Oxygénothérapie adalah perawatan medis yang melibatkan pemberian oksigen pada konsentrasi lebih tinggi daripada udara biasa (21%) untuk mengatasi atau mencegah hipoksemia, yaitu kadar oksigen rendah dalam darah arteri [1]. Tujuan utama terapi ini adalah meningkatkan oksigenasi jaringan dan organ vital, terutama pada pasien dengan insufisiensi pernapasan akut atau kronis [2]. Oksigen dapat diberikan melalui berbagai metode, seperti kanula nasal, kacamata hidung, masker wajah, atau melalui intubasi di rumah sakit [3]. Terdapat dua bentuk utama: oksigen pada tekanan atmosfer (konvensional) dan oksigen hiperbarik, yang diberikan dalam ruang bertekanan tinggi untuk mengatasi kondisi seperti kecelakaan menyelam atau intoksikasi karbon monoksida [4]. Indikasi utama mencakup penyakit kronis seperti BPOK, fibrosis paru, dan mukovisisis, serta kondisi akut seperti pneumonia atau emboli paru [5]. Di rumah, perawatan ini sering menggunakan konsentrator oksigen atau tabung oksigen, sementara di rumah sakit dapat menggunakan sistem canggih seperti oksigen aliran tinggi [6]. Meskipun memberi manfaat besar, oksigen juga memiliki risiko, termasuk hiperkapnia pada pasien BPOK dan potensi kebakaran karena sifatnya yang mudah terbakar [7]. Oleh karena itu, penggunaan oksigen harus diawasi ketat oleh tenaga medis, seperti dokter dan perawat, dengan mengikuti protokol dari lembaga seperti HAS dan SPLF [8], serta mematuhi standar keamanan dari ANSM [9].

Definisi dan Indikasi Klinis

Oxygénothérapie adalah perawatan medis yang melibatkan pemberian oksigen pada konsentrasi lebih tinggi daripada udara biasa (21%) untuk mengatasi atau mencegah hipoksemia, yaitu kadar oksigen rendah dalam darah arteri [1]. Tujuan utama terapi ini adalah meningkatkan oksigenasi jaringan dan organ vital, terutama pada pasien dengan insufisiensi pernapasan akut atau kronis [2]. Terapi ini dapat diberikan melalui berbagai metode, seperti kanula nasal, kacamata hidung, masker wajah, atau melalui intubasi di rumah sakit [3]. Terdapat dua bentuk utama: oksigen pada tekanan atmosfer (konvensional) dan oksigen hiperbarik, yang diberikan dalam ruang bertekanan tinggi untuk mengatasi kondisi seperti kecelakaan menyelam atau intoksikasi karbon monoksida [4].

Indikasi Umum

Oxygénothérapie umumnya diresepkan pada kasus insufisiensi pernapasan, baik akut maupun kronis, yang ditandai dengan penurunan tekanan parsial oksigen dalam darah (PaO₂) atau saturasi oksigen (SpO₂) yang tidak mencukupi [5]. Indikasi terapi ini muncul ketika saturasi oksigen turun di bawah 90-92% dalam udara biasa, atau ketika PaO₂ berada di bawah atau sama dengan 55 mmHg [15]. Preskripsi harus didasarkan pada evaluasi klinis dan konfirmasi melalui gazometri arteri atau oksimetri nadi, serta dilakukan oleh dokter setelah mempertimbangkan kondisi pasien secara menyeluruh [2].

Penyakit Pernapasan Kronis

Beberapa penyakit pernapasan kronis utama yang memerlukan oxygénothérapie jangka panjang antara lain:

  • BPOK: Terutama pada stadium berat dengan insufisiensi pernapasan kronis. Oxygénothérapie jangka panjang, sering diberikan lebih dari 15 jam per hari, telah terbukti meningkatkan kelangsungan hidup pasien [17].
  • fibrosis paru dan penyakit paru interstisial lainnya.
  • mukovisisis.
  • Penyakit neuromuskular tertentu yang memengaruhi pernapasan, seperti sklerosis lateral amiotrofik (ALS) [5].

Indikasi Klinis Lainnya

Oxygénothérapie juga dapat diresepkan untuk kondisi lain, seperti:

  • Apnea tidur berat dengan hipoksemia.
  • Pneumopati akut, misalnya pneumonia atau emboli paru.
  • insufisiensi jantung berat dengan gangguan oksigenasi.
  • intoksikasi karbon monoksida, di mana oksigen murni membantu menghilangkan karbon monoksida dari darah lebih cepat [19].

Oxygénothérapie Hiperbarik

Oxygénothérapie hiperbarik digunakan untuk indikasi khusus, termasuk:

  • Kecelakaan dekompresi (penyakit menyelam).
  • Luka kronis yang sulit sembuh, seperti ulkus kaki diabetik atau nekrosis.
  • Infeksi jaringan berat, misalnya gangren.
  • kistitis radiasi [20].
  • Luka bedah atau traumatik akut [21].

Terapi ini diberikan dalam kamar bertekanan tinggi, yang memungkinkan saturasi darah dan jaringan dengan oksigen secara berlebihan, sehingga mendorong regenerasi seluler dan melawan infeksi [22].

Penyesuaian Target Saturasi

Panduan terkini menekankan pentingnya menyesuaikan target saturasi berdasarkan kondisi pasien. Untuk pasien berisiko hiperkapnia, seperti mereka yang menderita BPOK, target saturasi direkomendasikan antara 88% hingga 92%. Sedangkan untuk pasien lainnya, target saturasi harus lebih tinggi dari 94% [7]. Penyesuaian ini penting untuk memaksimalkan manfaat terapi sambil meminimalkan risiko komplikasi, terutama pada pasien dengan gangguan pernapasan kronis.

Metode dan Perangkat Administrasi

Oxygénothérapie dapat diberikan melalui berbagai metode dan perangkat yang dipilih berdasarkan tingkat keparahan kondisi, konteks klinis (rumah sakit, rumah, atau darurat), dan kebutuhan spesifik pasien. Pemilihan perangkat ini bertujuan untuk mengantarkan oksigen medis pada aliran dan konsentrasi yang sesuai untuk mengatasi hipoksemia secara efektif dan aman [3].

