Gucci adalah sebuah merek mode mewah Italia yang didirikan oleh Guccio Gucci pada tahun 1921 di Firenze, Italia, sebuah kota yang dikenal sebagai pusat warisan seni dan kerajinan tangan Renaissance. Awalnya dimulai sebagai sebuah toko kecil yang berspesialisasi dalam produk kulit, koper, dan aksesori equestrian, merek ini terinspirasi oleh gaya aristokrasi Inggris dan tradisi kerajinan Toscana yang kaya [1]. Sejak itu, Gucci berkembang menjadi salah satu rumah mode mewah paling ikonik di dunia, dengan jejak global yang mencakup lebih dari 500 toko di seluruh dunia dan pendapatan tahunan sekitar 10 miliar euro. Produk utamanya meliputi tas mewah seperti Dionysus Bag, Jackie Bag, dan GG Marmont Bag, serta sepatu ikonik seperti mocasin Horsebit, pakaian siap pakai untuk pria dan wanita, parfum seperti Gucci Bloom dan Gucci Guilty, serta aksesori dengan logo dual GG yang terkenal. Merek ini telah melalui transformasi besar di bawah berbagai direktur kreatif, termasuk Tom Ford, yang membawa gaya sensual dan glamor pada 1990-an, dan Alessandro Michele, yang memperkenalkan estetika maksimalis, androgin, dan penuh referensi budaya. Saat ini, Gucci beroperasi sebagai bagian dari konglomerat mewah Prancis Kering, yang juga memiliki merek seperti Balenciaga dan Saint Laurent, dan dikelola oleh CEO Stefano Cantino dan direktur kreatif Demna Gvasalia. Gucci telah menjadi simbol penting dari Made in Italy, menggabungkan keahlian kerajinan Toscana dengan inovasi kontemporer, sambil aktif berpartisipasi dalam inisiatif keberlanjutan melalui program seperti Gucci Equilibrium, yang menekankan ekonomi sirkular, penggunaan bahan ramah lingkungan seperti ECONYL, dan komitmen terhadap netralitas karbon sejak 2018. Merek ini juga dikenal karena kampanye pemasarannya yang inovatif, kolaborasi dengan seniman seperti Ignasi Monreal, dan keterlibatannya dalam budaya pop melalui film seperti House of Gucci, yang didasarkan pada kisah dramatis keluarga pendiri, termasuk pembunuhan Maurizio Gucci oleh mantan istrinya, Patrizia Reggiani.

Pendirian dan Sejarah Awal

Gucci didirikan oleh Guccio Gucci pada tahun 1921 di Firenze, Italia, sebuah kota yang menjadi pusat warisan seni dan kerajinan tangan Renaissance [1]. Awalnya, merek ini dimulai sebagai toko kecil yang berspesialisasi dalam produk kulit, koper, dan aksesori equestrian, terinspirasi oleh gaya aristokrasi Inggris dan tradisi kerajinan Toscana yang kaya [3]. Guccio Gucci, yang pernah bekerja sebagai lift boy di Hotel Savoy di Londra, terpukau oleh elegansi dan gaya hidup para tamu bangsawan, terutama dalam hal bagasi dan aksesori berkualitas tinggi yang mereka bawa [4]. Pengalaman ini menjadi fondasi bagi visinya untuk menciptakan produk mewah yang menggabungkan keanggunan Inggris dengan keahlian tangan-tangan terampil di Firenze [1].

Pendirian Toko Pertama dan Akar Artisanal

Toko pertama Gucci dibuka pada tahun 1921 di Via della Vigna Nuova nomor 7, Firenze, menjadi cikal bakal dari apa yang kemudian berkembang menjadi salah satu rumah mode mewah paling ikonik di dunia [6]. Toko ini tidak hanya menjual produk, tetapi juga berfungsi sebagai laboratorium kerajinan tempat Guccio Gucci mengawasi langsung proses pembuatan, memastikan standar kualitas tertinggi [7]. Produk-produk awalnya, seperti koper kulit, pelana kuda, dan tas tangan, segera mendapatkan reputasi karena ketahanan, fungsi, dan desain yang elegan [1]. Dalam menghadapi keterbatasan ekonomi dan kelangkaan kulit impor pada tahun 1930-an, perusahaan beralih ke bahan alternatif seperti rafia, lino, dan juta, serta mengembangkan motif berlian yang menjadi salah satu elemen khas awal merek tersebut [9].

Warisan Artigianal Toscana dan Identitas Made in Italy

Keberhasilan awal Gucci sangat dipengaruhi oleh lingkungan budaya dan industri Firenze, yang sejak zaman Renaissance telah dikenal sebagai pusat unggulan dalam kerajinan tangan, terutama di bidang pelletteria atau pembuatan produk kulit [10]. Tradisi ini memberikan akses ke jaringan artis dan pengrajin berbakat yang menjadi tulang punggung produksi Gucci. Pendekatan yang menekankan pada detail, kualitas bahan, dan desain fungsional namun elegan menjadi ciri khas yang membedakan Gucci dari pesaingnya [1]. Kombinasi antara pengalaman internasional Guccio Gucci dan keahlian lokal Toscana menciptakan fondasi yang kuat bagi identitas merek yang kelak akan menjadi simbol dari Made in Italy — sebuah jaminan atas keunggulan, keanggunan, dan inovasi dalam desain [12]. Dari bengkel kecil di jalan kecil Firenze, Gucci mulai membangun reputasi sebagai penyedia produk mewah yang dibuat dengan standar tertinggi, menjadi awal dari perjalanan panjang menuju kejayaan global [13].

Produk dan Desain Ikonik

Gucci dikenal secara global karena portofolio produk mewahnya yang luas dan desain ikonik yang telah membentuk identitas visual merek selama lebih dari seabad. Produk-produk utamanya mencakup tas mewah, pakaian siap pakai, sepatu, aksesori, parfum, dan kosmetik, yang semuanya mencerminkan perpaduan antara keahlian kerajinan Toscana, inovasi kreatif, dan narasi budaya yang mendalam. Setiap elemen desain, dari bentuk hingga simbol, memiliki akar sejarah yang kuat dan terus diperbarui oleh para direktur kreatif untuk tetap relevan di era kontemporer [1].

