. sekolah adalah lokasi utama untuk wabah, diikuti oleh kemiliteran (karena kondisi asrama), pusat perawatan jangka panjang, dan fasilitas penampungan [97]. Kondisi seperti ventilasi yang buruk dan kepadatan ruang mempercepat transmisi melalui droplet [108].
- Individu dengan Kondisi Kesehatan Kronis: Pasien dengan penyakit kronis seperti BPCO atau asma berisiko lebih tinggi mengalami bentuk infeksi yang lebih parah [52].
Surveilans dan Pengendalian
Karena tidak adanya vaksin untuk mencegah infeksi, strategi pengendalian bergantung pada surveilans yang kuat dan tindakan pencegahan non-farmakologis. Di Prancis, peningkatan kasus telah mendorong penguatan sistem surveilans, termasuk peluncuran Observatoire national ORIGAMI untuk memantau kasus secara real-time, terutama pada orang dewasa yang dirawat di rumah sakit [102]. Organisasi kesehatan masyarakat seperti CDC di Amerika Serikat dan Santé publique France memainkan peran penting dalam mendeteksi dan merespons wabah.
Strategi pencegahan utama meliputi:
- Gestur Barrier: Mendorong kebersihan tangan yang rutin, menutup mulut saat batuk atau bersin, dan penggunaan masker di tempat umum yang ramai, terutama selama wabah [111].
- Ventilasi: Meningkatkan ventilasi di ruang dalam ruangan, seperti kelas dan kantor, untuk mengurangi konsentrasi droplet infeksius [112].
- Isolasi Kasus: Merekomendasikan individu yang sakit untuk menghindari kontak sosial sampai mereka pulih untuk memutus rantai penularan [113].
- Sensitivitas dan Pendidikan: Meningkatkan kesadaran di antara tenaga pendidik, petugas kesehatan, dan masyarakat umum tentang gejala dan cara pencegahan.
Respon Imun dan Autoimunitas
Infeksi oleh Mycoplasma pneumoniae memicu respons imun yang kompleks, melibatkan baik sistem imun bawaan (innate) maupun adaptif. Namun, respons ini tidak selalu mengarah pada pembersihan patogen secara efisien; sebaliknya, respons imun yang berlebihan atau tidak tepat dapat berkontribusi pada kerusakan jaringan dan memicu komplikasi autoimun. Interaksi antara patogen dan sistem imun inang menjadi kunci dalam memahami patogenesis dan manifestasi klinis yang luas dari infeksi ini.
Pengenalan oleh Sistem Imun Bawaan dan Inflamasi Awal
Sistem imun bawaan merupakan garis pertahanan pertama terhadap M. pneumoniae. Pengenalan patogen ini terutama terjadi melalui reseptor pengenal pola (PRR) yang dikenal sebagai reseptor Toll-like (TLR), yang diekspresikan pada sel-sel epitel pernapasan, makrofag alveolar, dan sel dendritik. Lipoprotein triasilasi dari M. pneumoniae diidentifikasi sebagai PAMP (Pathogen-Associated Molecular Patterns) utama yang diikat oleh heterodimer TLR2 dan TLR1 di permukaan sel imun [27]. Interaksi ini mengaktifkan jalur sinyal yang bergantung pada adaptor MyD88, yang kemudian memicu translokasi faktor transkripsi NF-κB ke dalam nukleus [27]. Aktivasi NF-κB mengarah pada transkripsi gen-gen yang mengkode sitokin proinflamasi seperti TNF-α, IL-1β, dan IL-6, yang menyebabkan demam, aktivasi sel imun, dan peradangan lokal di saluran pernapasan [116]. Selain itu, produksi IL-8 (CXCL8) menarik neutrofil ke situs infeksi untuk membantu dalam fagositosis [28]. Menariknya, meskipun TLR2 sangat penting, beberapa bukti menunjukkan bahwa M. pneumoniae dapat menghindari respons inflamasi penuh, dan reseptor seperti TLR10 mungkin berperan sebagai regulator negatif untuk menekan produksi sitokin, yang dapat membantu patogen dalam mempertahankan infeksi yang lebih persisten [118].