Perangkat Administrasi Oksigen

1. Kanula dan Kacamata Nasal

kanula nasal adalah tabung fleksibel yang dimasukkan ke dalam lubang hidung, digunakan untuk memberikan oksigen pada aliran rendah (biasanya 1 hingga 6 liter per menit). Perangkat ini nyaman, tidak invasif, dan banyak digunakan untuk pasien yang membutuhkan terapi jangka panjang atau di rumah [3].
kanula nasal aliran tinggi seperti model i-Flo dari Intersurgical mampu mengantarkan aliran oksigen yang dihangatkan dan dilembapkan pada aliran yang lebih tinggi. Metode ini meningkatkan oksigenasi dan mengurangi usaha pernapasan, terutama pada pasien dengan distres pernapasan akut [26]. Kanula jenis ini sering digunakan dalam pengaturan perawatan intensif.

2. Masker Oksigen

Beberapa jenis masker oksigen tersedia, masing-masing dengan tujuan klinis yang berbeda:

  • masker sederhana, terbuat dari plastik transparan, menutupi hidung dan mulut. Masker ini memberikan konsentrasi oksigen sedang (24 hingga 60%) tergantung pada alirannya [27].
  • masker konsentrasi tinggi, dilengkapi dengan kantung fleksibel yang menyimpan oksigen murni, memungkinkan pencapaian konsentrasi lebih dari 60%, bahkan hingga 90% [27].
  • masker Venturi memungkinkan pengaturan konsentrasi oksigen (FiO₂) secara akurat melalui nosel berwarna yang dikalibrasi. Masker ini digunakan ketika konsentrasi harus dikontrol secara ketat, misalnya pada pasien BPOK yang berisiko mengalami retensi CO₂ [29].

3. Oksigen Aliran Tinggi (OHD)

oksigen aliran tinggi menggunakan sistem khusus untuk mengantarkan aliran oksigen yang dilembapkan dan dihangatkan pada aliran tinggi (hingga 60 L/menit), biasanya melalui kanula nasal besar. Perangkat ini sangat efektif pada pasien pasca-ekstubasi atau dengan insufisiensi pernapasan akut [30]. OHD meningkatkan toleransi terhadap terapi dan mengurangi risiko ekstubasi [31]. Sistem ini, seperti Optiflow, memberikan efek tekanan positif ekspirasi (PEP) dan mencuci ruang mati nasofaring, sehingga meningkatkan efisiensi pertukaran gas [32].

Sumber Produksi dan Penyimpanan Oksigen

1. Konsentrator Oksigen

konsentrator oksigen, baik yang tetap maupun portabel, mengekstraksi oksigen dari udara ambien melalui filtrasi (teknologi PSA). Perangkat ini merupakan pilihan umum untuk terapi jangka panjang di rumah [6]. Model portabel seperti Zen-O lite dari GCE Medical atau OxyGo Next memberikan mobilitas tinggi, dengan baterai isi ulang dan masa pakai hingga 13 jam [34], [35]. Konsentrator stasioner dapat menghasilkan aliran hingga 10-15 L/menit, cocok untuk pasien dengan kebutuhan oksigen tinggi [36].

2. Tabung Oksigen

tabung oksigen, bertekanan tinggi (sekitar 200 bar), digunakan dalam keadaan darurat, untuk perjalanan, atau sebagai cadangan. Tabung tersedia dalam berbagai ukuran (portabel atau stasioner) dan dilengkapi dengan regulator dan flowmeter untuk penggunaan yang aman [37]. Beberapa, seperti tabung Intelli-OX™ dari Air Liquide, memiliki pengukur digital yang menunjukkan waktu yang tersisa [38]. Tabung oksigen dapat berisi oksigen gas atau cair, yang menawarkan kapasitas penyimpanan besar untuk penggunaan jangka panjang [39].

Perangkat Inovatif dan Otomatis

1. Sistem Otomatis

Teknologi baru meningkatkan keakuratan dan keamanan. Perangkat FreeO2 dari Oxynov secara otomatis menyesuaikan aliran oksigen berdasarkan saturasi yang diukur oleh sensor di jari (sistem loop tertutup). Ini mengoptimalkan titrasi oksigen dan dapat mengurangi durasi rawat inap [40], [41]. Perangkat oksigen aliran tinggi modern sering dilengkapi dengan sistem humidifikasi dan pemanasan aktif, meningkatkan kenyamanan pasien [42].

2. Perangkat Portabel Cerdas

konsentrator oksigen portabel yang cerdas dilengkapi dengan sensor untuk memantau konsentrasi oksigen, suhu, dan tekanan. Jika terjadi kegagalan (konsentrasi di bawah 82%, terlalu panas, atau kehabisan daya), alarm suara dan visual akan diaktifkan [43]. Beberapa model, seperti Zen-O, bahkan memiliki konektivitas untuk télésurveillance dan manajemen perawatan jarak jauh [44]. Model seperti Rove 4 dari Inogen, dengan berat kurang dari 1,4 kg, mewakili tren menuju perangkat yang lebih ringan, lebih kuat, dan lebih terhubung [45].

Kamar Hiperbarik

Dalam kasus khusus seperti intoksikasi karbon monoksida atau luka kronis yang sulit sembuh, oksigen hiperbarik digunakan. Pasien menghirup oksigen murni di dalam kamar bertekanan tinggi, yang secara dramatis meningkatkan jumlah oksigen yang terlarut dalam darah [46]. Ada dua jenis kamar: monoplace (untuk satu pasien) dan multipelace (untuk beberapa pasien dan staf medis). Karena risiko kebakaran yang tinggi, kamar multipelace yang dipressurisasi dengan udara dan oksigen yang diberikan melalui masker adalah standar di Eropa [47].

Pemilihan perangkat administrasi bergantung pada konteks klinis, tingkat oksigenasi yang dibutuhkan, mobilitas pasien, dan durasi terapi. Semua perangkat ini diatur oleh norma keselamatan yang ketat, terutama di Prancis oleh ANSM [9].