Tas Mewah dan Aksesori Ikonik

Tas-tas Gucci merupakan salah satu kategori produk paling dikenal dan paling berpengaruh dalam sejarah mode mewah. Di antara model paling ikonik adalah Dionysus Bag, yang dirancang ulang oleh Alessandro Michele dan dikenal karena kaitnya berbentuk kepala harimau, sebuah simbol mitologis yang mengacu pada dewa Yunani Dionisos. Tas ini menjadi simbol dari estetika maksimalis dan penuh referensi budaya yang diperkenalkan Michele [15].

Tas lain yang legendaris adalah Jackie Bag, yang dinamai dari mantan ibu negara AS, Jackie Kennedy, yang sering terlihat membawanya pada era 1960-an. Desainnya yang ramping dan tutupnya yang khas menjadikannya simbol elegansi klasik dan tetap menjadi favorit hingga kini [16]. Demikian pula, GG Marmont Bag menampilkan monogram dual GG yang khas dan menjadi salah satu produk paling laris dalam portofolio Gucci, terutama di kalangan konsumen muda [17].

Selain itu, Bamboo Bag, yang pertama kali diluncurkan pada tahun 1947, merupakan contoh luar biasa dari inovasi desain dalam kondisi keterbatasan material pasca-Perang Dunia II. Dengan pegangan bambu yang dibengkokkan dengan uap, tas ini menjadi simbol kecerdikan dan keanggunan tanpa waktu, serta masih diproduksi dengan teknik kerajinan tangan di Firenze hingga hari ini [18].

Produksi tas-tas ini sangat bergantung pada artigianalità Italia, khususnya di wilayah Toscana. Sebagian besar proses pembuatan dilakukan di Italia, dengan bantuan dari Gucci ArtLab, sebuah pusat inovasi dan produksi canggih yang didedikasikan untuk menggabungkan teknologi modern dengan keahlian tradisional [19]. Bahan-bahan yang digunakan mencakup pelle berkualitas tinggi, camoscio, kanvas GG Supreme, dan kulit eksotis seperti ular piton, semuanya diproses dengan standar kualitas yang ketat [20].

Sepatu dan Desain Equestrian

Sepatu Gucci juga menempati tempat penting dalam sejarah merek, dengan salah satu model paling ikonik adalah mocasin Horsebit. Diperkenalkan pada tahun 1953, sepatu ini menampilkan kait logam berbentuk morset kuda, yang terinspirasi oleh dunia equestrian dan menjadi simbol dari akar aristokrasi Inggris dalam estetika merek [21]. Simbol Horsebit tidak hanya menjadi elemen fungsional, tetapi juga berkembang menjadi motif desain yang digunakan di berbagai produk, termasuk tas, cincin, dan gelang [22].

Model sepatu lain yang populer termasuk sneakers Rhyton, yang menggabungkan siluet olahraga dengan detail mewah, serta GG Screener, yang menampilkan logo dual GG di bagian samping. Koleksi sepatu Gucci terus diperbarui untuk menangkap tren terkini sambil tetap mempertahankan elemen-elemen warisan yang mendefinisikan merek [23].

Estetika dan Simbolisme Visual

Identitas visual Gucci dibentuk oleh sejumlah elemen desain yang telah berevolusi dari simbol fungsional menjadi ikon budaya global. Salah satu yang paling dikenal adalah monogram dual GG, yang dibuat oleh Aldo Gucci pada tahun 1960-an sebagai representasi dari inisial sang pendiri, Guccio Gucci [24]. Logo ini telah mengalami berbagai reinterpretasi, dari tampilan minimalis hingga versi yang lebih besar dan berani, tergantung pada visi direktur kreatif saat ini.

Motif lain yang ikonik adalah pita tiga warna hijau-merah-hijau, yang terinspirasi oleh warna pelana kuda dalam tradisi balap di Firenze [25]. Motif ini sering digunakan sebagai aksen pada tas, ikat pinggang, dan pakaian, memperkuat koneksi merek dengan warisan equestrian-nya.

Di bawah kepemimpinan Alessandro Michele, estetika Gucci mengalami transformasi radikal, beralih dari minimalisme menjadi gaya maksimalis yang penuh dengan referensi sejarah, seni, dan budaya pop. Ia mempopulerkan konsep gender fluidity dalam mode, menghilangkan batas antara pakaian pria dan wanita, serta menggunakan cetakan yang kaya, detail bordir, dan kombinasi warna yang kontras untuk menciptakan tampilan yang unik dan penuh ekspresi [26]. Koleksi-koleksinya sering dijuluki sebagai "geek chic", menggabungkan kacamata tebal, dasi Victoriana, dan jaket bomber dengan motif art deco [27].

Kolaborasi dan Inovasi Kontemporer

Untuk tetap relevan dengan generasi muda, Gucci telah menjalin banyak kolaborasi dengan artis, musisi, dan merek lain. Salah satu kolaborasi paling berani adalah proyek “Hacker Project” bersama Balenciaga, di mana kedua rumah mode saling “meretas” desain satu sama lain, menggabungkan elemen-elemen ikonik seperti logo GG dan siluet Balenciaga dalam satu koleksi yang menantang konsep otentisitas dalam mode [28].

Gucci juga bekerja sama dengan seniman digital seperti Ignasi Monreal, yang menciptakan ilustrasi surreal untuk kampanye iklan seperti Gucci Bloom dan Gucci Hallucination, menggabungkan dunia nyata dengan imajinasi digital [29]. Selain itu, merek ini telah menjelajahi dunia metaverse dan NFT, bekerja sama dengan seniman digital untuk menciptakan koleksi virtual yang memungkinkan konsumen mengekspresikan diri di ruang digital [30].

Kolaborasi dengan selebriti seperti Harry Styles, Billie Eilish, dan A$AP Rocky juga memperkuat hubungan emosional dengan konsumen muda, memposisikan Gucci sebagai merek yang inklusif, progresif, dan berbudaya [31]. Melalui pendekatan ini, Gucci berhasil mengubah dirinya dari sekadar produsen barang mewah menjadi sebuah gerakan budaya global yang berbicara tentang identitas, keberagaman, dan ekspresi diri.

Peran Keluarga Gucci dan Konflik Internal

Keluarga Gucci memainkan peran sentral dalam pendirian, pengembangan, dan identitas merek Gucci, sebuah rumah mode mewah yang bertransformasi dari toko pelindian kecil di Firenze menjadi simbol global Made in Italy. Namun, sejarah keluarga ini juga diwarnai oleh konflik internal yang intens, yang pada akhirnya melemahkan kendali keluarga atas perusahaan dan mengubah arah strategis merek secara fundamental.