Respons Imun Adaptif: Pembersihan Patogen dan Potensi Kerusakan Jaringan
Respons imun adaptif, yang melibatkan diferensiasi limfosit T dan produksi antibodi, berperan ganda dalam infeksi M. pneumoniae. Di satu sisi, respons ini penting untuk mengatasi infeksi, tetapi di sisi lain, ia juga dapat berkontribusi pada patologi. Diferensiasi sel T helper (Th) menjadi subset Th1 dan Th17 sangat penting. Sel Th1 memproduksi IFN-γ, yang mengaktifkan makrofag untuk membunuh bakteri intraseluler, sementara sel Th17 memproduksi IL-17 yang menarik neutrofil, memperkuat pertahanan awal [119]. Namun, respons yang terlalu kuat dari subset ini dikaitkan dengan tingkat keparahan pneumonia, menunjukkan bahwa peradangan yang berlebihan dapat merusak jaringan paru-paru [120]. Selain itu, ekspansi klonal dari limfosit T, termasuk populasi ganda positif CD4+CD8+, telah diamati dalam kasus-kasus dengan manifestasi ekstrapulmoner yang parah, mengindikasikan aktivasi T-sel yang intens dan berpotensi auto-reaktif [121]. Respons humoral, yang melibatkan produksi antibodi IgM, IgG, dan IgA oleh limfosit B, berkontribusi pada netralisasi dan opsonisasi patogen [49]. Namun, produksi antibodi ini juga dapat menjadi bumerang, karena dapat menyebabkan komplikasi autoimun.
Strategi Pelarian Imun dan Peradangan Kronis
M. pneumoniae telah mengembangkan berbagai strategi untuk lolos dari sistem kekebalan inang, yang memungkinkan keberadaannya yang berkepanjangan dan memicu peradangan kronis. Ciri paling mendasar, yaitu tidak adanya dinding sel, tidak hanya membuatnya tahan terhadap beta-laktam tetapi juga mengurangi pengenalannya oleh reseptor imun yang mengandalkan komponen dinding sel [75]. Patogen ini juga dapat bertahan hidup di dalam sel epitel pernapasan dan makrofag, melindunginya dari antibodi dan sel efektor imun, yang memfasilitasi portage asimtomatik dan infeksi laten [20]. Selain itu, patogen ini memproduksi toksin CARDS (Community-Acquired Respiratory Distress Syndrome toxin), yang menyebabkan kerusakan langsung pada epitel, mengganggu klirens mukosiliar, dan memperburuk peradangan [68]. Interaksi dengan reseptor seluler seperti NOD2 juga dapat memodulasi respons makrofag, berpotensi menciptakan keseimbangan yang menguntungkan bagi patogen [126]. Kombinasi dari pelarian imun, peradangan yang berkepanjangan, dan aktivasi berkelanjutan dari inflamasom NLRP3 dapat menyebabkan remodelling saluran napas dan berkontribusi pada kondisi kronis seperti asma dan bronkitis kronis [127].
Manifestasi Autoimun: Dari Mimikri Molekuler hingga Penyakit Sistemik
Respons imun yang tidak tepat terhadap M. pneumoniae dapat menyebabkan berbagai manifestasi autoimun, baik pada sistem pernapasan maupun ekstrapulmoner. Mekanisme utama yang mendasari fenomena ini adalah mimikri molekuler, di mana antigen dari bakteri memiliki struktur yang mirip dengan antigen jaringan inang, sehingga menyebabkan antibodi atau sel T yang ditujukan untuk patogen menyerang jaringan sendiri [128]. Salah satu komplikasi hematologis yang paling dikenal adalah anemia hemolitik autoimun yang disebabkan oleh aglutinin dingin, di mana antibodi IgM yang diproduksi selama infeksi mengikat antigen I pada eritrosit pada suhu dingin, menyebabkan hemolisis [60]. Bukti klinis yang kuat mendukung hubungan ini, termasuk studi observasional seperti MyCOLD Study di Prancis [130]. Manifestasi neurologis yang serius seperti encephalitis, meningitis, dan sindrom Guillain-Barré juga sering dikaitkan dengan infeksi ini, kemungkinan besar melalui mekanisme autoimun pasca-infeksi [42]. Selain itu, infeksi ini telah dikaitkan dengan peningkatan risiko jangka panjang terhadap penyakit autoimun sistemik seperti lupus eritematosus sistemik (LES), dengan studi kohort menunjukkan rasio hazard yang signifikan setelah infeksi parah [132]. Manifestasi dermatologis seperti eritema multiformis dan sindrom Stevens-Johnson, serta komplikasi kardiovaskular seperti miokarditis dan perikarditis, lebih lanjut menegaskan peran sistemik dari respons imun yang tidak terkendali ini [40].
Strategi Pencegahan dan Pengendalian
Dalam absensi vaksin untuk Mycoplasma pneumoniae, strategi pencegahan dan pengendalian terutama berfokus pada pengendalian penyebaran melalui tetesan pernapasan, terutama di lingkungan dengan kepadatan tinggi seperti sekolah dan kemiliteran. Transmisi terjadi melalui droplet pernapasan saat batuk, bersin, atau berbicara, dan individu dapat tetap menular selama beberapa minggu, bahkan sebelum gejala muncul atau setelah infeksi tampaknya sembuh [97]. Faktor-faktor lingkungan seperti kepadatan populasi dan ventilasi yang buruk memperburuk risiko penyebaran di ruang tertutup [135].