Oksigen di Rumah dan di Rumah Sakit

Oksigen dapat diberikan dalam dua lingkungan utama: di rumah sakit untuk kondisi akut dan kritis, serta di rumah bagi pasien dengan kondisi kronis yang stabil. Perbedaan utama terletak pada tujuan, jenis perangkat yang digunakan, tingkat pengawasan, dan mobilitas pasien. Di rumah sakit, terapi ini bersifat intensif dan berfokus pada stabilisasi segera, sementara di rumah, tujuannya adalah menjaga kualitas hidup dan memungkinkan pasien tetap mandiri. Dalam kedua lingkungan, oksigen diberikan melalui berbagai perangkat seperti kanula nasal, kacamata hidung, atau masker wajah, yang dipilih berdasarkan kebutuhan klinis pasien [3].

Administrasi di Rumah Sakit

Di rumah sakit, oksigen diberikan terutama untuk mengatasi insufisiensi pernapasan akut atau kronis dalam konteks pengawasan medis yang ketat. Penggunaannya dikendalikan oleh dokter dan dilaksanakan oleh perawat atau inhaloterapis. Perangkat yang digunakan bervariasi sesuai tingkat keparahan kondisi pasien. Untuk pasien dengan kebutuhan oksigen sedang, kacamata hidung atau kanula nasal biasanya digunakan dengan aliran antara 1 hingga 6 liter per menit. Dalam kasus hipoksemia berat, masker wajah dengan konsentrasi tinggi atau masker Venturi digunakan untuk memberikan konsentrasi oksigen yang lebih tinggi secara akurat, terutama pada pasien BPOK yang berisiko mengalami hiperkapnia [3].

Untuk pasien kritis, seperti mereka yang baru saja dilepas dari ventilator atau mengalami gagal napas akut, oksigen aliran tinggi (HFNC) digunakan. Sistem ini memberikan oksigen yang dipanaskan dan dilembapkan dengan aliran hingga 60 L/menit, meningkatkan kenyamanan dan efisiensi oksigenasi. Perangkat ini sangat efektif dalam mengurangi risiko intubasi ulang [51]. Pengawasan terus-menerus terhadap frekuensi pernapasan, saturasi oksigen (SpO₂), dan parameter gas darah arteri sangat penting untuk menyesuaikan FiO₂ secara akurat dan mencegah komplikasi seperti hiperoxia atau retensi CO₂ [52].

Administrasi di Rumah

Oksigen di rumah ditujukan terutama untuk pasien dengan insufisiensi pernapasan kronis, seperti pada stadium lanjut BPOK atau fibrosis paru, yang membutuhkan terapi jangka panjang. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas hidup, fungsi jantung, dan kelangsungan hidup pasien. Penggunaan oksigen di rumah harus diresepkan oleh dokter setelah evaluasi pulmonologis menyeluruh dan dikendalikan oleh penyedia layanan kesehatan khusus, seperti apotek atau perusahaan oksigen medis [15].

Perangkat utama yang digunakan di rumah adalah konsentrator oksigen stasioner, yang mengambil oksigen dari udara ambien dan menyediakannya secara terus-menerus. Alat ini biasanya digunakan selama istirahat atau tidur. Untuk mobilitas, konsentrator oksigen portabel yang ringan dan dapat diisi ulang baterainya memungkinkan pasien untuk bergerak bebas, bahkan saat bepergian [54]. Selain itu, tabung oksigen gas atau cair digunakan sebagai suplemen atau untuk perjalanan jauh. Oksigen cair, yang disimpan dalam tangki kriogenik, menawarkan kapasitas penyimpanan besar untuk penggunaan jangka panjang [39]. Pasien dan keluarganya dilatih untuk menggunakan peralatan ini dengan aman, termasuk pencegahan risiko kebakaran dan pengenalan tanda-tanda memburuknya kondisi [56].

Perbedaan Kunci dan Koordinasi Perawatan

Perbedaan utama antara pemberian oksigen di rumah sakit dan di rumah mencakup tujuan, pengawasan, perangkat, dan mobilitas. Di rumah sakit, tujuannya adalah stabilisasi akut, dengan pengawasan medis terus-menerus, menggunakan perangkat seperti masker Venturi atau oksigen aliran tinggi, dan mobilitas terbatas. Di rumah, tujuannya adalah perawatan kronis dan pemeliharaan di rumah, dengan pengawasan berkala oleh perawat mandiri atau télémonitoring, menggunakan konsentrator oksigen atau tabung oksigen, serta mobilitas yang lebih besar berkat perangkat portabel [57]. Koordinasi antara dokter yang meresepkan, penyedia peralatan medis, dan keluarga sangat penting untuk memastikan kelangsungan dan kualitas perawatan. Peran perawat sangat sentral dalam pelatihan, pemantauan, dan pelaporan kembali kepada tim medis untuk penyesuaian perawatan yang tepat [58].

Oksigen Hiperbarik dan Aplikasinya

Oksigen hiperbarik adalah bentuk terapi medis khusus di mana pasien menghirup oksigen murni (100%) dalam lingkungan bertekanan tinggi, melebihi tekanan atmosfer normal (1 atmosfer absolut atau ATA). Terapi ini dilakukan di dalam ruang tertutup yang disebut caisson atau kamar hiperbarik, yang memungkinkan tekanan udara ditingkatkan hingga 2,5 hingga 3 ATA tergantung pada indikasi klinis [59]. Dengan meningkatkan tekanan sekitar, konsentrasi oksigen yang terlarut dalam darah meningkat secara signifikan, mencapai tingkat saturasi yang tidak mungkin dicapai pada tekanan atmosfer biasa. Fenomena ini dikenal sebagai hiperoksigenasi jaringan, yang memperbaiki hipoksia seluler, merangsang penyembuhan jaringan, mengurangi edema, dan memiliki efek antibakteri, terutama terhadap mikroorganisme anaerob [60]. Oksigen hiperbarik merupakan terapi yang sangat spesifik dan hanya digunakan dalam kondisi medis tertentu yang telah terbukti secara ilmiah memberikan manfaat klinis.