Pendirian dan Ekspansi di Bawah Kepemimpinan Keluarga

Merek ini didirikan oleh Guccio Gucci pada tahun 1921, yang terinspirasi oleh gaya aristokrasi Inggris saat bekerja di Hotel Savoy, Londra [4]. Setelah kematian Guccio pada tahun 1953, putranya, Aldo Gucci, mengambil alih kendali strategis dan menjadi tokoh kunci dalam transformasi Gucci dari perusahaan artisana lokal menjadi merek global [33]. Aldo membuka toko-toko pertama di kota-kota internasional seperti New York, Londra, dan Tokyo, serta memperkenalkan elemen-elemen ikonik seperti logo dual GG dan pita hijau-merah-hijau, yang terinspirasi oleh pelana kuda dalam balapan tradisional Firenze [34]. Kepemimpinannya sebagai presiden berlangsung hingga tahun 1986, ketika ia ditangkap karena penggelapan pajak, sebuah peristiwa yang menandai awal dari periode krisis internal [34].

Konflik Internal dan Perebutan Kekuasaan

Setelah kematian Aldo Gucci pada tahun 1990, ketegangan yang sudah lama terpendam antar cabang keluarga meledak menjadi persaingan terbuka untuk mengendalikan perusahaan [36]. Perebutan kekuasaan terutama terjadi antara keturunan Aldo dan keturunan saudara-saudaranya, menciptakan "perang" antar generasi dan kerabat dekat. Maurizio Gucci, cucu dari pendiri, berusaha untuk mendapatkan kendali penuh atas perusahaan, tetapi menghadapi oposisi dari sepupu-sepupunya, terutama dari garis keturunan Aldo. Perselisihan hukum, tuduhan publik, dan kurangnya rencana suksesi yang jelas menyebabkan ketidakstabilan manajerial yang parah, serta hilangnya arah kreatif dan strategis [37]. Krisis ini merusak citra merek, yang sebelumnya dikenal karena kemewahan dan keanggunan, menjadi terkait dengan skandal, pertengkaran keluarga, dan manajemen yang kacau. Sebuah artikel dari Reuters menggambarkan situasi ini sebagai contoh klasik dari "capitalismo familiare rotto" (kapitalisme keluarga yang rusak), di mana dinamika pribadi mengalahkan kepentingan perusahaan [38].

Pembunuhan Maurizio Gucci dan Akhir dari Era Keluarga

Puncak dari saga keluarga yang tragis adalah pembunuhan Maurizio Gucci di Milano pada tanggal 27 Maret 1995. Pembunuhan tersebut, yang menurut penyelidikan diatur oleh mantan istrinya, Patrizia Reggiani, yang kemudian dijuluki "Lady Gucci", menjadi kasus media internasional [39]. Peristiwa ini secara simbolis menandai akhir dari era keluarga dalam manajemen merek. Sebelum pembunuhan tersebut, merek ini telah berada dalam krisis finansial yang parah akibat pertikaian keluarga dan ekspansi lisensi yang tidak terkendali. Pada tahun 1993, perusahaan investasi Investcorp mengakuisisi saham mayoritas, dan pada tahun 1999, kendali penuh beralih ke konglomerat mewah Prancis Kering (saat itu Pinault-Printemps-Redoute) [40]. Keluarnya keluarga dari kendali langsung dianggap sebagai langkah yang diperlukan untuk menyelamatkan merek dari kehancuran.

Warisan dan Dampak Jangka Panjang

Meskipun keluarga kehilangan kendali atas perusahaan, warisan mereka tetap menjadi bagian integral dari mitos dan identitas merek. Maurizio Gucci dan Patrizia Reggiani menjadi tokoh sentral dalam narasi dramatis yang diabadikan dalam buku, dokumenter, dan film blockbuster House of Gucci (2021) yang disutradarai oleh Ridley Scott [41]. Putri-putri Maurizio, Allegra Gucci dan Alessandra Gucci, adalah pewaris langsung dari kekayaan keluarga, meskipun tidak memiliki kendali atas merek [42]. Ketegangan mengenai warisan keluarga bahkan terus berlanjut hingga masa kini, seperti yang terlihat dalam perselisihan pada tahun 2024 antara Allegra Gucci dan mantan teman sel tahanan ibunya, Loredana Canò, yang dituduh berusaha menguasai sebagian dari warisan tersebut [43].

Konflik internal keluarga Gucci menjadi contoh klasik tentang potensi dan bahaya dari bisnis keluarga dalam industri mewah berskala besar. Meskipun semangat kewirausahaan dan keahlian kerajinan keluarga meletakkan dasar bagi kesuksesan awal, kurangnya tata kelola yang terstruktur dan rencana suksesi yang jelas akhirnya menghancurkan perusahaan dari dalam [44]. Transisi dari manajemen keluarga ke perusahaan profesional di bawah naungan Kering memungkinkan merek untuk melakukan restrukturisasi yang diperlukan dan mengalami kebangkitan, tetapi kisah keluarga tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari narasi global merek tersebut.

Transformasi Kreatif di Bawah Direktur Kreatif

Transformasi kreatif Gucci di bawah berbagai direktur kreatif telah menjadi katalis utama dalam pembentukan kembali identitas merek, memungkinkan rumah mode ini untuk bertahan dan berkembang melalui berbagai era budaya dan ekonomi. Dari penyelamatan dari krisis hingga redefinisi radikal estetika mewah, setiap direktur kreatif telah meninggalkan jejak yang mendalam pada narasi global merek, mengubahnya dari produsen aksesori klasik menjadi laboratorium budaya kontemporer. Peran kunci ini mencerminkan evolusi dari industri mode itu sendiri, di mana direktur kreatif tidak lagi hanya perancang, tetapi juga penulis narasi, filsuf budaya, dan arsitek pengalaman konsumen.

Tom Ford: Revolusi Seksual dan Glamor Hollywood

Kedatangan Tom Ford sebagai direktur kreatif pada tahun 1994 menandai titik balik yang menentukan dalam sejarah Gucci. Pada saat itu, merek ini tenggelam dalam krisis identitas, dengan citra yang kabur dan penjualan yang menurun akibat pelonggaran lisensi yang berlebihan dan konflik keluarga yang merusak [45]. Ford, bekerja erat dengan CEO Domenico De Sole, melancarkan restrukturisasi estetika dan manajerial yang radikal. Ia menggantikan gaya yang kusam dengan estetika yang penuh sensualitas, kekuasaan, dan glamor ala Hollywood. Ford memperkenalkan gaya yang berani dan provokatif, ditandai dengan kain mewah seperti beludru hitam, siluet ketat, dan detail yang menggoda secara seksual [46]. Koleksi musim gugur/musim dingin 1995, dengan jeans robek dan kemeja beludru, dianggap sebagai manifesto dari era baru Gucci [47].