Gaya Hidup Sehat dan Tindakan Pencegahan Non-Farmakologis
Pencegahan penyebaran M. pneumoniae sangat bergantung pada tindakan pencegahan non-farmakologis yang sederhana namun efektif. Gestes barrières merupakan pilar utama dalam menghambat transmisi. Ini mencakup menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin menggunakan tisu atau siku, serta mencuci tangan secara rutin dengan sabun atau cairan berbasis alkohol untuk mengurangi kontaminasi melalui permukaan yang terkontaminasi [136]. Di lingkungan komunal, penggunaan masker wajah seperti masker bedah atau FFP2 sangat direkomendasikan, terutama di ruang tertutup atau saat kerumunan, karena dapat secara efektif mengurangi penyebaran tetesan pernapasan [137]. Kebersihan lingkungan juga penting, termasuk jadwal pembersihan rutin untuk permukaan yang sering disentuh seperti gagang pintu, meja, dan kamar kecil [138].
Ventilasi dan Kualitas Udara
Ventilasi ruangan memainkan peran krusial dalam mengurangi konsentrasi partikel infeksius di udara dalam ruangan. Aerasi rutin ruangan (minimal 10 menit setiap jam) atau penggunaan sistem ventilasi mekanik yang efisien (seperti sistem CVC) sangat penting untuk memperbarui udara dan membatasi transmisi potensial [112]. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan untuk memaksimalkan aliran udara segar dari luar dan mempertimbangkan penggunaan filter HEPA di ruang dengan risiko tinggi [140]. Peningkatan ventilasi sangat penting di lingkungan seperti kelas, asrama, dan fasilitas perawatan jangka panjang, di mana kontak dekat dan berkepanjangan sangat umum [104].
Pengelolaan Kasus dan Pelacakan Kontak
Pengendalian wabah juga bergantung pada pengelolaan kasus yang cepat dan efektif. Isolasi dini individu yang bergejala sangat penting karena mereka dapat menularkan infeksi selama beberapa minggu [113]. Disarankan untuk membatasi kontak sosial hingga setidaknya 24 jam setelah demam hilang dan kondisi klinis stabil. Pelacakan kontak cepat terhadap orang-orang yang memiliki kontak dekat (dalam jarak kurang dari 2 meter selama periode yang lama) memungkinkan pemantauan gejala dan pencegahan penyebaran lebih lanjut di komunitas [143]. Dalam kasus wabah yang dikonfirmasi di sekolah atau asrama, intervensi yang lebih ketat dapat diterapkan, termasuk komunikasi dengan keluarga, penangguhan sementara kegiatan kelompok, atau skrining terfokus [144].
Surveilans Epidemiologis dan Sistem Peringatan Dini
Surveilans epidemiologis merupakan komponen penting dalam mendeteksi dan merespons wabah. Di Prancis, misalnya, peningkatan signifikan kasus pada akhir 2023 memicu peningkatan pemantauan oleh Santé publique France dan peluncuran Observatorium Nasional ORIGAMI pada 2024 untuk melacak kasus secara real-time, terutama di antara anak-anak dan orang dewasa yang dirawat di rumah sakit [102]. Sistem seperti jaringan Sentinelles memantau sindrom influenza dan infeksi pernapasan akut (IRA) sebagai indikator awal peningkatan aktivitas patogen pernapasan, termasuk M. pneumoniae [146]. Di Amerika Serikat, meskipun tidak ada sistem surveilans khusus, data dari CDC dan studi lapangan membantu mengidentifikasi tren peningkatan infeksi [147]. Studi seroprevalensi juga berperan dalam memahami tingkat paparan masa lalu dan imunitas kolektif dalam populasi, meskipun interpretasinya harus hati-hati karena keterbatasan sensitivitas dan spesifisitas tes serologis [148].
Pendidikan dan Sensitivasi
Pendidikan dan sensitivasi merupakan kunci untuk memastikan kepatuhan terhadap tindakan pencegahan. Pelatihan bagi staf pendidik, tenaga kesehatan, dan profesional perawatan sosial tentang pengenalan dini gejala (batuk persisten, demam ringan, kelelahan) dan tindakan pencegahan sangat penting [149]. Kampanye kesadaran dapat meningkatkan kepatuhan terhadap etika pernapasan dan kebersihan tangan, terutama di kalangan anak-anak dan remaja. Di Quebec, misalnya, panduan telah diterbitkan untuk membantu sekolah dan pusat penitipan anak dalam mengembangkan rencana intervensi untuk mengendalikan penyebaran penyakit menular [150]. Pendekatan terpadu yang menggabungkan surveilans, pencegahan non-farmakologis, dan edukasi komunitas merupakan strategi paling efektif untuk membatasi dampak infeksi pernapasan ini di komunitas.