Indikasi Klinis dan Justifikasi Medis

Oksigen hiperbarik memiliki sejumlah indikasi medis yang valid dan diakui oleh otoritas kesehatan seperti HAS dan AETMIS. Indikasi ini dibagi ke dalam beberapa kategori utama berdasarkan etiologi dan mekanisme penyakit.

Pertama, dalam kasus keracunan akut, oksigen hiperbarik merupakan terapi standar. Untuk intoksikasi karbon monoksida, terapi ini secara dramatis memperpendek waktu paruh karboksihemoglobin dan mencegah terjadinya komplikasi neurologis jangka panjang [61]. Demikian pula, dalam keracunan sianida, terutama jika terjadi bersamaan dengan keracunan CO, oksigen hiperbarik memiliki efek sinergis dalam detoksifikasi seluler. Kedua, untuk kondisi vaskular dan jaringan, terapi ini digunakan pada emboli gas (baik emboli iatrogenik maupun pasca-operasi), kecelakaan menyelam atau penyakit dekompresi, yang merupakan indikasi utama. Dalam kasus ini, oksigen hiperbarik membantu mengurangi ukuran gelembung nitrogen dalam jaringan dan darah [61]. Terapi ini juga efektif untuk iskemia akut, misalnya setelah transplantasi atau cangkok kulit yang terganggu, serta untuk luka kronis yang hipovaskular seperti ulkus kaki diabetik, luka pasca-radiasi (osteonekrosis radiasi), dan luka iskemik yang resisten terhadap pengobatan. Dalam konteks ini, oksigen hiperbarik merangsang angiogenesis dan proses penyembuhan [63].

Ketiga, oksigen hiperbarik digunakan untuk infeksi jaringan berat, terutama infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme anaerob seperti gangren gas dan fasia nekrotikan. Infeksi serius lainnya seperti osteomielitis yang resisten juga dapat diobati dengan terapi ini. Terakhir, terdapat indikasi khusus lainnya seperti gangguan pendengaran atau penglihatan mendadak yang disebabkan oleh iskemia vaskular, serta nekrosis kulit atau jaringan pasca-operasi atau pasca-radioterapi. Semua indikasi ini didasarkan pada protokol standar yang ketat, seperti Protokol Duke atau Protokol UHMS, dan memerlukan evaluasi medis yang cermat sebelum setiap sesi perawatan [64].

Spesifikasi Teknis dan Jenis Peralatan

Peralatan yang digunakan dalam terapi oksigen hiperbarik merupakan perangkat medis kompleks yang dirancang dengan standar keamanan tinggi. Terdapat dua jenis utama kamar hiperbarik: kamar monoplase dan kamar multiplase. Kamar monoplase dirancang untuk satu pasien, biasanya dalam posisi berbaring, dan dipressurisasi dengan oksigen murni. Namun, jenis kamar ini dilarang digunakan di Prancis oleh Kementerian Tenaga Kerja karena risiko kebakaran yang tinggi dalam atmosfer 100% oksigen [65]. Sebaliknya, kamar multiplase dapat menampung beberapa pasien (hingga enam orang atau lebih) serta staf medis. Kamar ini dipressurisasi dengan udara terkompresi, dan oksigen diberikan kepada pasien melalui masker atau helm. Jenis kamar ini merupakan standar di Prancis dan Eropa karena tingkat keamanannya yang lebih tinggi dan kemampuannya untuk menangani keadaan darurat medis [47].

Karakteristik teknis kamar hiperbarik mencakup tekanan operasional yang biasanya berkisar antara 1,4 hingga 3 ATA, tergantung pada indikasi medis. Sistem pressurisasi dioperasikan oleh kompresor udara medis yang dilengkapi katup pengatur dan manometer presisi tinggi. Kamar modern dilengkapi dengan sistem kontrol digital yang mengatur tekanan secara otomatis, memantau parameter, dan merekam protokol perawatan [67]. Seluruh perangkat medis yang digunakan dalam kamar hiperbarik harus disertifikasi kompatibel dengan kondisi tekanan dan oksigen yang diperkaya. Ini mencakup monitor tanda vital, ventilator mekanik hiperbarik, pompa infus, dan defibrilator khusus. Standar internasional seperti IEC 60601-1-8 mengatur peralatan medis listrik yang digunakan dalam lingkungan hiperbarik [47].

Standar Keamanan dan Regulasi

Keamanan dalam lingkungan hiperbarik sangat penting karena adanya risiko terkait tekanan, oksigen murni, dan kondisi yang terbatas. Kamar hiperbarik diklasifikasikan sebagai perangkat medis kelas IIb menurut direktif Eropa 93/42/CEE, yang mengharuskan sertifikasi CE [47]. Di Prancis, peraturan khusus seperti arrêté tanggal 23 Februari 2026 mengatur penggunaan gas medis dan manajemen risiko teknis dalam lingkungan hiperbarik [70]. Risiko utama termasuk kebakaran, yang sangat tinggi dalam atmosfer kaya oksigen. Insiden tragis di Milan pada tahun 1997 yang menewaskan 11 orang telah mendorong pembuatan rekomendasi ketat mengenai bahan yang digunakan, larangan benda mudah terbakar, dan pelatihan staf [65]. Risiko lainnya adalah barotrauma, yaitu cedera akibat tekanan pada telinga, sinus, atau paru-paru, yang dicegah dengan proses peningkatan dan penurunan tekanan secara bertahap, serta instruksi kepada pasien untuk menyeimbangkan tekanan (manuver Valsalva). Selain itu, terdapat risiko toksisitas oksigen, seperti kejang atau pneumopati hiperoksik, yang dikendalikan melalui protokol durasi dan fraksinasi sesi perawatan [72].