Pendekatannya, sering disebut "porno chic" karena muatan erotiknya yang eksplisit, tidak hanya meningkatkan penjualan—membawa Gucci dari kerugian menjadi pendapatan lebih dari 3 miliar dolar dalam beberapa tahun—tetapi juga mendefinisikan ulang citra kemewahan Italia, membawanya ke ranah yang lebih modern, internasional, dan mediatis [48]. Ford juga memperluas peran direktur kreatif menjadi seorang visioner total, mengendalikan tidak hanya koleksi, tetapi juga gambar iklan, pertunjukan, dan arsitektur toko [49]. Warisan Ford masih terasa hingga kini; koleksi terbaru seperti pre-fall 2026 oleh Demna Gvasalia secara eksplisit merujuk pada gaya tahun 90-an dan estetika Ford, menunjukkan pengaruhnya yang abadi terhadap bahasa kemewahan [50].

Frida Giannini: Kembalinya ke Elegansi Klasik

Setelah era Ford yang sensasional dan periode transisi, kedatangan Frida Giannini sebagai direktur kreatif menandai fase stabilisasi dan penguatan posisi Gucci sebagai merek mewah klasik dan kontemporer. Giannini menggantikan gaya minimalis dan sensual Ford dengan estetika yang lebih bersih, halus, dan kurang eksplisit, dengan fokus pada kerajinan, kualitas bahan, dan elegansi yang tenang [10]. Kampanye iklannya bergeser menuju narasi yang lebih koheren dengan warisan Italia merek, menekankan produk ikonik seperti Jackie Bag dan Bamboo Bag, serta berkolaborasi dengan selebriti seperti Blake Lively dan Sienna Miller untuk mewujudkan kemewahan yang lebih dapat diakses namun tetap eksklusif [52]. Fase ini mencerminkan perubahan dalam harapan konsumen, yang mencari kemewahan yang lebih tahan lama, kurang ephimeral, yang menggabungkan tradisi dan modernitas, dengan target pasar yang masih didominasi oleh generasi yang lebih matang tetapi dengan perhatian yang meningkat terhadap generasi muda [53].

Alessandro Michele: Revolusi Maksimalis dan Era "I Feel Gucci"

Kedatangan mendadak Alessandro Michele pada Januari 2015 adalah kejutan dan titik balik radikal. Menggantikan Giannini, Michele memutus hubungan dengan minimalisme dan sensualitas konvensional, memperkenalkan estetika yang ekletik, barok, penuh vintage, dan padat secara budaya. Debutnya dengan koleksi Musim Gugur/Musim Dingin 2015 adalah sebuah guntur di tengah langit biru: model dengan rambut panjang, kacamata, pakaian dengan bordir bunga, dasi bergaya Victoria, dan jaket bomber dengan bordir ular dan motif art deco [54]. Michele mempromosikan estetika yang androgin, di mana batas antara maskulin dan feminin menghilang, dan sebuah visi kemewahan sebagai ekspresi diri, nonkonformitas, dan intelektualisme [55].

Era Michele, yang sering disebut sebagai "era I feel Gucci", ditandai oleh:

  • Sebuah maksimalisme yang terpelajar, dengan referensi ke filsafat, sastra, sinema, dan sejarah seni.
  • Penggunaan cetakan hibrida, bahan yang kontras, dan akumulasi detail yang menciptakan efek "kekacauan yang terkendali" [27].
  • Demokratisasi keinginan, dengan kampanye yang merayakan keragaman, usia, tubuh, dan identitas.
  • Keberhasilan aksesori ikonik seperti sepatu kets dengan pita, tas Marmont, dan topi cloche [57].

Di bawah kepemimpinan Michele, Gucci mencatat ledakan keteringanan di kalangan Milenial dan Generasi Z, menjadi salah satu merek paling berpengaruh dan relevan secara sosial di panggung global [58]. Pendekatannya mengubah kemewahan menjadi pengalaman budaya dan naratif, bukan hanya simbol status. Michele mengubah Gucci dari merek aspiratif—yang terkait dengan keinginan untuk memiliki—menjadi merek yang menginspirasi, mampu menghasilkan makna dan rasa memiliki [59].

Sabato De Sarno dan Demna Gvasalia: Masa Depan yang Sedang Terbentuk

Setelah kepergian Michele pada 2022, Sabato De Sarno ditunjuk sebagai direktur kreatif pada Januari 2023, dengan tujuan memperkenalkan estetika yang lebih halus dan elegan, membawa Gucci kembali ke "kemewahan diam-diam" dan perhatian terhadap keterampilan menjahit [60]. Namun, pada 2025, Demna Gvasalia (mantan Balenciaga) mengambil alih posisi direktur kreatif, menandai babak baru yang ditandai oleh bahasa yang lebih konseptual dan kontemporer, yang tampaknya menarik dari masa lalu Ford dan sugesti budaya Michele [61]. Kedatangan Demna, yang dikenal karena pendekatannya yang subversif terhadap kemewahan, menunjukkan komitmen Gucci untuk tetap menjadi pemain utama yang berani dan inovatif dalam lanskap mode global. Koleksi awalnya, seperti "Generation Gucci", mempertahankan strategi ini, menawarkan lookbook yang tampak seperti frame dari peragaan busana yang tidak pernah terjadi, terinspirasi oleh pemuda yang memberontak dan bebas [62].

Transformasi kreatif di bawah para direktur kreatif ini menunjukkan bahwa Gucci bukan hanya merek mode, tetapi sebuah entitas budaya yang hidup, mampu merespons dan membentuk semangat zamannya. Dari Ford yang menyelamatkan merek dari kemunduran hingga Michele yang menempatkannya sebagai laboratorium budaya, dan kini Demna yang membawanya ke wilayah konseptual yang baru, setiap kepemimpinan kreatif telah memperluas definisi kemewahan itu sendiri, menjadikan Gucci sebagai aktor sentral dalam dialog abadi antara tradisi dan inovasi.