Staf medis, termasuk dokter, perawat, dan teknisi, harus menjalani pelatihan khusus dalam keamanan hiperbarik (sertifikasi UHMS atau setara). Pemeliharaan dan kalibrasi rutin peralatan bertekanan tinggi (ESP) wajib dilakukan sesuai dengan standar nasional, seperti inspeksi oleh organisasi terakreditasi [73]. Kalibrasi manometer dan sensor tekanan dilakukan dengan standar primer, seperti timbangan manometer, untuk memastikan akurasi [74].

Manfaat dan Risiko Terapi

Oxygénothérapie, sebagai bentuk perawatan medis yang melibatkan pemberian oksigen pada konsentrasi lebih tinggi dari udara biasa, menawarkan sejumlah manfaat signifikan bagi pasien dengan gangguan pernapasan, namun juga membawa risiko yang harus dikelola secara hati-hati. Penggunaan terapi ini harus seimbang antara memaksimalkan keuntungan klinis dan meminimalkan potensi bahaya, terutama jika dosis atau penggunaannya tidak sesuai dengan kondisi pasien. Berbagai studi dan rekomendasi dari lembaga seperti SPLF dan HAS menekankan pentingnya pendekatan yang dipersonalisasi dan terpantau secara ketat [7].

Manfaat Terapi

Peningkatan Fungsi Pernapasan dan Kelangsungan Hidup

Salah satu manfaat utama dari terapi ini adalah kemampuannya untuk mengoreksi hipoksemia, yaitu kondisi rendahnya kadar oksigen dalam darah arteri. Dengan meningkatkan saturasi oksigen, terapi ini secara langsung mengurangi gejala seperti dispnea (sesak napas) dan memperbaiki fungsi organ vital. Pada pasien dengan BPOK parah yang mengalami hipoksemia kronis, penggunaan oksigen jangka panjang telah terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan kelangsungan hidup [15]. Terapi ini juga berperan dalam mencegah komplikasi kardiovaskular seperti hipertensi pulmonal dan gagal jantung kanan yang sering menyertai kondisi pernapasan kronis [77].

Peningkatan Kualitas Hidup dan Mobilitas

Oksigen terapi tidak hanya memperbaiki parameter fisiologis, tetapi juga secara nyata meningkatkan kualitas hidup pasien. Dengan stabilnya kadar oksigen, pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih mudah, seperti berjalan, berbicara, atau melakukan kegiatan sosial. Penggunaan perangkat oksigen portabel, seperti konsentrator oksigen yang ringan dan dapat dibawa, telah terbukti memberikan hingga 9 jam tambahan aktivitas per hari, memberikan kebebasan dan kemandirian yang lebih besar [78]. Hal ini sangat penting untuk mencegah isolasi sosial dan depresi, yang sering dialami oleh pasien dengan penyakit pernapasan kronis.

Percepatan Penyembuhan Luka

Dalam konteks oksigen hiperbarik, manfaat terapi meluas ke area penyembuhan luka. Terapi ini dilakukan di dalam kamar bertekanan tinggi, memungkinkan darah dan jaringan menjadi jenuh secara berlebihan dengan oksigen. Kondisi ini merangsang proses angiogenesis (pembentukan pembuluh darah baru), meningkatkan efektivitas antibiotik, dan mempercepat penyembuhan luka kronis seperti ulkus kaki diabetik, luka pasca-radiasi, dan infeksi jaringan berat seperti gangren [63]. Terapi ini juga digunakan untuk mengobati kondisi seperti intoksikasi karbon monoksida, di mana oksigen murni membantu menggantikan karbon monoksida dari hemoglobin dengan lebih cepat [19].

Risiko Terapi

Efek Samping Umum

Efek samping yang paling sering terjadi bersifat lokal dan umumnya ringan. Penggunaan oksigen kering dalam jangka panjang melalui kanula nasal atau kacamata hidung dapat menyebabkan iritasi pada mukosa hidung, seperti kekeringan, gatal, dan bahkan perdarahan hidung (epistaksis). Masalah ini dapat dikurangi dengan menggunakan sistem humidifikasi yang melembapkan oksigen sebelum dihirup [81]. Selain itu, perangkat yang tidak pas juga dapat menyebabkan iritasi kulit di sekitar hidung dan telinga.

Risiko Karena Kelebihan Oksigen (Hiperoksia)

Pemberian oksigen berlebihan, yang dikenal sebagai hiperoksia, dapat menjadi toksik bagi tubuh. Risiko ini sangat penting, terutama pada pasien dengan BPOK. Pada pasien tersebut, hipoksia kronis sering kali menjadi stimulus utama untuk bernapas. Jika oksigen diberikan secara berlebihan, stimulus ini dapat hilang, menyebabkan penurunan upaya pernapasan dan akumulasi karbon dioksida dalam darah, yang dikenal sebagai hiperkapnia. Kondisi ini dapat menyebabkan kebingungan, mengantuk, dan bahkan koma hiperkapnia [7]. Oleh karena itu, target saturasi oksigen untuk pasien BPOK harus dijaga antara 88% dan 92%, bukan lebih tinggi, untuk menghindari komplikasi ini [83]. Di unit perawatan intensif, hiperoksia berkepanjangan juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian [84].

Komplikasi Spesifik dari Oksigen Hiperbarik

Terapi oksigen hiperbarik, meskipun efektif, membawa risiko unik yang terkait dengan lingkungan bertekanan tinggi. Risiko utama termasuk barotrauma, yaitu cedera akibat perbedaan tekanan, yang dapat memengaruhi telinga, sinus, atau paru-paru. Pasien perlu diajarkan manuver seperti Valsalva untuk menyeimbangkan tekanan selama proses pressurisasi. Risiko neurologis juga ada, seperti kejang yang dikenal sebagai efek Paul Bert, yang dapat terjadi akibat toksisitas oksigen pada sistem saraf pusat saat terpapar tekanan oksigen yang sangat tinggi [65].