Strategi Pemasaran dan Kehadiran Digital

Gucci telah mengembangkan strategi pemasaran dan kehadiran digital yang inovatif dan terintegrasi, memposisikan dirinya sebagai pelopor dalam dunia fashion mewah yang terus berkembang. Di bawah kepemimpinan kreatif seperti Alessandro Michele dan dukungan dari grup induk Kering, merek ini telah berhasil memadukan warisan artisannya yang mendalam dengan pendekatan digital mutakhir, menciptakan pengalaman merek yang holistik dan imersif bagi konsumen global. Strategi ini tidak hanya fokus pada penjualan, tetapi juga pada pembangunan narasi budaya, komunitas, dan keterlibatan emosional yang mendalam [63].

Strategi Digital First dan Omnichannel

Gucci mengadopsi pendekatan “digital first” yang revolusioner, menjadikan saluran langsung ke konsumen (B2C) sebagai tulang punggung pertumbuhannya. Model ini memungkinkan Gucci mempertahankan kendali penuh atas pengalaman pelanggan, branding, dan data konsumen, menghindari ketergantungan berlebihan pada pengecer pihak ketiga [63]. Pendekatan ini diperkuat oleh strategi omnichannel yang mulus, yang menyatukan toko fisik, situs web gucci.com, dan platform e-commerce global. Gucci telah memperluas kehadirannya di pasar Asia yang krusial dengan masuk ke platform seperti Alibaba melalui Luxury Pavilion pada tahun 2020 dan JD.com di Tiongkok, menargetkan konsumen muda yang berbasis digital [65][66]. Pertumbuhan e-commerce sangat mencolok, dengan pendapatan dari gucci.com melonjak dari 148 juta dolar AS pada 2016 menjadi 579 juta dolar AS pada 2019, menjadikannya merek fashion dengan kinerja digital terkuat di sektor ini [67][68].

Keterlibatan Sosial Media dan Kolaborasi Kreatif

Gucci telah mendefinisikan ulang cara merek mewah berkomunikasi di media sosial, terutama di Instagram, yang memiliki lebih dari 45,6 juta pengikut. Alih-alih hanya menampilkan produk, Gucci menggunakan platform ini sebagai ruang narasi budaya yang kaya. Salah satu inisiatif paling inovatif adalah #GucciGram, sebuah laboratorium kreatif yang mengajak seniman digital global untuk menafsirkan kembali ikon merek melalui karya seni digital. Proyek ini memperkuat hubungan antara fashion, seni digital, dan budaya pop, menjadikan Gucci sebagai katalisator budaya [69]. Kolaborasi dengan seniman seperti Ignasi Monreal, yang karyanya yang surealis menghidupkan kampanye seperti Gucci Bloom dan Gucci Hallucination, menunjukkan komitmen merek terhadap sinergi antara mode dan teknologi [29]. Gucci juga memperluas kehadirannya ke dunia NFT dan metaverse, berkolaborasi dengan seniman digital Wagmi-san untuk menciptakan koleksi NFT yang mengeksplorasi konsep ekspresi diri di ruang virtual [30].

Inovasi Teknologi dan Pengalaman Konsumen

Untuk meningkatkan pengalaman pelanggan, Gucci telah berinvestasi dalam teknologi canggih. Penggunaan realitas tertambah (AR) dalam aplikasinya memungkinkan pelanggan mencoba sepatu dan jam tangan secara virtual, menciptakan pengalaman interaktif yang meningkatkan keterlibatan dan mengurangi tingkat pengembalian produk [72]. Selain itu, Gucci mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) untuk personalisasi rekomendasi produk dan mengoptimalkan interaksi digital, yang sangat menarik bagi konsumen di bawah usia 35 tahun [73]. Namun, penggunaan AI dalam kampanye periklanan juga menuai kritik, seperti pada 2026 ketika gambar yang dihasilkan AI dianggap berkualitas rendah ("AI slop"), yang menimbulkan pertanyaan tentang keseimbangan antara inovasi dan otentisitas [74].

Kampanye Ikonik dan Transformasi Identitas Merek

Evolusi kampanye periklanan Gucci mencerminkan pergeseran besar dalam bahasa kemewahan. Di bawah arahan kreatif Tom Ford pada 1990-an, kampanye ditandai oleh sensualitas dan provokasi, menggunakan fotografer seperti Mario Testino untuk menciptakan narasi yang penuh fantasi dan erotis, mencerminkan konsep kemewahan sebagai simbol status dan kekuasaan [75]. Di bawah Alessandro Michele, kampanye berubah menjadi karya sinematik yang kompleks, seperti kampanye Exquisite Gucci yang menghormati film-film Stanley Kubrick, mengubah fashion menjadi seni visual [76]. Transformasi ini mencerminkan pergeseran dari merek yang aspiratif menjadi merek yang menginspirasi, yang berfokus pada ekspresi individu, identitas cair, dan keterlibatan komunitas, menjawab harapan konsumen muda yang mencari makna dan keaslian [77].

Kolaborasi dengan Selebriti dan Merek Streetwear

Kolaborasi strategis dengan selebriti, seniman, dan merek streetwear telah menjadi pilar penting dalam pembaruan citra Gucci. Michele memilih selebriti yang mewujudkan individualitas dan keaslian, seperti Harry Styles, Billie Eilish, A$AP Rocky, dan Iggy Pop, yang menjadi duta merek yang menyampaikan nilai inklusivitas dan keberlanjutan [31][79]. Kolaborasi dengan merek streetwear seperti Adidas dan The North Face menyatukan kode ikonik kedua merek, menarik audiens muda yang tertarik pada budaya sneaker dan hype fashion [80]. Proyek konseptual “Hacker Project” dengan Balenciaga adalah eksplorasi menarik tentang otentisitas, di mana pakaian Gucci “dihack” dengan elemen Balenciaga, menunjukkan kemampuan merek untuk menggunakan paradoks dan ironi untuk memperkuat relevansinya secara budaya [81].

Kepemimpinan Digital dan Pengakuan Industri

Transformasi digital Gucci dipimpin oleh keputusan strategis dari kepemimpinan, termasuk penunjukan Marcello Mastrogiacomo sebagai Wakil Presiden Pemasaran Digital dan Media, yang bertugas menciptakan narasi merek yang kohesif di semua saluran digital [82]. Upaya ini mengukuhkan Gucci sebagai pelopor dalam pemasaran digital mewah. Pada 2020, Gucci dinobatkan sebagai “Luxury Marketer of the Year” oleh Luxury Daily, pengakuan atas kemampuannya menggabungkan storytelling visual yang kuat, keberlanjutan (seperti dalam koleksi Off The Grid yang terbuat dari bahan daur ulang), dan inovasi digital [83]. Melalui pendekatan yang terintegrasi, kreatif, dan teknologi mutakhir, Gucci telah berhasil menetapkan standar baru untuk kemewahan digital, menunjukkan bahwa inovasi dan tradisi dapat hidup berdampingan.

Ekspansi Global dan Pasar Internasional

Ekspansi global Gucci dari sebuah toko kecil di Firenze menjadi salah satu rumah mode mewah paling ikonik di dunia merupakan perjalanan yang dipengaruhi oleh kepemimpinan keluarga, transformasi kreatif, dan strategi pasar internasional yang cermat. Sejak didirikan oleh Guccio Gucci pada tahun 1921, merek ini telah berkembang dari spesialis produk kulit dan aksesori equestrian menjadi kekuatan dominan dalam industri mode global, dengan jejak di lebih dari 500 toko di seluruh dunia dan pendapatan tahunan sekitar 10 miliar euro [1]. Proses ini dipimpin oleh Aldo Gucci, putra pendiri, yang memainkan peran kunci dalam transformasi Gucci dari perusahaan kerajinan lokal menjadi merek global. Di bawah kepemimpinannya, Gucci membuka toko-toko pertamanya di kota-kota penting seperti New York, Londra, dan Tokyo, menandai masuknya resmi merek ini ke pasar internasional [33]. Pemilihan lokasi strategis ini memungkinkan Gucci untuk menjangkau klien elit, termasuk anggota keluarga kerajaan, selebriti Hollywood, dan anggota jet set global, yang menjadikan produk-produknya sebagai simbol status dan gaya Italia [86].

Perluasan di Bawah Kepemimpinan Keluarga dan Krisis Global

Di bawah Aldo Gucci, identitas visual merek juga diperkuat melalui pengenalan elemen-elemen ikonik seperti monogram dual GG dan pita hijau-merah-hijau, yang terinspirasi oleh seragam kuda dalam perlombaan di Firenze [87]. Kombinasi antara warisan kerajinan Toscana dan estetika internasional ini menjadi fondasi dari citra merek sebagai representasi murni dari Made in Italy. Namun, pada tahun 1970-an dan 1980-an, ekspansi cepat yang didorong oleh pemberian lisensi yang tidak terkendali menyebabkan penurunan eksklusivitas dan kualitas merek, yang memperburuk konflik keluarga yang sedang berlangsung. Krisis manajemen dan identitas ini mencapai titik terendah pada tahun 1993, ketika Gucci dijual kepada Investcorp, menandai berakhirnya era pengelolaan langsung oleh keluarga [40]. Meskipun demikian, fondasi global yang dibangun oleh keluarga Gucci memungkinkan merek ini untuk tetap memiliki daya tarik internasional yang kuat, yang kemudian dimanfaatkan dalam upaya restrukturisasi.

Transformasi Global di Bawah Direktur Kreatif dan Kering

Kebangkitan Gucci sebagai kekuatan global dimulai pada tahun 1994 dengan kedatangan Tom Ford sebagai direktur kreatif. Ford, bekerja sama dengan CEO Domenico De Sole, mengubah citra merek menjadi simbol sensualitas dan glamor modern, menarik perhatian pasar internasional yang lebih muda dan lebih luas. Koleksi-koleksi berani dan kampanye iklan yang provokatif menggandakan pendapatan dalam beberapa tahun dan menyiapkan jalan bagi pencatatan saham Gucci pada tahun 1995 [6]. Transformasi ini menandai pergeseran dari merek yang berakar pada tradisi menjadi merek mode kontemporer yang mendunia. Pada tahun 2004, Gucci menjadi bagian dari konglomerat mewah Prancis [[Kering|Kering>, yang memberikan dukungan finansial dan strategis untuk ekspansi global yang lebih dalam [90]. Di bawah kepemilikan Kering, Gucci memperluas kehadirannya di pasar Asia, khususnya di Cina dan India, dengan strategi pemasaran yang sangat terlokalkan dan peluncuran di platform e-commerce seperti Alibaba dan JD.com [65][66]. Langkah-langkah ini membantu Gucci memperkuat posisinya di antara konsumen muda dan digital pertama di wilayah ini.

Strategi Digital dan Pemasaran Budaya Global

Pada 2010-an, di bawah arahan kreatif Alessandro Michele, Gucci memperdalam keterlibatannya dengan pasar global melalui strategi digital dan budaya yang inovatif. Merek ini mengadopsi pendekatan "digital first", mengintegrasikan pengalaman fisik dan digital melalui model omnichannel yang canggih [63]. Pendapatan dari e-commerce meningkat pesat, dari 148 juta dolar AS pada 2016 menjadi 579 juta dolar AS pada 2019, menunjukkan efektivitas pendekatan ini dalam mendorong penjualan langsung [67]. Gucci juga memanfaatkan platform media sosial seperti Instagram dan TikTok untuk membangun komunitas global, dengan kampanye seperti #GucciModelChallenge yang mendorong partisipasi pengguna [95]. Kolaborasi dengan seniman digital seperti Ignasi Monreal dan eksplorasi dunia NFT dan metaverse menunjukkan komitmen merek terhadap inovasi teknologi dan keterlibatan dengan budaya digital global [29].

Kolaborasi Budaya dan Penyesuaian Pasar Lokal

Gucci juga menggunakan kolaborasi dengan artis, selebriti, dan merek streetwear untuk menarik generasi muda di berbagai wilayah. Kolaborasi dengan Adidas dan The North Face menyatukan dunia mewah dengan budaya streetwear, menarik penggemar mode muda yang tertarik pada budaya sneaker dan hype fashion [80]. Di Asia, Gucci memperkuat keterlibatannya melalui penunjukan duta besar seperti aktor Cina Xiao Zhan, aktor India Alia Bhatt, dan anggota grup K-pop Stray Kids Lee Know, yang membantu merek terhubung secara emosional dengan nilai dan aspirasi konsumen lokal [98][99]. Pendekatan ini mencerminkan kemampuan Gucci untuk menyeimbangkan warisan globalnya dengan sensitivitas budaya lokal, memungkinkan merek ini untuk tetap relevan dan diinginkan di pasar yang beragam secara budaya.