Risiko Keamanan dan Kebakaran

Salah satu risiko paling serius yang terkait dengan oksigen terapi adalah potensi kebakaran. Oksigen adalah gas pendukung pembakaran (comburant); meskipun tidak terbakar sendiri, oksigen sangat mempercepat dan memperkuat api. Penggunaan perangkat oksigen di rumah atau rumah sakit mengharuskan adanya tindakan pencegahan yang ketat. Merokok, menggunakan perangkat vaping, atau berada dekat dengan api terbuka (seperti lilin atau kompor) dilarang keras di area di mana oksigen digunakan [86]. Perangkat harus ditempatkan setidaknya 1,5 hingga 3 meter dari sumber panas untuk mencegah risiko kebakaran yang dapat menyebabkan cedera serius [87]. Kasus tragis telah dilaporkan akibat pelanggaran aturan keselamatan ini [88].

Pengawasan dan Penyesuaian Dosis

Pengawasan dan penyesuaian dosis oksigen merupakan aspek krusial dalam terapi oksigen untuk memastikan efektivitas pengobatan sekaligus mencegah komplikasi serius seperti hiperkapnia atau toksisitas pulmoner. Proses ini melibatkan evaluasi klinis yang cermat, penggunaan alat pemantauan, dan penyesuaian aliran oksigen berdasarkan kebutuhan dinamis pasien, baik dalam konteks akut maupun kronis [17].

Evaluasi Kebutuhan Oksigen dan Penyesuaian Aliran

Penyesuaian dosis oksigen dimulai dengan evaluasi menyeluruh terhadap kebutuhan pasien sesuai dengan kondisi patologisnya. Untuk pasien dengan BPOK atau fibrosis paru, indikasi utama oksigen jangka panjang didasarkan pada adanya hipoksemia berat yang stabil. Kriteria utamanya adalah tekanan parsial oksigen arteri (PaO₂) ≤ 55 mmHg atau saturasi oksigen (SpO₂) < 88% saat istirahat dalam udara ambien, yang dikonfirmasi melalui setidaknya dua pengukuran terpisah minimal tiga minggu [17]. Dalam kasus hipoksemia moderat (PaO₂ antara 55–60 mmHg), terapi dapat dipertimbangkan jika terdapat komplikasi seperti polisitemia, gagal jantung kanan, atau hipertensi pulmoner [91].

Penyesuaian aliran dilakukan secara berbeda tergantung pada fase pengobatan. Dalam pengaturan kronis, tujuannya adalah mempertahankan saturasi oksigen antara 88% dan 92% saat istirahat, saat aktivitas, dan selama tidur, terutama pada pasien BPOK untuk mencegah retensi karbon dioksida [92]. Proses ini melibatkan titrasi awal menggunakan gazometri arteri atau pulsoksimetri di bawah berbagai aliran oksigen (biasanya 1–4 L/menit) untuk menentukan aliran minimal yang mencapai target saturasi [15]. Selanjutnya, evaluasi saat aktivitas dilakukan melalui tes berjalan 6 menit dengan pemantauan SpO₂ untuk menyesuaikan aliran saat berjalan, serta pemantauan oksimetri malam hari untuk mendeteksi hipoksemia tidur [94].

Dalam fase akut, seperti pada insufisiensi pernapasan akut, penyesuaian harus cepat dan cermat. Tujuannya adalah mengoreksi hipoksemia tanpa menyebabkan hiperoksia atau memperburuk hiperkapnia. Pada pasien BPOK, target SpO₂ adalah 88–92%, sedangkan pada kondisi lain seperti pneumonia atau fibrosis paru, targetnya lebih tinggi, yaitu 94–98% [95]. Algoritma penyesuaian, terkadang terintegrasi dalam resep kolektif, memungkinkan perawat dan terapis pernapasan menyesuaikan aliran berdasarkan pembacaan pulsoksimetri secara real-time di bawah pengawasan medis [95].

Pemantauan dan Pencegahan Komplikasi

Pemantauan yang ketat sangat penting untuk mencegah risiko terkait terapi oksigen yang tidak tepat. Komplikasi utama termasuk hiperkapnia dan toksisitas pulmoner. Hiperkapnia terutama mengancam pasien BPOK karena hilangnya stimulasi ventilasi oleh hipoksia dan peningkatan rasio ventilasi/perfusi, yang dapat menyebabkan kegagalan pernapasan akut [97]. Pencegahannya meliputi membatasi target SpO₂ pada 88–92% untuk pasien berisiko, pemantauan ketat, dan pemeriksaan rutin gaz darah arteri untuk menilai PaCO₂ dan pH [7].

Toksisitas pulmoner terjadi akibat stres oksidatif dari paparan oksigen konsentrasi tinggi (FiO₂ > 0,5–0,6) dalam jangka panjang, yang dapat menyebabkan iritasi saluran napas, edema alveolar, dan bahkan fibrosis paru [99]. Pencegahannya meliputi penggunaan FiO₂ serendah mungkin yang memenuhi target saturasi, humidifikasi oksigen untuk aliran > 5 L/menit guna mencegah kerusakan mukosa [7], serta pemantauan klinis dan gasometri secara berkala.

Teknologi dan Tindak Lanjut Jangka Panjang

Perkembangan teknologi telah meningkatkan akurasi dan keamanan pemantauan. Pulsoksimetri, metode non-invasif yang digunakan secara luas, sangat penting untuk pemantauan berkelanjutan, baik dalam pengaturan akut maupun kronis [101]. Perangkat terobosan seperti FreeO₂ oleh Oxynov menggunakan algoritma loop tertutup untuk secara otomatis menyesuaikan aliran oksigen setiap detik berdasarkan pembacaan saturasi dari sensor di jari, mengoptimalkan titrasi dan mengurangi risiko hiperoksia [40]. Selain itu, sistem pemantauan jarak jauh memungkinkan pengawasan yang lebih halus terhadap oksigenasi di rumah, terutama untuk pasien BPOK [101].

Tindak lanjut jangka panjang mencakup kunjungan klinis rutin untuk mengevaluasi toleransi, kepatuhan, dan efektivitas pengobatan, serta pemeriksaan periodik gasometri atau oksimetri. Keberhasilan terapi sangat bergantung pada kepatuhan pasien, yang sering kali ditargetkan minimal 15–18 jam per hari untuk manfaat maksimal [15]. Koordinasi antara dokter, perawat, dan penyedia peralatan medis sangat penting untuk memastikan pemantauan yang berkelanjutan dan penyesuaian pengobatan yang tepat waktu [105].