Tantangan dan Peluang di Pasar Global Kontemporer

Meskipun sukses, ekspansi global Gucci menghadapi tantangan, terutama dalam bentuk perlambatan ekonomi di pasar kunci seperti Cina, yang menyebabkan penurunan penjualan sebesar 20% pada kuartal pertama 2024 [100]. Selain itu, merek ini juga menghadapi kritik terhadap kebijakan keberlanjutannya, termasuk ketergantungan pada kredit karbon untuk mempertahankan status netral karbon dan penggunaan kulit eksotis yang tetap menjadi kontroversi [101][102]. Namun, Gucci terus menanggapi tantangan ini dengan inisiatif seperti investasi dalam Circular Hub pertama di Italia untuk mendorong ekonomi sirkular dan komitmen untuk mengurangi dampak lingkungan sebesar 40% pada tahun 2030 [103]. Dengan menggabungkan warisan kerajinan Toscana, inovasi kreatif, dan strategi pasar global yang adaptif, Gucci terus memperkuat posisinya sebagai pemimpin dalam lanskap mode mewah internasional.

Kepemilikan oleh Grup Kering

Gucci saat ini merupakan bagian dari Kering, sebuah konglomerat mewah Prancis yang berbasis di Paris dan merupakan salah satu pemain utama dalam industri mode global [90]. Kering, yang sebelumnya dikenal sebagai Pinault-Printemps-Redoute, secara bertahap mengakuisisi saham mayoritas Gucci sejak akhir 1990-an dan akhirnya menjadi pemilik penuh pada tahun 2004, mengakhiri era kepemilikan keluarga yang telah berlangsung selama beberapa dekade [105]. Sejak bergabung dengan portofolio Kering, Gucci telah mengalami transformasi strategis yang signifikan, didukung oleh struktur manajemen profesional dan investasi jangka panjang dalam inovasi, keberlanjutan, serta ekspansi global.

Integrasi dalam Ekosistem Merek Mewah Kering

Sebagai bagian dari Kering, Gucci beroperasi sebagai entitas hukum yang dikenal sebagai Guccio Gucci S.p.A., dengan kantor pusat di Firenze, Italia, tetapi berada di bawah kendali strategis dan keuangan grup Prancis tersebut [106]. Kering memiliki portofolio merek mewah yang mencakup rumah mode ternama lainnya seperti Balenciaga, Saint Laurent, Bottega Veneta, Alexander McQueen, dan Boucheron, menjadikannya salah satu pesaing utama dari grup seperti LVMH dan Richemont dalam industri mewah global [90]. Integrasi Gucci ke dalam ekosistem ini memungkinkan sinergi operasional, berbagi sumber daya dalam bidang seperti logistik, teknologi, dan keberlanjutan, serta akses ke pasar internasional yang lebih luas.

Dampak Kepemilikan terhadap Strategi dan Pertumbuhan

Kepemilikan oleh Kering telah memberikan stabilitas dan visi jangka panjang yang krusial bagi Gucci, terutama setelah periode krisis internal dan manajerial yang ditandai oleh konflik keluarga dan penurunan kualitas merek pada 1990-an [40]. Di bawah kepemimpinan François-Henri Pinault, CEO Kering, Gucci mengalami dua fase kebangkitan besar: pertama di bawah arahan kreatif Tom Ford yang membawa gaya sensual dan glamor, dan kemudian di bawah Alessandro Michele yang memperkenalkan estetika maksimalis dan androgin. Kering memberikan dukungan finansial dan struktural yang memungkinkan direktur kreatif dan manajemen untuk bereksperimen dan merancang ulang identitas merek tanpa tekanan jangka pendek.

Komitmen Bersama terhadap Keberlanjutan dan Inovasi

Kering menerapkan strategi keberlanjutan yang terintegrasi di seluruh portofolionya, dan Gucci menjadi salah satu pelopor dalam inisiatif ini. Grup ini menetapkan target berbasis sains melalui Science Based Targets initiative untuk mencapai netralitas karbon, dan Gucci telah menjadi salah satu merek pertama yang menyatakan diri sebagai karbon netral sejak 2018 [109]. Kering mendukung Gucci dalam proyek-proyek inovatif seperti investasi dalam Circular Hub pertama di Italia, yang berfokus pada ekonomi sirkular dan pemulihan bahan, serta pengembangan material baru seperti Demetra, yang bebas dari bahan hewani dan berasal dari sumber nabati [110]. Kering juga telah menjadi pelopor dalam pengukuran dampak lingkungan melalui sistem Environmental Profit and Loss (EP&L), yang digunakan oleh Gucci untuk menilai jejak ekologisnya secara menyeluruh [111].

Tantangan dan Keseimbangan dalam Model Kepemilikan Korporat

Meskipun kepemilikan oleh Kering telah membawa pertumbuhan dan profesionalisasi, hal ini juga menciptakan ketegangan antara identitas "Made in Italy" yang otentik dan model korporat global. Gucci harus terus menyeimbangkan warisan kerajinan Toscana yang mendalam dengan tuntutan efisiensi, skalabilitas, dan profitabilitas dari pemilik korporatnya [112]. Selain itu, meskipun Gucci menikmati otonomi kreatif yang relatif tinggi, keputusan strategis besar, seperti pengangkatan CEO dan direktur kreatif, serta arah keberlanjutan jangka panjang, tetap berada di bawah pengawasan Kering. Tantangan ini tercermin dalam upaya berkelanjutan untuk mempertahankan koneksi emosional dengan akar Firenze sambil beroperasi sebagai bagian dari mesin bisnis global yang kompleks.

Dalam konteks ini, kepemilikan oleh Kering tidak hanya merupakan transisi kepemilikan finansial, tetapi transformasi fundamental dari perusahaan keluarga menjadi bagian dari ekosistem mewah global yang didorong oleh inovasi, tanggung jawab sosial, dan visi jangka panjang, menjadikan Gucci sebagai contoh klasik tentang bagaimana warisan lokal dapat diproyeksikan ke panggung dunia melalui dukungan korporat yang kuat.

Komitmen terhadap Keberlanjutan dan Tanggung Jawab Sosial

Gucci telah menempatkan keberlanjutan dan tanggung jawab sosial sebagai pilar utama dalam strategi jangka panjangnya, beroperasi di bawah payung Grup Kering, yang dikenal karena komitmennya terhadap praktik bisnis yang berkelanjutan. Melalui inisiatif seperti Gucci Equilibrium, merek ini berupaya mengintegrasikan prinsip-prinsip ekonomi sirkular, perlindungan lingkungan, dan keadilan sosial ke dalam seluruh rantai pasokan dan pengalaman konsumen. Kebijakan ini mencerminkan respons terhadap tuntutan konsumen modern yang semakin sadar akan dampak etis dan ekologis dari produk mewah yang mereka konsumsi [113].