Aspek Etika di Akhir Kehidupan

Penggunaan oksigen di akhir kehidupan menimbulkan sejumlah dilema etika yang kompleks, terutama terkait dengan perbedaan antara tujuan kuratif dan paliatif. Dalam konteks penyakit kronis seperti BPOK atau fibrosis paru, oksigen jangka panjang telah terbukti meningkatkan kelangsungan hidup pada pasien dengan hipoksemia berat. Namun, di fase terminal, tujuan terapi beralih dari memperpanjang hidup menjadi mengurangi penderitaan dan meningkatkan kenyamanan. Dalam situasi ini, oksigen sering diberikan untuk mengatasi dispnea (sesak napas), meskipun efektivitasnya sebagai terapi simptomatik tetap diperdebatkan [106]. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada pasien non-hipoksemik, pemberian oksigen tidak memberikan manfaat signifikan dalam mengurangi dispnea dibandingkan udara biasa, menimbulkan pertanyaan tentang relevansi klinisnya di akhir kehidupan [107].

Distingsi antara Tujuan Kuratif dan Paliatif

Pembedaan antara oksigen dengan tujuan kuratif dan paliatif sangat penting secara etika. Oksigen kuratif bertujuan untuk memperbaiki hipoksemia yang terukur dan memodifikasi prognosis penyakit, seperti pada pasien BPOK dengan tekanan parsial oksigen arteri (PaO₂) ≤ 55 mmHg atau saturasi oksigen (SpO₂) < 88% [17]. Sebaliknya, oksigen paliatif digunakan untuk mengurangi dispnea dan rasa tercekik tanpa mengharapkan perbaikan pada kondisi dasar. Dalam konteks paliatif, efikasi terapi didasarkan pada pengurangan penderitaan subjektif, bukan pada normalisasi parameter fisiologis. Namun, karena efek plasebo atau psikologis dari oksigen bisa signifikan, terutama jika pasien atau keluarga mengharapkannya, keputusan untuk memulai atau melanjutkan terapi harus dibuat secara individual dan didasarkan pada komunikasi yang transparan [109].

Dilema Etika dan Konflik antar Pemangku Kepentingan

Salah satu dilema etika utama adalah keseimbangan antara memberikan kenyamanan dan menghindari perlakuan yang tidak proporsional atau akselerasi kematian. Oksigen, sebagai bentuk dukungan vital, dapat dilihat sebagai intervensi yang memperpanjang kehidupan secara artifisial. Menurut HAS dan hukum Prancis, khususnya undang-undang Leonetti-Claeys, pengobatan yang tidak berguna, tidak proporsional, atau hanya mempertahankan kehidupan secara artifisial harus dihindari [110]. Dalam kasus pasien yang tidak mengalami hipoksemia atau tidak merasakan manfaat dari oksigen, melanjutkan terapi dapat dianggap sebagai bentuk akselerasi terapeutik. Konflik sering muncul antara tim perawatan, pasien, dan keluarga. Keluarga mungkin menafsirkan pemberian oksigen sebagai tanda bahwa semua yang bisa dilakukan sedang dilakukan untuk menyelamatkan nyawa, sementara tim perawatan mungkin melihatnya sebagai dukungan simptomatik. Perbedaan harapan ini dapat menyebabkan ketegangan dan keputusan yang sulit [111].

Peran Direktif Antisipasi dan Proyek Perawatan Personalisasi

Untuk menghindari konflik dan memastikan bahwa keputusan sesuai dengan nilai pasien, penting untuk mengintegrasikan keinginan terkait oksigen ke dalam direktif antisipasi. Pasien dapat menyatakan apakah mereka ingin atau tidak ingin menerima oksigen di akhir kehidupan, baik untuk tujuan kenyamanan maupun jika tidak ada harapan pemulihan [112]. Di Prancis, direktif ini bersifat mengikat secara hukum kecuali jika secara jelas tidak sesuai dengan situasi medis saat ini [113]. Selain itu, proyek perawatan personalisasi (PSP) harus secara eksplisit menyatakan tujuan dari pemberian oksigen, apakah itu untuk mengurangi dispnea atau sebagai bagian dari pendekatan perawatan aktif. Komunikasi terbuka dan berulang dengan pasien dan keluarga tentang efektivitas terbatas dari oksigen dan alternatif yang lebih efektif, seperti opioid, sangat penting untuk mengelola harapan dan menghindari ilusi terapeutik [114].

Kriteria untuk Menghentikan Oksigen di Akhir Kehidupan

Keputusan untuk menghentikan oksigen di akhir kehidupan harus didasarkan pada penilaian klinis dan etika yang cermat. Situasi di mana oksigen dapat dianggap tidak proporsional termasuk ketika tidak ada manfaat simptomatik yang terukur, ketika digunakan semata-mata untuk memperpanjang kehidupan tanpa kualitas, atau ketika pasien berada dalam keadaan tidak sadar atau pada fase aktif kematian [115]. Menghentikan oksigen tidak boleh dianggap sebagai tindakan "membiarkan mati", tetapi sebagai bagian dari pendekatan untuk menghindari perawatan yang tidak perlu. Keputusan ini harus diambil secara kolektif oleh tim perawatan, melibatkan keluarga, dan didokumentasikan dengan baik. Jika dispnea tetap ada setelah menghentikan oksigen, sedasi paliatif dapat diberikan untuk memastikan pasien tidak menderita [116]. Prinsip utama yang harus dijunjung tinggi adalah menghormati otonomi pasien, non-malfeasance (tidak membahayakan), dan kesejahteraan pasien [117].