Keberlanjutan Lingkungan: Netralitas Karbon dan Inovasi Material

Salah satu pencapaian paling signifikan Gucci dalam bidang lingkungan adalah deklarasi pada tahun 2018 bahwa merek ini telah mencapai netralitas karbon di seluruh rantai nilai, sebuah langkah yang diambil empat tahun lebih cepat dari target awal 2025 [109]. Pencapaian ini dicapai melalui kombinasi efisiensi energi, transisi ke energi terbarukan, pengurangan emisi langsung dan tidak langsung, serta kompensasi emisi residu melalui proyek-proyek konservasi hutan yang bersertifikasi REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) [109]. Meskipun pendekatan berbasis offset ini menuai kritik dari beberapa pihak mengenai efektivitas jangka panjangnya, Gucci terus berkomitmen untuk mengurangi emisi absolut, dengan target pengurangan 50% emisi gas rumah kaca pada tahun 2025 dibandingkan dengan level 2015 [113].

Dalam hal material, Gucci telah mengambil langkah inovatif untuk mengurangi dampak lingkungan. Merek ini menggunakan nylon daur ulang ECONYL® yang diproduksi dari limbah seperti jaring ikan dan serat sintetis, terutama dalam koleksi Gucci Off The Grid [117]. Selain itu, Gucci mengembangkan Demetra, bahan inovatif yang terbuat dari 75% bahan baku nabati terbarukan dan bebas turunan hewan, yang digunakan dalam produk-produk ikonik seperti Gucci Horsebit 1955 [118]. Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen terhadap ekonomi sirkular, yang juga diwujudkan melalui pendirian Circular Hub di Italia, sebuah pusat yang didedikasikan untuk perbaikan, daur ulang, dan penggunaan kembali produk-produk fashion [110].

Kesejahteraan Hewan dan Kebijakan Fur-Free

Gucci menjadi pelopor dalam isu kesejahteraan hewan di industri mode mewah ketika pada tahun 2017 mengumumkan kebijakan fur-free, secara resmi menghentikan penggunaan bulu hewan seperti vison, rubah, dan kanguru mulai dari koleksi musim semi/musim panas 2018 [120]. Langkah ini disambut positif oleh organisasi-organisasi seperti Fur Free Alliance dan The Humane Society [121]. Sebagai bagian dari Kering, Gucci juga mengikuti kebijakan grup yang sepenuhnya bebas bulu sejak musim gugur 2022 [122].

Namun, kebijakan ini tidak mencakup penggunaan kulit eksotis, seperti kulit ular, buaya, dan kadal, yang tetap digunakan dalam beberapa koleksi. Praktik ini telah menuai kritik keras dari organisasi hak-hak hewan seperti PETA, yang menuduh proses pengolahan kulit eksotis melibatkan penderitaan hewan yang ekstrem [102]. Kritik ini menunjukkan ketegangan antara komitmen etis yang diumumkan dan praktik produksi yang masih bergantung pada bahan kontroversial, menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi dan kedalaman komitmen merek terhadap kesejahteraan hewan [124].

Inklusi, Keragaman, dan Tanggapan terhadap Kontroversi

Gucci telah mengembangkan program inklusi dan keragaman yang komprehensif, termasuk kebijakan Diversitas, Kesetaraan, dan Inklusi (DEI) tahun 2024 yang menetapkan target terukur untuk kesetaraan gender, etnis, dan disabilitas [125]. Pada tahun 2023, Gucci menjadi rumah mode mewah Italia pertama yang memperoleh sertifikasi kesetaraan gender, menandai komitmen terhadap kesetaraan upah dan representasi kepemimpinan [126]. Merek ini juga diakui sebagai salah satu "Tempat Kerja Terbaik untuk Inklusi Disabilitas" di Amerika Utara [127].

Gucci juga merespons gerakan sosial dengan tindakan nyata, seperti meluncurkan dana Changemakers Impact Fund untuk mendukung organisasi seperti NAACP dan Know Your Rights Camp, serta memberikan beasiswa kepada mahasiswa dari latar belakang yang kurang terwakili melalui program Gucci Changemakers [128]. Namun, upaya ini berdiri di samping serangkaian kontroversi serius. Pada tahun 2018, Gucci dikritik karena mengkomodifikasi simbol keagamaan Sikh dengan aksesori yang menyerupai turbah, dan pada tahun 2019, merek ini dituduh rasis setelah merilis sweater yang menyerupai blackface. Insiden-insiden ini menyoroti kesenjangan antara narasi inklusi dan realitas kreatif, memaksa merek untuk menarik produk, meminta maaf, dan memperkuat proses peninjauan budaya internal [129].

Kondisi Kerja dalam Rantai Pasokan dan Transparansi

Meskipun Gucci mempromosikan keberlanjutan, ada kekhawatiran serius mengenai kondisi kerja di dalam rantai pasokannya. Pada tahun 2025, Kejaksaan Milan membuka penyelidikan terhadap dugaan kasus caporalato (perbudakan modern) yang melibatkan 203 pekerja, kebanyakan dari Tiongkok, di subkontraktor yang melayani merek-merek mewah, termasuk Gucci [130]. Pejabat penuntut menanyakan kepada perusahaan, "Berapa banyak yang Anda eksploitasi?", menyoroti tanggung jawab merek terhadap jaringan subkontraktor yang kompleks [131].

Sebagai tanggapan, Gucci telah menerapkan kebijakan keberlanjutan yang mencakup prinsip-prinsip hak asasi manusia dan kerja layak [132]. Merek ini melakukan audit reguler terhadap pemasok, menerbitkan daftar pemasok utama, dan menggunakan sistem akuntansi lingkungan dan sosial Environmental Profit and Loss (EP&L) untuk mengukur dampak sepanjang rantai nilai [133]. Namun, penyelidikan yang sedang berlangsung menunjukkan bahwa tantangan dalam menjamin keadilan sosial di seluruh rantai pasokan tetap besar, dan komitmen terhadap transparansi harus diimbangi dengan tindakan yang lebih kuat untuk memastikan perlakuan yang adil terhadap semua pekerja.

Referensi