Inovasi dan Teknologi Masa Depan

Dunia oxygénothérapie terus berkembang dengan cepat, didorong oleh kemajuan dalam teknologi medis, kebutuhan akan perawatan yang lebih presisi, dan tuntutan pasien untuk kualitas hidup yang lebih baik. Inovasi terkini berfokus pada tiga aspek utama: otomatisasi dan adaptasi cerdas terapi, peningkatan kenyamanan dan mobilitas pasien, serta penerapan sistem pemantauan berbasis konektivitas. Perangkat dan sistem baru ini tidak hanya meningkatkan efikasi klinis, tetapi juga memperkuat keamanan dan kemandirian pasien dalam menjalani terapi jangka panjang.

Otomatisasi dan Penyesuaian Dosis Cerdas

Salah satu terobosan paling signifikan adalah pengembangan sistem yang dapat menyesuaikan dosis oksigen secara otomatis berdasarkan kebutuhan real-time pasien. Perangkat seperti FreeO2, yang dikembangkan oleh Oxynov, menggunakan algoritma berbasis loop tertutup yang terus-menerus memantau saturasi oksigen (SpO₂) melalui sensor pada jari. Sistem ini kemudian secara otomatis menyesuaikan aliran oksigen setiap detik untuk menjaga saturasi tetap dalam rentang target yang telah ditentukan oleh dokter [40]. Pendekatan ini mengurangi risiko hipoksia atau hiperoksia, meminimalkan beban kerja tenaga medis, dan dapat membantu memperpendek masa rawat inap [41]. Perangkat serupa sedang dikembangkan untuk memungkinkan regulasi cerdas yang lebih canggih sesuai dengan kebutuhan pernapasan dinamis pasien [120].

Peningkatan Kenyamanan dan Mobilitas

Kenyamanan pasien menjadi pusat inovasi, terutama dalam mengatasi efek samping seperti kekeringan pada saluran pernapasan. oksigen aliran tinggi (OHD), yang diberikan melalui sistem seperti Optiflow, memberikan oksigen yang telah dipanaskan dan dilembapkan pada aliran tinggi (hingga 60 L/menit). Teknologi ini tidak hanya meningkatkan oksigenasi, tetapi juga mengurangi ketidaknyamanan, iritasi, dan risiko mimisan, serta menghasilkan efek tekanan positif ekspirasi (PEP) yang membantu menjaga alveoli tetap terbuka [32]. Selain itu, kenyamanan selama tidur atau aktivitas fisik juga ditingkatkan oleh konsentrator oksigen portabel yang dilengkapi sistem pelembap [122].

Untuk mobilitas, konsentrator oksigen portabel (COP) generasi terbaru menawarkan solusi yang jauh lebih ringan dan lebih tahan lama. Model seperti Rove 4 dari Inogen, dengan berat kurang dari 1,4 kg, dan Zen-O lite dari GCE Medical, memungkinkan pasien untuk tetap aktif dan mandiri. Banyak dari perangkat ini telah mendapatkan sertifikasi FAA, yang memungkinkan pasien untuk membawa dan menggunakan perangkat mereka selama penerbangan [45]. Sistem oksigen cair portabel juga menawarkan kapasitas penyimpanan tinggi, memberikan otonomi lebih lama untuk perjalanan jauh [124].

Pemantauan Berbasis Konektivitas dan Data Real-time

Teknologi konektivitas memainkan peran penting dalam pemantauan jarak jauh. Konsentrator oksigen modern dilengkapi dengan sensor canggih, seperti sensor oksigen berbasis zirkonia stabil (ZrO₂), yang terus memantau konsentrasi oksigen yang diberikan untuk memastikan kualitas dan keamanan [125]. Perangkat ini juga memiliki sistem alarm untuk mendeteksi kegagalan, seperti suhu terlalu tinggi atau konsentrasi oksigen yang rendah [43].

Lebih dari itu, perangkat seperti PalmSAT® 2500 dan WristOx2® dari Air Liquide Medical Systems memungkinkan pemantauan SpO₂ dan denyut jantung secara terus-menerus, dengan data yang dapat ditransmisikan secara nirkabel melalui Bluetooth atau USB [127]. Data ini dapat diintegrasikan ke dalam sistem informasi rumah sakit, memungkinkan pemantauan jarak jauh dan deteksi dini terhadap kemunduran kondisi pasien. Monitornya yang portabel, seperti Portrait™ Mobile dari GE Healthcare, memungkinkan pasien untuk bergerak bebas sambil tetap terpantau secara kontinu [128].

Teknologi Konsentrator dan Sistem Penyimpanan

Konsentrator oksigen stasioner berdaya tinggi yang menggunakan teknologi PSA (Pressure Swing Adsorption) kini mampu menghasilkan aliran oksigen hingga 10-15 L/menit, menjadikannya cocok untuk kebutuhan klinis yang lebih menuntut [36]. Perangkat ini juga semakin cerdas, dengan beberapa model yang mengintegrasikan algoritma pembelajaran mesin, seperti Q-learning, untuk mengoptimalkan pengiriman oksigen secara adaptif [130]. Untuk sistem penyimpanan, boteh oksigen digital seperti Intelli-OX™ dari Air Liquide dilengkapi dengan layar digital yang menunjukkan waktu sisa, membantu pasien dan penyedia layanan dalam perencanaan dan manajemen yang lebih baik [38].

Standar Keamanan dan Peraturan

Semua inovasi ini tunduk pada standar keamanan internasional yang ketat. Perangkat harus memenuhi norma seperti ISO 13485:2016 untuk sistem manajemen kualitas, IEC 60601-1 untuk keselamatan peralatan elektromedik, dan ISO 18562-1:2017 untuk biokompatibilitas jalur gas pernapasan [132]. Di Prancis, Agence nationale de sécurité du médicament et des produits de santé (ANSM) melakukan pengawasan pasca-pemasaran, menerbitkan informasi keamanan jika terjadi disfungsi atau penarikan, seperti yang terjadi pada beberapa model konsentrator [133]. Peraturan nasional, seperti arahan dari Haute Autorité de Santé (HAS), juga menetapkan kriteria untuk perangkat yang dapat dikembalikan, memastikan kinerja, keamanan, dan kualitas hidup pasien [134].

Referensi